SEATAP

SEATAP
TRAGEDI II


__ADS_3

lunna pun bergegas berlari meninggalkan tempat kejadian kemudian memberhentikan sebuah taxi. dan melaju ke arah rumah sakit.


di rumah sakit mikael dan mariana menghampiri devan yang sedang duduk di ruang tunggu. melihat devan merasa bersalah mikael berusaha menenangkan devan yang begitu takut jika terjadi sesuatu kepada sang korban bahkan tidak ada identitas satu pun yang di bawa oleh sang korban.


" Van sebenarnya ada apa kenapa bisa seperti ini " tanya mariana kepada adiknya


" Ka aku tidak sengaja percayalah "


" Tenanglah pasti ada jalan keluarnya dan dimana keluarga korban? " tanya mikael kepada devan


" Aku tidak menemukan apa apa saat kejadian itu "


Kemudian dokter keluar dari ruang penanganan dan berkata jika korban banyak sekali pendarahan di kepalanya kemungkinan kecil untuk selamat. membuat meraka bertika sontak kaget dan tidak percaya..


" Apa kalian keluarga pasien?" tanya sang dokter kepada ke3 orang tersebut


" Ya dok kami sodaranya " mariana berkata pada dokter dan membuat suami dan adik nya berpandangan ke arah mariana


" Pasien harus segera di oprasi tapi saat ini kondisi pasien masih kritis dan kemungkinan kecil untuk bisa di oprasi,saya tidak menjanjikan kepaada saudara pasien bagaimana hasil setelah oprasi nanti . saat ini pasien masih dalam penanganan mohon bersabar. saya pamit dulu."


dokter pun meninggalkan mereka ber3.


Mereka bingung harus bagaimana dengan korban tersebut bahkan mereka tidak tau keluarga korban. di sisi lain lunna sudah sampai di rumah sakit dan mencari informasi tentang korban kecelakaan 3 jam yang lalu . namun banyak sekali korban kecelakaan hari ini sampai lunna pun menghela nafasnya dengan kasar air mata di pipi nya terus mengalir memikirkan kondisi ibunya yang sekarang ada di mana. bahkan rumah sakit pun tidak ada yang menerima laporan tentang nama pasien yang di katakan lunna. lunna berjalan ke arah luar dengan kaki yang bergetar tidak tahan dengan nasibnya saat ini . rumah tidak ada ibu tidak tau dimana bahksan dirinya seakan tidak bisa hidup lagi melihat semua yang ia sayangi pergi.


" Ibu kau dimana " gumam lunna ketika melangkah ke luar rumah sakit sembari menangis


Lunna pun pergi berjalan mengikuti langkah kaki nya yang entah mau kemana dengan wajah yang tidak ada semangat baginya ia duduk di sebuah halte bus merenungi betapa tidak adilnya dunia ini pada nya . setelah papa pergi,rumah tidak bisa di tinggali dan ibu yang belum ditemukan membuat lunna tak ada harapan untuk hidup.


Sepulang sekolah sendy sudah di beri tahu oleh papa nya bahwa paman nya mengalami kecelakaan dan membuat sendy pun bergegas ke rumah sakit untuk melihat keadaan korban yang di tabrak oleh paman nya . marline,jeri dan juli tadinya ingin menemanin sendy namun sendy menolak karna ini masalah keluarga . akhirnya marline dan juli pulang ke rumah bergitu pun jeri.

__ADS_1


" Ka apa sendy baik baik saja ? " tanya marline kepada juli di dalam mobil


" Hmm ya jangan khawatir " mengelus kepala marline


Begitu sayang nya juli kepada sodara kembarnya ini. sendy yang duluan bergegas ke rumah sakit di susul oleh juli dan maeline pulang ke arah berlawanan. jeri yang pulang terakhir membuat mood nya tidak karuan ia menjalankan mobilnya lalu pergi meninggalkan gerbang sekolah.ya tadinya ia ingin mengajak teman teman nya untuk jalan jalan namun ada masalah dari keluarga sendy membuat nya harus membiarkan. lunna berjalan melintasi jalanan dengan pemikiran yang kosong membuat ia hampir saja ketabrak oleh pengendara mobil. ia menutup wajah nya dan duduk di jalanan sembari menangis. apakah ini takdir bahwa ia juga akan pergi meninggalakan dunia ini pikirnya. kemudian pemuda yang hampir menabrak lunna pun keluar dari mobil dan mendekati lunna yang sudah duduk di jalan.


