Second Love With BERONDONG

Second Love With BERONDONG
Mabuk


__ADS_3

Entah sudah berapa gelas minuman yang telah Hana teguk, tapi dia masih belum menyerah. Bukan karena takut, Hana justru semakin berani menelan minuman beralkohol itu lagi. Wanita itu ingin menunjukkan pada pria arogan di depannya bahwa dia bukanlah wanita lemah. Hana tidak seperti yang Revaldo kira. Meskipun dia jarang menghabiskan waktu di bar atau tempat hiburan lain, tapi Hana pernah menjadi wanita nakal. Dia bahkan mampu meminum minuman dengan kadar alkohol yang tinggi, itulah sebabnya saat ditantang oleh Revaldo, Hana sama sekali tidak merasa takut.


Gluk gluk gluk...


Satu gelas penuh berhasil Hana habiskan dalam sekali tegukan. "Bagaimana? Apakah Anda merasa terkejut?" tanyanya sambil menatap Revaldo dengan seringai sinis.


Pria itu nampak sangat tercengang melihat cara Hana meneguk alkohol yang biasa saja. Bahkan dia tidak merasa pusing atau tanda-tanda mabuk lainnya. "B-bagaimana bisa?" Revaldo sampai tergagap mengatakannya, ini sungguh mengejutkan. Pria itu ikut meneguk sebotol minuman untuk menyadarkan dirinya. Melihat Hana seperti ini, benar-benar seperti sebuah mimpi, untuk itu dia ingin menyadarinya kembali.


"Tentu saja bisa, itu artinya bukan hanya Anda yang pandai minum." Hana mengingatkannya. Terlalu muak sebenarnya terus-terusan mendengar kata narsistik dari orang yang begitu menggelikan di telinganya.


"Tidak, bukan itu maksudku. Bagaimana kau belajar minum sebanyak ini?" Revaldo mengelak, mencari pertanyaan yang tepat tetapi tidak memberi kesan dengan Revaldo yang sebenarnya terkejut.


Hana terkekeh pelan, dia kembali menuangkan minuman ke dalam gelas yang berbeda lalu memberikannya pada Revaldo. Langsung saja Revaldo menerimanya dan meneguk hingga tandas.

__ADS_1


"Apa Anda begitu penasaran sampai tak bisa merubah mimik wajah?" Hana mengejeknya.


Seperti baru saja tersadar dari kekonyolannya, Revaldo menggelengkan kepala beberapa kali untuk merubah ekspresi wajahnya yang masih terbengong. Sial! Batinnya. Dia seperti baru saja dipermalukan oleh diri sendiri. Mengapa tak bisa menahan diri untuk tidak heran? Oh astaga, pasti setelah ini Hana akan mencemoohnya karena baru saja berekspresi seperti manusia idiot.


"Siapa yang penasaran?" Elaknya. "Aku hanya merasa sedikit heran melihat wanita tidak takut minum sebanyak ini. Apa tidak memikirkan kesehatan? Oh pantas saja kau tidak bisa punya anak, mungkin karena terlalu banyak alkohol dalam hidupmu." Tanpa sadar mulutnya yang berlumuran dosa itu menyinggung Hana seperti melintas di jalanan tol tanpa hambatan.


"Siapa bilang saya tidak bisa memiliki anak?!" Bentaknya keras. Hana sangat tidak terima jika ada orang yang berani mengungkit tentang dirinya terkait anak. Wanita itu benar-benar marah sebanyak marahnya jika dibicarakan tentang perkembangbiakan.


"Eh!" Sadar akan kesalahannya, Revaldo tak bisa berkata apa-apa. Dia ingin mengucapkan kata maaf tapi lidahnya terlalu kelu karena tidak terbiasa mengucapkan kata maaf.


"Anda tidak tahu apapun tentang kehidupan rumah tanggaku! Jadi, jangan coba-coba menghakimi aku!" Amarah Hana memuncak, mungkin alkohol yang diminum sejak tadi ikut berperan andil dalam mengundang amarah.


Bukti bahwa wajah Hana mulai memerah dengan tubuhnya sedikit sempoyongan. Mulutnya bahkan terus bercerocos tak jelas memberi umpatan kepada Revaldo dengan kata-kata kasar.

__ADS_1


"Ti-tidak, bu-bukan seperti itu maksudku." Revaldo ingin meraih tangan Hana namun langsung ditolak. Alhasil, dia hanya menggenggam angin.


"Lalu seperti apa?!" Wanita itu sudah memejamkan mata, namun bibirnya masih terus berucap sambil satu tangannya memegang gelas minuman.


"T-tadi aku hanya salah bicara." Sial! Kenapa Revaldo mendadak gagap? Bukan kah dia pria yang sangat lihai menggoda wanita? Tapi lihatlah sekarang, bahkan ekspresi wajahnya saja sangat jelek dengan pipi yang merah seperti menahan buang air besar.


Gluk gluk gluk...


Sebotol minuman beralkohol langsung ditelan habis oleh Revaldo. Pria itu sangat frustrasi menghadapi dirinya sendiri yang merasa selalu aneh jika berurusan dengan Hana. Pertama-tama, dia sampai tak bisa menikmati lubang wanita lain setelah membayangkan bisa menikmati tubuh Hana. Lalu sekarang, dia bahkan tak bisa berkata-kata seperti orang yang gagap saja, tak mampu menunjukkan pesonanya sebagai playboy yang suka memikat banyak wanita.


"Ternyata semua laki-laki sama, yang dipikirkan hanya anak dan anak." Hana meratap sedih. Kepalanya sudah nyut-nyutan hanya bisa dia letakkan di atas meja.


"Aku benar-benar tidak berniat menyakitimu, Hana. Bagaimana aku bisa membuatmu mempercayai saya?" Revaldo frustasi sendiri rasanya, selama ini dia tidak pernah melakukan kesalahan pada wanita. Ralat, bukan tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan tidak pernah meminta maaf pada wanita manapun karena dia tidak pernah merasa salah. Wajar saja jika dirinya tidak bisa mengucapkan kata maaf meskipun hanya sekali.

__ADS_1


Hana masih saja meracau tak jelas mengumpati Revaldo dengan segala macam umpatan kasar. Namun itu hanya sementara, karena di detik berikutnya dia benar-benar tak sadarkan diri.


Untung saja, Revaldo sigap. Dia segera meraih tubuh Hana yang hampir ambruk. Haissh... ternyata wanita angkuh ini juga bisa mabuk. Batin Revaldo menyeringai licik. Otak jahatnya telah bekerja dengan cepat, dia akan melakukan misi selanjutnya seperti yang sudah direncanakan!


__ADS_2