
Tujuh tahun kemudian Yuda sara telah menginjak dewasa, kini ia genap berusia delapan belas tahun.
Dengan postur tubuhnya yang tinggi besar, dan memiliki ke kuatan gajah sena, bisa mengangkat benda puluhan kuintal bahkan ratusan.
Kini para warga penduduk Tirta kencana begitu sangat menghormati, pada Siliwata dan Yudasara, kehadiran Siliwata dan Yudasara serasa jadi pelindung bagi para warga, sebagai pahlawan dan bentengnya Tirta kencana.
Beda halnya dengan orang yang terpandang di Tirta kencana, yaitu Sodagar Badrun yang merupakan ayahandanya Dewi kencana, kakenya Sliwata dan Yudasara, sebagai ayah mertuanya Kala seta, ketika mendengar para warga yang begitu hormat dan mengagungkan nama Siliwata dan Yudasara, nampak seperti tidak suka itu.
"Dasar para warga tidak tau diri, masih saja menganggap anak setan itu sebgai pahlawan." Gerutu Badrun.
Lalu nyi Pandan sari datang membawakan segelas air teh untuk suaminya.
"Pak pak, mau sampai kapan Bapak membenci cucumu sendiri." Ujar nyi Pandan Sari.
"Diam Buk, dia bukan cucuku, walau pun terlahir dari rahimnya anak kita, tapi tetap darah dagingnya si kala seta brengsek." Bentak Badrun.
Nyi pandan Sari hanya terdiam sambil menggelengkan kepalanya lalu bergumam dalam hati. "Oh sangiang widi, sadarkan lah keras hatinya suami hamba, kenapa sampai tidak mau menerima takdir yang telah engaku tentukan." Batin nyi Pandan Sari.
Badrun langsung meraih minuman di cangkir, lalu di seruputnya perlahan karena masih terasa panas, lalu cangkir itu di letakan kenbali di meja.
"Pokoknya sampai kapan pun, ku tidak sudi mengaku cucu pada keturunan si Kala seta." Ujar Badrun.
Nyi Pandan Sari langsung beranjak pergi sambil berkata. "Terserah bapak, dan saya pun seperti berada dalam neraka di sini, saya mau pulang, buat apa meladeni suami yang keras kepala seperti batu." Gerutu Nyi Pandan sari.
Badrun langsung beranjak dari tempat duduknya memburu pada nyi Pandan Sari.
"Apa kamu bilang, rupanya kamu mulai berkhianat padaku, Plaaaakkk." Satu tamparan telah mendarat di pipi kanan nya nyi Pandan Sari.
Nyi pandan sari langsung membalikan badannya sambil berteriak.
"Ayo bunuh saja aku pak, biar kamu puas dasar lelaki pengecut, yang beraninya cuma sama perempuan, dari mulai sekarang saya akan pulang ke Tamiang." Bentak nyi Pqndan sari, langsung bergegas pergi memasuki ruangan kamarnya, dan setelah beberapa menit kemudian nyi Pandan Sari keluar dengan membawa buntalan kain.
Badrun terbelalak kaget, ternyata istrinya itu bukan nenggertak tapi benar-benar istrinya mau pulang.
"Bu, bu, jadi kamu beneran mau pulang?." Tanya Badrun.
Nyi pandan sari tidak berkata sedikitpun, ia lalu bergegas keluar dari rumah dengan tergesa-gesa.
Tidak menghiraukan panggilan dari suaminya, karena selama berpuluh-puluh tahun mendampingi suaminya, terap keras kepala dan berhati batu, padahal Kala seta sosok pemuda baik hati, hanya karena Kala seta berasal dari keluarga yang tidak mampu sehingga membuat hati badrun membencinya sampai pada keturunannya yang sekaligus cucunya sendiri.
Habis sudah kesabaran nyi Pandan sari pada Badrun suaminya, nyi pandan Sari berjalan terus, sampai tidak terasa ia sudah sampai di penghujung kampung Tirta kencana, sejenak nyi Pandan Sari menghentikan langkahnya.
"Apa aku bilang dulu pada putriku kalau aku mau pulang ke Tamiang." Batin nyi Pandan Sari.
__ADS_1
Ketika nyi Pandan Sari lagi terdiam sambil berpikir masalah kepergiannya, terdengar Suara langkah kuda menghampirinya, ternyata ia adalah orang suruhannya Badrun untuk membawa pulang kembali istrinya.
"Nyai kami di suruh oleh juragan untuk membawa kembali nyai pulang." Ujarnya sambil turun dari punggung kuda.
"Katakan sama majikanmu itu, kesabaran saya sudah habis, minggir biarkan saya pergi." Cetus nyi Pandan Sari.
"Tidak bisa nyai, saya harus bisa membawa pulang." Ujarnya.
"Kalau saya tidak mau kamu mau apa." Bentak nyi Pandan Sari.
"Terpaksa kami akan memaksa." Jawabnya.
"Anak buah dan majikan sama saja wataknya, dasar manusia biadab." Ujar nyi Pandan sari.
Kemudia Kedua anak buah badrun bergerak mau membawa istri majikannya dengan paksa karena perintah dari Badrun, nyi Pandan sari pun berontak sambil menjerit, sampai tidak sadar nyi Pandan Sari berteriak memanggil kedua cucunya.
"Cucuku Siliwata, Yuda sara tolong aku..." Teriaknya.
Sementara Siliwata dan Yuda sara yang lagi bekerja di ladang bersama kedua orang tuanya, karena pendengaran batinnya yang sudah kuat, Siliwata pun beranjak dan menyimpan cangkulnya.
