
Sebelum Siliwata dan Yudasara keluar dari goa hanjuang, Resi wanayasa memberikan tugas pada kedua satria itu.
"Cucuku, Siliwata dan Yudasara." Ujar Resi.
"Iya Eyang." Jawabnya serempak.
"Eyang mau memberikan tugas pada kalian berdua, apakah kalian sanggup menjalankan tugas yang Eyang berikan ini." Ujar sang Resi.
"Apa pun titah Eyang kami siap menjalankannya." Ujar nya serempak.
"Baiklah kalau begitu, sekarang kalian berdua Eyang tugaskan untuk pergi ke utara.
"Siliwata kamu pergi ke negri Banjar Karoman, selesaikan huru-hara di negri itu, negri itu hampir terpecah belah karena pertikaian antar saudara yang meperebutkan tahta." Tutur Resi Wanayasa.
"Baik Eyang."
Kemudian sang Resi menatap ke arah Yudasara dan berkata.
"Dan Kamu Yudasara, pergi ke lembah Tengkorak, lakukanlah tapa brata selama empat puluh hari empat puluh malam, untuk menyempurnakan ilmumu." Titah sang Resi.
"Baik Eyang, apapun perintah dari Eyang akan aku laksanakan sebaik-baiknya."
"Selamat jalan Cucu-cucuku semoga kelak kalian menjadi penerus tahta kerajaan kencana, dan menjadi pelindung bagi orang-orang lemah." Pungkas Nyai Ratu Mamba sari.
Ke esokan harinya, Siliwata dan Yudasara pamit untuk mulai menjalankan amanat dari kedua Eyangnya.
Kepergian Siliwata dan Yudasara tak lepas dari pandangan sang Resi dan Nyai Ratu Mamba sari, yang terus menatap melepas kepergian kedua cucu buyutnya sampai hilang di telan jarak yang semakin jauh.
...........................
Sementara di tempat lain.
Di bawah kaki gunung kencana tepatnya di sebuah Bukit, Bukit yang mempunyai dataran yang sangat luas, yang konon dulunya tempat berpusatnya kerajaan Kencana, yang sekarang sudah tiada lagi hanya tinggal satu rumah panggung berdiri.
Rumah itu adalah tempat tinggalnya Kala Seta dan Dewi Kencana, yang merupakan salah satu pewaris tahta keraja'an Kencana.
Siang itu Kala Seta dan istrinya lagi duduk di balai-balai bambu, sambil memandang ke arah selatan nampak hamparan rumput nan hijau serta pohon-pohon yang berdiri menjulang sebagai pelindung rumah panggung dari terpaan angin yang sewaktu-waktu bisa datang.
"Nyi Dewi kenapa anak-anak kita sampai saat ini belum juga pulang apa mereka baik-baik saja." Ujar Kala seta.
"Kakang jangan terlalu mengkhawatirkannya, mungkin saat ini mereka lagi mengembara, mendapat tugas dari gurunya." Tukas Dewi kencana.
Di saat mereka lagi ngobrol membicarakan kedua anaknya yang belum mendapat kabar, munculah Wikrama.
"Bapak perhatikan sepertinya kalian lagi memikirkan sesuatu." Sapa Wikrama sambil duduk di balai bambu.
__ADS_1
"Iya Ayah, kami kepikiran sama Siliwata dan Yudasara." Ujar Kalaseta.
"Kalian jangan terlalu memikirkan mereka, Bapak membawa kabar baik buat kalian." Timpal Wikrama.
"Kabar baik apa, apa ayah membawa kabar tentang Siliwata dan Yudasara?." Tanya Kalaseta penasaran.
"Iya benar, dan sekarang Bapak sudah sa'atnya membuka cerita yang selama ini Bapak rahasiakan dari kalian, khususnya kamu Kalaseta." Ujar Wikrama.
Kalaseta memandang datar pada Dewi Kencana, lalu kembali menatap intens pada Wikrama.
"Memangnya rahasia apa yang ayah sembunyikan dari ku?." Tanya Kalaseta
Kemudian Wikrama menceritakan tentang dirinya dan Kala seta.
Apa yang Wikrama ceritakan sama persis dengan apa yang di utarakan oleh Nyai Ratu negri awan pada Siliwata danYudasara, dari penggabungan kedua pedang Legenda kerajaan Kencana yang tenggelam bersama runtuhnya tahta kerajaan.
"Nah Begitu ceritanya." Ungkap Wikrama
Kalaseta terbelalak kaget sambil menatap wajah cantik Dewi Kencana, se akan tidak percaya apa yang ia dengar dari cerita Wikrama, yang selama ini ia anggap sebagai ayah kandungnya.