" Apa kau tidak apa apa " tanya pemuda tersebut


Membuat lunna tersadar bahwa ia masih hidup . kemudian lunna membuka matanya dan berdiri melihat pemuda begitu tampan di hadapan nya membuat ia jatuh pingsan di pangkuan nya. sontak membuat pemuda tersebut bingung dan langsung membawa nya ke dalam mobil menuju rumah nya.


Perlahan membuka mata ketika melihat langit langit dan seisi ruangan begitu megah dan luas membuat dirinya bangkit dari tempat tidur. di sisi lain pemuda yang menolongnya pun berdiri dari sofa tidak jauh dari ranjangnya melihat gadis di depannya sudah sadar.


" Apa kau tidak apa apa? "


Lunna menoleh ke arah suara tersebut dan melihat pemuda tampan membuat lunna melamun seketika. pemuda tersebut menghampiri lunna dan menyadarkan lunna sontak lunna pun berkata.


saya dimana? " tanya lunna setelah sadar


" Kau di rumahku "


Tok Tok Tok...


" Masuk "


"Tuan ini bubur nya "Sembari meletakan bubur di atas meja


Melihat gadis di depan nya sudah sadar kemudian tersenyum meninggalkan majikannya pergi dan menutup kembali pintu kamar.


" Aku harus pergi" bergegas turun dari ranjang namun di cegah oleh laki laki itu.

__ADS_1


" Heii kau baru sadar . makan dulu setelah itu aku akan antarkan kau pulang ke rumah. "


Mengingat kata rumah lunna terdiam dan mengingat kembali bahwa saat ini ia sudah tidak punya lagi tempat tinggal. bahkan mengingat ibu yang belum di temukan membuat lunna ingin menangis lagi, mata nya sudah berkaca kaca membuat jeri bingung kenapa dengan gadis di depannya ini.


" heii kau kenapa? " tanya nya pada gadis di depannya


" Aku harus pergi maaf sudah merepotkan mu " sembari bangkit dari tempatnya namun kepala nya begitu pusing membuat ia kembali duduk.


Jeri duduk di sebelah lunna dan mengambil bubur yang tadi bibi buatkan . memberikan kepada gadis di depannya untuk memakan bubur tersebut . lunna pun akhirnya menerima bubur yang di berikan pemuda itu dan memakan nya . melihat begitu baiknya pemuda didepannya ini .


waktu menunjukan pukul 20.00 membuat jeri kembali membuka mulut nya .


" Kau bermalam disini saja besok aku antarkan kau pulang. Selamat beristirahat. " sembari meninggalkan lunna dan menutup pintu


Lunna hanya menunduk dan tidak menjawab apa yang di katakan pemuda itu. bahkan jika ia keluar malam begini ia tidak tau harus kemana,mungkin besok ia harus kembali mencari ibu nya yang belum di temukan gumam nya.


" Heii kau siapa gadis itu?! " tanya sang papa zen


" Ohh dia aku tidak tau pah belum sempat kenalan " menuruni anak tangga


" Kenapa kau bawa gadis kerumah ini. kau masih pelajar sudah berani ya bawa seorang gadis ke rumah " menjewer telinga jeri dan meringis kesakitan


" Paa....paah.. dengerin dulu aku tidak sengaja bertemu ia di jalan pingsan jadi aku bawa ke rumah " memegang telinga nya yang merah dan kesakitan


" Baikalah cepat kembali ke kamar mu dan jangan macam macam dengan gadis itu paham?! kau masih remaja belum saat nya membawa seorang gadis ke rumah " papa zen pun meninggalkan jeri lalu beranjak ke kamarnya


" Ah anaak ini sudah dewasa ternyata aku bahkan harus segera mengurus penerus perusahaan..


" Sayang apa kau lihat anakmu ini dia sama sepertiku ha ha ha.. " lirih dalam hati ketika berda di kamar memandang foto seorang perempuan yang tak lain adalah mendiang istrinya.

__ADS_1


__ADS_2