
Singkat cerita, kini hari telah berganti malam, sebagian para warga Tirta kencana, yang di pimpin oleh kake Tampar wulung dan Kuwu Sudira, berjalan mendatangani rumahnya Wikrama dan Kala seta yang berada di pinggiran Desa Tirta kencana, di bawah bukit cadas Gunting.
Setibanya di depan rumahnya Wikrama, pak kepala kampung langsung menyapa sang pemilik rumah.
"Sampu rasun, Ki, ki Wikrama." Sapa Kepala kampung.
Kemudian terdengar dari dalam rumah suara langkah kaki berjalan mendekati dengan balas menyapa.
"Rampes siapa di luar?." Tanya sang pemiik rumah alias Wikrama.
"Saya Ki, Sudira." Jawab Kepala Kampung.
Wikrama pun kekuar se iring dengn terbukanya sebuah pintu. Wikrama tercengang kaget begitu melihat banyak warga Tirta kencana di depan pekarangan rumahnya.
"Uluuuh ada apa ini? kenapa warga pada berdatangan ke rumah saya?." Tanya Wikrama.
Lalu kepala Kampung dan Sebagian Warga duduk di bale-bale setelah di persilahkan duduk oleh sang pemilik rumah.
"Begini ki, di desa kita sudah dua malam di landa musibah ki." Ujar Kuwu Sudira.
"Musibah apa yang melanda desa ki!ta, saya baru kali ini mendengarnya." Ujar Wikrama.
"Setiap yang melihirkan di hari Anggara/selasa kliwon bulan Kartika ini hilang di culik Siluman Kera." Jelasnya Kuwu Sudira.
"Benarkah itu." Ujar Wikrama.
Kemudian para warga pun membenarkan perkata'an dari Kuwu Sudira.
"Iya benar ki, tolonglah kami ki dari sang durjana yang kini meresahkan desa kita." Ucap Warga.
"Sekarang kalian tenang, tidak di mintai tolongpun aki akan bantu memberantas sang durjana itu, Sekarang siapa di antara kalian yang mau ke rumah Kala seta suruh kesini bersama cucu aki Siliwata." Jelasnya Wikrama.
Baru saja Wikrama menyuruh salah se orang dari warga Tirta kencana untuk datang ke rumahnya Kala seta, nampak jelas terdengar oleh Wikrama dan semua yang ada di situ.
"Tidak usah ke tempat Kala seta." Ujarnya.
Semua yang ada di situ menolehkan pandangannya ke arah suara yang bergeming di belakang mereka.
__ADS_1
"Kala seta..."
"Iya saya sudah tau itu semua." Ujar Orang yang baru datang itu, yang tak lain adalah Kala seta.
Wikrama lalu bertanya pada Kala seta.
"Kalau kamu tau Seta, kenapa kemarin tidak bicara pada ayah?."
"Ma'ap ayah, saya tau dari obrolan warga yang tadi melintas di di depan rumahku, dan Nanda Siliwata sebentar lagi datang kesini, dia lagi bermeditasi dulu." Jelasnya Kala seta.
Kuwu Sudira beserta beberapa warga yang melihat Kala seta datang se akan memberi semangat untuk berjuang membebaskan ke takutan warga dari siluman Kera yang menculik anak bayi yang lahir di hari Anggara/Selasa kliwon.
Kemudian selepas itu dari arah barat nampak terlihat pemuda gagah berpakaian serba hitam dengan ikat kepala warna hitam melingkar menutupi jidat, lagi berjalan menuju pada orang-orang yang lagi kumpul di halaman rumahnya Wikrama.
Orang-orang yang baru kali itu melihat Siliwata nampak tercengang kaget dengan mata melotot penuh rasa penasaran.
"Ooh ini yang namanya Siliwata itu, gagah sekali dan pandangannya begitu tajam melebihi mata pedang." Gumam kuwu Sudira dalam hati.
Siliwata lalu menghampiri ayah dan kakeknya yang lagi duduk di balai-balai bambu, denga di dampingi oleh kakek Tampar wulung dan Kuwu sudira.
"Ada apa ini ke, ayah, kenapa banyak orang di rumah kakek?." Tanya Siliwata.
