
Jatmika merasa diri paling jago di negri Banjar karoman, ternyata masih belum mampu menjatuhkan Siliwata.
Tiga puluh jurus sudah Jatmika keluarkan untuk mengalahkan Siliwata, namun Siliwata masih nampak terlihat segar bugar.
"Kurang ajar, jurus apa yang di gunakan pemuda itu, kenapa jurus pencabuk sukma tidak bisa melumpuhkannya." Gerutu Jatmika.
Siliwata tertawa kecil, mendengar ujaran isi hati nya Jatmika.
"Hehee..Cuma segitukah kehebatan jurus pencabut sukma." Ujar Siliwata.
Sontak saja Jatmika sampai terbelalak kaget.
"Kenapa pemuda itu bisa tau jurus yang ku mainkan." Gumam Jatmika dalam hati.
Kemudian Siliwata menjawab isi hati Jatmika.
"Ya jelas tau, Semua jurus dan ilmu kanuraganmu saya tau." Cibir Siliwata.
Jatmika tambah kaget lagi, ternyata Siliwata bisa membaca ucapan dalam hatinya.
"Benar dugaanku Pemuda ini bukan orang sembarang, dia bisa tau semua apa yang ku katakan dalam hati, aku harus berhati-hati." Gumam Jatmika dalam hati.
Karena rasa penasarannya Jatmika sama Siliwata sampai di mana tingkat ilmu kedid jayaannya, lalu Jatmika menggenggam gagang Cambuk api Neraka, salah satu senjata andalannya yang belum ada tandingannya.
"Heh pemuda sombong, kamu boleh bisa menggungguli semua jurusku, tapi apa kamu bisa bertahan dengan cambuk saktiku." Geram Jatmika.
Siliwata menyeringai menatap sebuah cambuk, seperti lagi mengukur tingkat kekuatan dari cambuk tersebut.
"Boleh juga cambukmu itu." Ujar Siliwata.
Ketika Jatmika mulai menarik gagang cambuk yang melilit di pinggangnya.
Tebaran hawa panas kini mulai terasa oleh Siliwata.
Dengan sangat terpaksa, Siliwata mencabut pedang Mamba kencana dari balik punggungnya.
"Jangan salahkan aku tuan Jatmika, karena kamu berniat jahat padaku." Ujar Siliwata.
"Banyak bacot kau." Bentak Jatmika.
Kini Cambuk api Neraka sudah di putar-pitar di atas kepala Jatmika.
__ADS_1
Aura membunuhnya begitu sangat luar biasa, Tebaran hawa panasnya sampai mengeringkan dedaunan hijau, pohon-pohon kering kerontang seperti di landa musim kemarau yang berkepanjangan.
Siliwata melihat para iblis yang menghuni neraka bersemayam dalam cambuk tersebut, menjadi satu kekuatan hebat yang haus akan darah.
Begitu Cambuk Api Neraka melesat ingin menghancurkan tubuhnya, secepat kilat Siliwata menyabetkan pedang Mamba Kencana.
Kini Cambut tersebut melilit pada Pedang Mamba Kencana.
Asap hitam tebal di warnai cahaya merah kemilau, saling dorong dengan kobaran api dari kekuatan Cambuk Api Neraka.
Tubuh Jatmika mulai bergetar hebat, begitu pula Siliwata merasakan kekuatan iblis dari cambuk Jatmika begitu dahsyat.
Ketika Siliwata melihat tubuh Jatmika semakin bergetar hebat, di sisa tenaga dalamnya, Siliwata mengerahkan seluruh kekuatannya.
Tar
Tar
Tar
Bluuuuuuuaaauurrrrr..
Suara ledakan begitu dahsyat, dan kedua pendekar sama-sama terpental ke belakang.
Cambuk yang begitu dahsyat dan belum ada tandingannya kini tinggal gagangnya saja.
Sementara Siliwata, begitu tubuhnya terjatuh, ia langsung bangkit duduk bersila untuk mengatur pernapasannya yang hampir putus.
Ada sedikit darah hitam keluar dari kedua sudut bibirnya Siliwata.
Perutnya yang kembung kempis nampak terlihat, menarik napas dalam-dalam dan di keluarkan melalui hidung secara teratur, supaya jantungnya bisa memompa darah, hendak mengeluarkan racun yang akan memutuskan aliran darahnya.
Tidak lama kemudian.
Uuuoooooo..
Ohookk..
Siliwata memuntahkan darah kental berwarna hitam kecoklatan.
Setelah itu napas pun mulai teratur, bersamaan dengan itu, munculah se ekor lebah raksasa, suaramya begitu nyaring dan mengerikan berkata pada Siliwata dengan suara bergema.
__ADS_1
"Bukalah matamu Satria Mamba Hitam."
Perlahan Siliwata membuka kedua kelopak matanya, menatap pada sosok lebah yang berukuran sangat besar.
"Siapa anda, kenapa bisa tau padaku, dan ada perlu apa mendatangiku?." Tanya Siliwata.
"Hahaha, aku siluman penguasa gunung madu, dan aku di utus oleh nayai Ratu Negri awan, untuk memberikan penawar racun dari kekuatan Iblis Neraka." Ujarnya.
"Obat apa yang kau bawa itu." Tukas Siliwata.
"Buka mulutmu Satria Mamba hitam." Pinta Siluman Lebah.
Kemudian Siliwata membuka mulutnya lebar-lebar.
Sebuah cairan kental berwarna teh meluncur dari mulutnya Siluman Lebah masuk kedalam mulutnya Siliwata.
"Kenapa rasanya seperti madu, wahai sang lebah?." Tanya Siliwata setelah menelan cairan kental dari lebah raksasa.
"Memang itu Madu, tapi bukanlah madu biasa Satria, sekarang aku tinggal dulu satria, karena tugasku sudah selesai, selamat tinggal Satria Mamba Hitam." Kata sang lebah sembari terbang ke angkasa.
Suaranya nyaring mengerikan bagaikan jutaan lebah yang terbang.
Siliwata terbelalak sambil menengadah ke angkasa melihat lebah raksasa yang sudah terbang jauh meninggalkan dirinya.
"Pedang Mamba kencana." Sontak Siliwata baru teringat akan pedang pusakanya.
Siliwata celingukan ke tempat sekeliling itu, mencari Pedang Mamba Kencana Hitam.
Siliwata tidak menyadarinya bahwa pedang Mamba Kencana masih menancap di tanah dan menyala kemerahan di sertai asap hitam tebal, tiga tumbak dari tempat Siliwata duduk.
"Oh rupanya itu pedang pusaka Kerajaan Kencana." Gumam Siliwata.
Kemudian Siliwata membungkukan punggung ke depan dan mukanya hampir menyentuh tanah, mengarahkan warangka dari pedang tersebut ke arah pedang yqng lagi menancap.
Seperti sebuah kutub magnet yang menarik benda logàm.
Pedang itu bergoyang-goyang lalu melesat masuk kedalam warangkanya.
Ternyata pedang itu seperti sudah bersenyawa dengan warangkanya, sungguh luar biasa, sudah bisa di pastikan pembuat pedang tersebut bukanlah orang sembarangan. Melaikan orang yang sakti mandra guna.
Sementara Jatmika yang lagi tergeletak tidak sadarkan diri dengan luka merobek di dadanya, kini telah di bopong oleh kawanannya, untuk di obati.
__ADS_1
Karena Jatmika masih hidup, denyut jantungnya pun masih terasa berdetak.