
Selepas itu, bukit yang tadinya banyak di huni oleh para siluman kera, kini menjadi sebuah tempat yang mengerikan, karena banyaknya arwah-arwah bangsa kera, yang gentayangan.
Siliwata dan Kitampar Wulung serta Wikrama kini telah menuruni bukit itu dengan membawa puluhan anak bayi manusia, dalam sebuah keranjang, terbuat dari kayu, yang telah di lapisi pagar gaib oleh Siliwata, guna menghindari hal-hal yang tidak di inginkan terjadi, karena anak-anak tersebut semua lahir pada hari istimewa menurut kepercaya'an di jaman itu.
Tidak lama kemudian mereka telah sampai di kampung Tirta kencana, semua warga berbondong-bondong mendatangi rumahnya pak kepala kampung, apalagi yang ada sangkut pautnya dengan Bayi, mereka terlebih dahulu telah datang.
Betapa gembira dan bahagianya warga Tirta kencana khususnya para orang tua yang telah kehilangan bayinya, kini telah kembali dalam keada'an selamat, dan tidak kurang sesuatu apapun.
Sorak sorai dari para warga Tirta kencana, pada sang pahlawan yang sudah berhasil membebaskan bayi-bayi dari tangannya Raja siluman kera.
"Hidup Siliwata... Hidup Ki Wikrama...Hidup ki Tampar Wulung."
Hidup
Hidup...
Begitulah ke gembira'an dari para warga yang tercetus.
Dari sekian banyaknya Warga Tirta kencana, cuma Tuan Badrunlah yang tidak nampak hadir, yaitu kakeknya Siliwata.
Karena kebenciannya Badrun pada Kala seta dan Wikrama yang sudah berkarat, sampai ke pada keturunannya, padahal Siliwata adalah cucunya sendiri.
Di tengah-tengah kegembira'an para Warga, nampak di sela-sela kerumunannya orang-orang, Kala seta, Dewi kencana dan Yuda sara lagi berjalan menuju pada Siliwata, Wikrama, ki Tampar Wulung dan kepala kampung berada.
"Kakang Wata..."Teriak Yuda sara, sambil berlari.
Siliwata pun langsung semringah dengan kemunculan adik dan kedua orang tuanya.
"Rayi yuda sara." Sapa Siliwata.
"Ayaah, ibunda, terima kasih atas doa ayah dan bundalah, ku bisa membebaskan penderita'an warga Tirta kencana." Lanjut Siliwata sambil memberi sungkeman pada kedua orang tuanya.
"Iya Nanda bangunlah, semua itu sudah menjadi kehendak sang pencipta." Ucap Kala seta.
Siliwata pun beranjak dan langsung berdiri, kemudian Wikrama menghampiri kala seta dan Dewi kencana. "Semua warga pada berdatangan, cuma mertuamu seta yang tidak nampak, apa tidak ada rasa sama sekali sama cucunya sendiri." Bisik Wikrama.
"Biarlah ayah, kasihan nyai Dewi pasti sangat terpukul, tidak usah di bahas lagi tentang mertuaku." Cetus Kala seta balas berbisik.
Dewi kencana hanya melirik dengan kedua sudut matanya, ketika Wikrama berbisik pada suaminya.
__ADS_1
"Pastinya ayah Wikrama membicarakan tentang Ayah Badrun, aku pun tak marah, memang iya ayah Badrun sudah sangat berkarat bencinya terhadap kakang Kala Seta, termasuk cucunya sendiri." Batin Dewi Kencana.
Setelah sekian lamanya para warga Tirta kencana memenuhi pekarangan rumahnya kepala kampung, ki Tampar Wulung dan Wikrama menyuruh warga untuk bubar, dan membawa bayinya ke rumah melihat kondisi yang nampak melemah dan butuh masukan energi dan para warga pun langsung bubar.
Begitupun Kala seta beserta anak istrinya pamit pulang untuk memulihkan energi nya yang banyak terkuras sewaktu bertempur melawan Raja siluman kera.
Sedangkan Wikrama dan ki Tampar wulung masih duduk di teras rumah bersama kepala kampung, yang ingin tahu tentang kejadian di bukit kera itu.
...........
Kala seta, Dewi kencana dan kedua putranya kini telah sampai di rumah kediamannya.
Setibanya di dalam rumah, Dewi kencana langsung menyajikan makanan untuk Siliwata, nasi putih dan daging menjangan yang dipanggang, yang di dapat oleh Kala Seta dari hasil berburunya.
Siliwata pun langsung menyantap makanan tersebut dengan sangat lapar.
