
Siliwata lalu bangkit dari tempat duduknya, setelah ia merogo sukma, ingin mengetahui sampai dimana kekuatan sihirnya dinenek sulampe.
Perlahan siliwata keluar dari balik pohon besar itu.
Dengan sedikit agak lemes siliwata melangkah keluar dari semak-semak belukar, terus ia melanjutkan lagi perjalanannya menuju tirta kencana.
Tapi baru saja beberapa tumbak siliwata berjalan asap hitam itu seperti berbalik mengikutinya.
Siliwata tidak menghiraukannya, ia tetap pokus pada pendiriannya.
''Asap hitam itu sepertinya berbalik dan mengikutiku, biarlah selama sipenyihir itu tidak menyakitiku, akupun tidak akan memperdulikannya.'' Ujar siliwata dalam hatinya.
Siliwatapun tidak memperdulikan apa yang sedang mengikutinya dibelakang, tekad dan niat siliwata hanyalah ingin bertemu dengan kedua orang tuanya.
Didalam perjalanan siliwata selalu banyak rintangan dan hambatan.
Sementara nenek sulampe yang terus mengikuti siliwata dari udara, bersama upih saktinya dan diiringi oleh asap hitam tebal menyelimutinya.
''Aneh didalam diri pemuda itu, aku mencium bau siluman, tapi kulihat dia manusia biasa bukan siluman, sungguh aneh, rasanya aku semakin penasaran siapa sebenarnya pemuda itu.'' Ucap nini sulampe.
Nini sulampe terus mengikuti siliwata dalam perjalanannya menuju tirta kencana, nini sulampe tidak menyadari bahwa dirinya pun lagi diawasi oleh kedua putri dari negri awan.
Putri hijau dan putri ungu terus mengikuti dari mega putih, dengan menggunakan ilmu pelindung sukma, kedua putri dari negri awan itu tidak bisa ditembus oleh nenek sulampe maupun siliwata.
Kini perajalanan siliwata sudah mendekati wilayah tirta kencana, karena gunung kencanapun sudah sangat jauh terlewati oleh siliwata.
Siliwata terus berjalan tanpa lelah, tampa memikirkan siapa dan mau apa nenek sulampe mengikuti dirinya.
Tidak lama kemudian siliwata telah tiba diperbatasan wilayah tirta kencana, sebuah padukuhan yang cukup luamyan ramai dan penduduknya sudah cukup padat dengan rumah-rumah kayu berkolong tinggi, dan beratap agak kerucut dengan dipagari disetiap depan halaman rumahnya kayu-kayu gelondongan yang dikupas kulitnya.
Kedatangan siliwata ketirta kencana, diketahuai oleh dua orang warga, yang lagi berjalan sambil membawa peralatan pertanian, dengan memikul keranjang yang berisikan rumput hijau untuk makanan ternak.
Siliwata lalu menegur sapa pada dua orang tersebut.
''Permisi kisanak, abis pualng berladang.'' Ucap Siliwata.
''Iya, kisanak hendak kemana?.'' Bertanya.
''Apa benar ini wilayah tirta kencana?.'' Siliwata balik bertanya.
''Iya benar sekali kisanak, apa kisanak mau bertemu dengan seseorang?.'' Seorang warga bertanya lagi.
''Iya benar.'' Jawab Siliwata.
''Mau ketemu siapa?, barang kali kami bisa membantu.'' Ucap warga tersebut.
''Saya mau ketemu sama tuan kala seta dan dewi kencana.'' Jawab siliwata.
''Ooh, itu rumahnya dibawah bukit, rumahnya agak terpencil.'' Ucapnya.
''Baik kisanak terima kasih ya.'' Jawab siliwata.
Siliwata terus berjalan mengikuti petunjuk dari orang yang bertemu dengannya itu.
Ia lalu berjalan menuju bukit yang ditunjukan itu.
Sementara sinenek sihir yang terus mengikuti siliwata, tercengang dan kaget dengan jalan yang ditempuh siliwata itu.
''Bukankah jalan itu menuju ke rumahnya siwikrama, terus apa hubungannya pemuda itu dengan wikrama, apa jangan itu cucunya, yang tempo lalu ku bantu persalinannya.'' Gerutu nenek sihir.
Nenek sulampe terus mngikutinya dari jauh, dengan awan hitam dan upih sakti yang ia tunggangi, terbang diudara.
