
"Kita bertemu lagi, kakak cantik." Revaldo kembali bersikap genit dengan senyum tengil menghias bibir sembari mengedipkan sebelah mata nya. Sebenernya merasa terkejut sekaligus malu, tapi bukan Revaldo nama nya jika memiliki rasa malu. Urat malu nya sudah terlanjur putus sejak lahir, dia tak akan merasa malu hanya kepergok sedang grepp- grep seorang wanita.
"Honey, kau tidak boleh memanggil wanita sembarangan dengan sebutan itu. Aku tidak suka." Wanita yang berstatus sebagai kekasih Revaldo sangat tidak terima mendengar kekasih nya memanggil Hana dengan sebutan kakak cantik. Memang sih, Hana sangat cantik. Tapi tidak perlu berterus terang juga di depan kekasih. Itu benar-benar membuat Casa cemburu. Baru beberapa detik lalu Revaldo memuja kecantikan Casa, sekarang sudah memuji wanita lain. Ckk ... dasar buaya!
"Eh, tentu tidak, sayang. Aku hanya terbiasa memanggil nya seperti itu untuk menghibur nya yah sedang patah hati." Revaldo tampak menggaruk tengkuk nya yang jelas-jelas tidak gatal, terlebih melihat tatapan maut Hana. Tentu saja Hana sangat tidak terima mendengar pria itu mengatai nya patah hati. Meski sebenernya iya, tapi Hana wanita tangguh yang tak mudah tumbang hanya karena perbuatan makhluk kategori pria.
"Sudahlah, sayang. Jangan cemberut seperti itu, lagian aku tidak mungkin suka dengan wanita tua." Jelas mata Hana mendengar nya. "sebaiknya kau pulang, istirahat. Besok aku jemput, kita jalan-jalan." Usir Revaldo halus, jika sudah ada embel-embel kegiatan menghabiskan uang, wanita mana yang menolak?
"Oke, aku pulang. Jangan lupa tepati janji mu. Besok jemput aku seperti biasa."
Cupp.
Dengan semangat empat lima Casa mengecup bibir Revaldo di hadapan Hana hingga membuat Revaldo terkejut dan buru-buru mundur. Sedangkan Hana sudah tak lagi mempermasalahkan apa yang dilihat nya ini, yang lebih dia ingat-ingat adalah perkataan Revaldo mengatakan nya tua. Awas saja! setelah ini Hana tak akan meloloskan Revaldo begitu saja!
"Iihh ... kok gitu." Casa kesal karena Revaldo tiba-tiba mendorong nya. Padahal niatnya tidak hanya ingin memberi kecupan, tapi juga lum🥰tan memabukkan yang dapat membuat Revaldo melayang-layang.
__ADS_1
"Sudah, sana pulang." Revaldo mendorong pelan tubuh Casa. Akhirnya mau tak mau Casa pergi dari sana sembari mendengus kasar disertai hentakan kaki yang terdengar menggema menjauhi unit itu.
Setelah dirasa Casa tak terlihat lagi karena telah memasuki lift, kini gantian Hana yang menatap tajam Revaldo dengan tatapan membunuh. "Apa maksud Anda mengatakan saya wanita tua?!" Suara nya terdengar menggema karena lorong itu sangat sepi, kedua tangan nya dilipat ke depan dada serta mata tajam nya yang serasa ingin menenggelamkan Revaldo hidup-hidup. Hal itu sukses membuat pria itu menelan saliva nya kasar, seperti menelan sebongkah batu yang sangat besar.
"Eum, it-itu .. a-anu. S-sudah malam, sebaiknya kita tudur. Selamat malam." Buru-buru Revaldo lari untuk masuk. Namun belum sempat sampai di pintu, kaus belakang nya ditarik kuat, membuat Revaldo menghentikan langkah nya.
"Sebentar, saya ingin Anda menarik kata-kata yang tadi." Nada suara Hana terdengar dingin penuh perintah, membuat Revaldo tak bisa lagi mengelak.
Meskipun dia sering menunjukkan tingkah konyol dan tengil nya, tapi menyangkut masalah wanita saat sedang marah benar-benar tak bisa berkutik lagi. Terlebih dia lah yang memang bersalah.
