
TING... suara bel berbunyi di apartemen milik Lunna.
Lunna bergegas menuju pintu dan membukanya.
Sebelumnya Lunna sudah berjanji bertemu dengan jeri di apartemen miliknya. Jeri sudah menganggap Lunna saudaranya jadi tidak heran ia sangatlah perhatian dengan Lunna.
Sembari membawa makanan kesukaannya jeri masuk setelah Lunna membukakan pintu. Jeri kemudian bergegas ke dapur dan meletakan makanan itu di sebuah piring.
" Ternyata aku tidak salah memilih sahabat sejak dulu. " Sembari melihat ke arah jeri yang sedang menata makanan.
" Kau harusnya berterima kasih padaku. " Timbalnya.
" Yah. Aku sangat berterima kasih dan bersyukur karna Tuhan mempertemukan ku denganmu . "
" Cepat makan , aku sangatlah lapar. Sejak pulang bertugas aku belum makan apa-apa, karna seseorang tiba-tiba menelponku dan menyuruhku membelikan makanan kesukaannya. "
" Hmm apa kau sedang mengadu padaku? " Ejeknya.
" Tidak. Ayo makan. "
Mereka pun menikmati makan malam bersama. Setelah selesai makan. Mereka duduk di Sebuah sofa sembari melihat ke arah channel TV .
" Aku sudah bicara pada papaku agar kau tinggal di rumahku. Kenapa kau keras kepala sekali sih. "
" Jeri. Aku tidak mau terus membuatmu merasa terbebani. Aku sangat senang punya apartemen milikku sendiri. Dan aku nyaman disini. "
" ini obat yang kau inginkan. Aku harap kau datang ke tempat ku dan memeriksakan kondisimu. Jangan terus-terusan mengkonsumsi obat . Itu tidak baik untuk kesehatanmu. "
" Kau kan seorang dokter. Aku tidak perlu berobat karna kau ada untukku. "
" Aku akan pulang. Ini sudah larut malam . Aku tidak akan menginap lagi . Besok aku ada jadwal operasi . Istirahatlah. "
" Aku tahu di sini hanya ada satu kamar tidur. Kau tidak betah di sini karna kau tidur di sofa. Baiklah pak dokter hati-hati di jalan. "
__ADS_1
Jeri pun meninggalkan Lunna . Lunna kembali ke kamarnya dan memilih duduk di sebuah meja riasnya.
" Aku takut. Aku sangatlah takut. " Sembari menatap ke arah obat yang sebelumnya di berikan jeri. Ia kembali membuang obat itu ke tempat sampah di sampingnya.
" Maafkan aku jeri. Aku sudah membohongimu. "
Ke esokan paginya
" Apa Lunna tidak hadir hari ini? " Tanya Mya pada salah satu karyawannya.
" Hari ini dia mengambil cuti Bu untuk beberapa hari saja. "
" Oh iya . Kau tolong urus rapat hari ini . Aku akan kembali satu jam lagi. "
" Baik bu. "
Beberapa panggilan tak terjawab dari Lunna
Ponsel jeri terus berdering di meja kantornya. Saat itu jeri sedang melakukan sebuah operasi dan itu membutuhkan waktu sekkta 4 jam lamanya .
Jeri bergegas lari meninggalkan rumah sakit dan menyalakan mobilnya menuju apartemen Lunna.
Sesampainya disana ia menekan tombol sandi masuk. Ia memang beberapa kali sering datang ke sini tak heran ia tahu kata sandi untuk masuk ke apartemen Lunna.
Setelah masuk ia terus memanggil Lunna dan mencarinya. Namun tidak ada jawaban. Ia masuk kedalam kamar Lunna dan mendapatkan Lunna sudah tidak sadarkan diri. Di samping itu pun ia melihat obat yang di berikan nya berserakan di mana mana.
Ia membawa Lunna ke rumah sakit miliknya. Agar Lunna segera mendapatkan pertolongan.
Beberapa saat kemudian Lunna sudah berada di ruang perwatan. Ia perlahan membuka matanya dan melihat jeri di sampingnya .
" Ah aku lupa meminum obat , makanya aku kesakitan dan pingsan. Jeri kenapa aku di rumah sakit. " Tanyanya sembari mengamati ruangan tersebut.
" Kau membohongiku . Kau tidak pernah meminum obatmu. Untuk sementara kau di rawat disini sehari saja. Nanti aku akan mengantarkanmu pulang. "
__ADS_1
" Jeri apa penyakitku parah? Aku takut jer. dan maafkan aku tidak pernah meminum obat dari mu. Aku benar-benar takut aku.. "
" Kau tidak apa-apa. Kau baik-baik saja. Kau hanya perlu istirahat. Aku seorang dokter. Istirahat lah. Aku ada urusan dan nanti aku akan menemanimu . "
Sudah beberapa hari Lunna keluar dari rumah sakit dan sekarang ia kembali bekerja seperti biasanya tanpa rasa lelah.
" Terima kasih sudah mau berkunjung ke kantorku sen. aku akan mengantarkanmu ke keluar. "
" Tidak perlu Mya, semoga kerja sama antar perusahaan kita ini akan membuat oerusaah kita makin berkembang. Terima kasih . "
" Baiklah send. "
Sendy pun meninggalkan ruangan Mya dan mendapati Lunna sedang duduk di meja kerjanya . Sendy menatap ke arah Lunna seketika . Ia melangkah pergi. Namun langkahnya kembali terhenti ia kembali ke arah meja kerja Lunna dan menghampirinya.
" Bisa kita bicara. " Tanpa basa basi ia berbicara seperti layaknya mengenal dekat. Babakan karyawan lain pun sempat menoleh ke arah keduanya .
" Maaf pak ada yang bisa saya bantu? Jika bukan soal perkerjakan saya minta maaf tidak ada waktu untuk itu. Saya masih dalam jam berkerja. " Sangatlah proporsional begitulah Lunna dalam pekerjaan.
" Baiklah. " Sendy pun melangkah pergi meninggalkan Lunna .
***
" Sendy? dia benar sendy? Dia ingin bicara denganku? setelah tujuh tahun. Bahkan wajahnya saja tidak berubah , dia masih sama seperti dulu tidak banyak berubah. Namun ia sangatlah playboy bukanya ia sudah kembali dengan Tari, lantas kenapa ia mendekati bos Mya. Aku harus bicara pada bos Mya untuk berhati-hati dengannya "
Lunna teringat dengan sepucuk surat dari Sendy sebelum nya . Ia mencari ke sebuah lemari pakaian dan mengobrak abrik mencari surat itu. Setelah ketemu ia sangatlah gugup untuk membuka dan membaca isi surat itu.
" Ini sudah tujuh tahun. Surat ini masih sangatlah rapat dan aku enggan membukanya. Kenapa? Aku aku kecewa panya? Apa yang ia tulis kali ini. "
Lunna pun perlahan membuka surat itu. Dadanya terasa sesak dan nafasnya sangatlah berat.
[ AKU MEMBENCI MU ! ]
" SIALANNNNNNN !!! BEDEBAH GILA!! " teriaknya.
__ADS_1
" Seharunya aku tidak membuka surat itu ! Aku pikir dia ingin meminta maaf padaku tapi dia malah membenciku ! Sendy sialan!! Ku harap kita tidak pernah bertemu lagi! "
Lunna pun merebahkan tubuhnya. Sebelumnya dia merobek sepucuk surat dari Sendy itu dan melemparkannya ke lantai di injak-injak sembari menggerutu dalam kekesalannya.