"Ma'ap anak muda, pertanya'anmu biar saya yang menjawab." Ujar kuwu Sudira.
"Anda siapa?." Tanya Siliwata tegas.
"Kenalkan, saya selaku kepala Kampung di Tirta kencana ini, dan orang-orang banyak menyebut ku kuwu Sudira." Jawab kuwu Sudira.
"Lantas maksud ke datangan pak Kuwu kesini ada apa?." Tanya Siliwata mengulang.
Kemudian kuwu Sudira menceritakan perihal yang sedang melanda di Tirta kencana, tentang banyak nya yang hilang bayi yang lahir di hari Anggara kliwon.
Mendengar kabar itu, Siliwata tetap bersikap tenang seperti biasa, lalu ia melemparkan pandangannya pada orang-orang yang lagi berdiri di depan pekarangan rumah Wikrama.
"Apakah kalian semua, para orang tua korban, lalu apakah kalian tau bentuk dari sang penculik itu seperti apa?." Tanya Siliwata.
Sebagian orang lalu berkata.
__ADS_1
"Anak muda Kami adalah para orang tua dari bayi yang hilang itu, dan saya melihat sang penculik itu bentuknya seperti se ekor Kera." Jawabnya.
Kalau menurut saya itu ulah dari manusia, yang bersekutu dengan penghuni bukit kera, baiklah saya akan mendatangi bukit itu." Ujar Siliwata.
Rasa gembira pun nampak terlihat di wajah para penduduk, lalu mereka menyerukan pada warga yang lainnya memberi semangat pada Siliwata.
"Hidup Siliwta...
Hidup Siliwata...
Begitu seruan dari para warga yang begitu antusias sekali dengan niat baiknya Siliwata membantu warga dari ketakutan.
Lalu ki Tampar wulung memberi usulan pad Siliwata.
"Anak muda apakah anda perlu bantuan dari kami." Usul ki Tampar Wulung.
Siliwata pun menjawab "Saya butuh tiga orang saja, yang mempunyai keberanian, tapi tidak cukup dengan ke beranian saja karena yang kita hadapi adalah manusia yang bersekutu dengan Siluman, itu sudah pasti kita harus mempunyai kemampuan olah kanuragan yang cukup untuk menghadpinya." Jelasnya Siliwata.
Para wargapun bersemangat dengan penuh keberanian mau ikut membantu.
"Kita semua mau membantu." Ujar Warga.
"Terima kasih atas keberanian kalian, tapi demi keselamatan kita semua, sebaiknya kalian jaga-jaga di kampung saja, takut ada bahaya datang tidak kita duga, dan kalian di pimpin oleh ayahanda Kala seta.
Sementara saya akan berangkat besama kakek Wikrama dan ki Tampar wulung, semoga kita berhasil." Ujar Siliwata.
Malampun terus berlalu, semilir angin dingin meniup dari atas bukit cadas gunting, seakan memberikan semangat dan ke tenangan pada warga penduduk Tirta kencana.
Dimalam yang gelapa gulita tanpa ada sinar bulan yang menerangi, tapi bagi Siliwata tidak menjadi halangan, sementara Ki Tampar wulung dan Wikrama membawa obor untuk menerangi dalam perjalanannya menuju Bukit kera.
Di bulan Kartika tahun Saka di malam Sukra(Jum'at), Ketiga lelaki berjalan mengemban amanat penderita'an rakyat Tirta kencana, untuk membebaskan rasa ketakutan warga dari teror bangsa siluman Kera.
Ke tiga lelaki tokoh dari Tirta kencana terus melangkahkan kakinya menyusuri jalanan setapak menuju bukit kera.
Kilatan-kilatan cahaya api dari obor yang di bawa oleh ki Tampar wulung nampak terlihat dari kejauhan seperti bola api yang lagi berjalan.
Sebenarnya Siliwata bisa saja lebih cepat sampai di bukit kera, dengan menggunakan ilmu mamba anginnya, tapi karena tidak ingin menggunakan ilmu tersebut kecuali dalam ke ada'an terpaksa.
__ADS_1
Kini Siliwata, Wikrama dan ki Tampar wulung, sudah memasuki hutan yang sudah hampir mendekati bukit kera tersebut.