Second Love With BERONDONG

Second Love With BERONDONG
Surat Perceraian


__ADS_3

"Selamat siang, Nyonya. Ini surat perceraian dari pengadilan."


Kedua mata Hana terbelalak lebar, apakah memang secepat ini? Wanita itu begitu senang. Ah ... kuasa hukum nya memang sangat bisa diandalkan. Tak sia-sia Hana menguras ATM nya untuk membayar pria di depan nya. Nyata nya harga itu sebanding dengan pekerjaan yang dilakukan.


"Aku kira masih memerlukan beberapa hari lagi, ternyata langsung keluar."


"Saya tahu Anda ingin perkara ini segera selesai. Sengaja saya meminta pihak pengadilan untuk mempercepat dibanding yang lain." Pria itu sedikit merapikan jas nya lalu berdehem sebentar sehingga kesan tegas serta dingin itu begitu tampak. Meskipun Hana baru saja memuji tetapi tak sedikit pun pria itu mau merubah mimik muka nya yang selalu terlihat serius.


"Kau memang sangat pengertian." Hana memberi pujian. Hana mengambil alih surat perceraian itu lalu membaca nya.


"Bagaimana dengan pembagian harta nya?" Mata nya tak beralih dari dokumen yang sedang dibaca.


"Kemungkinan besar Anda akan mendapatkan separuh lebih dari keseluruhan harta mengingat selama ini gaji Anda lebih banyak dari nya." Haris menatap Hana serius, sedangkan Hana hanya mengangguk-anggukkan kepala dengan pandangan matanya masih terfokus pada kertas di tangan.


"Sukur lah, kalau bisa aku ingin seluruh harta gono-gini jatuh ke tangan ku. Sisakan saja rumah Farhan, lagi pula aku sudah tidak sudi tinggal di tempat najis itu." Suara Hana terdengar dingin mengandung kebencian. Ya, dia benar-benar sangat membenci Farhan.


Ternyata cinta nya selama ini begitu mudah terhapus digantikan kebencian yang teramat mendalam.


"Akan saya usahakan." Sahut nya setelah menyendok makanan nya.


Ya mereka kembali bertemu di restoran. Sengaja memesan ruangan private agar tak ada yang mendengar pembuatan mereka.


Sebenernya Hana sudah menyuruh Haris untuk bertemu di apartemen nya saja, tetapi Haris menolak tegas karena tidak ingin menimbulkan fitnah. Terlebih lagi istri Haris yang teramat cemburuan membuat nya selalu berhati-hati bila berurusan dengan klien wanita.


.


.


.

__ADS_1


"Ayolah, Farhan. Kau jangan terus-terusan seperti ini. Lebih baik kita lanjutkan rencana. Bukan kah kau menginginkan anak?" Cika masih berusaha membujuk Farhan untuk kembali seperti biasa.


Ya, setelah perselingkuhan nya terbongkar, Farhan terus saja menghindari Cika. Bahkan ketidak pulangan Hana ke rumah membuat Farhan menyalahkan Cika.


Cika tidak peduli jika harus disalahkan, tapi dia tidak ingin jika terus-terusan di jauhi Farhan. Jika seperti ini, misi pembuatan anak maka akan gagal. Oleh sebab itu Cika akan membuat Farhan kembali tergoda.


"Tapi aku lebih menginginkan Hana." Farhan sangat menyesal karena telah kehilangan Hana. Meskipun belum kehilangan sepenuhnya, mereka masih suami istri. Tapi dengan Hana tidak pulang dari rumah, itu benar-benar membuat nya kalut.


Dia rindu Hana, rindu tubuh nya juga. Naf-fsu nya sudah membumbung tinggi, ingin kembali merengkuh kenikmatan. Tetapi Hana nya tidak ada di rumah.


"Sayang, sudah ku bilang, Hana tidak mungkin meninggalkan mu. Setelah amarah nya reda pasti akan kembali ke sini. Kau tau tidak perlu terus-terusan memikirkan itu."


Mendengar perkataan Cika mendorong Farhan untuk melihat wanita itu. Ternyata Cika hanya memakai kimono satin yang seperti nya tak memakai baju dalam, terlihat sekali puncak dada wanita itu sangat mengecap di baju.


Pria yang sudah menahan gairah selama beberapa hari tentu saja merasa tergoda melihat pemandangan di depan nya. Terlebih sudah berkali-kali Cika memang menggoda nya, namun Farhan yang sadar akan kesalahannya mencoba untuk menahan agar tak lagi mengulang.


