SATRIA MAMBA HITAM

SATRIA MAMBA HITAM
Eps 32 Kembang Wijaya Kusuma


__ADS_3

Kepala Suku menatap geram pada Siliwata dan Yudasara, kedua netranya me merah, nampak sebuah amarah yang sudah tidak terbendung lagi, dengan suaranya yang parau sambil menghunus pedang.


"Kalian telah membinasakan semua rakyatku, sekarang terimalah pembalasanku." Teriak kepala Suku.


Heeeaaa...


Kepala Suku berlari sambil mengacungkan pedangnya.


"Biar ini bagian aku kakang."


Hanya sekelebatan saja Yudasara langsung melesat menyambut kepala Suku.


Traaaang..


Dua senjata saling berbenturan, Gada sakti dan Sebuah pedang yang berukuran sangat besar dari kepala Suku telah memercikan kembang api.


Tenaga yang di keluarkan oleh kepala Suku begitu sangat besar sekali, epeknya bisa di rasakan oleh Yudasara, ketika itu tubuh Yodasara sampai terdorong beberapa langkah.


"Luar biasa sekali, tenaga kepala Suku itu." Batin Yudasara.


Kepala Suku tertawa terbahak melihat romannya Yudasara yang nampak terbelalak kaget.


"Hahaha....Bersiaplah kau menjadi santapanku, dagingmu pasti empuk dan lezat." Gelak tawa Kepala Suku, sambil melompat mengayun pedang raksasanya pada Yudasara.


Yudasara melompat mundur, sambil menghantamkan Gada saktinya, tepat mengenai dadanya.


Tapi apa yang terjadi kepala Suku itu seperti tidak merasakan sakit sedikitpun.


Malahan di saat itu pukulan kepala suku melesat menghantam kepala Yudasara.


Aaauuuggghhh...


Yudasara terlempar jauh, dan jatuh di tepian sungai.


Sontak saja Siliwata terperanjat ketika melihat adik kandungnya terlempar sangat jauh.


"Rayiii..." Teriak Siliwata langsung melesat ke arah Yudasara.


"Kamu tidak apa-apa rayi?." Tanya Siliwata.


Yudasara beranjak bangun dan berdiri, sambil bersiap-siap mau melakukan lagi penyerangan.


"Tidak apa-apa kakang, luar biasa kekuatan tenaga kepala suku itu." Ujar Yudasara.


"Untung saja tubuhmu telah di lapisi kekuatan Batara Indra rayi." Tukas Siliwata.


Yudasara hanya terdiam, sambil menatap intens mencari kelemahannya Kepala Suku dengan kekuatan batara indra yang di milikinya.

__ADS_1


Setelah itu Yudasara tersenyum, sambil menantang kepala Suku itu untuk menyerangnya terlebih dahulu.


"Ayo kepala Suku serang aku, kalau memang tubuhku terasa lezat." Tantang Yudasara.


Siliwata tersenyum, seperti tau yang ada di benaknya Yudasara.


"Berarti adik Yuda sudah tau kelemahan dari kepala suku itu." Batin Siliwata sambil melompat ke atas batu menyaksikan pertarungan adiknya dan kepala Suku.


Mendapat tantangan dari Yudasara, Kepala Suku langsung berteriak melakukan serangan.


Nampak terlihat oleh Yudasara mulut kepala Suku terbuka lebar ketika berteriak sambil mengayunkan pedang raksasanya.


Di saat itu Yudasa lalu membalikan gagang Gada itu, kemudian di hempaskannya ke arah mulut kepala suku yang lagi terbuka lebar.


Secepat kilat Gada sakti itu melesat cepat sekali, dan tidak bisa terhindarkan lagi oleh Krpala Suku, gagang Gada itu menancap memanggang mulut kepala Suku hingga menembus batok kepala bagian belakang.


Siuuurr.......


Bress cleekkk.


Aaauuuggghhhh.


Jerit kesakitan dati Kepala suku, bersama dengan robohnya tubuh yang tinggi besat tanpak pakaian yang menutupi tubuhnya.


Yudasara berjalan mendekati jasad kepala Suku yang sudah tergeletak, dengan gagang Gada masih menancap tembus sampai batok kepala bagian belakang.


Ketika Yudasara mau mencabut Gadanya, tiba-tiba tubuhnya kepala Suku itu berubah menjadi asap berwana hijau masuk kedalam gada. Bersama'an dengan suara yang menggema di angkasa.


