
Suara pertarungan begitu nyaring dari benturan-benturan senjata dari beragam jenis.
Banyak pendekar dari berbagai golongan yang terlibat pertarungan memperebutkan harta karun yang belum di dapatkannya, Siliwata dan Yudasara menyelinap di balik semak belukar menyaksikan pertarungan tersebut, setelah keluar dari sebuah goa yang telah berhasil mendapatkan harta karun itu.
"Para pendekar aneh, harta karun belum di dapatkannya pun sudah adu tanding mempertaruhkan nyawa, demi ambisi dan ke serakahannya." Lirih Siliwata berbisik.
"Iya benar kakang, mereka itu orang-orang aneh dan bodoh." Jawab Yuda sara berbisik.
Keberada'annya Siliwata dan Yudasara ternyata lagi ada yang mengikutinya di atas awan, seorang nenek sihir yang tak lain adalah Nini Sulampe, tokoh wanita penyihir yang merasa tergiur dengan kabar yang lagi ramai di perbincangkan.
Ketika Siliwata dan Yudasara lagi menyelinap di balik semak belukar menyaksikan pertarungan para pendekar dari berbagai golongan, tanpak Siliwata dan Yudasara sadari bahwa di atas awan lagi ada yang mengincar pedang tersebut, Nini Sulampe kemudian merubah wujudnya menjadi se ekor burung elang, lalu melorot ke bawah menuju pada Siliwata dan Yudasara berada, dengan se cepat kilat Burung elang tersebut telah mencengkram pedang yang baru saja Siliwata dan Yudasara dapatkan dengan kukunya yang tajam, dan langsung terbang ke Angkasa.
Siliwata dan Yudasara tersontak kaget, ketika Kecepatan burung elang melibihi kecepatan Angin sudah berhasil membawa kabur pedang tersebut.
"Kurang ajar, Rayi kita ke colongan." Sontak Siliwata.
"Kecolongan bagaimana maksud kakang?." Tanya Yudasara belum mengerti.
"Celaka Rayi, pedang itu telah di rebut oleh penculik se ekor burung elang, kakang yakin itu burung elang jelmaan dari seseorang yang menganut ilmu sihir." Timpal Siliwata.
"Lantas kemana kita harus mengejar penculik itu." Ujar Yudasara.
"Ikuti kakang, kita tinggalkan tempat ini." Tukas Siliwata.
Baru saja Siliwata dan Yudasara mau meninggalkan tempat itu, beberapa bayang telah melesat menghampirinya.
"Mau kemana kalian, cepat serahkan harta karun itu, saya yakin kalian berdua sudah berhasil mendapatkan harta karun itu." Desaknya dengan paksa.
Siliwata dan Yudasara saling pandang sembari menyunggingkan senyumannya.
"Hahaha dasar orang bodoh, apa kalian tidak melihatnya kalau kami tidak membawa apa-apa."Timpal Siliwata.
"Setan alas, banyak berkelit kau." Ujarnya Sambil melesat menyerang pada Siliwata dan Yudasara.
Tiga pendekar Trisula langsung menggempur kedua kaka beradik itu, kelebatan senjata Trisula terus berputar kencang mengurung Siliwata dan Yudasara.
__ADS_1
Siliwata pun langsung menghunus pedang Mamba merahnya.
Sreweenng
Suara logam baja tipis begitu nyaring ketika di hunus dari warangkanya, bersamaan dengan keluarnya sinar merah yang menyilaukan pandangan.
Begitu pula Yudasara langsung mengeluarkan senjata gada Saktinya yang di simpan di dalam jasadnya secara gaib.
Desingan Suara gada yang di putar begitu menggidikan bulu kuduk, sehingga menciptakan sapuan angin yang menderu.
Ke Tiga pendekar Trisula sampai di buat tercengang dan kelabakan begitu kedua kakak beradik itu mengeluarkan senjatanya dan bergerak cepat seperti angin.
Dalam ke adaan seperti itu, Tiga Pendekar Trisula lalu melompat mundur sambil menghempaskan tiga Trisulanya yang mengeluarkan gumpalan cahaya kuning melesat ke arah Siliwata dan Yudasara.
Hanya satu ayunan pedang Mamba merah dan Gada Sakti, gumpalan cahaya kuning itu langsung mental dan berbalik arah pada ke tiga pendekar Trisula.