"Ayolah, sayang. Kita lanjutkan rencana awal. Biarkan aku melahirkan sesosok anak. Aku tidak akan menuntut mu untuk menjadikan ku istri. Aku hanya ingin kebahagiaan mu sempurna setelah memiliki buah hati. Aku yakin Hana pasti mengerti." Lagi-lagi Cika berhasil menghasut pria lemah iman di depan nya.


Ya, pendirian Farhan kembali goyah. Menurut nya apa yang dikatakan Cika sangat lah benar. Farhan berselingkuh hanya untuk mendapatkan anak, tentu Hana akan menyetujui.


Dan tanpa berpikir dua kali, Farhan memberi isyarat Cika agar mendekat. Wanita itu dengan senang hati duduk di pangkuan Farhan.


Bibir nya semakin mengembang menampilkan senyum kemenangan saat menyadari sesuatu di bawah sana sudah mengeras. Aaaa ... enak sekali rasanya. Cika semakin menggoda pria itu dengan menggerak-gerakkan pinggul nya.


Farhan hanya bisa memejamkan mata seraya mendongakkan kepala. Kedua tangan nya memegang erat pinggul Cika. Bibir nya mendesis menikmati rasa yang sungguh luar biasa.


Tanpa ba bi bu lagi, Farhan menyergap bibir Cika yang sedang terbuka. Kedua nya beradu bibir dengan begitu panas. Bahkan lidah ke-dua nya sudah saling berperang. Tangan Farhan tak bisa dikondisikan lagi, memegang dua benda kenyal yang selalu menjadi favorit tiap pria itu dengan penuh tenaga.


Cika hanya bisa melenguh tertahan saat merasakan puncak dada nya di pelintir hingga merasakan nikmat yang selalu didambakan.

__ADS_1


Dua manusia yang sudah sangat diliputi gairah itu berusaha membuka tiap kain yang melapisi tubuh dengan tidak sabaran hingga terjadilah penyatuan panas yang bahkan suara-suara kenikmatan itu begitu menggema di ruangan. Mereka berteriak, mendes🔥ah, meracau seperti orang gila.


Sedang asyik-asyiknya memadu kasih, tiba-tiba pintu terbuka.


Brak.


"Ups, sorry ... ternyata aku datang di waktu yang tidak tepat." Hana pura-pura terkejut menatap dua manusia yang sedang bergumul di sofa.


Sebenernya Hana sudah tahu kalau mereka sedang melakukan kegiatan tak senonoh, bahkan suara nya sampai terdengar dari luar. Namun, karena Hana ingin mengacaukan kenikmatan yang sedang mereka rengkuh, dengan sengaja melanjutkan langkah ke rumah untuk bertemu Farhan.


"Hana?!" Farhan kembali terkejut melihat Hana ada di depan nya. Dia segera mendorong tubuh Cika yang sedang berada di pangkuan hingga penyatuan itu pun terlepas.


Dug.


Bokong yang tak terhalang apapun berhasil mendarat sempurna ke atas lantai dingin yang begitu keras. Rasa sakit benar-benar menjalar hingga ke tulang ekor nya. Belum lagi rasa marah terhadap Farhan yang tiba-tiba mendorong nya membuat nya semakin kesal.


"Hana, ini tidak seperti yang kamu bayangkan." Farhan segera berdiri dengan keadaan tak ada pakaian yang membungkus tubuh nya. Dia berjalan ke arah Hana, namun belum berhasil mendekati nya, tangan nya lebih dulu di cekal Cika.


"Sayang, kenapa kau mendorong ku?!" Cika berteriak keras. Dia mendesis merasakan pantat nya benar-benar ngilu.


"Lepas! Aku ingin bicara dengan Hana!" Farhan menyentak nya hingga Cika kembali terdorong.


Hana yang melihat drama itu hanya mendesis. Terlalu jijik melihat pemandangan tak senonoh di depan nya membuat nya tak ingin berlama-lama di sini.


"Sudah-sudah, tidak perlu ribut. Aku hanya ingin menyerahkan ini, kalian bisa lanjutkan kegiatan nya. Seperti nya memang aku datang di waktu yang sangat tidak tepat sampai-sampai menggagalkan kegiatan yang sangat nikmat."


"Tidak, Hana! Aku tidak.." Farhan tidak jadi melanjutkan perkataannya karena Hana sudah berbalik setelah meletakkan sebuah map di atas meja kecil di dekat pintu.


"Hana, tunggu!" Farhan mengejar Hana dengan keadaan tak memakai pakaian.

__ADS_1


__ADS_2