
Setelah ilmu menembus mata batin yang di keluarkan oleh kedua putri dari negri awan.
Nenek Sulampe tidak ada di tempat kediamannya, kini kedua putri melakukan kontak batin dengan penguasa negri awan.
"Ma'af nyai Ratu, nenek sihir tidak ada di tempatnya."
"Iya aku tahu, Sulampe telah pergi, karena mencium aroma mewangi yang keluar dari tubuh kalian."
"Kemanakah Nenek sihir itu perginya?." Tanya putri hijau.
"Ia pergi ke bukit julangkrong, menemui kakek Jagaranta." Jawab nyai ratu dalam mediasi jarak jauhnya.
"Lantas apakah aku dan Putih harus menyusul kesana."
"Jangan, Jagaranta sangat sakti, biarlah nanti Siliwata dan adiknya, temui dia dan kasih tau bahwa pedang Itu telelah dibawa Sulampe." Pesan dari nyai ratu lewat mediasi jarak jauh.
Setelah itu kedua putri utusan dari nyai Ratu negri awan, langsung melesat terbang ke atas untuk kembali ke kahiayangan ke singgasana negri awan.
.................
Sementara Siliwata dan Yudasara yang masih bertarung melawan tiga pendekar trisula, masih nampak menegangkan.
Ketiga pendekar sakti itu, begitu berambisi ingin menghabisi kedua kakak beradik itu.
Kelebatan tiga senjata trisula melesat, meliuk, menusuk dan menerjang.
Tapi mereka tidak menyadari kehebatan dari Senjata pedang Mamba merah dan gada sakti Yudasara yang mampu menghancurkan bongkahan gunung karang.
Seperti yang telah tejadi pada salah satu pendekar trisula ketika ia melesat dengan cepat ingin menusuk Yudasara, dan Yudasara langsung menahan nya dengan ayunan Gada saktinya.
Apa yang terjadi, trisula yang terbuat dari baja kuning langsung patah, bersama'an dengan terpentalnya tubuh Komara, yang merupakan pendekar trisula emas.
Tubuh Komara membentur dinding batu.
Auuuuggggghhhh.......
Yudasara masih berdiri dengan gagah berani, ďengan gada sakti masih berada dalam gengamannya.
Netra Yudasara memandang tubuh Komara yang tergeletak lemah tak bertenaga lagi.
__ADS_1
"Bangkitlah trisula emas, mana sesumbar mu itu." Tukas Yudasara.
Komara mencoba untuk bangkit dengan sisa tenaganya yang sudah melemah.
"Hebat juga ilmu pemuda itu, bisa mematahkan trisula emasku, siapa dia sebenarnya." Batin Komara sambil menopangkan tangan kanannya pada tanah membantu tubuhnya untuk bangkit.
Sementara Siliwata yang masih bertarung dengan Trisula perak dan trisula merah.
Benturan dua senjata yang mengeluarkan percikan kembang api, telah mewarnai suasana di kaki gunung kencana.
Siliwata melesit ke udara, sambil mengacungkan pedang mamba merahnya.
Sinar merah telah keluar dari pedang tersebut, lalu di hempaskan pada pendekar Trisula.
Gabungan dua kekuatan senjata Trisula, membendung sinar merah dari pedang mamba yang menghempas ke arahnya.
Blaaauuurrrr deaaaassss..
Suara ledakan begitu dahsyat, yang menimbulkan kedua lawannya saling terpental.
Kedua pendekar Trisula terpental jauh, begitu pula Siliwata terpental beberapa tumbak kebelakang.
Brugk
Brugk
Suara tiga tubuh saling berjatuhan karena terdorong oleh benturan dua kekuatan yang sangat dahsyat.
Ketika Siliwata tubuhnya jatuh ke tanah, ia langsung duduk bersila, sambil menarik napas guna menyalurkan hawa murni untuk mengeluarkan hawa jahat yang berbalik menyerangnya.
Sementara kedua Pendekar Trisula masih tergeletak, dengan luka dalam yang lumayan parah, nampak darah segar keluar dari hidung dan sudut bibirnya.
Melihat kejadian itu, Yudasara langsung melesat dengan cepat menyambar tubuh Siliwata di bawa ke tempat yang lebih aman.
Kelebatan bayangan di sertai gemuruhnya angin, dar!i ilmu kidang kencana miliknya Yudasara yang lagi memboyong tubuh kakaknya Siliwata, menuju ke tempat yang lebih aman
Setiba di sebuah tempat sekiranya di rasa aman, Yudasara menurunkan tubuh Siliwata sambil di sandarkan pada batang kayu yang besar.
Kemudian Yudasara duduk bersila menghadap pada kakaknya Lalu tangan Yudasara membuka baju Siliwata di bagian dadanya.
__ADS_1
Perlahan kedua telapak tangan Yudasara di tempelkan pada dada Siliwta.
Sinar putih keluar dari telapak tangan Yudasara seperti masuk menembus kedalam jantung Siliwata.
Selang beberapa menit Siliwata langsung memuntahkan cairan merah kehitaman yang sudah mengental.
Uuuoooo
Uuuoooo
Ohoook
"Ini minum kakang, ini Pil tujuh dewa, obat untuk mengobati luka dalam." Ujar Yudasara sambil memberikan sebutir pil berwarna kecoklatan bebentuk bulat.
Perlahan Tangan Siliwata meraih pil tersebut dan Yudasara membantu meminumkan air dari sebuah guci.
Setelah Siliwata, meminum pil tujuh dewa, kedua netranya terasa lengket datangnya rasa kantuk yang amat sangat.
"Kakang ngantuk sekali Rayi." Ujar Siliwata.
"Ya sudah kakang tidur, berarti obatnya sudah mulai bereaksi, karena epek dari minum pil Tujuh Dewa rasa kantuk yang amat sangat." Tukas Yudasara.
Siliwata pun langsung terlelap tidur dengan posisi bersandar pada batang pohon dadap yang besar.
Sementara Yudasara pergi untuk mencari makanan, karena Yudasara sudah sangat tau betul, setelah Siliwata nanti terbangun pasti akan di serang dengan rasa lapar, makanya Yudasara pergi untuk mencari makanan.
Yudasara mengendap-ngendap , mengintai se ekor Rusa kecil yang lagi makan rumput.
" Akhirnya aku mendatapatkan se ekor Rusa, ini akan mengenyangkan perut kakang Wata." Batin Yudasara.
Perlahan tangan kanan Yudasara meraih sebuah ranting kayu yang tergelatak tidak jauh dari dirinya.
Setelah itu Yudasara melemparkan potongan ranting kayu tersebut dengan kekuatan tenaga dalamnya, ranting tersebut melesat cepat ke arah binatang buruannya itu.
Wheess
Wheesss.
Clek ceekk...
__ADS_1
Potongan Ranting tersebut menancap di perut binatang buruannya itu, sang Rusa jantan langsung menjerit kesalitan dan berlari di sisa kekuatannya