SATRIA MAMBA HITAM

SATRIA MAMBA HITAM
Eps 35 Berpisah


__ADS_3

Selepas itu Wikrama berjalan keluar dari dalam goa Hanjuang.


Sang Resi mengantarnya sampai depan mulut goa melepas kepergiannya Wikrama salah se orang abdinya yang paling setia.


Begitulah tutur cerita Wikrama pada Kalaseta dan Dewi kencana.


Mendengar cerita dari Wikrama Kalaseta dan Dewi Kencana, tidak menyadarinya di bening kedua bola matanya nampak berkaca-kaca merasa sedih dan terhinanya dirinya ke tika mengingat kejadian dua puluh tahun yang lalu ketika ia menjalin cinta terlarang bersama Dewi Kencana yang sekarang sudah menjadi istrinya.


"Kalian kenapa? Bapak lihat kedua bola mata kalian nampak berkaca-kaca?." Tanya Wikrama.


"Aku sedih Ayah, Ayah sudah merawat dan membesarkan aku dengan sabar, di tambah aku sudah banyak bikin Ayah menderita dan menyusahkan, ma'afkan aku Ayah, meski Ayah bukan ayah kandungku tapi Ayah sudah seperti ayah ku sendiri." Jawab Kalaseta sambil bersujud di atas pangkuannya Wikrama.


Sontak saja Wikrama langsung membangunkan Kala seta.


"Jangan begitu Raden, Bapak cuma abdi, sangat tidak pantas Raden bersikap begitu pada Bapak." Tukas Wikrama.


"Biarkan aku melakukan ini semua Ayah, karena Ayah sudah menyelamatkan salah satu dari keturunan kerajaan Kencana. Aku tidak punya siap-siapa lagi selain Ayah, Nyi Dewi dan kedua anakku." Tukas Kalaseta.


"Itu semua sudah menjadi kewajiban Bapak Raden, bangunlah, Raden Kalaseta tidak boleh cengeng." Timpal Wikrama.


Kala seta dan istrinya serta Wikrama se akan telah menemukan jalan hidup, setelah bersatunya dua pedang legenda, sebagai jalan pembuka menuju pintu dunia baru.


Seiring dengan berjalannya waktu, kabar tentang Kala seta dan keluarganya telah banyak di perbincangkan, kalau selama ini Kalaseta yang di anggap hanya sebagai orang miskin, ternyata turunan bangsawan kencana.


"Kamu percaya gak kalau Kalaseta turunan bangsawan." Celetuk salah seorang warga yang lagi berkumpul di sebuah kedai.


"Ya percaya gak percaya, percayanya Kala seta berparas Tampan rupawan seperti putra raja, di tambah dari silsilah nama keturunan Kencana semua bergelar Seta." Ujarnya.


"Iya juga ya, menurut cerita dari kakekku, dulu berdiri Sebuah kerajaan bernama kerajaan Kencana, Raja-rajanya semua bergelar Seta."


Begitulah perbincangan Warga Dusun Tirta Kencana.


.....................


Sementara di tempat lain.


Siliwata dan Yudasara yang lagi melakukan perjalanannya yang sangat jauh dan membutuhkan waktu berhari-hari untuk bisa sampai di tempat yang di tuju, dalam menjalankan tugas dari sang Resi.


Ketika mereka tiba di tapal batas antara wilayah Banjar Karoman dan negri Halilintar, Siliwata menghentikan langkahnya lalu menoleh pada Yudasara.


"Rayi terpaksa kita harus berpisah di sini, untuk menuju lembah hantu Rayi harus menelusuri jalan ini." Ujar Siliwata sambil menunjuk ke arah jalan yang akan di lalui oleh Yudasara.

__ADS_1


"Iya Kakang, nanti kita bertemu kembali di Bukit Hanjuang." Tukas Yudasara.


"Selamat jalan Rayi semoga berhasil dan bisa melewati segala ujian dan rintangan, yang mungkin nanti akan Rayi hadapi." Ujar Siliwata.


"Iya kakang terima kasih."


Setelah itu mereka mulai lagi melangkahkan kakinya dengan jalan dan tujuan yang berbeda.


Siliwata terus berjalan ke arah utara, sedangkan Yudasara mengambil ke timur menuju lembah tengkorak.


Ketika mau memasuki Hutan Ti'is, Siliwata terdiam sejenak, lalu berkata.