"Jadi Eyang Resi Wanayasa yang menjadi Gurunya Siliwata itu!, kakek aku dan kakek buyutnya Siliwata dan Yudasara?." Tanya Kalaseta.
"Benar sekali Raden." Jawab Wikrama.
"Ayah adalah se orang Hulu balang kepercayaan Ayahanda Walang Seta, lalu siapa ibundaku Ayah?." Desak Kalaseta.
"Lalu kenapa Ayah sampai merahasiakan ini semua, kenapa Ayah tidak menceritakannya padaku ketika aku masih kecil." Ujar Kala Seta.
"Karena belum saatnya Raden, silsilah keturunan kerajaan Kencana akan terungkap oleh keturunannya yang ke tujuh ketika tergabung nya pedang Mamba merah dan pedang Mamba Kencana." Ungkap Wikrama.
Kalaseta terpaku menatap Wikrama dengan intens, seperti masih banyak yang akan Kalaseta pertanyakan tentang dirinya.
"Berarti aku di rawat oleh ayah." Ujar Kalaseta.
"Benar Raden, Bapak yang selalu merawat dan menjaga Raden, hingga terjadinya perang besar, Bapak di suruh Baginda prabu untuk menyelamatkan Raden, Satu bulan Bapk hidup di hutan, untuk menyambung hidup, Bapk berburu dan mencari madu lebah untuk kesehatan Raden, setelah perang usai Bapk keluar dati hutan untuk kembali ke kota Raja, tapi ternyata Baginda dan permaisuri telah gugur, tak satupun keluarga keraton yang selamat semua mati terbunuh, Cuma jasad Prabu Rangsak setalah yang tidak Bapak temukan."
"Terus kenapa Ayah sampai bisa merahasiakan tentang aku selama bertahun-tahun?." Tanya Kalas!eta.
"Bapak bermimpi bertemu dengan seorang Resi berpakian serba putih tapi tidak menampakan wajahnya, meminta Bapak untuk pergi ke Bukit Hanjuang."
Wikrama menceritakan tentang perjalanannya ke Bukit Hanjuang.
Setelah tiba di goa bukit Hanjuang, Wikrama bertemu dengan seorang lelaki berpakaian serba putih sambil membelakanginya.
Wikrama bertanya? "Apakah anda yang datang lewat mimpiku."
__ADS_1
Lelaki itu pun menjawab "Benar."
Wikrama merasa penasaran dengan lelaki itu.
"Sebenarnya anda siapa? Dan kenapa meminta saya untuk datang kesini."
Lelaki itu pun perlahan membalikan badannya menghadap pada Wikrama.
Walaupun sudah banyak perubahan dalam cara berpakaian dan raut wajahnya, Wikrama masih bisa mengenal sosok lelaki yang lagi berada di hadapannya itu.
"Sang Prabu." Sontak Wikrama.
Lelaki itu tersenyum simpuh, lalu berkata dengan penuh wibawa.
"Kamu benar-benar abdiku yang setia Wikrama, meski dalam keadaan begini matamu masih tajam mengenalku."
Setelah itu Wikrama bersujud memberi hormat.
"Ampun Sang Prabu, ma'afkan atas kelancangan hamba, aku kira sang Prabu tewas dalam peperangan itu."
Sang Resi lalu mengangkat kedua bahu Wikrama.
"Bangunlah Wikrama, kamu ga pantas bersujud begitu padaku, karena aku hanya manusia biasa, duduklah."
Wikrama pun langsung duduk bersila sambil menundukan wajahnya, merasa bersalah karena tidak bisa melindungi keluarga Raja.
"Kenapa wajahmu sampai di tekuk begitu Wikrama." Ujar sang Resi.
"Ampun sang Prabu, hamba malu karena tidak bisa melindungi keluarga keraton, hingga semua tewas dalam peperangan itu."
Sang Resi tersenyum lalu duduk menghadap pada Wikrama.
"Kamu adalah abdiku yang paling setia Wikrama, dan berhasil menyelamatkan Cucuku Kala seta, aku memintamu datang kesini karena ada yang akan aku sampaikan padamu Wikrama." Ujar Sang Resi.
"Apa itu sang Prabu?." Tanya Wikrama.
"Jaga rahasia ini sampai tiba di batas waktu yang telah di tentukan semesta."
"Maksud sang Prabu?." Lanjut Wikrama bertanya.
"Jangan kau ceritakan siapa Kala seta yang sebenarnya, bila nanti anak kala seta lahir dan tumbuh dewasa, dimana tergabungnya dua pusaka dan bersinarnya mustika naga emas, di situlah rahasia akan terungkap." Tutur sang Resi.
"Baik Sang Prabu."
Sungkat Cerita.
__ADS_1
Wikrama undur dari hadapan sang Resi untuk pulang ke Tirta kencana.