SATRIA MAMBA HITAM

SATRIA MAMBA HITAM
Satria Mamba Hitam. Eps 23 Api berkobar di bukit Kera.


__ADS_3

Kini ke tiga lelaki itu sudah sampai di perbatasan antara bukit kera yang di batasi oleh kali citarum.


Dibtepi pinggir kali citarum mereka duduk sejenak seperti lagi mengatur siasat dan mengetahui jalan mana yang bisa di tempuh tanpa harus ada rintangan.


Kini Siliwata duduk bersila(Meditasi) menggunakan ilmu mata batinnya untuk menerawang sejauh mana kekuatan para bangsa siluman kera itu.


Dalam terawangannya sepontan batin Siliwata terhubung dengan gurunya di bukit Hanjuang yaitu Eyang Resi Wanayasan.


Nampak terdengar jelas di batin Siliwata, eyang Resi Wanayasa berkata.


"Cucuku kamu harus merogo sukma, untuk mengetahui kelemahannya si Raja kera." Resi wanayas ber geming di batinnya Siliwata.


"Apa dengan itu, ku tidak akan ketauan oleh bangsa siluman Kera?." Siliwata bertanya.


"Tentu saja tidak cucuku, kamu gunakan ilmu halimun sukma, dan sukma mu tidak akan ketauan oleh bangsa siluman Kera, segeralah laksanakan." Titah Resi wanayasa dalam batin Siliwata.


Sebelum Siliwata melaksanakan segala titah dari eyang resi Wanayasa, terlebih dahulu Siliwata berbicara pada kakeknya dan ki Tampar wulung.


"Ki Tampar wulung dan Kakek, tolong jaga jasadku nanti, ku mau mengintai dulu ke kuatan dari bangsa siluman kera, apa memungkinkan kita bisa menghancurkannya hanya dengan tiga orang saja." Tutur Siliwata.


"Baik cucuku, kamu segeralah laksanakan titah dari gurumu itu." Ujar Wikrama.


"Iya benar Siliwata, kita jangan gegabah mengambil langkah, karena mereka semua mahluk gaib yang orang awam tidak akan bisa melihatnya."Pungkas ki Tampar wulung.


Kemudian setelah itu Siliwata langsung memusatkan tenaga dan pikirannya, untuk mengeluarkan sukmanya dari jasad besarnya.


Kini nampak terlihat oleh Wikrama dan ki Tampar wulung yang bisa melihat ke alam dua dimensi, sebuah bayangan keluar dari jasad besarnya Siliwata.


Sukmanya Siliwata melayang menyebrangi kali citarum, lalu naik ke atas Bukit.


Tidak lama kemudian sukmanya Siliwata telah sampai di pintu kerja'an Siluman kera, sebuah keraja'n bangsa siluman yang cukup besar dan rakyatnya hudup berdampingan dengan damai, lalu apa maksud dari bangsa siluman kera menculik anak bayi manusia yang lahir di bulan Kartika pada hati Anggara kliwon.


Inilah yang akan Siliwata selidiki, apa mungkin ada campur tangan dari bangsa manusia itu sendiri, atau mungkin ada yang lagi meningkatkan ilmu kesaktian aliran hitam yang bersekutu dengan bangsa siluman kera.


Sukma Siliwata masuk pintu gerbang keraja'an kera, dengan di jaga oleh dua ekor kera bertubuh besar dengan sebuah gada di genggaman tangannya, kedatangan Siliwat tidak di ketahui sedikitpun oleh ke dua penjaga tersebut.


"Mereka tidak mencium kehadiranku, tapi untuk masuk ke dalam istana ku harus tetap waspada, karena di dalam sana mungkin banyak bangsa kera yang berilmu tinggi." Gumam sukma Siliwata.


Walaupun Siliwata menyelinap dengan sukma tapi tetap aja ia berhati-hati, kemudian sukma Siliwata masuk ke sebuah istana dan menyelinap di balik pintu untuk mendengarkan pembicara'an Raja dan para petinggi keraja'an bangsa siluman kera.


"Wahai semua para ponggawa, kalian teruslah cari anak manusia yang lahir di hari Anggara kliwon, kalau sudah mencapai seratus kekuatan kita akan bertambah berlipat-lipat, dan keraja'an kita akan sangat di segani, dan Goa mamba pun akan bertekuk lutut." Jelasnya sang Raja kera.


