
Baru saja mengangkat tubuh wanita itu, Revaldo sudah merasakan panas. Akibat bersentuhan dengan kulit Hana sudah membuat nya seperti tersengat listrik hingga membuat sesuatu di bawah sana menegang sempurna.
"Huh, sial! kenapa kau selalu membuat ku sengsara? Tapi, justru ini yang membuat ku semakin penasaran." Revaldo menggumam penuh kekesalan.
Semakin sulit didapatkan, Revaldo akan semakin penasaran pada Hana. Itu lah mengapa Revaldo masih terus ingin mengincar wanita itu walau sebenarnya banyak sekali wanita yang bisa didapat Revaldo dengan mudah bahkan lebih baik dari nya.
Tak ingin diri nya semakin tak terkendali, Revaldo mempercepat langkah nya membawa Hana ke lantai 3 letak kamar Hana.
Saat berada di depan kamar, dia baru menyadari tak tahu di mana kuncinya, ah mungkin ada di tas kecil yang Hana bawa. Sayang sekali, tangannya terlalu sulit menjangkau karena sedang membopong tubuh Hana.
"Sebaiknya aku bawa saja ke kamar,"
Tak ingin terlalu lama membawa Hana dalam pelukan yang tentunya akan semakin membuatnya tersiksa, Revaldo berinisiatif membawa ke kamarnya sendiri.
Meletakkan tubuh Hana dengan hati-hati dan melepaskan sepatu serta topengnya, Revaldo kembali beranjak setelah mengambil kunci kamar Hana.
Saat dirinya berbalik tiba-tiba tangan Hana mencekal lengannya hingga Revaldo kembali terduduk di ranjang. Pria itu mengamati wajah cantik Hana yang sedang mengigau. Entah apa yang diucapkannya, tapi sudut matanya mengeluarkan cairan. Itu artinya Hana menangis.
"Sstt ... jangan menangis, ada aku disini." Entah dorongan darimana, Revaldo ingin sekali menenangkan Hana. Pria itu merasa kasihan melihat sisi lemah wanita yang selalu menunjukkan keangkuhan.
Dia tahu, apa yang ditunjukkan Hana didepan semua orang hanyalah topeng. Keangkuhannya hanya digunakan sebagai tameng agar tak terlihat lemah dihadapan siapapun, termasuk dirinya.
"Hiks ... kau bajingan, Farhan! Kau dan Cika sama-sama manusia biadab. Aku tidak akan pernah memaafkan kalian." Air mata itu semakin menganak sungai, siapapun yang melihatnya pasti akan merasa iba. Tidak terkecuali Revaldo, meskipun pria itu bukanlah manusia baik hati, tetapi melihat Hana tersakiti membuat dadanya ikut merasa nyeri.
.
.
Setelah beberapa jam tidur, Hana merasa tak nyaman lagi jika masih memejamkan mata.
__ADS_1
Sebelum membuka mata, lebih dulu Hana merasakan sesuatu yang berat menimpa tubuh, membuatnya tak bebas bergerak. Tangannya mencoba meraba-raba dengan matanya yang berusaha dia buka.
Deg.
"Aaaa..!" Teriakan Hana begitu melengking hingga memenuhi gendang telinga Revaldo yang masih nyaman tidur disampingnya.
Seketika Revaldo ikut terjaga, belum sempat pria itu bergerak, tubuhnya lebih dulu dilempar Hana ke lantai.
"Minggir! Kenapa Anda di kamar ku?!" Dada Hana naik turun. Dia shock bukan main menyadari telah tidur bersama pria bukan suaminya.
Langsung saja Hana mengamati seluruh pakaiannya yang ternyata masih lengkap, kemudian kembali melihat kearah Revaldo yang sedang berusaha bangkit dari lantai dengan wajah nyengir kesakitan. Ternyata pria itu juga masih memakai pakaian lengkap. Hah, aman! Hana mengelusi dadanya sendiri.
"Ck, lihatlah sekelilingmu! Aku yang tidur di kamar mu atau sebaliknya?" Ketus Revaldo. Sepertinya pria itu benar-benar kesal, tak biasanya pria itu berbicara ketus pada Hana.
Gluk.
Hana menelan ludahnya kasar, wanita itu sama sekali tak berani berucap. Haissh... malu sekali rasanya. Bahkan menampakkan wajah ke hadapan Revaldo saja merasa tak berani apalagi bicara?
"Mau kemana kau?"
