
"Hah, akhirnya selesai." Hana bernafas lega setelah menyelesaikan pekerjaan nya.
Rencana nya setelah pulang dari kantor Hana akan bertemu dengan pemilik apartemen yang akan disewa. Ya, Hana memutuskan untuk menyewa sebuah apartemen sampai apartemen milik nya jatuh tempo pada penyewa saat ini.
Sayang sekali, dulu tak pernah berpikir akan mengalami nasib seperti ini dalam mengarungi hiruk pikuk rumah tangga. Hana terlalu percaya bahwa cinta Farhan tak kan pernah luntur hingga maut memisahkan, sayang nya itu semua hanya dugaan. Jika saja sebelum nya mengetahui akan terjadi seperti ini tentu tak akan menyewakan apartemen pada orang lain.
Tapi, ya sudahlah. Semuanya sudah terjadi, saat ini Hana begitu pasrah menjalani hidup. Dia yakin, dibalik masalah yang menimpa saat ini pasti akan ada hikmah dibaliknya. Dia begitu optimis akan hal itu.
Ting.
Sebuah pesan masuk dari ponsel pribadi nya. Ternyata pemilik apartemen sudah berada di TKP. Itu artinya Hana harus segera ke sana. Dia buru-buru membereskan berkas-berkas yang sejak tadi berserakan di atas meja serta mengemasi barang-barangnya ke tas.
Langkah kaki Hana terkesan sangat terburu-buru keluar dari ruangan hingga tak menyadari ada seseorang yang juga akan masuk ke ruangan.
Brukk.
Alhasil ke-dua nya saling bertabrakan. Tubuh Hana limbung dan hampir jatuh jika saja tidak ada yang menangkap nya.
Deg.
Dua pasang mata itu saling menatap satu sama lain.
Deg deg deg.
__ADS_1
Entah betapa kurang ajar nya Hana, disaat seperti ini justru terpesona dengan wajah pria yang berada tepat didepan wajah nya.
Dua tubuh itu begitu menempel lekat hingga Hana dapat merasakan hangatnya tubuh sosok pria itu, begitu pula dengan hembusan nafas pria itu yang menerpa kulit mulusnya hingga mampu membuat bulu kuduk nya meremang.
Sedangkan pria yang menangkap tubuh Hana justru sangat menikmati sensasi yang timbul akibat dua kulit itu saling bergesekan namun masih terhalang kain. Walau Revaldo masih mengenakan kemeja dan Hana juga masih mengenakan blouse nya, tapi dua-duanya merasa sedikit panas. Ada hawa aneh saat tubuh itu saling menempel, terlebih Revaldo yang merasa dua benda kenyal itu menempel tepat di dada bidang nya membuat otak nya berkelana mengelilingi angkasa.
"Mm-lepaskan." Hana segera menegakan tubuh nya dengan tingkah grogi. Pura-pura membenarkan baju untuk menghilangkan rasa tak percaya diri, namun apa yang dilakukan nya justru membuat si pria mes-sum dihadapan nya semakin menatap nya penuh arti.
Revaldo tersenyum menyeringai seraya menjilat bibir bawahnya. Dia kembali mendekatkan tubuh nya pada Hana untuk mengikis jarak, hal itu membuat Hana berjalan mundur hingga tubuh nya membentur meja.
Hana kalah, dia tak lagi bisa menghindar. Revaldo sudah mengungkung nya dengan tatapan penuh arti. "Ternyata benar, tubuh mu seindah yang ku bayangkan, Hana." Revaldo berbisik tepat di telinga Hana. Bahkan dengan lancang pria itu sedikit memberi jilatan di sana. Dan itu sukses membuat tubuh Hana memanas.
Dia tak tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Bibir nya terlalu kelu untuk mengatakan satu patah kata pun.
"Apa kau sedang bertengkar dengan suami mu?" Tanya Revaldo berbisik. Sebenernya itu bukan pertanyaan yang perlu dijawab mengingat Revaldo sudah tahu semua nya. Tadi pagi setelah kejadian Hana dan sang suami di depan Perusahaan, Revaldo segera menyuruh seseorang untuk mencari tahu semua tentang Hana. Dan terbukti, rumah tangga mereka akan segera berakhir. Hal itu membuat kesenangan tersendiri bagi Revaldo.
Sengaja sekali pria itu menggoda Hana. Bahkan tubuh nya masih saling menempel. Sebenernya memang pria itu sedang mencari kesempatan, tentu dia menikmati saat merasakan ada benda kenyal yang begitu empuk di dada nya. Bahkan sebenarnya ingin sekali memastikan kekenyalan benda itu menggunakan tangan atau dihisap menggunakan lidah, sayang nya otak waras nya masih stabil. Dia ingin menunggu Hana ketika status nya sudah tidak lagi sebagai istri orang.
"Ternyata tampang suami mu lumayan juga, tapi jauh kalah tampan dengan ku." Kata nya begitu narsis. "ingat, kalau kau sudah bercerai dengan nya, kabari aku. Aku tidak sabar untuk menjadikan mu kekasih."
Kedua bola mata Hana melotot tajam. Seakan tersadar dari kebodohan nya, Hana segera mendorong tubuh yang sudah terlanjur melekat pada tubuh nya, namun sia-sia saja, usahanya sama sekali tak berhasil.
"Minggir!"
__ADS_1
"Tidak semudah itu, sayang. Aku sudah memutuskan untuk mengejar mu. Setelah kau resmi bercerai dengan suami pecundang mu, maka aku yang akan mengisi hari-hari mu."
Cup.
Hana semakin membeku saat tiba-tiba Revaldo dengan lancang menempelkan bibir nya pada bibir nya.
"Apa yang kau lakukan?!" Pekik Hana ketika berhasil mendorong tubuh Revaldo hingga mundur beberapa langkah.
Dengan amarah memuncak, Hana segera memposisikan tubuhnya kembali berdiri.
"Lancang sekali kau!"
"Sstt ... jangan marah-marah, sayang. aku hanya minta DP." Kata nya tersenyum jahil. Pria itu kembali menjilati bibir nya seakan belum puas dengan hanya menempelkan bibir tanpa memberi hisapan ataupun lummatan yang memabukkan seperti biasa nya.
"Shitt!" Batin Revaldo saat menyadari bagian tubuh yang lain sudah bereaksi.
Dia buru-buru keluar ruangan sebelum Hana menyadari. Sebenernya tidak apa-apa juga kalau Hana menyadari nya untuk memperlihatkan senjata nya yang perkasa. Tetapi menurut nya saat bukan lah waktu yang tepat. Revaldo masih akan menunggu sampai proses perceraian selesai karena tak ingin membuat Hana dalam masalah bola ada pihak lain mengetahui diri nya sedang mengincar wanita bersuami.
"Baiklah, sayang. Untuk kali ini sampai disini saja perkenalan kita. Besok lagi aku akan menunjukkan cara berciuman yang benar."
Cup.
Revaldo bahkan memberikan kiss bye pada Hana dengan senyum tengil nya. Setelah nya Revaldo benar-benar keluar dari ruangan dan menghubungi seseorang yang bisa menundukkan senjata perkasa nya.
__ADS_1
Sedangkan Hana masih mengatur detak jantung nya yang tak karuan. Dia masih terlalu syok mencernanya semua ini. Tak pernah dibayangkan dia harus bekerja dengan boss yang sangat messum.
Bertahun-tahun dia bekerja sebagai karyawan, tapi baru kali ini mendapatkan boss yang mesumnya tingkat dewa.