"Rayi, dengarkah suara jeritan nenek." Ucap Siliwata.
"Iya kakang aku pun mendengar, ayo kakang kita kesana." Blas Yuda sara sambil melesat pergi, yang di ikuti oleh Siliwata.
"Siliwata dan Yuda sara mau kemana nyi Dewi?." Tanya Kala seta.
"Tidak tau kakang, tadi sepintas ku dengar, katanya mendengar suara jerit nenek, apa mungkin kedua putra kita merasakan apa yang nenek alami, kalau begitu ayo kita pulang kakang, ku juga merasa tidak enak hati." Jelas Dewi Kencana.
"Ayo nyai, pasti kedua putra kita benar, dia kan mempunyai mata batin yang kuat." Ujar Kala seta, sambil meraih ke dua pacul bekas Siliwata dan Yuda sara.
...............
Sementara Siliwata dan Yuda sara, begitu sampai pada titik suara yang ia rasakan, nampak terlihat nyi Pandan Sari lagi di paksa oleh ke dua anak buahnya badrun.
Yuda sara langsung berkelebat seperti angin, sambil menendang anak buah Badrun.
"Mau kau apakan nenek saya bangsat." Teriak Yuda sara.
Bruuuk...
Salah satu tubuh anak buah Badrun sampai terpental jauh, hanya sekali tendang, tubuhnya langsung jatuh tersungkur dan tidak berdaya lagi.
Nyi Pandan sari merasa senang hatinya, ternyata jeritannya bisa di dengar oleh kedua cucunya.
__ADS_1
Kemudian salah satunya lagi anak buah Badrun, tersontak kaget dengan kedatangan Siliwata dan Yudasara hanya dalam sekejap.
"Kamu siapa, jangan campuri, ini urusan juragan Badrun, apa mau saya laporkan pada Juragan." Bentak nya.
"Sekarang kamu pulang, bilang pada juraganmu itu, saya Yuda sara dan kakang Siliwata, menanti kedatangannya di sini, dan sudah saya siapkan lubang kubur, untuk lelaki bejat itu." Bentak Yuda sara.
Kemudian anak buahnya Badrun langsung melompat menaiki punggung kudanya, tanpak menghiraukan temannya yang lagi pinsan.
Sedangkan Yuda sara dan Siliwata, segera pergi membawa nyi Pandan Sari ke rumah.
Setibanya di rumah, nampak Kala seta dan Dewi kencana lagi mau bersiap-siap untuk pergi menemui ibuknya, Dewi Kencana langsung memburu nyi Pandan Sari.
"Ibuk kenapa?." Tanya Dewi Kencana sambil memeluk.
"Nanti ibuk ceritain, sekarang bolehkah ibuk masuk ke rumahmu, Kencana, dan nak Seta." Cetus nyi Pandan Sari.
"Dengan sangat senang ibuk, hati dan rumah kala seta selalu terbuka untuk ibuk, bahkan ayah Badrun pun, biarpun dia sudah berkarat membenciku." Ujar Kala seta.
"Sungguh mulia sekali hati nak Seta, tapi kenapa ayah mertuamu sampai begitu bencinya padamu, hingga ke cucu-cucunya sendiri." Ujar nyi Pandan Sari.
"Biarlah buk, tidak usah di pikirin, kakang Kala seta tidak pernah balik membenci ayah, lalu ibuk ada masalah apa sama ayah?." Tanya Dewi kencana.
"Cuma salah paham kencana, ibuk cuma mengingatkan ayahmu, mau sampai kapan membenci Kala seta dan anak-anaknya, ayahmu malah marah dan menampar ibuk, dan ibuk berniat mau pulang ke Tamiang, ibuk sudah lelah berada di rumah ayah badrun, setiap hari tidak ada kenyamanan dalam kehidupan rumah tangga ibuk sama ayahmu." Jelas nyi Pandan Sari.
"Ke Tamiang ke tempat siapa buk, kan kakek sama nenek sudah tidak lagi." Ujar Dewi Kencana.
"Biarlah ibuk hidup menyendiri di sana, kan ibuk juga punya sepetak tanah warisan dari bapak yaitu kakek mu." Ucap Nyi Pandan Sari.
Kemudian Kala seta menggeserkan posisi duduknya mendekati sang mertua, untuk menenangkan hati mertuanya.
"Ibuk aku selaku mantu ibuk, tidak mengijinkan kalau ibuk harus hidup sendiri di sana, di sini pun masih rumah ibuk, rumah ini selalu terbuka buat ibuk." Ujar Kala seta.
"Iya nek, aku bersama adek Yuda sara sangat sayang sama nenek, nenek jangan tinggalkan kami." Cetus Siliwata.
"Iya nak seta, dan cucuku, itu semua sudah aku rasakan kasih sayang kalian tiada duanya, makanya aku tak rela bila tuan Badrun membenci kalian." Ujar Nyi Pandan Sari.
Nyi Pandan Sari akhirnya tidak jadi pulang ke kampung Tamiang, berkat anak dan mantunya yang melarang untuk tidak meninggalkan Anak dan cucu-cucunya.
Untuk sementara Nyi Pandan Sari menetap di tumahnya Kala seta, memberi pelajaran pada Badrun yang sudah berlaku kasar padanya untuk berubah.
Sementara Kala seta dan Yuda sara pergi berkelana untuk menjalankan perintah dari eyang Resi Wanayasa, ke Gunung Walang untuk mengambil harta karun yang kini lagi di incar oleh semua pendekar di rimba persilatan.
********
__ADS_1
Bersambung