SATRIA MAMBA HITAM

SATRIA MAMBA HITAM
Eps 37 Menyusup


__ADS_3

Setelah semua pikirannya Siliwata tertuju pada rombongannya Jatmika, untuk mendengar pembicaraannya dengan Ajian Sukma pangrungu.


Jatmika bersama kawanannya, menghadap pada seorang pria gagah berkulit bersih mengenakan pakaian kebesaran seorang Adipati.


"Salam hormat kami Tuan Adipati." Ujar Jatmika memberi hormat.


"Di terima kakang Jatmika, ada kabar apa kalian datang malam-malam begini." Jawab Adipati.


Rupanya Jatmika dan kawanannya menemui se orang Adipati Suradita yang berkuasa di kadipaten Impala.


"Kami ingin menyampaikan kabar penting pada Tuan." Ujar Jatmika.


"Kabar penting apa itu kakang?." Tanya Adipati Suradita.


"Tadi waktu kami di kedai, ada seorang pemuda asing makan di kedai, kami perhatikan dari cara dia berpakaian seperti dia bukan orang sembarangan, terus kami ikuti, tapi hanya dalam sekejap kami kehilangan jejak." Jelas Jatmika.


Suradita termenung sejenak sambil mengkerutkan keningnya.


"Benarkah kabar yang kalian bawa itu." Ujar Suradita.


"Benar tuan Adipati, mana mungkin kami mengarang cerita, kalau tuan tidak percaya, tuan bisa tanya langsung pada pemilik kedai." Tukas Jatmika.


"Lalu ciri-ciri dari pemuda itu seperti apa?." Tanya Suradita.


"Pemuda itu berwajah tampan seperti putra bangsawan, berpakaian serba hitam dan berikat kepala hitam menyerupai ular di hiasi sebuah mustika hitam mengkilap." Ungkap Jatmika.


"Kalau begitu, kalian cari tau pemuda itu, siapa dan dari mana asal usulnya." Perintah suradita.


"Baiklah, kalau begitu kami pun pamit hendak mencari keberadaan pemuda itu." Ujar Jatmika.


"Iya silahkan kakang." Tukas Suradita.


Setelah itu Jatmika dan kawanannya langsung keluar dari tempat kediamannya Adipati Suradita.


Jatmika yang merupakan orang terhebatnya Adipati Suradita, salah seorang pendekar yang memiliki kesaktian belum ada tandingannya di Banjar karoman.


Sementara Siliwata, yang sudah mendengar semua obrolan Jatmika dan Adipati Suradita, langsung membuka kedua netranya.


"Aku jadi penasaran siapa Adipati itu sebenarnya." Batin Siliwata.


Whess...


Siliwata melesit ke atas pohon yang tinggi dan bertengker di atas dahan.


Dengan liar nya mata Siliwata memandang ke arah Jatmika dan kawanannya yang baru keluar dari tempat kediamannya Adipati.


"Sebaiknya aku ikuti kelompok Jatmika, siapa tahu aku dapat keterangan tentang Banjar Karoman." Gumam Siliwata bermonolog.


Kemudian Siliwata langsung berkelebat mengikuti Jatmika dan kawanannya.

__ADS_1


Di malam yang gelap gulita, sangat menguntungkan bagi Siliwata untuk terus mengikuti Jatmika tanpak harus menunjukan wujud asli.


Dengan sepontan wujud asli Siliwata kembali berubah menjadi se ekor ular mamba berwarna hitam, yang terus merayap dari pohon satu ke pohon lain mengikuti kemana Jatmika dan kawanannya pergi.


Walaupun jarak yang lumayan jauh dalam membututi Jatmika, Siliwata yang lagi dalam bentuk ular bisa mencium keberadaannya Jatmika.


Sedangkan Jatmika dan kawanannya terus berjalan menelusuri jalan setapak, dengan cahaya obor yang menerangi jalan setapak yang sedang mereka lalui.


Tiba-tiba Jatmika menghentikan langkahnya.


"Berhenti dulu." Ujar Jatmika.


"Ada apa kakang?." Tanya salah satu dari kawanannya.


Jatmika membalikan badannya ke belakang, sambil celingukan ke sana kemari seperti lagi mencari sesuatu.


"Sebentar, aku merasakan seperti ada sesuatu yang mengikuti kita." Tukas Jatmika.


"Mungkin itu cuma perasaanmu saja kali, kakang." Celetuk Kawanannya.


"Tidak, aku merasa ada sesuatu yang terus mengikuti perjalanan kita, apakah kalian tidak merasakannya." Tukas Jatmika.


"Tidak kakang, kami tidak merasakan apa-apa." Ujarnya sambil celingukan ke sekeliling tempat itu.