"Terima kasih anak muda, kau telah mengalahkanku, dan rohku kini telah masuk dan menyatu dalam Gada milikmu, Akulah bargolayuda penunggu sungai Cigetih yang selalu mencari lawan dan membunuh setiap pendekar yang melintas di sini, karena aku sudah tidak kuat lagi untuk hidup, dan kau pasti manusia titisan Dewa indra." Ujar Suara yang bergema itu.


"Kenapa kau bisa tau kalau di tubuhku telah menitis kekuatan Batara Indra." Ujar Yudasara.


"Karena aku hanya bisa mati, bila nanti sudah bertemu dengan pendekar titisan Dewa Indra, makanya ku selalu membunuh setipa pendekar yang melintas di sini dan ku makan dagingnya mentah-mentah."


Setelah itu Suara dari jelmaan Bargolayuda, tidak terdengar lagi.


Kemudian mereka melajukan lagi perjalanannya menuju Bukit Hanjuang yang sudah semakin dekat.


Jalan setapak yang membentang menanjak menuju bukit Hanjuang, kini sedang di lauinya.


Tidak terasa kini haripun sudah mulai nampak gelap, tapi bagi Siliwata tidak ada perbeda'an, siang atau malam, karena kedua netranya Siliwata telah menyatu dengan kekuatan Mamba.


Lain halnya dengan Yudasara, ketika hari berubah gelap, pandangannya pun menjadi terasa kurang begitu jelas.


Yudasara samapai tertinggal jauh di belakang Siliwata, merasa aneh dengan diri Siliwata berjalan tanpak ada halangan.


"Ilmu apa yang telah di pakai kakang Wata, di malam gelap seperti ini kakang wata berjalan seperti di siang hari saja." Batin Yudasara.

__ADS_1


Lalu Siliwata menoleh ke arah belakang.


"Ayo rayi percepat jalannya, sebentar lagi kita akan segera sampai." Ujar Siliwata.


"Tunggu kakang, aku kurang begitu pandai bila berjalan di malam hari, apalagi aku belum hapal jalan menuju ke sini." Tukas Yudasara.


Sudah cukup lama Siliwata dan Yudasara berjalan menuju bukit hanjuang, tetapi mereka tidak sampai-sampai di tempat yang di tuju.


Kemudian Siliwata mengajak Yudasara untuk duduk sejenak.


"Bentar rayi kita duduk dulu, sepertinya ada yang tidak beres dengan bukit hanjuang." Ujar Siliwata.


"Iya kakang, aku rasa dari tadi kita muter-muter saja, ini malampun sudah sangat larut." Tukas Yudasara.


"Kamu benar rayi, kita sudah tiga kali putaran di tempat ini." Ujar Siliwata.


Siliwata dan Yudasar duduk bersila di bawah pohon besar sambil memusatkan panca indranya, ingin membuka pintu jalan yang menuju Bukit Hanjuang.


Dalam terawangan batinnya Siliwata, ada sekuntum bunga cangkok wijaya kusuma yang masih kuncup, tumbuh di tebing batu, yang di jaga oleh se ekor Naga berwarna emas.


Lalu Siliwata membuka kedua netranya dan menoleh pada Yudasara yang sudah membuka matanya juga.


"Apa yang kamu temukan rayi?." Tanya Siliwata.


"Aku tidak menemukan apa-apa, lalu kakang sendiri apa ada petunjuk.


"Aku melihat kembang Jaya Kusuma yang masih kuncup." Ujar Siliwata.


"Apa artinya itu kakang?." Tanya Yudasara.


"Artinya, jalan menuju Bukit Hanjuang masih tertutup." Jawab Siliwata.


"Lantas kita bagaimana?." Lanjut Yudasara bertanya.


"Tunggu kembang Jaya Kusuma mekar, baru jalan menuju Bukit Hanjuang akan terbuka." Jawab Siliwata.


"Kapan itu kakang." Tukas Yudasara.


"Entahlah, kakangpun tidak tahu." Jawab Siliwata singkat sambil merebahkan badannya ke batang pohon.


Yudasara hanya menatap penuh tanda tanya pada Siliwata, mengharap satu jawaban.


Malam terus berlalu, suasanapun sudah terasa dingin, bersama angin yang bertiup menerpa tubuh kedua satria.


Sontak Saja kedua Satria itu langsung terperanjat, sambil menengadahkan wajahnya ke Angkasa, ketika ada kilauan cahaya kuning ke emasan di timur selatan yang memancar menerangi maya pada.


Malam yang sangat gelap kini menjadi terang benderang.

__ADS_1


Siliwata dan Yudasara langsung beranjak berdiri, penuh heran dan tanda tanya akan peristiwa yang terjadi pada malam ini.


__ADS_2