Ketiga tubuh terpental hingga beberapa tumbak, tapi sungguh luar biasa kekuatan pisik dari ketiga pendekar trisula itu, mereka langsung bangkit dan berdiri, sambil membangun kuda-kuda untuk melakukan lagi serangannya.
"Hahaha...Jangan merasa berbangga hati dulu kalian bocah ingusan, kami tiga pendekar trisula dari Lembah Maya yang sudah kenyang merasakan asinnya garam dunia persilatan tidak gampang untuk kalian mengalahkan kami." Ujarnya.
"Persetan dengan gelar kependekaran kalian, siapapun kalian, bahkan iblis sekalipun kami tidak pernah gentar." Tukas Siliwata penuh tantangan.
"Dasar Bocah sombong, sekarang terima akibatnya dari kesombonganmu Bocah setan." Teriak mereka sambil melesat cepat menyerang Siliwata dan Yudasara.
Ciat
Ciiaaaat
Ciiaaat
Trang trang trang trang.
Suara benturan senjata terdengar lagi begitu nyaring memecahkan kesunyian di pinggiran kaki Gunung Kencana.
Siliwata dan Yudasara bergerak cepat dalam mengimbangi serangan demi serangan dari tiga pendekar trisula.
__ADS_1
Sementara di atas Angkasa yang menyelinap di balik awan hitam, sang nenek penyihir yaitu nenek Sulampe, tertawa terkekeh menyeramkan, sangat puas melihat kebawah sana orang-orang yang bertarung memperebutkan pepesan kosong, sedangkan yang lagi di perebutkannya sudah berada dalam gengamannya si nenek Sihir.
"Hehehehehe..... Dasar orang-orang bodoh, mempertaruhkan nyawanya demi harta karun yang sudah aku genggam, teruslah kalian bertarung samapai di antara kalian ada yang mampus, hehehee." Jerit tawa sang nenek sihir.
Kemudian Si nenek sihir itu langsung melesat terbang dengan tunggangannya Upih Sakti menuju tempat kediamannya di bukit Dadap
Perbuatan si nenek sihir itu telah terpantau oleh nyai ratu penguasa negri atas angin dari sebuah cermin saktinya yang secara otomatis cermin tersebut terbuka untuk memberikan laporan pada Nyai Ratu.
Si nenek sihir tidak menyadari bahwa Siliwata yang sudah menjadi bagian dari keluarga besar keraton negri atas angin, segala yang menyangkut dengan Siliwata pasti cermin itu akan terbuka dengan sendirinya.
Nyai Ratu yang bersama seluruh pengikutnya khususnya empat bidadari yang merupakan benteng dari kekuatannya yaitu Bidadari Hijau, Putih, Merah dan Ungu.
"Putih dan kamu Hijau, turunlah kalian ambil pedang yang berada di tangan Sulampe itu, lalu kalian berikan pada Siliwata karena dialah yang berhak atas harta peninggalan dari kerajaan Kencana." Ujar Sang Ratu.
Putri hijau dan Putri Putih langsung menghaturkan sembah sungkemnya.
"Baik Nyai Ratu hamba berdua akan segera memenuhi segala titah dari Nyai Ratu." Jawabnya.
Kemudian kedua putri dari negri awan itu bergegas melangkah menuju pintu keluar, setibanya di pintu keluar keduanya langsung melesat tebang untuk mengejar si nenek Sihir nini Sulampe.
Bayangan hijau dan putih melesat cepat di bawa angin menuju bukit dadap.
Setibanya di atas Bukit yang di penuhi oleh rumput dan semak belukar kedua putri itu langsung melesat turun dengan sangat enteng sekali.
Sebelum memasuki area kediaman nenek Sulampe, keduanya merubah wujudnya menjadi se ekor burung dara, lalu terbang dan hinggap di ranting.
Dengan kedua netranya memandang ke arah gubuk yang bentuk ya aneh dan menyeramkan.
"Coba hijau gunakan ilmu tembus pandang, apakah Sulampe ada di tempat." Celoteh Putri putih yang telah berganti wujud dengan se ekor Burung Dara.
Putri hijau pun langsung menggunakan ilmu tembus pandangnya untuk memantau nenek Sulampe.
"Bedebah, Nenek sihir tidak ada di tempat rupanya dia telah mencium kedatangan kita kesini Putih." Cetus Putri Hijau.
"Hebat juga kesaktian Nenek sihir itu, sampai bisa mengetahui kedatangan kita." Tukas Putri Putih.
__ADS_1