Jatmika yang kemampuannya sudah bisa di bilang mencapai level tinggi, langsung melompat ke atas pohon.


Ciaatt...


Ilmu meringankan tubuh Jatmika begitu sempurna, ke tika kakinya menapak di ranting dahan tidak nampak goyah sedikitpun.


Sementara Siliwata yang sudah mengetahui bahwa kehadirannya bisa di ketahui oleh Jatmika, langsung menyelinap ke balik batang pohon.


"Tinggi juga ilmu Jatmika, bisa mengetahui kehadiranku, padahal aku lagi berubah wujud." Gumam Siliwata dalam hati.


Jatmika semakin kuat instingnya, merasakan ada suatu kekuatan tidak jauh darinya.


"Aku merasakan ada kekuatan sakti di sekitar sini, tapi di mana, apa mungkin pemuda yang lagi aku cari." Gerutu Jatmika dalam hati.


Lalu Jatmika melompat kepohon yang satunya lagi.


Whess...


Kemudian Jatmika melepaskan Cambuk api Neraka yang melilit di pinggangnya.


Celeekeerrr...


Celeekeerr...


Guuurrrr...

__ADS_1


Dahan pohon serta dedaunan yang terkena Cambuk api neraka, langsung terbakar.


Semakin gencar Jatmika melepaskan cambul api nerakanya, api pun semakin membesar membakar dedaunan.


"Tunjukanlah wujudmu, aku tau kau lagi mengawasi kami." Teriak Jatmika menantang.


Siliwata langsung melesat dengan kekuatan mamba sukmanya menghindari api yang terus berkobar.


Sepontan Siliwata kembali ke wujud aslinya.


"Aku di sini Tuan Jatmika." Ujar Siliwata sambil berdiri di belakangnya Jatmika.


Jatmika pun langsung membalikan badannya, begitu kedua netra Jatmika menatap pada Siliwata, Jatmika sampai terbelalak kaget.


"Ilmu apa yang di gunakan pemuda itu, kenapa ia sudah berada di belakangku." Batin Jatmika.


Lalu Jatmika melilitkan kembali Cambuk Api Neraka pada pinggangnya.


"Rupanya kau pemuda yang waktu di kedai itu, kenapa kau mengikuti Kami." Tegur Jatmika.


Siliwata tertawa tipis.


"Seharusnya aku yang bertanya begitu, bukankah kalian yang membututi aku ketika keluar dari kedai." Tukas Siliwata.


"Kurang ajar, di tanya malah balik bertanya, kamu belum tau siapa saya." Bentak Siliwata.


"Haha, Jatmika kaki tangannya Adipati Suradita." Timpal Siliwata.


Sejenak Jatmika tercengang, kenapa Siliwata bisa tau namanya dan hubungannya dengan Adipati Suradita.


"Heh anak muda siapa kau sebenarnya, kenapa bisa tau namaku dan Tuan Adipati?." Tanya Jatmika.


"Begitu pentingkah aku, hanya seorang pengembara di mata kalian." Tukas Siliwata.


Jatmika tertawa terbahak, lalu dengan lantang berkata memaki Siliwata.


"Hahaha...Heh anak muda, sebelum kau mati berkalang tanah, alangkah baiknya aku mengetahui siapa kau sebenarnya dan dari mana asal-usulmu, supaya aku bisa mengantarkan jenjahmu ke keluargamu." Cibir Jatmika.


"Mentang-mentang lidah tidak bertulang, begitu sombongnya kau berkata." Tukas Siliwata.


"Ah banyak omong kau anak muda, Heeeaaaa...." Teriak Jatmika langsung melesat menyerang Siliwata.


Kelebatan Bayang hitam, nampak begitu cepat saling serang.


Di malam yang gelap gulita, hanya cahaya obor yang menerangi pertarungan antara Jatmika dan Siliwata. Membuat para kawanan Jatmika tercengang menyaksikan kedua Pendekar yang saling adu kesaktian.


Dua puluh jurus sudah Jatmika keluarkan, tapi sedikitpun Siliwata belum nampak terlihat kelelahan, Siliwata nampak masih segar bugar.


"Bertahun-tahun aku bertarung melawan para pendekar, tidak sampai dua puluh jurus untuk mengalahkannya, tapi pemuda itu nampak tidak merasakan apa-apa, jurus apa yang di gunakan anak muda itu, kenapa bisa dengan mudahnya membaca serangan dari jurus pencabut sukma." Gumam Jatmika.

__ADS_1


Di kadipaten Impala, atau di seluruh wilayah negri Banjar karoman, Jatmika merupakan pendekar Cambuk api yang sangat di segani dan di takuti di kalangan Pendekar.


__ADS_2