Suara tegas itu berhasil menghentikan langkah Hana. Wanita itu diam di tempat, tubuhnya terasa kaku, bola matanya melotot merasa tak percaya kalau dirinya terpergok.
Mau tak mau akhirnya Hana membalikkan badan dengan ekspresi bodoh.
"Hehehe ... i-inj bukan kamar saya. Saya akan kembali ke kamar. Kita harus segera ke Bandara. Waktunya hamp-"
"Terlambat!" Revaldo memotong ucapan Hana."Sudah terlambat, tiket yang kau beli sudah hangus. Lihat, sekarang jam berapa?" Revaldo mendengus.
"What?!" Hana terkejut melihat jam di dinding yang ternyata menunjukkan sudah pukul sepuluh pagi.
__ADS_1
"Ck!" Revaldo kembali mendengus.
Pria itu benar-benar kesal pada Hana. Sudah ditolong tapi tak ada kata terimakasih sama sekali. Ck, sia-sia saja dia pamrih kalau tak dapat pujian. Wanita itu terus mengigau tak jelas membuat Revaldo berinisiatif memeluknya semalaman tanpa melakukan hal lebih. Berharap setelah Hana bangun, wanita itu akan memujinya dan mengucapkan terimakasih lalu dia mendapatkan predikat pria idaman bagi Hana.
Nyatanya semua itu hanyalah angan-angan Revaldo. Dasarnya angkuh, tetap saja angkuh. Bahkan tak mengucapkan satu patah katapun, Hana justru berusaha pergi secara diam-diam. Hei! apa dia menganggap Revaldo ini pria sewaan ya? Bisa ditinggalkan tanpa ucapan selamat tinggal. Haish, kesal sekali rasanya!
"Kenapa baru mengatakan sekarang?!" Tuh kan, lagi-lagi yang disalahkan Revaldo!
Jika orang lain melihat, tidak akan percaya bila bosnya adalah Revaldo. Sudah berulangkali Hana berbicara ketus dan bersikap seenaknya pada Revaldo. Mentang-mentang Hana yang bekerja, Revaldo diperlakukan sangat tidak layak.
"Kenapa sejak tadi kau tidak bangun?" Revaldo balik menyalahkan. Kesal juga terus-terusan disalahkan. Rupanya tidak enak menjadi manusia baik, karena nantinya malah akan diperlakukan jahat. Mulai sekarang Revaldo akan berbuat jahat agar tak ada yang menjahatinya. Ck, tidak patut dicontoh!
"I-itu, em-" Hana tak bisa menjawab. Wanita itu hanya menggaruk-garuk kepala bagian belakangnya yang tidak terasa gatal sama sekali.
.
.
"Selamat datang, Hana. Terimakasih sudah memenuhi undangan kami," Wanita paruh baya itu menyambut hangat kedatangan Hana. Bahkan menyambut kedatangannya dengan sebuah pelukan.
"Tidak perlu berlebihan, Nyonya. Saya yang seharusnya berterima kasih, diundang makan malam dengan keluarga Herlambang merupakan suatu kehormatan bagi saya." Hana tersenyum canggung. Wanita itu merasa sedikit segan karena untuk pertama kalinya diundang makan malam ke rumah pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
Ya, Hana diundang makan malam oleh Tuan Herlambang langsung. Begitu senang dengan kinerja Hana karena mampu mengatasi permasalahan perusahaan cabang di kota X pusat produksi parfum, membuat pria paruh baya itu mengundang secara langsung Hana untuk datang ke rumahnya.
"Aduh, tidak perlu sungkan. Mendengar kinerjamu selama ini membantu perusahaan kami, saya sudah menganggap mu seperti keluarga sendiri. Ya kan, dad?" Nyonya Adirata menyenggol suaminya memberi kode.
"Tentu, sayang. Aku sangat sakit dengan Hana. Dia sangat cerdas. Andai belum menikah, ingin sekali aku jodohkan dengan Revaldo."
Ehm.
__ADS_1
Baru saja disebut namanya, Revaldo langsung berdehem di belakang mereka. Membuat semua orang serempak melihat kearah sumber suara.
Tatapan Revaldo hanya tertuju pada Hana, membuat wanita yang dipandangi merasa tak nyaman. Semenjak perdebatan mereka saat di kamar hotel kota X, keduanya seperti menjaga jarak. Terlebih Hana, wanita itu lebih sering menghindar karena masih merasa malu jika mengingat kejadian itu.