SATRIA MAMBA HITAM

SATRIA MAMBA HITAM
Eps 36 Banjar Karoman


__ADS_3

Para kelompok manusia aneh itu langsung geram ketika mendengar perkataan Siliwata bahwa pedang yang di inginkannya itu tidak akan di berikannya dengan cuma-cuma.


Kemudian mereka maju berpencar membuat pormasi melingkar yakni mengurung Siliwata.


Mata yang liar dan tajam menatap penuh keji pada Siliwata.


Dengan bersenjatakan tumbak, mereka mengankat tumbaknya siap untuk membunuh Siliwata.


Siliwata siap siaga pasang kuda-kuda sambil membagikan pandangannya pada mereka yang lagi mengurungnya.


Setelah itu pimpinan dari kelompok manusia aneh memberi komando untuk menyerang Siliwata.


Siurrr


Siuuurr


Wheesss


Wheeessss....


sepuluh tumbak meluncur ingin memanggang tubuhnya Siliwata.


Tapi sebelum tumbak-tumbak tersebut menyentuh tubuhnya.


Hanya dengan secepat kilat Siliwata melesit jungkir balik di udara, lalu bertengker di atas sebongkah batu besar.


"Hahaha.....Aku di sini." Teriak Siliwata sambil tertawa.


Mereka pun langsung membalikan badannya dan menoleh ke arah Siliwata.


"Kurang ajar, pandai juga kau menghindar dari serangan tombak kami." Tukasnya.


"Hahaha.... Mungkin cuma kebetulan saja, ma'af saya tidak ada waktu untuk meladeni kalian, sekali lagi saya minfa maaf, lain waktu kita akan berjumpa lagi." Sahut Siliwata sembari melesat pergi meninggalkan mereka.


Mereka tercengan berdiri mematung melihat tubuh Siliwata yang lenyap bagaikan di terpa angin.


Dengan sangat terpaksa Siliwata pergi meninggalkan para kelompok manusia aneh, menggunakan ilmu Mamba anginnya supaya lebih cepat sampai di Banjar Karoman.


"Rupanya pemuda itu se orang pendekar yang sakti mandra guna." Celoteh salah satu dari mereka menatap tempat yang sudah kosong.


Sedangkan Siliwata sendiri sudah sangat jauh meninggalkan mereka.


Siliwata melesat bagaikan kilat di sertai oleh angin yang begitu kencang menerpa semak belukar dan daun-daun yang berhamburan ketika Siliwata melewatinya.


Ilmu mamba Angin yang sudah sangat sempurna sekali, sehingga epeknya bisa di rasakan oleh para penduduk desa yang lagi melakukan perjalanan pulangnya dari ladang dan kebun.


"Suara apa itu, heh lihatlah ke arah sana semak dan daun-daun berhamburan di sapu angin." Ujarnya sambil menoleh pada yang lainnya.

__ADS_1


Para penduduk sejenak menghentikan langkahnya, semua mata memandang intens ke arah semak belukar yang berhamburan tersapu angin dari ilmu Mamba Angin.


"Jagat Dewa Batara, apa itu? Bayangannya cepat sekali, apa jangan-jangan Sang Dewa, yang ingin menghentikan pertikaian di Banjar Karoman." Gerutu salah se orang lelaki berpakaian serba hitam.


Ketika Senja sudah mau tenggelam, Siliwata yang sudah menginjak kan kakinya di Negri Banjar Karoman.


Perlahan Siliwata melangkah kan kakinya, memasuki wilayah kadipaten Impala.


"Sebaiknya aku cari dulu impormasi, tapi bagaimana caranya untuk mendapatkan impormasi tetang Banjar Karoman." Gumam Siliwata sembari menggaruk-garuk alisnya yang tidak gatal.


Karena seharian Siliwata belum memberi makan para cacing dalam tubuhnya, rasa laparpun sudah mulai menyerang.


Setelah itu Siliwata memasuki sebuah kedai yang sangat ramai pengunjung.


Nampak di dalam kedai telah di penuhi oleh kaum para lelaki, berpakaian serba hijau, bertampang sangar-sangar.


Siliwata duduk agak jauh dari mereka, kemudian sang pemilik kedai datang menghampiri dan bertanya.


"Selamat malam tuan, tuan mau makan atau sekedar mau ngopi saja?." Tanya pemilik kedai.


"Saya mau makan pak." Sahut Siliwata.


"Baiklah, tunggu sebentar ya."


