SATRIA MAMBA HITAM

SATRIA MAMBA HITAM
Eps 39 Adipati Sura Dita.


__ADS_3

Setelah Siliwata sudah merasakan pulih dari luka dalamnya, dan pedang Mamba Kencana sudah kembali memasuki warangkanya.


Siliwata beranjak pergi meninggalkan tempat itu, energinya sudah pulih kembali semenjak menelan madu dari sang lebah raksasa.


Di malam yang gelap, dan hawa dingin kian menusuk tulang, membuat Siliwata harus menghangatkan dulu suhu tubuhnya.


Siliwata mengumpulkan banyak dahan dan ranting-ranting kering untuk di bakar.


Setelah semua ranting kering tersusun menumpuk, Siliwata lalu menciptakan api dari sebuah batu yang di gesek-gesek sama ranting dahan kayu pinus.


Singkatnya.


Api pun sudah menyala, Siliwata duduk bersandar di batang pohon sambil memejamkan kedua matanya.


Rasa hangat di badannya, telah mengantarkan Siliwata ke alam bawah sadarnya.


Siliwata adalah manusia yang bisa hidup di dua dimensi, walau dalam keadaan tertidur pulas, Siliwata tidak takut di makan binatang buas atau melata.


Raganya mungkin nampak tertidur tapi sukmanya selalu terbangun menjaga raganya.


apalagi pedang Mamba Kencana Hitam, yang selalu melekat di tubuhnya, karena di dalam pedang tersebut telah mengalir dua kekuatan yaitu Kekuatan Mamba merah dan ki Jabar Ali Jati, salah seorang tokoh Sakti ketika kerajaan Kencana masih berdiri.


Ki Jabar Ali Jati merupakan maha guru dari eyang Resi wanayasa atau prabu Rangsak Seta, dan sangat mahir dalam membuat senjata pusaka, Pedang Mamba Kencana salah satunya.


...............


Ke esokan harinya.


Ketika matahari telah memancarkan cahayanya yang masuk melalui celah dedaunan, se iring dengan kicaunya suara burung, telah membuat Siliwata terbangun.


Siliwata mengangkat tubuhnya, lalu di gesernya kebelakang untuk menyandarkan punggungnya pada batang pohon.


Sisi jari telunjuk tangan kanannya menggesek-gesek ke dua kelopak matanya.


"Enak benar tidurku semalam, rasanya sebentar sekali malam yang ku lalui." Siliwata bermonolog.


Perlahan Siliwata bangkit berdiri, lalu melangkah berjalan keluar dari hutan tersebut.


...........


Sementara di lain tempat.


Jatmika yang lagi di boyong menuju tempat kediamannya Adi pati Suradita.

__ADS_1


Belum juga sampai di tempat yang di tuju, para kawanan Jatmika telah di hadang oleh Adipati Suradita.


"Kenapa dengan kakang Jatmika?." Tanya Suradita.


Lalu salah seorang dari mereka berkata.


"Kakang Jatmika mengalami luka, setelah bertempur dengan Pemuda yang kita bicarakan waktu itu, Tuan Adipati." Jawabnya.


Kemudian Suradita melihat tubuh Jatmika, setelah itu wajahnya memerah penuh amarah bercampur dengan rasa panik akan keselamatannya Jatmika.


"Cepat bawa ke ruang pengobatan." Pinta Suradita.


Tubuh Jatmika yang nampak masih tidak berdaya di boyong kedalam ruangan untuk di obati dari luka dalamnya yang cukup serius.


Suradita meminta pada salah seorang kepercayaannya untuk memanggil Tabib.


Tak lama setelah itu, sang Tabib pun datang dengan salah seorang yang merupakan asistennya, untuk membantu Tabib dalam pengobatan.


Setiba di dalam, sang tabib langsung memeriksa Jatmika.


Setelah luka-luka Jatmika di periksa, sang Tabib sampai menggelengkan kepala, lalu Suradita bertanya.


"Kenapa dengan lukanya kakang Jatmika Tabib?." Tanya Suradita.


"Ya terus kenapa, apa obatnya susah di cari?." Lanjut Suradita bertanya.


"Obatnya cuma ada di kerajaan Goa mamba, itupun hanya orang-orang khusus yang bisa masuk ke sana." Ujar Sang Tabib.


"Lantas bagaimana, apa tidak ada cara lain selain harus ke Goa mamba, lalu dimana itu Goa Mamba, saya baru mendengarnya." Tukas Suradita.