"Dengar, Hana. Aku tidak bermaksud mengatakan kau tua. Sebenarnya tadi hanya ingin membuat teman ku tidak lagi mendesak ku menanyai mu." Jelas nya. Memang benar apa yang dikatakan nya itu, Revaldo terpaksa mengatakan Hana tua agar wanita nya tidak lagi mempermasalahkan Revaldo yang sudah memuji Hana dengan sebutan cantik. Karena jika wanita itu masih berlama-lama di sini maka Revaldo akan kehilangan kesempatan untuk menggoda Hana. Jarang-jarang dia memiliki waktu emas seperti ini, bisa bertatap muka dengan Hana merupakan emas mengingat di kantor saja jarang memiliki kesempatan menggoda wanita itu. Dan sekarang dia bisa bertetangga dengan nya merupakan sebuah joki. Tidak seharusnya Revaldo menyia-nyiakan, dia harus berkenalan baik dengan tetangga baru nya bukan?
"Haissh, sudah lah! Saya tidak ingin mendengar alasan apapun lagi." Hana merutuki diri nya yang mempermasalahkan hal sekecil ini, seharusnya tidak perlu berdebat karena menurut nya juga tidak penting. "tapi ingat, jangan pernah memaki saya tua! Meskipun umur saya lebih banyak dari mu tapi bukan berarti saya tua, ingat itu!" Hana khawatir jika orang lain sampai mendengar nya akan ikut-ikutan mengatai nya tua.
"Kenapa kau tiba-tiba berhenti?" Kini giliran Revaldo yang maju selangkah mendekati Hana. Pria itu gantian tersenyum miring, menatap Hana penuh arti.
__ADS_1
"Apa nya yang berhenti?" Tentu Hana mengerutkan dahi merasa tak mengerti dengan apa yang dikatakan pria itu.
"Berhenti menggoda ku, bukan kah kau tadi sangat agresif?" Revaldo kembali melangkahkan kaki nya ke depan, refleks Hana juga ikut mundur. Sampai tubuh Hana mentok di tembok unit apartemen depan Revaldo baru lah Hana tak bisa berkutik.
Dengan tersenyum penuh arti, Revaldo mengungkung wanita itu dengan jarak yang sangat dekat, bahkan sengaja merapatkan tubuh nya dengan tubuh Hana hingga dua tubuh itu benar-benar berada di posisi yang sangat intum. Bahkan Revaldo dapat merasakan bagian-bagian menonjol dari tubuh wanita dalam kungkungan nya.
Gairah yang baru saja di padamkan seketika kembali bangkit. "Shitt!" Revaldo mengumpat kala merasakan celana nya kembali sesak. Bukan hanya Revaldo yang merasakan, bahkan Hana pun ikut merasakan ada sesuatu yang mengeras di bawah perut nya. Seketika wajah nya memerah merasakan nya, dia memalingkan muka agar Revaldo tak menyadari.
Namun apes, Revaldo lebih dulu menyadari, Wajah Revaldo semakin di condongkan ke depan sampai hanya tersisa lima centimeter jarak antara wajah Hana dan Revaldo. Sial nya Hana sedang memalingkan muka, hingga menimbulkan hembusan nafas Revaldo menyapu leher nya. Membuat Hana semakin meremang, tangan nya yang sudah berkeringat dingin hanya bisa memegang kuat sisi rok nya.
Tak ingin bersuara, karena takut bila dia membuka mulut maka akan semakin memberi kesempatan sang pemangsa di hadapannya untuk menyergap bibir nya.
"Aaahh ...," Namun siall! Prediksi nya salah, justru yang telah diserang lebih dulu adalah lehernya yang sejak tadi diterpa hembusan nafas. Revaldo memberi stempel di sana, benar-benar kurang ajar!
"Bagaimana, sayang? Apa ini nikmat?" Siall! Pria ini benar-benar messum tingkat dewa, bahkan tubuh nya sudah di gesek gesek kan pada perut nya, membuat inti Hana ikut ngilu. Bagaimana pun Hana adalah wanita dewasa yang juga membutuhkan kepuasan, di goda seperti ini mana bisa tahan?
__ADS_1
"Minggir!"