
Ke esokan harinya .
Selesai acara sekolah . Tari memang sudah menyiapkan kejutan kecil untuk Sendy , ia melakukan ini bukan karena ia ingin kembali bersama Sendy , akan tetapi ia ingin meminta maaf atas kesalah pahamannya selama ini .
Meski hanya kemungkinan kecil Sendy memaafkannya namun usahanya tidak akan pernah sampai disitu .
" Send hari ini kita ke aula "ucap jari
" Ada apa? bukannya sekarang bukan jadwal latihan "
" Kau tidak tahu yah ? bukannya jadwal sudah di ubah . Wah kau memang tidak tahu "
Selesai membujuk Sendy untuk pergi ke aula, jeri memang sudah tahu dari awal. jeri pun berpura pura sakit perut dan meninggalkan Sendy di aula itu sendirian.
Melihat suasana sepi Sendy merasa aneh , harusnya banyak siswa yang akan berlatih tidak ada satu pun , hanya ada seorang gadis yang membekalinya .
Sendy menatap wanita itu sungguh tidak asing baginya .
Tari pun membalikan badan sembari membawa cake berukuran kecil dan berjalan ke arah Sendy.
Sendy di buat bingung dengan apa yang di lakukan gadis di depannya itu.
" Selamat ulang tahun send" begitu ucapnya
Sendy yang baru saja sadar dengan hari lahirnya itu pun hanya menatap Tari dengan lekat. tiba tiba Tari memeluknya, Lunna yang ikut serta dalam acara kejutan itu pun melihat jelas apa yang terjadi disana .
" Maafkan aku "
" Mentari " panggilnya dan melepaskan pelukan nya
" Send. sebenarnya aku .. " tiba tiba Sendy berbicara
" Cukup! aku tidak mau mendengar apa apa lagi . "
" Tapi send, beri aku kesempatan untuk minta maaf padamu "
" Tar.. jangan pernah datang kepadaku lagi ."
Sendy pun meninggalkan tempat itu , namun langkahnya terhenti ketika tari lagi lagi bicara
" Aku hanya ingin kau memaafkanku saja send , itu sudah membuatku merasa baik . aku akan pergi dari kehidupan mu setelah kau memaafkan ku "
Satu Minggu kemudian
Setelah selesai ujian akhir, semua murid berlomba lomba memenuhi Mading, disana sudah jelas peringat pertama sampai terakhir. banyak yang bersorak lulus dalam ujian dan ada juga yang gagal dalam ujian .
" Lun kau tidak lihat , nilaimu di Mading ?"tanya jeri
"Aku pasti mendapatkan nilai di bawah rata rata , " dengan lesunya
" Ku pikir kau gadis yang cerdas "
" Hei kau mengejekku yah ! "
"Tidak ! dan kenapa kau tidak belajar bersama Sendy di rumah , padahal nilai ujiannya sangat bagus "
" Harusnya aku bertanya padamu, padahal kau sahabatnya "
" Tenang saja akan ada ujian susulan, kau dan aku bisa saling support yakan? "
__ADS_1
Sementara Sendy hanya duduk di meja nya dan memainkan ponsel miliknya .
" Sendy nanti setelah lulus kau mau ngelanjutin ke mana? " tanya marline
"Tidak tahu " jawabnya dingin
" jika kau mau kau sekolah di tempat ka Juli saja "
"Aku tidak niat untuk ke luar negri, bukannya kau akan menjadi model? "
" Tentu saja "
" pergilah ke luar negri, kau bisa mendapatkan apa yang kau mau disana "
" Sendy aku kan ingin nya sama kamu "
" Sudah lah , aku mau pulang. "
Sendy pun beranjak dari duduknya dan meninggalkan kelas .
semenjak saat itu, Tari memang sudah pergi meninggalkan sekolah itu. Membuat Sendy benar benar tidak habis pikir dengan kelakuan tarii, bisa bisanya dia pergi untuk kedua kalinya.
Beberapa bulan kemudian
Setelah menandatangi surat kontrak pernikahan itu, akhirnya Lunna dan Sendy resmi bercerai. Entah apa yang terjadi saat Lunna memberikan surat itu padanya . Sendy merasa menyesal.
Pagi hari seperti biasanya Sendy dan Lunna berangkat bersama ke sekolah , ada kecanggungan saat di dalam mobil , pak Jo yang melihat dari kaca spion merasa curiga terhadap 2 anak majikannya itu .
