
Siliwata hanya memandang kepergiannya sang putri, setelah itu Siliwata melanjutkan lagi perjalanannya menuju selatan.
Siliwata sekarang sudah tidak kebingungan masalah ludahnya yang beracun itu.
Haripun sudah tidak terasa lagi karena roda kehidupan berputar begitu cepat.
Kini senja sudah datang, langit memerah disebelah barat, gerombolan kelelawar sudah keluar dari sarangnya, untuk mencari makan buat menyambung hidupnya, karena sang pencipta menciptakan mahluh hidup dimuka bumi ini, dengan berbagai macam jenis dari yang paling kecil hingga ke yang paling besar, ada yang hidup di malam hari dan adapula yang hidup disiang hari.
Karena sang pencipta sudah menciptakannya dengan berpasangan, ada siang ada malam, ada pria ada wanita, ada kebaikan dan ada pula kejahatan.
Karena itu semua sebagai penyeimbang didalam kehidupan.
Kala senja sudah berlalu, Siliwata mulai memasuki hutan cabrik, sebuah hutan yang lembab karena banyak dipenuhi oleh rawa-rawa dan dihuni oleh para binatang melata, seperti Buaya dan sebagainya.
...Digelapnya malam dan banyaknya pepohonan, tidak menjadikan penghalang bagi Siliwata, karena penglihatan Siliwata sudah dibekali dari sejak bayi, Biarpun gelap kaya apapun Siliwata masih bisa memandang dengan jelasnya....
Siliwata terus berjalan, tanpa menoleh kebelakang ia tetap pokus dengan perjalanannya yaitu menuju kampung kadaka, sesuai dengan pesan sang putri penguasa dari negri awan.
Tiba-tiba langkah Siliwata terhenti disaat Siliwata berjalan melintasi sebuah rawa, suara air yang gemericik membuat siliwata merasa kaget, karena sebuah rawa yang airnya tenang dan tidak mengalir, Bisa menimbulkan suara gemericik.
''Waah ada apa ini, ko seperti ada yang bergerak didalam air itu.'' Ucap Siliwata.
Siliwata terus memperhatikan rawa itu yang terus bergoyang goyang, setelah itu tiba-tiba airpun tenang kembali dan suara gemericikpun hilang.
Siliwatapun tidak ambil perduli, terus iapun melangsungkan perjalanannya.
Didalam perjalanannya banyak keanehan-keanehan yang Siliwata temui, kini Siliwata sudah mulai berjalan kedataran yang lebih tinggi, hutan cabrik hutan yang sangat luas dan panjang, dan hutan yang sangat angker yang jarak dimasuki oleh manusia.
Beda dengan Siliwata, hutan itu malah bersahabat baginya, disepanjang jalan banyak yang menyapa dan menegur Siliwata.
Malampun kini mulai larut, siliwata terlihat sangat lelah, ia lalu menghentikan perjalanannya, Terus duduk dan menyandarkan tubuhnya ke pohon yang sangat besar.
Sehingga tidak terasa, kini mata Siliwata mulai agak berat dan susah untuk dibuka.
Akhirnya, sang satria dari goa Mamba itu tertidur dengan pulasnya.
Rambut hitam ikal dan panjang mulai menutupi wajahnya karena diterpa angin malam.
Tubuh tegap dengan dada yang bidang, kini sudah tidak berdaya lagi, karena sang sukmanya sudah melayang pergi ke alam mimpi.
Pedang panjang yang terselip dipinggangnya menjadi penjaga didalam tidurnya, karena pedang itu hadiah dari senopati mamba merah.
Bila bahaya datang menghadang, pedang itu akan menyerang dengan sendirinya, itulah kelebihan dari pedang mamba merah.
Ditambah pula pedang itu kadang bisa berubah menjadi se ekor ular mamba yang sangat besar sekali.
Dikeheningan suasana malam di dalam hutan cabrik, hanya terdengar suara binatang malam, komplotan kelelawar, ramai berisik disebuah pohon belimbing hutan dan pohon harendong lagi asik menyantap makanan yang lejat bagi comunitas binatang malam yang agak mirip dengan moncongnya srigala.
Sementara Siliwata yang masih tertidur dengan pulasnya, tak satu pun binatang yang berani mendekatinya.
Entah apa yang ada didalam tubuhnya Siliwata, karena aura dari Siliwata, membuat para binatng enggan untuk mendekat apa lagi berani mengganggunya.