__ADS_1
Matanya yang serem dengan kelopak mata mengkerut agak kedalam terus memandang tajam siliwata yang semakin mendekati sebuah rumah kayu yang sangat sederhana.
Siliwatapun sudah berada dekat didepan sebuah rumah kayu tersebut.
Dengan langkah ragu siliwata mencoba memberanikan diri untuk memasuki halaman rumah itu.
Kedatangan siliwata kini, diketahui oleh tiga orang, laki-laki dan wanita yang berusia sekitar empat puluh tahunan dan seorang anak usia sepuluh tahun.
''Nyai sepertinya ada yang datang, coba nyai perhatikan sipa dia.'' Ucap seorang lelaki sambil memikul cangkul.
''Iya benar kakang, tapi aku tidak kenal kakang, dan kenap hati ini rasanya seperti dekat sekali dengan orang itu.'' Jawabnya.
''Ayah, ibu, siapa itu yang ada didepan rumah kita?.'' Tanya anak itu.
''Ayah dan ibu juga gak tau nak.'' Jawab ayahnya.
Lelaki dan wanita beserta anak kecil itu lalu mempercepat jalannya, untuk mengetahui siapa orang yang datang seperti mencurigakan itu.
''Ma'ap kisanak, kisanak mau mencari siapa?.'' Tanya laki-laki itu.
Siliwata lalu membalikan tubuhnya kearah suara yang menegur dirinya itu.
''Ma'ap tuan, saya tidak bermaksud jahat, saya hendak bertemu dengan penghuni rumah ini.'' Jawab siliwata.
''Kamilah yang mendiami gubuk ini kisanak.'' jawabnya.
''Oohh benarkah itu, apakah tuan yang bernama kala seta dan dewi kencana.'' Ucap siliwata.
''Tepat sekali kisanak, lalu siapakah gerangan kisanak ini, kenapa bisa tau nama saya dan istri saya tercinta.'' Jawab kala seta.
''Saya adalah pengembara, yang sedang mencari seseorang, tuan boleh nemanggil nama saya siliwata, saya mendapat petunjuk dari kanjeng ratu dan eyang resi, kalau saya harus menemui seseorang di tirta kencana.'' Ucap Siluwata.
Betapa terkejutnya kala seta dan dewi kencana, begitu orang itu menyebut namanya siliwata.
Kala seta dan dewi kencana saling pandang, sedangkan bocah kecil yang berada ditengah tengah antara kala seta dan dewi kencana, memandangi kedua orang tuanya itu seperti belum mengerti.
''Kenapa ayah dan bunda seperti kaget, emang siapa orang itu ayah?.''Tanya bocah itu yang bernama yuda sara.
''Tidak apa-apa yudasara, ayah cuma kaget aja mendengar ceritanya.'' Jawab kala seta.
''Ooh begitu ya ayah.'' Ucap yuda sara.
Kala seta dan dewi kencana merasa bahagia, bercampur sedih juga, kalau memang siliwata itu anaknya yang dulu dibuang oleh kakenya.
Kala seta dan dewi kencana lalu mempersilahkan siliwata untuk masuk dan ngobrol lebih jauh lagi didalam rumah.
Sementara nenek sulampe yang terus mengikuti siliwata dari kaki gunung kencana hingga ketirta kencana, ia merasa yakin dengan indra penglihatannya bahwa pemuda itu adalah cucunya badrun, yang tempo lalu membantu dalam melahirkan bayi itu.
Sinenek sihir itu lalu mengubah dirinya dengan menjadi se'ekor capung, setelah itu sang capung terbang dan masuk kedalam rumahnya kala seta melalui celah-celah dinding rumah.
Tapi ulah sinenek sihir itu, tidak lepas dari intaian kedua putri dari negri awan, kedua putri itu lalu melorot kebawah dan keduanya pun melakukan hal yang sama, kedua putri itupun mengubah jasadnya menjadi dua ekor lebah lalu kedua lebah itu masuk melalui celah-celah genteng.
Sementara siliwata yang duduk berhadap-hadapan dengan kala seta dan dewi kencana beserta yuda sara, merasakan kehadiran tiga sosok yang mencurigakan.
''Sebentar tuan, pembicara'an kita jangan dulu diteruskan, karena saya merasakan kehadiran tiga mahluk diruangan ini.'' Ucap siliwata.
Siliwata lalu mematahkan sebuah lidi yang ditemuinya, dengan cepatnya lidi itu dilemparkan kearah capung yang lagi bertengker diatas kayu kuda-kuda rumah.