"Penghuni Hutan Ti'is aku permisi mau lewat, mengemban tugas dari sang Resi." Kata Siliwata bermonolog.


Kemudian Siliwata mulai melangkahkan kakinya memasuki Hutan Ti'is.


Hutan Ti'is, hutan basah yang banyak di huni oleh para makhluk dari bangsa jin.


Dengan ikat kepala yang melingkar menutupi Keningnya, di hiasi oleh Mustika Mamba berwarna hitam pekat, maka tak heran bila Siliwata begitu di hormati dan di segani oleh para makhluk yang mendiami di Hutan itu.


Bagi kebanyakan orang yang memandang Hutan Ti'is dengan tatapan mata telanjang, mungkin yang di lihat sebuah hutan yang luas dan angker.


Berbeda dengan Siliwata, bagi Siliwata Hutan itu merupakan sebuah perkampungan bangsa Jin.


Karena bagi para mkhluk tersebut, Siliwata merupakan se orang Satria Mamba Hitam yang gagah perkasa.


Karena di dunia dimensi lain, keraja'an Goa Mamba merupakan kerjaan Jin yang paling di segani yang di pimpin oleh seorang ratu berbudi luhur dan welas asih.


Ketika hari sudah mulai memasuki senja, Siliwata sudah keluar dari Hutan Ti'is, berjalan di jalan setapak yang membentang membelah padang rumput yang luas.


Di tengah-tengah perjalanan menuju Negri Banjar Karoman.


Siliwata di hadang oleh sekelompok manusia yang berwajah menyeramkan, berkalungkan taring binatang yang tersusun melingkar di lehernya. Dan di setiap pergelangan tangan dan kakinya di hiasi oleh gelang gengge yang terbuat logam yang menimbulkan suara nyaring.


"Hai manusia bagus hendak kemana kah kau?." Tanya salah satu dari mereka yang merupakan pimpinannya.


"Ma'af kalian ini siapa?." Siliwata balik bertanya.


"Kurang ajar di tanya malah balik bertanya." Ujarnya bernada keras.


Siliwata hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Memangnya aku tidak boleh bertanya." Tukas Siliwata.


Pimpinan dari mereka menatap intens pada Siliwata.


"Pertanyaan saya pun belum kamu jawab." Ujarnya merasa kesal.


Siliwata hanya tersenyum tipis.


"Iya ma'af, aku hendak ke negri Banjar Karoman." Ujar Siliwata.


Sang pemimpin manggut-manggut sambil menoleh pada semua kawanannya.


"Berarti kamu seorang Bangsawan, tapi kenapa kamu hanya berjalan kaki, biasanya naik kuda." Tukasnya.


"Saya cuma pengembara yang selalu menjelajah negri, maka dari itu ijinkan saya untuk melewati wilayah yang kalian diami ini." Ujar Siliwata.


"Silahkan kalaiu kamu mau lewat, tidak ada larangan bagi kami, tapi dengan sarat." Tukasnya.


"Apa sarat yang kalian minta dariku, aku tidak membawa harta benda yang berharga." Timpal Siliwata.


"Tinggalkan pedang yang kamu bawa di balik punggungmu itu." Desaknya memaksa.


"Ini cuma pedang biasa, gak ada ke istimewaannya." Sahut Siliwata.


Lelaki aneh itu tertawa terbahak, lalu menyerukan kata-kata penuh amarah.


"Hahaha...Setan alas berani kamu bohongi saya, itu pedang pembuka harta karun yang terkubur bersama runtuhnya kerajaan Kencana." Tawa lelaki aneh itu.


Siliwata sedikit terkejut mendengar ucapan dari pemimpin para manusia aneh itu.


"Kenapa para manusia aneh itu bisa mengenal sama pedang yang aku bawa ini." Batin Siliwata bermonolog.


Kumudian Siliwata mulai berhati-hati dengan sekelompok para manusia aneh itu.


"Kalian tau dari mana tentang kerajaan Kencana, padahal kerajaan itu sudah tenggelam ratusan tahun yang silam." Cetus Siliwata.


"Haha, Kami lebih tau tentang kerajaan itu, yang banyak menenggelamkan harta karun, sekarang cepat kau serahkan pedang itu." Ujarnya memaksa.


"Kalau aku tidak mau bagaimana." Tukas Siliwata.


Lelaki aneh itu tersenyum menyeringai, menatap penuh keji pada Siliwata.

__ADS_1


"


__ADS_2