Malampun terus berlalu, dan waktu berputar begitu cepatnya, sehingga tidak terasa sang malampun sudah berganti dengan pagi suara-suara ayam hutan nampak terdengar jelas ditelinganya Siliwata, Sehingga Siliwata terbangun dari tidurnya, karena tidurnya begitu nyenyak sampai tidak terasa daun-daun kering yang berjatuhan sudah memenuhi tubuhnya siliwata.
''Waah nyenyak sekali tidurku, Ku baru merasakan ternyata dialam ini waktunya begitu panjang, jauh sekali perbeda'annya dengan alam lelembut yang begitu sangat cepat.'' Siliwata berkata sendiri.
Siliwata terus berdiri sambil mrmbersihkan dedaunan kering yang masih menempel ditubuhnya.
Ia pun kini mulai melangkahkan kakinya, dengan menuruni dataran hutan yang lebih rendah, karena waktu semalam Siliwata tertidur di area hutan cabrik yang lebih tinggi.
''Berarti sebentar lagi ku keluar dari hutan ini, karena jalan yang kulalui sudah mulai menurun, biasanya penghabisan hutan berada diarea yang lebih rendah.'' Ucap Siliwata.
Siliwata terus berjalan menurun, dengan pepohonan yang sudah jarang-jarang, Hanya hamparan padang rumput ilalang yang kini Siliwata lalui.
Dengan pakaian serba hitam dengan ikat kepala yang melingkar diatas telinga menutupi sebagian jidatnya, tubuh yang kekar dan rambut ikal panjang nampak terurai dan menari-nari tertiup angin yang menerpa disetiap langkahnya.
Kicauan burung terus berbunyi, seperti mengiringi disetiap langkahnya Siliwata.
Setelah itu nampak terlihat oleh Siliwata pohon kelapa menjulang tinggi dengan daunnya yang melambai-lambai tertiup angin.
''Berarti didepan sana ada pemukiman warga, biasanya dimana ada pohon kelapa, pasti ada perkampungan.'' Siliwata berkata sendiri.
Siliwata terus berjalan, hingga pada akhirnya Siliwata tiba disebuah gubuk yang beratap jerami dan beralaskan palupuh yang terbuat dari bambu.
Sejenak Siliwata singgah dan duduk bersantai di gubuk tua itu.
__ADS_1
Keberada'an Siliwata digubug itu.
Tak lepas dari perhatian dan pengawasan dua orang lelaki, yang terus mengawasi dari kejauhan yang bersembunyi dibalik semak-semak belukar.
''Jupri, coba kamu perhatikan, pemuda itu gayanya aneh, dan pakaiannya hitam pekat bersinar.'' Ucap Orang itu.
''Iya benar Rastam, Saya juga berpikir begitu.'' Jawab Jupri.
Siliwata menyandarkan tubuhnya ketiang gubuk tua itu.
Sambil mata memandang kearah jupri dan Rastam yang lagi mengintip dibalik semak-semak belukar.
''Mamang keluarlah, jangan ngintipin saya terus, saya bukan orang jahat.'' Ucap Siliwata.
Betapa kagetnya jupri dan rastam, begitu Siliwata memanggilnya suruh keluar.
Jupri dan Rastam dengan sangat terpaksa ia pun langsung keluar dari balik semak belukar.
''Kesini paman, ada yang mau saya tanyakan pada paman berdua?.'' Tanya Siliwata.
Sejenak Jupri dan Rastam terpaku tidak bergerak, karena merasa malu, apa yang sudah dilakukannya, Sedikit demi sedikit Jupri dan Rastam menggeserkan kakinya.
Melihat tingkah jupri dan Rastam yang lucu Siliwata tersenyum, sambil melambaikan tangannya.
''Paman, cepet sini, ko di irit amat jalannya, bidadari juga tidak srperti itu paman.'' Ucap Siliwata.
Akhirnya Jupri dan Rastam pun berjalan sebagaimana mestinya, memenuhi panggilannya Siliwata.
''Nah begitu dong kalau jalan, hehee.'' Ucap Siliwata sambil tersenyum.
''Iya anak muda, ma'apin paman ya, kalau paman berdua sempat mengawasi anda.'' Ucap Jupri.
''Ooh iya, tadi Nak......'' Rastam berkata tidak diterusin karena terpotong oleh Siliwata.
''Namaku Siliwata Paman.'' jawab Siliwata.
''Iya Nak Siliwata mau Tanaya apa?.'' Tanya Rastam.
''Ini namanya kampung apa, paman?.'' Tanya Siliwata.
''Apakah dikampung ini aman paman, apa sebaliknya?.'' Tanya Siliwata.