Epilog ..
Berada di sebuah cafe.
" Hmm yah aku pikir kau tahu , sejak Tari datang lagi, Marline seperti punya saingan lagi selain kau. "
" Maksudnya? " Merasa tidak tahu
" Tari meninggalkan Sendy satu tahun yang lalu karena papa nya Marline yang kejam itu "
Lunna hanya tertawa mendengar Jeri berbicara tentang papa nya Marline .
" Hei apa kau tidak tahu siapa papa Marline itu ? " Elin pun hanya menggelengkan kepalanya
" Sudahlah aku tidak akan membicarakan keluarnya. Pertemuan kita hanya membicarakan soal kedatangannya Marline "
Elin pun mengangguk sembari meminum jus nya .
" Jeri.. " sahut nya
" Aku tidak tahu masalah sebenarnya antara mereka berdua , tapi beberapa kali ketika aku bersama Tari yang selalu ingin berdekatan dengan Sendy , Sendy sepertinya masih membencinya "
" Yah seperti itu dia , Tari memang gadis yang baik , tapi dulu "
" Maksudnya? "
" Aku tidak sengaja mendengarkan percakapan Tari dan Radit saat di taman sekolah . "
" Apa yang mereka bicarakan ? "
" Sepertinya Tari akan membalaskan dendam nya pada keluarga Marline. "
__ADS_1
Jeri pun akhirnya membicarakan semua yang ia ingat saat itu . Lunna pun tidak percaya saat iya tahu bahwa Tari masih menyimpan perasaan pada sendy.
Dalam hati Lunna sedikit tergores dengan apa yang ia tahu dari jeri tentang Tari, namun yang lebih tidak paham adalah keluarga Marline yang sudah membuat Tari pergi selama satu tahun ini .
***
Suara pintu terbuka ketika mama Riana masuk kedalam kamar Sendy. Ia memanggil putranya namun tidak ada sahutan nya . Ia melihat sebuah amplop coklat yang tergeletak di meja .
Karena penasaran , mama Riana akhirnya membuka sebuah amplop itu dan membacanya . Serentak ia terkejut dengan isi amplop itu . Saat bersamaan Sendy pun masuk ke dalam kamarnya dan melihat mama nya sedang memegang amplop milik nya .
Mama Riana sangat marah pada sendy hingga terdengar jelas teriakan nya ke luar kamar , membuat beberapa pelayan seketika mendengar itu . Pak Jo yang baru saja datang pun mengusir para pelayan itu .
" Dimana Lunna sekarang? " Tanya mama riana
" Aku gak tahu "
" Sendy kenapa kamu tega seperti ini sih "
" Nyonya , nona muda sudah datang "
" Baiklah . Ikut mama kita bicarakan ini "
Sendy pun mengikuti langkah mama nya ke ruang keluarga , dimana disana sudah ada Lunna .
" Duduklah " sahutnya
Lunna menatap Sendy yang hanya menunduk dan mengikuti perintah mama nya . Lunna bingung dengan apa yang terjadi saat ia meninggalkan rumah tadi pagi .
Dilemparkan nya sebuah amplop coklat di atas meja . Membuat Lunna terkejut dan menatap Sendy . Yang di tatap hanya diam dan pasrah .
" Jelaskan apa maksudnya ini ? "
" Mamah kan sudah lihat . Harusnya mama juga mengerti " balas Sendy dengan wajah biasa saja
" Kenapa kamu melakukan ini " teriakan mama Riana
Lunna pun terkejut dengan teriakan mama Riana , dia hanya bisa diam dan menunduk tidak berani bicara sedikit pun . Tangan nya benar benar mengepal menggenggam erat baju nya sendiri .
" Sendy jawab ! "
" Aku tidak mencintainya mah " sembari melangkah pergi
" Anak ini kita belum menyelesaikan masalahnya ini kau mau kemana "
Sendy pun pergi ke arah kamarnya, sedangkan Lunna masih berada di tempat itu . Duduk sembari menundukan kepalanya. Ia sangat malu.
" Lunna " panggil mama Riana
Lunna pun menatap ke arah sumber suara itu .
" Ia mah "
" Kenapa kamu tidak bilang kalo Sendy seperti ini "
" Maafkan Lunna mah . Dan apa yang sudah tertulis di sana memang benar adanya "
Lunna pun kembali menundukan kepalanya. Sementara mama Riana hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Bersambung
__ADS_1