
Setelah Siliwata menyerahkan mustika naga hijau pada sang raja naga, Siliwatapun kembali meneruskan perjalanannya, Siliwata berniat mau pulang ke tirta kencana, rindu pada kedua orang tuanya dan adiknya Yuda sara.
Siliwata terus berjalan menyusuri jalan setapak, di kaki gunung karang badra, rambutnya yang panjang terurai dan menari-nari tersapu angin gunung yang menerpa dan mengiringi perjalanan Siliwata untuk keluar dari gunung karang badra.
Pakain yang serba hitam dengan ikat kepala warna hitam membentuk seperti ular yang lagi melilit tanpa kepala.
Siliwata lebih suka berpetualang dengan berjalan kaki, padahal dewi kencana ibunda Siliwata menyuruh untuk membawa kuda dalam perjalanannya, tapi Siliwata menolaknya, dengan alasan kasihan pada sang kuda yang harus selalu menuruti pada perintah manusia, begitu tutur Siliwata sa'at di beri tawaran oleh ibundanya.
Kala seta pun tercengang dengan perkata'annya Siliwata waktu itu, ternyata anaknya sangat menyayangi pada para binatang, terkecuali bintang yang mau menyakitinya, Siliwata pun tidak segan-segan untuk membunuhnya.
Siliwata terus berjalan semakin jauh meninggalkan kaki gunung karang badra, ia terus berjalan kearah barat yang di tuju gunung kencana, karena di bawahnya terdapat sebuah kampung Tirta kencana, kampung tempat dirinya di lahirkan.
Waktu terus berlalu, hingga tidak terasa Siliwata pun sudah sangat jauh meninggalkan goa pertala di bawah kaki gunung karang badra.
...............
Sementara di tempat lain, di bawah kaki gunung kencana, yaitu di perkampungan tirta kencana, ditapal batas antara tirta kencana dan cadas gunting, di sebuah rumah yang sangat sederhana lagi duduk di balai-balai bambu sambil memandang kearah selatan.
Kemudian seorang anak laki-laki bertanya pada bapaknya.
''Ayah, kapan kakang wata pulangnya?.'' Tanya anak tersebut yang tak lain adalah yuda sara.
''Entahlah anaku, kakangmu gak bisa di tentukan pulangnya, kita tunggu aja, nanti juga kakangmu pulang, kalau tugasnya sudah selesai.'' Jawab bapak dari anak itu yang tak lain adalah Kala seta.
''Iya nanda yuda sara, kakang mu lagi mengemban tugas, untuk memberantas para durjana.'' Ujar dewi kencana.
''Kenapa ya kakang wata tidak betah tinggal dirumah bersama kita, kakang wata selalu berpetualang, terus makannya gimana ayah?.'' Tanya Yuda sara.
''Kakang mu ya membawa bekal buat di perjalanannya, apa lagi kakangmu bisa menahan lapar ber hari-hari, hanya cukup dengan minum.'' Jelasnya Kala seta pada Yuda sara.
''Kakang wata, ternyata orang sakti ya, aku juga pingin bisa silat ayah, supaya bisa mempertahankan keluarga kita bila ada gangguan dari orang-orang jahat.'' Ujar Yuda sara.
Di sa'at mereka lagi ngobrol panjang lebar, terdengar dari arah samping rumah ada suara kaki lagi berjalan mendekati mereka.
Kemudian Kala seta, Dewi kencana dan Yuda sara menoleh kearah suara itu, nampak terlihat se orang lelaki tua dengan ikat kepala hitam bercorak putih meghampiri mereka.
''Sampu rasuun.'' Sapa yang baru datang itu.
''Rampes.'' Jawabnya
Kemudian Yuda sara berteriak memanggil orang itu.
''Kake wikrama.'' Panggil Yuda sara dengan suara lantang
Ternyata yang baru datang itu adalah wikrama ayahnya Kala seta.
''Wah cucu kake sudah besar rupanya.'' Ujar Wikrama sambil mengusap kepalanya Yuda sara.
''Iya ke, kan di kasih makan sama ayah da ibunda.'' Ucap Yuda sara.
''Makin pintar aja menjawabnya.'' Ucap Wikrama.
''Ke, kapan mau ngajarin aku silat, kata kake nanti bila sudah gede, sekarang aku sedah gede ke.'' ucap Yuda sara.
''Iya nanti kake ajarin, sekarang kamu harus banyak melatih dulu otot-ototmu biar kuat.'' Ucap Wikrama.