''Justru itu Nak Siliwata, makanya paman mengawasi semenjak kehadiranmu disini.'' Ucap Rastam.
''Maksud paman bagaimana, saya belum paham.'' Ucap Siliwata.
''Dikampung ini sering terjadi kejahatan, pemerkosa'an pada gadis atau wanita yang bersuami juga, untuk memenuhi napsu bejatnya Baron dan antek-anteknya.'' Ucap Jupri menjelaskan.
''Siapa itu Baron Paman?.'' Siliwata Bertanya.
''Baron, ketua dari srigala merah, kami hampir setiap mau datangnya malam selalu ketakutan dan mengunci pintu rumah, makanya kalau malam tiba kampung ini seperti kampung mati.'' Ucap Rastam.
''Kurang ajar mereka, menindas dan memeras rakyat semaunya sendiri, ini tidak bisa didiamkan paman, warga kadaka harus bertindak dan melawan.'' Ucap Siliwata.
''Itu pun pernah kami lakukan, tapi hasilnya banyak saudara kami yang tewas, karena kami tidak punya kemampuan untuk melawan mereka.'' Ucap Jupri.
''Mereka melakukan aksinya kapan.'' Kata Siliwata.
''Bila senja tiba, semua warga sudah pada mengurung diri dirumahnya masing-masing, ditandai dengan lolongan srigala, itu pertanda mereka akan muncul.'' Ucap Jupri.
''Kasih tau pada semua warga dan kepala kampung, Bila tiba senja, nyalakan obor disetiap depan rumah dan dan dipinggiran jalan, karena Bansa srigala takut denga api.'' Ucap Siliwata.
''Tapi kan mereka manusia nak Siliwata.'' Ucap Rastam.
''Bentuknya mungkin Manusia, tapi hati dan jiwanya telah dirasuki, Bangsa siluman srigala merah, Dan Saya minta ijin, biar gubuk ini menjadi tempatku istirahat, dan saya sendiri akan menghadang mereka semua Bila hari sudah gelap.'' Ucap Siliwata.
''Jangan nekad nak Siliwata, mereka terlalu kuat, apalagi nak Siliwata akan menghadapinya sendirian.'' Saut Rastam.
''Tenang Paman, sang pencipta akan selalu melindungi umatnya yang berbuat baik, apalagi ini demi kemanusia'an.'' Jawab Siliwata.
Selepas itu Rastam dan jupri undur diri dari hadapannya Siliwata, kedua lelaki itu berjalan dengan terburu-buru untuk memberi tau warga dan kepala kampung, apa yang telah dipesankan oleh Siliwata.
Setelah itu, tibalah Rastam dan Jupri, dirumah kepala kampung, Rumah yang cukup besar, tapi nampak sepi seperti tidak berpenghuni.
Jupri pun melangkahkan kakinya yang di ikuti oleh Rastam dari belakang, menaiki tangga yang dibuat dari papan kayu jati, setelah Jupri berada didrpan pintu.
__ADS_1
Tok..tok.. tok.
''Sampu rasun.'' Ucap Jupri sambil mengetuk pintu.
''Rampess.'' Terdengar dari dalam menjawab.
Dan pintupun mulai terbuka dengan perlahan-lahan, berbarenagn dengan kemunculannya seorang lelaki, berwajah putih bersih, dengan sebuah bendo(tutup kepala) dikepalanya.
''Jupri, Rastam ada apa?.'' Tanya Lelaki itu.
''Begini, pak tadi saya bertemu dengan pemuda, gagah dan tampan berpakaian serba hitam, Dia lagi duduk istirahat digubuknya ki Sarban, Mulanya kami berdua mengawasi prmuda itu, takutnya ada hubungannya dengan srigala merah, Tapi dia mengetahui keberada'an kami padahal kami bersembunyi dibalik semak-semak yang jaraknya cukup jauh, terus pemuda itu mrmanggil kami berdua untuk keluar.'' Ucap Jupri.
Jupri dan Rastam terus menceritakan perihal waktu bertemunya dengan Siliwata disebuah gubuk miliknya ki Sarban, tentang pembicara'anya tadi dan apa yang telah disarankan oleh Siliwata kepada warga kadaka dan kepala kampung, bila senja sudah tiba semua Warga harus siap-siap menyalakan obor didepan rumahnya masing-masing, dan dijalan-jalan yang akan dilalui oleh Srigala merah.
Setelah Jupri dan Rastam menceritakan itu semua, awalnya kepala kampung tidak percaya akan hal itu, tapi jupri dan Rastam mendesaknya.
