SATRIA MAMBA HITAM

SATRIA MAMBA HITAM
Eps 29 Pertarungan di Bukit Dadap


__ADS_3

Yudasar dan Siliwata yang terus berjalan menyusuri jalan setapak menuju bukit Dadap, guna mencari nini Sulampe yang membawa kabur pedang nya yang baru di ambilnya di sevuah gua kencana.


Setibanya di kaki bukit Dadap, Siliwata dan Yudasara mencium aura hawa jahat yang begitu kuat sekali.


"Kamu merasakan sesuatu rayi?." Tanya Siliwata.


"Iya Kakang, aku merasakan aura yang sangat Jahat di atas sana." Jawab Yudasara.


"Sudah pasti si nenek sihir itu telah mengundang gurunya, kita mesti hati-hati, karena penyihir itu sangat licik." Ujar Siliwata.


Kemudian Siliwata dan Yudasara melesit ke atas dengan ilmu dan kekuatannya masing-masing.


Dengan ilmu mamba anginnya Siliwata melesat bagaikan kilat, begitu pula Yudasara dengan kekuatan Batar Indra ia mampu menembus bukit dadap hanya dalam sekejap saja.


Begitu sampai di atas bukit, kedua satria kakak beradik itu membentengi dirinya dengan kekuatan gaib guna menangkal sihir dari nenek Sulampe dan gurunya yang sakti mandra guna.


Lalu keduanya merubah wujudnya, Siliwata merubah dirinya menjadi se ekor ular mamba yang sangat besar.


Sedangkan Yudasara berubah menjadi se ekor srigala yang menakutkan, taringnya begitu runcing, dan suara lolongannya begitu keras sampai memecahkan kesunyian menggema di angkasa.


Ular mamba dan Srigala berjalan mendekati kediaman Nenek Sulampe sang penyihir yang sangat licik.


Ketika dua mahluk lagi mendekati kediaman nenek penyihir, terdengar kekehan suara tertawa begitu nyaring.


Heh hehe hehee.....


Sekelebatan bayangan melesat menghadang dua mahluk jelma'an dari Siliwata dan Yudasara.


"Selamt datang di bukit Dadap Satria mamba hitam, hehehee..." Tukas Nenek Sulampe sambil menoleh pada gurunya.


Siliwata yang menjelma menjadi se ekor ular mamba berwarna hitam pekat, bergumam dalam hati.


"Hebat,, ternyata si penyihir itu sangat sakti, ia bisa tau wujud asliku yang sebenaranya." Batin Siliwata.


Jagaranta guru nya nenek Sulampe tertawa terbahak.


"Hahaha....Heh anak muda kembalilah kalian ke wujud aslimu, heaaa...." Seru Jagaranta sambil menghempaskan sinar kuning dari tongkatnya.


Siliwata dan Yudasara kini telah di selimuti oleh cahaya kuning yang keluar dari tongkat saktinya Jagaranta.


Kedua mahluk yang terkenal sangat ganas itu, kini telah berubah kembali ke wujud aslinya, dua manusia yang masih muda berkulit kuning langsat dan berwajah tampan/Siliwata dan Yudasara.


Jagaranta tertawa bahagia melihat kedua mahluk pembunuh yang ganas itu kini tdlah kembali pada dodok pemuda Tampan dan gagah.


"Hahahaha....Masih untung ku kemblikan pada wujud aslimu anak muda." Tawa Jagaranta.


Siliwata dan Yudasara saling Pandang sambil berkata pelan.


"Rupanya si kake jelek itu sangat sakti rayi, mampu menembus ilmu pagar gaib kita." Ucap Siliwata pelan.

__ADS_1


"Iya kakang, kita mesti hati-hati menghadapi orang tua itu, ilmu sihirnya sudah berada di tingkatan tertinggi." Bisik Yudasara.


Jagaranta dan nini Sulampe terkekeh, menertawakan Kedua kakak beradik itu.


"Heh manusia iblis, kalian memang sakti dalam ilmu sihir, tapi apakah tubuh kalian bisa sekeras batu karang." Tantang Siliwata sambil menghunus pedang mamba merah.


Pedang Mamba merah kini dudah terlrpas dafi warangkanya.


Sinar merah menyala-nyala keluar dari pedang tersebut.


Kemudian Yudasara mengacungkan kedua tangannya ke angkasa, lalu ditarik menurun di depan dada.


Perlahan-lahan Tubuh Yudasara bergetar bersama dengan kilatan cahaya kuning ke emasan, lalu keluar sebuah gada sakti berwarna emas dari dalam tubuhnya.


Jagaranta dan nini Sulampe sampai terbelalak kaget melihat senjata para dewa kini telah di pegang oleh Yudasara.


"Bukan kah itu Gada Sakti miliknya Batara Indra guru?." Tanya Nenek Sulampe berbisik pada Jagaranta.


"Ia benar Lampe, dari mana pemuda itu mendapatkan senjata penghancur gunung itu." Jawab Jagaranta masih terpana.