Ketika sang Raja lagi menyampaikan perkata'annya satu prajurit datang menghadap, lalu menyampaikan perkata'annya.


"Ampun Baginda saya menghaturkan sembah." Ujarnya.

__ADS_1


Sang Raja pun dengan bijaknya mempersilahkan pada prajurit untuk menyampaikan apa yang akan di katakannya.


"Iya prajurit ada apa?." Tanya Sang Raja.


Kemudian prajurit berkata. "Menurut kabar dari telik sandi yang di pasang di beberapa titik, dia mencium bau manusia di perbatasan di tepian hulu kali citarum." Ujar prajurit itu.


"Ooh begitu, coba pantau lebih dekat lagi, apa itu manusia yang hanya sekedar tukang jala yang biasa mencari ikan di situ, ataukah mungkin manusia yang ingin menghancurkan negara kita." Ujar sang Raja.


"Baik baginda, hamba mohon diri." Ujar prajurit.


"Silahkan prajurit." Jawab sang Raja.


Siliwata yang dari tadi mendengarkan pembicara'an para bangsa siluman kera, ia merasa murka ada nama Goa Mamba yang di sebut oleh sang Raja siluman kera.


"Kurang ajar, ternyata dibalik hilangnya anak bayi manusia, ini adalah rencana serakahnnya sang raja durjana, ini tidak bisa di biarkan, ku harus segera menghubung ke kanjeng Ratu Mamba Sari." Gerutu sukmanya Siliwata.


Lalau sukmanya Siliwata berbisik lirih, dan menghempaskan perkata'annya pada kakek Wikrama dan ki Tampar wulung yang lagi berada jauh di tepian kali citarum.


"Kek apa kakek mendengar bisikan saya." Bisik sukma siliwata dalam mediasi gaib.


Sepontan Wikrama dan ki Tampar wulung menyatukan hati dan pikirannya untuk menerima suara gaib yang datang dari Siliwata.


"Iya cucuku, kakek sudah mendengarnya, ada apa? apa kamu baik-baik di situ." Ujar Wikrama.


"Saya cuma mau ngasih tau kehadiran kakek dan ki Tampar wulung sudah di ciumnya oleh telik sandi bangsa siluman kera, kakek dan ki Tampar wulung hati-hati, Jagalah Jasadku kek." Begitu mediasi sukmanya Siliwata dan Wikrama.


Selepas itu Wikrama dan ki Tampar wulung melindungi dirinya dan Jasad besarnya Siliwata dengan ilmu kabut sukma.


Kini Tubuh Wikrama dan Ki Tampar wulung serta jasadnya Siliwata tiba-tiba lenyap di telah sebuah kabut yang menggulung terus mengembang membungkus ke tiga tubuh itu.


..........


Sementara Siliwata yang lagi berada di sebuah ruangan, setelah mendengar perbincangan sang Raja dan para ponggawanya, ia keluar dan menyelinap masuk kesebuah ruangan, yang di mana Siliwata mencium darah manusia.


Setelah Siliwata berada di ruangan yang bau darah manusia, nampak terlihat oleh Siliwata banyak anak manusia yang sudah di pengaruhi pengaruh buruk dari darah siluman Kera.


"Jagat dewa batara, rupanya di sini anak-anak manusia yang di culik itu, kasihan sekali, ini tidak boleh di diamkan sampai berlarut-larut." Ujar sukamnya Siliwata.


Selepas itu Siliwata pun keluar dari ruangan tersebut, kemudian sukmanya Siliwata melayang melesat untuk keluar dari keraja'annya para siluman kera menuju ke tepian kali citarum , di mana ki Tampar wulung dan wikrama lagi menunggu dan menjaga jasad besar diri Siliwata.


Setibanya di tepian kali citarum, nampak terlihat oleh sukma Siliwata, sebuah kabut tebal di tempat Wikrama dan ki Tampar wulung menunggu


"Pasti kake lagi memakai ilmu Kabut sukma, supaya tidak terlihat oleh bangsa siluman kera." Ujar sukma Siliwata.


Kemudian sukma Siliwata melorot menembus masuk kedalam gumpalan kabut tersebut, dan mendekati pada sebuah tubuh gagah dan tampan lagi duduk bermeditasi, dan akhirnya bayangan itupun menyelinap masuk ke dalam tubuh gagah tersebut.