Selang beberapa menit pemilik kedai datang membawa sepiring nasi dan lauk pauk untuk Siliwata.


"Ini tuan."


Dengan sangat laparnya Siliwata menyantap makanan.


Sementara di sisi lain yang bersebelahan dengan tempat Siliwata duduk, salah seorang dari para lelaki yang berpakaian seragam warna hijau, menatap ke arah Siliwata dengan tatapan penuh penasaran, lalu berbisik pada salah kawanannya.


"Heh coba kamu lihat pemuda yang baru datang itu, sepertinya dia seorang pengembara." Ujarnya.


"Iya benar kakang, kalau di lihat dari caranya berpakaian seperti dia bukan pemuda sembarangan." Sahutnya.


Siliwata tetap pokus pada makanannya, pura-pura tidak tahu kalau dirinya lagi di perhatiin.


Setelah Siliwata menghabiskan makanannya, ia pun langsung berdiri dari tempat duduknya, memanggil pada pemilik kedai.


"Berapa semuanya pak?." Tanya Siliwata.


Pak tua pemilik kedai itu pun menjawab.


"Lima belas kepeng tuan." Jawabnya.


Siliwata langsung mengeluarkan uang koin dari sebuah kantong kain.

__ADS_1


"Ini pak."


"Terima kasih tuan, oh ia sepertinya tuan ini bukan orang sini?." Tanya pemilik kedai sambil menerima uang dari tangannya Siliwata.


"Iya benar pak, saya se orang pengembara." Jawab Siliwata.


"Oh pantesan, tuan hati-hati di sini orangnya keras-keras, apalagi sama orang baru seperti tuan." Pesan pemilik kedai.


"Iya pak terima kasih." Tukas Siliwata sambil melangkah keluar dari dalam kedai.


Di malam yang gelap gulita, hanya cahaya obor yang menerangi tertancap di depan kedai.


Siliwata berjalan ke arah timur, dengan pakaiannya yang serba hitam kini tidak nampak lagi bayangannya, di telan malam yang begitu gelap.


Keberadaannya Siliwata di kadipaten impala, menjadi pusat perhatian dari kelompok manusia yang bersergam pakaian warna hijau.


Selepas Siliwata pergi dari kedai tersebut, mereka pun beranjak keluar dari dalam kedai, berjalan ber'iringan mengikuti kemana perginya Siliwata.


Setelah jauh mereka berjalan, di jalan setapak yang Siliwata lalui, sepertinya mereka kehilangan jejak.


"Cepat sekali pemuda itu." Ujar salah seorang dari mereka yang bernama Jatmika.


Mereka menghentikan langkahnya, sambil celingukan membagikan pandanganya ke sekeliling tempat yang mereka lalui.


"Rupanya pemuda itu bukan orang sembarangan kakang, padahal jarak antara kita dengan pemuda itu hampir sama." Tukasnya.


"Kita harus secepatnya memberi tahu Adipati Suradita." Timpal Jatmika.


Siapa sebenarnya kelompok manusia yang berserajam hijau-hijau itu, lalu apa hubungannya dengan Adipati Suradita.


Ternyata orang yang mereka cari sebenarnya lagi mendengarkan percakapannya.


Siliwata yang merubah wujudnya menjadi se ekor mamba hitam lagi melilit di dahan kayu, mendengar semua obrolan Jatmika dan kawana nya.


Manusia yang bisa hidup di dua dimensi, telah membuat rombongan Jatmika kehilangan jejaknya.


Bersamaan dengan kembalinya kawanan Jatmika, kini Siliwata yang mengikutinya dalam wujud dan bentuk se ekor ular Mamba hitam.


Di rimbunnya semak belukar Siliwata terus mengejar rombongannya Jatmika.


Ketika rombongannya Jatmika tiba di sebuah bangunan yang cukup besar dan di depan pintu utama di jaga oleh dua orang berpakaian seperti prajurit.


Siliwata langsung merubah ujudnya ke bentuk semula(manusia).


"Mau apa mereka, lalu siapa yang akan mereka temui." Batin Siliwata.


Siliwata terus memusatkan pandangannya pada rombongannya Jatmika, yang nampak sudah mulai memasuki bangunan tersebut.

__ADS_1


"Apa yang akan mereka bicarakan, sebaiknya aku gunakan ajian Sukma pangrungu." Gerutu Siliwata dalam hati.


Kemudian Siliwata duduk bersila sambil memejamkan matanya, memusatkan pikirannya kedalam bangunan tersebut.


__ADS_2