Kemudian Siliwata dan Yudasara mengacungkan senjatanya ke angkasa.


"Bersiaplah wahai para penyihir licik, untuk pergi ke neraka." Seru Siliwata.


"Sebelum kalian melepaskan senjata kalian, akan ku jadikan kalaian cacing, biar jadi santapan burung hantu, hahahahaha.." Tawa Jagaranta sambil meliuk liukan tongkat saktinya untuk di arahkan pada Siliwata dan Yudasara.


Sinar kuning melesat dari tongkat saktinya Jaga ranta.


Sebelum sinar kuning mengarah pada tubuh Siliwata dan Yudasara, cahaya putih melesat turun dari langit membendung sinar kuning dari ke kuatan sihir tongkat saktinya Jagaranta.


Bluueerr...


Terdengar suara ledakan yang begitu keras memecahkan kesunyian di Bikit Dadap.


Jagaranta sampai terdorong beberapa langkah ke belakang, sambil berteriak menantang.


"Kurang ajar siapa yang telah menahan ilmu sihirku, hai keluarlah siapapun kamu, siluman, Dedemit bahkan Dewa sekalipun saya tidak takut." koar Jagaranta.


Sementara Siliwata dan Yudasara langsung mengayunkan senjatanya pada Jagaranta dan nini Sulampe.


"Mampuskan kalian manusia iblis." Tetiak Siliwata dan Yudasara.


Sinar merah dan cahaya ke emasan melesat menghantam tubuh Nini Sulampe dan Jagaranta.


Wheessss...


Whessss...


Tapi kedua penyihir itu langsung menghilang, dengan tertawa terbahak...

__ADS_1


"Hahahaha....Dasar anak muda bodoh, tidak semudah itu kalian bisa menyerang kami." Teriak Jagaranta.


"Heh penyihir busuk, jangan di kira kami tidak mengetahui keberada'an kalian." Ujar Siliwata, sambil memejamkan kedua netranya mengeluarkan ilmu mamba sukma.


Dengan ilmu itu semua alam di mensi lain bisa dilihatnya oleh Siliwata dengan jelas.


Begitupun Yudasara, dengan ilmu mata Dewanya, dengan sangat jelas bisa melihat keberada'an kedua penyihir itu.


Jagaranta dan Nini Sulampe terkejut, ternyata kedua pemuda itu bisa masuk kedimensi lain.


"Hebat juga mereka guru, bisa tahu keberada'an kita." Bidik Nini Sulampe.


"Tenang Lampe, kita jangan sampai kalah taktik dengan kedua pemuda itu, bukankah kamu telah memiliki pedang itu sekarang waktu yang tepat untuk menghancurkan kedua pemuda itu." Ujar Jagaranta.


Nini Sulampe tertawa terkekeh, Kemudian ia mengeluarkan pedang yang ia rebut dari tangannya Siliwata, yang ia simpan di dalam jasadnya.


Setelah pedang itu berada dalam genggamannya, lalu di acungkannya ke angkasa yang nampak masih berada dalam sarungnya.


"Hehehehe....Ini pedang yang kalian cari itu bukan." Teriak Nini Sulampe sambil terkekeh menyeramkan.


Begitu pedang itu akan di hunus dari sarungnya, sekelebatan cahaya halilintar menghantam tangannya nenek Sulampe.


Seketika itu pedang terlepas dari genggamannya Nenek Sulampe.


Spontan Siliwata replek, berkelebat dengan ilmu mamba anginnya menyambar pedang tersebut.


Kepp.


Pedang sudah berada dalam genggaman Siluwata.


"Akhirnya ku dapatkan kembali pedang ini." Batin Siliwata.


Sementara Nenek Sulampe dan ki Jagaranta, nampak menggidir napsu dan amarahnya.


"Kurang ajar, siapa kiranya yang telah mencampuri urusan kita Sulampe." Make ki Jagaranta.


"Siapa lagi kalau bukan bangsa negri awan, yang selalu usil dan ikut campur urusan kita." Tukas Nenek Sulampe.


"Setan alas akan ku obrak-abrik istana negri awan." Seru Jagaranta.


Selepas Jagaranta berkoar ingin meratakan istana negri awan dengan kekuatannya, nampak kabut putih menggumpal di angkasa meluncur turun membawa tiga bidadari cantik.


"Hai manusia iblis, akulah lawan kalian, dan kau nanda Siliwata cepatlah kau gabungkan pedang mamba merah dan pedang mamba kencana." Ujar Salah satu bidadari yang bermahkota.


Siliwata dan Yudasara nampak terbelalak dengan kemunculannya sang penguasa negti awan.


"Baiklah kanjeng ratu." Sahut Siliwata.


Kedua pedang kini telah terhunus dari warangkanya, nampak memunggu lama lagi Diliwatapun langsung menempelkan kedua pedang legenda itu.

__ADS_1


__ADS_2