Sang capungpun dengan cepatnya terbang melesat keluar.
Siliwatapun lalu mengejarnya, melompat keluar rumah.
__ADS_1
Lalu siliwata mencabut pedang mambanya, dan sinar merah kini keluar dari padan itu, terus siliwata menghempaskannya kearah capung tersebut.
Dan apa yang terjadi, capung itu berubah wujud menjadi seorang nenek yang menyeramkan, sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Kala seta dan dewi kencana kaget, begitu melihat perubahan pada diri capung itu, lalu teringat kembali kemasa trgedi dua puluh tahunan yang silam.
''Nenek sulampe, nenek sihir keparat.'' Teriak kala seta.
''Hehehehe ehehe, Kita jumpa lagi kala seta dengan nenek.'' Ucap nenek sulampe.
''Hai nenek keparat kemana anak kami, kau telah membuangnya.'' Teriak kala seta.
''Hehehehee, anakmu masih hidup kala seta, saya melakukan itu semua atas perintah sibadrun mertuamu, hehehee.'' Ucap nenek sulampe sambil tertawa terkekeh-kekeh.
''Bedebah kau nenek busuk, kuhabisi kau.'' Teriak kala seta sangat murka.
''Jangan gegabah tuan, nenek ini sangat sakti, saya mencium hawa ilmu sihir pada dirinya.'' Tegas siliwata.
Tapi amarahnya kala seta tidak dapat dibendung lagi, ia langsung menerjang nenek sulampe tanpa mengjiraukan omongan dari siliwata.
Nenek sulampe hanya memukulkan tongkatnya pada bumi, seketika itu munculah mahluk-mahluk yang sangat menyeramkan, menghadang kala seta.
Kala seta tidak perduli dengan mahluk ciptaan nenek sulampe, sedikitpun dihati kala seta tidak ada rasa gentar atau takut..
Kalabseta terus dengan gencarnya menghajar mahluk-mahluk jadi-jadian itu.
Tapi mahluk itu setiap kena pukulan dari senjata kala seta selalu terjatuh langsung bangun lagi, setiap kena tebasan dari senjata kala seta anggota tubuhnya langsung putus, dan seketika itu nyambung dan nyambung lagi.
Kala seta akhirnya merasa lelah karena terkuras tenaganya.
Siliwata tidak tinggal diam, ia lalu mencabut pedang pemusnah bangsa lelembut, diamuknya mahluk-mahluk itu, dengan pedang mamba merah, sinar merah yang keluar dari pedang itu menghancur setiap mahluk cipta'an dari nenek sulampe.
Heaaaaaaaaaa.
Putaran pedang mamba merah, bersama'an dengan sinar merah yang begitu dahsyat, melesat menghancurkan setiap mahluk jadi-jadian itu.
Nenek sulampe tercengang, melihat keganasan pedang itu, tapi dia tidak tinggal diam ia lalu berkomat kamit membaca mantera sihirnya.
''Akan kusihir kau anak muda, biar kamu dikucilkan okeh manusia, heheheer.'' Teriak nenek sulampe terkekeh kekeh.
Lalu tongkat capung saktinya nenek sulampe diarahkan pada siliwata, guna disihir menjadi binatang yang menjijikan.
Nenek sulampe sendiri tidak menyadari bahwa dirinya lagi diawasi oleh dua putri utusan dari ratu negri awan.
Sebuah sinar merah keluar dari tongkat capung sakti nenek sulampe, hendak menyihir siliwata, tapi sebelum sinar itu mengenai tubuhnya siliwata, sinar putih melesat dari atas menghadang kesaktian dari tongkat capung sakti itu.
Bluuuuueeerrrrrr.
Sebuah ledakan keras terjadi, karena bertemunya dua kekuatan yang maha dahsat.
Sinenek sihir terperanjat ketika kekuatan tongkat capung saktinya ada yang membendung dari kekuatan yang sudah ia ketahuinya.
Nenek sulampe lalu berteriak memanggil sang penguasa negri awan.
Sementara kedua putri utusan dari negri awan itu, terpancing amarahnya, ketika sinenek sihir penguasa dari bukit kristal merah, memaki dan menantang ratu dari negri awan.
\=\=≈\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bersambung.
Ikuti terus kelajnutan satria mamba hitam di episode 15, tinggalkan jejaknya dengan, like, comentar, favorit, ranting dan vote.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya, semoga sehat-sehat dan sukse selalu.
""""""""""""Selamat membaca""""""""""