''Apa salahnya pak kalau kita coba dulu, siapa tau pemuda itu malaikat penyelamat untuk warga Kadaka.'' Ucap Jupri.
''Iya benar, kita coba dulu pak kepala kampung.'' Saut Rastam menguatkan ucapannya Jupri.
''Baikalah kalau begitu, biarpun saya masih ragu dan masih belum yakin kebenarannya.'' Ucap Pak kepala kampung.
.....................
Selepas itu Jupri dan Rastampun undur diri dari rumahnya pak kepala kampung, guna memberi tau warga, Perihal apa yang telah di perintahkan oleh Siliwata.
Kini matahari sudah lurus, persis posisinya diatas kepala.
Disiang hari warga kadaka, sudah mulai cemas, yang sebentar lagi senja akan segera datang, Terutama para orang tua yang mempunyai anak gadis, kecemasan dan rasa takutnya sudah mulai menghantuinya bila hari sudah mendekati senja.
DIsebuah rumah panggung kecil, dengan dua orang anak yang satu anak perempuan yang sudah menginjak usia remaja, dan satunya lagi anak lelaki kira-kira berusia delapan tahun.
''Sebentar lagi hari akan senja pa, bagaimana nasib kita ini, harus sampai kapan kejahatan menimpa kampung kita ini.'' Ucap wanita setengah tua yang tak lain istrinya dari pak sardiya.
''Iya Bu, harus bagaimana lagi, kita tidak punya kemampuan untuk melawan mereka, ya kita berdoa saja, semoga sang pencipta menurunkan malaikat penyelamat bagi warga kadaka khususnya.'' Jawab Pak Sardiya.
''Ya mudah''an apa yang dibilangin oleh Jupri dan Rastam itu, adalah awal dari sebuah kedamaian dan kesejahtra'an bagi warga kadaka dan bumi pertiwi ini.'' Ucap Pak Sardiya.
Kini tidak terasa waktu pun begitu cepatnya berlalu, Senjapun kini sudah datang, dan warga kadaka disibukan, menyiapkan obor dijalan dan didepan rumahnya masing-masing, Seperti apa yang telah Jupri dan rastam perintahkan, dan oborpun kini sudah mulai dinyalakannya, terus semua warga kadaka masuk kedalam rumahnya masing-masing dan mengunci pintunya rapat-rapat.
Angin kencang menerpa dedaunan seiring dengan hari yang sudah mulai gelap.
Dari kejauhan pun sudah terdengar suara-suara lolongan srigala, suasana dikadaka nampak sunyi dan sepi menyeramkan.
Suara srigala itu nampak semakin mendekati perkampungan Kadaka.
Dari balik rapatnya pohon pohon beberapa bayangan melompat dan melesat mengarah dan masuk ke kampung yang sudah sepi hanya obor-obor yang menerangi dimalam itu.
Begitu kawanan bayangan merah itu tiba disebuah tempat seperti enggan mendekati obo-obor itu.
''Sial warga kadaka, sepertinya akan mulai melakukan perlawanan pada kita.'' Ucap dari Bayangan merah itu yang bertubuh tinggi besar.
''Iya Benar tuan baron wolf, Saya mencium adanya aura Sakti disini.'' Jawab Jun wolf.
''Wahai para wolf bikin obor-obor itu supaya padam.'' Teriak Baron wolf
Setelah mendengar teriakan dari Baron wolf para manusia srigala itu dengan berbagai cara untuk memadamkan obor-obor itu yang banyak tertancap disetiap pinggir jalan.
''Bagai mana caranya tuan Baron wolf, supaya obor padam tapi tidak jatuh, Bagai mana kalau kita hantam dari kejauhan.'' jawab dari salah satu manusia srigala itu.
''Lakukanlah asal jangan jatuh, kalau jatuh api akan membesar karena membakar daun-daun kering yang banyak berserakan dibawah jalan.'' Ucap Jun wolf
Sementara jupri dan Rastam yang mengintip dari balik celah-celah dinding papan kayu, seperti merasa kaget.
''Iya benar rastam apa yang dibilang Siliwata itu, coba kamu perhatikan para manusia iblis itu tidak berani mendekati obor-obor itu.'' Bisik Jupri pad Rastam.
''Iya benar, tapi kenapa pemuda itu belum muncul juga.'' Jawab Rastam dengan berbisik pelan.
Para komplotan Baron wolf melakukan aksinya dengan berbagai macam cara untuk memadam api dari obor-obor tersebut.
Akhirnya beberapa obor banyak yang sudah dipadamkannya.
********************
Bersambung eps 9
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya, semoga sukses selalu.