Sementara adiknya Yuda Sara langsung masuk ke kamar, dengan merebahkan tubuhnya di atas ranjang kayu yang ber'alaskan Tikar putih, Kini Yuda sara telah berada di alam mimpi.
Yuda sara bermimpi, berada di suatu tempat, yang di sisi kiri kanannya di penuhi oleh batu-batu cadas, lagi duduk bersila.
Kemudian Yuda sara mendonggakan wajahnya ke langit.
Tidak lama setelah itu, muncul lelaki bertubuh kekar berkulit bersih, dengan sebuah mahkota yang menghiasi kepalanya dan berkata.
"Bangunlah Yuda sara, bangun." Cetusnya.
Perlahan Yuda Sara menggerakan tubuhnya, lalu netranya di buka pelan-pelan sambil beranjak bangun. "Anda siapa?." Tanya Yuda sara.
"Saya adalah jelma'an dari cahaya putih yang telah masuk kedalam ragamu." Jawabnya.
"Cayaha putih,, lalu untuk apa anda memasuki ragaku?." Tanya Yuda Sara.
"Saya adalah ke kuatan Batara indra, yang lagi mencari wadak manusia, untuk menumpas angkara murka di muka bumi, yang kebetulan saya menemukan raga yang cocok, yaitu kamu Yuda sara." Jawabnya.
"Saya sudah punya kakang Siliwata, yang selalu melindungi adiknya." Ujar Yuda Sara.
"Iya saya pun tau itu, tapi kamu juga adalah takdir dari sang pencipta untuk mewarisi segala ke kuatanku, kamu akan bertamabh kuat, tenaga mu akan bertambah seratus kali lipat, dan bila kamu lagi dalam ke ada'an marah ke kuatanmu akan bangkit, sekarang saya akan kembali masuk ke dalam ragamu, tumpaslah semua kehahatan di muka bumi ini bersama kakangmu." Ujarnya.
Kemudian lelaki gagah perkasa yang menyebut dirinya sebagai Batara Indra, langsung berubah menjadi cahaya putih dan langsung melesat masuk ke dalam tubuhnya Yuda sara.
__ADS_1
Yudasara pun bergetar tubuhnya, kemudian menjerit memanggil ke dua orang tuanya.
"Ayaaahh...Ibuuuu..." Tetiak Yudasara di dalam mimpi.
Teriakannya sampai terdengar keras sehingga membuat Kala seta, Dewi Kencana dan Siliwata, beranjak dari tempatnya langsung memburu ke kamar tempat Yudasara tertidur.
"Kenapa dengan rayi Yudasara Ayah, Ibuk?." Tanya Siliwata.
"Sepertinya adikmu itu ngigau." Jawab Kala seta.
Kemudian mereka membuka pintu Kamarnya Yuda sara, dan Dewi Kencana langsung memburu Yuda sara yang masih terus memanggil-manggil Ayah dan Ibuknya.
"Nak nak kamu kenapa." Dewi Kencana sambil sambil menepuk-nepuk pipinya Yuda sara.
Yuda sara pun bangun dan langsung memeluk ibuknya. "Ibuk, ku mimpi." Ujarnya.
Lalu Kala seta dan Siliwata menurunkan tubuhnya menghampiri Yuda sara yang lagi dalam pelukan ibuknya. "Kamu mimpi apa rayi?." Tanya Siliwata.
"Ku mimpi di datangi se orang lelaki gagah perkasa, mengaku dirinya sebagai Batara Indra." Jawab Yuda sara.
Kala seta dan Siliwata saling bertatap pandangan lalu Siliwata berbisik pada Kala seta.
"Mimpinya Yuda sara adalah sebuah petunjuk atau mungkin Yudasara sosok manusia pilihan para Dewa." Bisik Siliwata.
"Bisa jadi begitu Seta." Cetus Kala seta.
Kemudian Siliwata memejamkan matanya, untuk membuka mata batinnya dengan memusatkan pikirannya pada Yuda sara.
Kemudian di batin Siliwata, muncul sosok lelaki gagah perkasa yang mengenakan mahkota di kepalanya berkata pada Siliwata.
"Tenang Siliwata, adikmu ini adalah pilihan para dewa, dan saya Batara Indra lagi menitis pada adikmu, untuk membantumu menumpas ke angkara murka'an di bumi." Ucapnya.
"Tapi adik Yuda sara masih belum cukup umur Batara." Jawab Siliwata.
"Memang adikmu masih mentah dalam segi pisik, tapi Yudasara mempunyai wadah yang sangat kuat, jiwanya kuat dan orangnya jujur, berbudi luhur sama sepertimu."
"Baiklah kalau begitu."
Selepas itu Siliwata pun langsung membuka lagi matanya.
__ADS_1