Yuda sara pun seperti gembira setelah kakeknya mau mengajarkan dirinya ilmu silat.
Kemudian wikrama menjelaskan perihal kedatangannya.
''Oh iya seta, Dewi, bapak dengar kabar katanya anakmu yang dulu hilang itu telah kembali, apa benar itu?.'' Tanya Wikrama.
__ADS_1
''Iya benar ayah, Siliwata datang satu pekan yang lalu.'' Saut Kala seta.
''Terus sekarang kemana?.'' Tanya Wikrama.
''Siliwata bilang lewat suara gaib, mau ke negri berlian perak, mungkin sekarang lagi dalam perjalanan pulang.'' Jawab Kala seta.
''Negri yang sangat jauh sekali, Siliwata cucuku teruslah berpetualang demi damainya sebuah negri.'' Gerutu Wikrama.
Dan setelah itu kala seta menyuruh Dewi kencana untuk membawakan makanan dan minuman untuk ayahnya yang baru sampai, setelah ia melakukan perjalanan jauh menemuinya sahabatnya di bukit hanjuang yang tak lain adalah eyang resi wanayasa.
Wikrama sendiri mengetahui siliwata cucunya itu setelah mendengar cerita dari sahabatnya itu, yang pernah menimba ilmu di bukit hanjuang beberapa taun silam.
''Ini pak minum dulu, pasti bapak lelah, setelah melakukan perjalanan yang sangat jauh.'' Ujar Kala seta.
''Iya,, terima kasih seta.'' Sautnya.
Kemudian Yuda sara mendekati kakeknya, seperti ada yang mau di bicarakan.
''Kakek,, kemarin ku ditahan oleh kake Badrun, di tempat yang sangat jauh, dan di jaga oleh empat orang yang mukanya serem-serem.'' Ucap Yuda sara.
Baru saja wikrama menyeripit air teh, tiba-tiba langsung ke selek pas mendengar cerita dari Yuda sara.
Kala seta dan Dewi kencana pun tersontak kaget, tidak menyangka bahwa Yuda sara akan bercerita masalah di tahannya tempo lalu pada kakek Wikrama.
''Benar itu cucuku?.'' Tanya Wikrama sambil menoleh pada Kala seta dan Dewi kencana.
Kala seta pun mengerti dengan tatapan ayahnya itu, yang mendadak bringas dan mukanya memerah.
''Iya benar ayah, ya sudah tidak usah di bahas lagi, kasihan nyi Dewi dia sangat terpukul dengan sikap ayahnya pada keluarga kita.'' Ujar Kala seta.
''Saya heran dengan bapakmu itu Dewi, kenapa dia itu terus terusan membenci keturunan ku, terus siapa yang melepaskan Yuda sara.'' Gerutu Wikrama.
Dewi kencana tidak menjawab sekata pun, ia hanya merunduk bercampur sedih, karena merasa malu dengan perlakuan bapaknya itu.
''Makdudmu gimana seta?.'' Tanya Wikrama.
''Maksudku, ayah Badrun mau di penggal kepalanya oleh pedang mamba merah nanda Siliwata.'' Ucap Kala seta.
Wikrama agak sedikit keheranan ketika kala seta menyebut nama mamba merah, karena Wikrama seperti sudah mengenal nama itu.
''Apa pedang mamba merah?.'' Tanya Wikrama.
''Iya ayah, sepertinya ayah sudah mengenal nama itu?.'' Kala seta balik bertanya.
''Tentu saja seta, pedang mamba merah adalah senjata andalannya senopati dari keraja'an goa mamba, keraja'an siluman ular yang sangat sakti.'' Ujar wikrama.
Kala seta dan Dewi kencana tersontak kaget ketika ayahnya menyebut keraja'an siluman ular.
''Berarti nanda Siliwata di rawat dan di besarkan di keraja'an siluman ular ayah?.'' Tanya Kala seta.
''Iya bisa jadi, mungkin itu semua sudah kehendaknya sanghyang widi, seta, dan keraja'an goa mamba adalah keraja'an siluman yang baik hati, dan nyi ratu mamba sari sebagai ratunya juga sangat bersahabat dengan gurunya Siliwata yaitu eyang resi wana yasa, yang mendiami bukit hanjuang sahabat ayah.'' Jelasnya Wikrama.
Ketika Wikrama, lagi berbincang-bincang dengan Kala seta, dan mantunya Dewi kencana serta cucunya yuda sara, Samar-samar dari atas bukit cadas gunting nampak terlihat seseorang lagi berjalan mengarah pada mereka yang lagi duduk di balai-balai bambu.