"Kerajaan Goa Mamba ada di lereng Gunung Kencana, merupakan kerajaan jin yang paling kuat." Jelas sang Tabib.


"Lantas siapa kiranya yang bisa menyembuhkan lukanya kakang Jatmika." Ujar Suradita.


"Hanya pemilik pedang pusaka itu, yang bertarung dengan Jatmika, saya hanya bisa memberi ramuan untuk menahan racun agar tidak merembet ke Jantung, itu pun tidak bisa terlalu lama, dan harus cepat mencari pemilik senjata pusaka itu." Tukas Sang Tabib.


Setelah mendengar semua penjelasan dari sang Tabib, Suradita pun tidak menunggu lama-lama lagi, demi keselamatannya Jatmika, ia langsung memerintah tiga orang dari kawanannya, untuk secepatnya menemukan pemuda itu.


Tiga orang yang merupakan kawanan Jatmika langsung bergegas keluar dari ruangan pengobatan di tempat kediamannya Adipati Suradita, guna mencari Siliwata yang kini tidak di ketahui di mana keberadaannya.


"Heh Kohar kamu tau kiranya di mana pemuda itu sekarang." Tanya Laban.


"Heh Laban kenapa kamu tanya sama saya, memangnya saya peramal apa." Ketus Kohar.

__ADS_1


"Jangan salah paham dulu Kohar, barang kali kamu bisa merasakan dimana keberadaan pemuda itu, soalnya kita harus secepatnya menemukan pemuda itu demi keselamatannya kakang Jatmika." Ujar Laban.


"Ya saya tidak tahu." Sahut Kohar.


"Sudah, sudah, kalian ini malah ribut bukannya mikir, ayo kita cari ke selatan." Pungkas Marta.


Marta, Laban dan Kohar berjalan ke arah selatan, karena setahunya Siliwata pergi ke arah selatan setelah pertempuran mengalahkan Jatmika.


Ladang, Hutan dan perbukitan telah mereka tempuh untuk mencari Siliwata, tapi hingga matahari telah berada di atas ubun-ubun kepala, mereka belum juga menemukan Siliwata.


Semua tempat mereka datangi, tapi tetap saja Siliwata belum mereka temukan, akhirnya mereka merasa putus asa, rasa lelah pun telah mereka rasakan.


Mereka duduk sambil menyandarkan punggungnya pada batang pohon, nampak suara napas panjang terdengar mengiringi sebuah keputus asaan.


"Semua wilayah kadipaten Impala telah kita jelajahi, tapi pemuda itu belum juga kita ketemukan, bagaiman ini, apalagi waktunya tinggal sedikit lagi kalau hari gelap tiba, kita tidak membawa pemuda itu, maka tamatlah riwayat kakang Jatmika." Ungkap Laban.


Di sa'at mereka lagi di hadapkan pada sebuah masalah besar, dan merasa putus asa mencari Siliwata yang tidak kunjung ketemu.


Secara tidak sengaja Laban, menatap ke atas bukit bebatuan yang tak jauh dari tempat mereka berada.


Laban terbelalak sambil menggisik-gisik kedua netranya.


"Coba kalian lihat ke arah bukit batu itu, siapa yang lagi duduk bersila itu." Tunjuk Laban sambil menepuk bahunya Marta.


Marta dan Kohar langsung mengarahkan pandangannya mengikuti arah telunjuknya Laban.


"Itu kan, pemuda yang lagi kita cari." Tukas Marta memandang tak berkedip ke arah Bukit Batu.


Setelah itu Marta, Laban dan Kohar beranjak bangkit hendak mendekati orang yang lagi duduk di atas batu tersebut.


Tapi begitu mereka, mau melangkahkan kakinya, Laban, Marta dan Kohar tersontak kaget, karena orang tersebut sudah tidak nampak.lagi di pandangan.


"Heh Pemuda itu tidak ada." Dontak Laban heran.


Marta dan Koharpun tercengan, mulutnya menganga.


"Dia manusia bukan, hanya dalam sekejap saja kita telah kehilangan." Tukas Kohar.


Mereka kemudian di kejutkan lagi oleh suara yang menegurnya di belakang.


"Kalian mencari saya."


Serempak Laban, Marta dan Kohar membalikan badannya, menatap terbelalak pada sosok Lelaki gagah tampan berpakaian serba hitam.

__ADS_1


__ADS_2