__ADS_1


Selepas itu, perlahan tubuh Siliwata menggerakan jari jemarinya, kemudian langsung membuka matanya perlahan. Wikrama dan ki Tampar wulung lalumemburu pada Siliwata. "Gimana Siliwata keada'an di sekitar keraja'an kera, apa benar banyak anak bayi manusia di sana?." Tanya Wikrama.


"Iya benar kek, ada banyak anak bayi manusia di simpan di sebuah tempat yang di jaga sangat ketat oleh siluman kera." Jelas Siliwata.


"Ber'arti kita harus pasang strategi, untuk bisa masuk dan bisa membawa pulang anak-anak bayi itu." Wikrama.


"Kalau begitu, kita nembutuhkan banyak orang untuk bisa masuk dan membebaskan anak-anak bayi tersebut." Pungkas ki Tampar wulung.


"Iya benar Paman, tapi untuk bisa masuk ke sebuah keraja'an siluman itu membutuhkan orang-orang khusus, yang bisa melihat di alam siluman." Siliwata.


"Lantas siapa orangnya?." Tanya ki Tampar Wulung.


"Nanti saya akan meminta bantuan pada pasukan goa mamba dan dari negri awan." Jawab Siliwata.


Kemudian Siliwata bermeditasi mrngirimkan pesan lewat mediasi gaib, pada Kanjeng ratu Mamba Sari dan penguasa negri Awan.


Pesan Siluwata telah di terimanya oleh Ratu Mamba Sari dan Rati penguasa Negri Awan.


Kemudian Siliwata membuka matanya perlahan, lalu terdengar suara air di kali citarum berisik seperti lagi ada sesuatu yang lagi berenang.


Ki Tampar Wulung dan Wikrama tercengang kaget begitu melihat ada banyak barisan ular lagi berenang mendekati padanya, di tambah suara gemuruh di angakasa seperti badai mau turun hujan, semakin mendekati ke arah ki Tampar Wulung dan Wikrama.


"Jangan kaget kek dan ki Tampar Wulung, itulah tentara bala bantuan dari Goa Mamba dan para bidadari tentara Negri Awan." Jelasnya Siliwata.


Setelah itu para tentara dari goa mamba dan para bidadari dari negri awan sudah berbaris di tepian kali tinggal menunggu perintah dari Siliwata.


"Kapan Raden kami mulai bergerak?." tanya salah satu prajurit dari goa mamba.


"Sekarang juga kita bergerak, ayo kita serang bukit kera." Seru Siliwata.


Ratusan bahkan ribuan pasukan ular dari Goa Mamba dan para bidadari utusan dari negri awan melesat menyebarangi kali citarum lalu menaiki bukit kera.


Tidak lama kemudia para tentara Goa Mamba dan bidadari telah sampai di atas bukit kera, dengan perjaga'an yang sangat ketat, para pasukan kera berteriak-teriak memanggil baladnya bahwa ada penyerangan dalam jumlah besar lagi mengepung bukit kera.


Karena tidak ada persiapan yang matang, para prajurit kera banyak yang tewas, di bantai ribuan pasukan ular Mamba, dan para bidadari tentara dari negri awan.


jerit kesakitan dari para siluman kera yang tewas sampai menggidikan bulu roma bagi orang yang mendengarnya.


Dalam hitungan Jam, semua para prajurit siluman kera telah gugur dan mayat.mayat banyak berserakan, darah mengalir dari atas bukit jatuh ke permuka'an air kali citarum, kini kali citarum tengah menjadi aliran darah dari para bangsa siluman kera.


Sementara raja kera yang sakti mandra guna, lagi bertarung dengan Siliwata, kelebatan cahaya dari ilmu kesaktian saling menghantam.


Karena puluhan bayi dari anak manusia yang mau di jadikan tumbal bila purnama datang untuk menambah kesaktian raja siluman kera, belum mencapai kesuksesannya berhubung Siliwata dengan cepat menggagalkannya, jadi ilmu kesaktian Raja siluman kera belum bisa mencapai puncak tertinggi, sehingga dalam waktu yang singkat pedang Mamba telah berhasil menembus jantung Siluman kera.


*******

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2