''Sepertinya itu nanda Siliwata ayah.'' Tunjuk kala seta ke arah bukit.
Wikrama
Wikrama lalu mengarahkan pandangannya ke arah yang di tunjuk Kala seta.
''Jagat Dewa batara, sungguh gagahnya Siliwata biarpun masih jauh, tapi ayah sudah bisa memastikannya, sorot matanya yang nampak tajam, kini lagi menatap tajam padaku seta.'' Ucap Wikrama.
Setelah itu Siliwata tiba di depan ayah, ibuk, adik dan kakeknya.
__ADS_1
"Sampu rasun." Sapa Siliwata.
"Rampes, Wata nah ini kakekmu." Ujar Kala seta sambil menunjuk dengan jempol tangannya ke arah Wikrama.
Siliwata pun lalu memberi sungkem pada kakeknya, sambil menundukan kepalanya memberi hormat pada sang kakek.
"Kek, ma'ap kan cucumu yang hina ini." Sapa Siliwata.
"Jangan berkata begitu cucuku, kakek yang seharusnya minta ma'ap." Jawab Wikrama.
"Tidak ada yang perlu di ma'apkan kek, justru akulah yang seharusnya minta ma'ap." Ujar Siliwata.
"Ya sudah, gimana kabar eyang gurumu, sang pertapa dari bukit hanjuang." Ucap Wikrama.
"Kakek kenal dengan eyang guru Resi wanayasa?." Tanya Siliwata.
"Resi wanayasa adalah sahabat kakek, kakek merasa bangga ternyata cucuku adalah murid dari sahabat kakek sendiri." Ujar Wikrama.
"Berarti kake adalah Wikrama, soalnya eyang Resi pernah bercerita tentang kakek." Ujar Siliwata.
"Ooh ya."
Selepas mereka berbincang-bincang, dan Wikrama sudah pulang ke rumahnya, suasana di Tirta kencana menjadi gaduh oleh warga yang ramai memperbincangkan masalah banyaknya yang kehilangan anak yang lahir di hari Anggara/selasa kliwon, Bulan kartika di tahun saka.
Di sebuah kediaman pak kepala kampung banyak warga yang berdatangan ingin meminta solusi untuk menumpas sang durjana yang sudah membuat warga ketakutan.
"Pak Kuwu bagaiman nih, masa kita mau berdiam diri saja dari bencana yang melanda desa kita." Ucap salah satu warga.
Pak kepala kampung pun berusaha menenangkan warga yang lagi panik dan ketakutan.
"Saudara-saudaraku, ku harap semuanya tenang, kita tidak boleh bertindak gegabah, nanti yang ada malah kita yang celaka." Seru kepala Kampung.
"Mau sampai kapan pak Kuwu kita harus tenang, sementara yang mempunyai anak bayi merasa ketakutan." Ujarnya.
"Iya saya pun mengerti, kita bertidak harus dengan pemikiran yang cemerlang, karena yang akan kita hadapi bukan manusia melainkan bangsa siluman kera." Ujar pak kepala Kampung.
Di sa'at para warga lagi ramai memperbincangkan masalah yang sedang di hadapinya, munculah seorang kake tua berjenggot putih berjalan memsuki kerumunan orang-orang mendekati pak kepala Kampung dan berkata.
"Sudira, kenapa kamu tidak bisa memecahkan maslah ini, cepatlah bertindak sebelum korban tambah banyak." Ujar sang kake berjenggot putih.
"Iya benar apa kata kakek tampar Wulung." Teriak Warga.
Betul
Betul
Betul
Teriakan warga membenarkan kata-kata kakek tampar Wulung.
"Iya, saya juga paham, tapi kita harus pake taktik dan siasat, untuk menghadapi siluman kera harus ada orang yang berilmu tinggi." Tutur kepala Kampung.
"Coba kamu buka pikiranmu Sudira, di Tirta kencana masih ada Wikrama dan cucunya itu, yang tempo dulu hilang kini telah kembali di tengah-tengah kita, coba aja kita minta ke rela'annya untuk membebaskan penderitaan warga." Seru kakek Tampar wulung.
Kini semangat warga Tirta kencana semakin menggebu-gebu setelah mendengar penjelasan dari kakek Tampar wulung.
***********
Bersambung.
Jangan lupa sertakan like, comentar, jadikan faborit bila suka, berikan vote serta hadiahnya.
Terima kasih atas dukungan dari semuanya, salam sehat dan sukses selalu.
__ADS_1