
"Aaaa..?!"
Brukk.
Tubuh Hana terjerembab ke lantai. Salah sendiri, dia yang mengagetkan Revaldo. Pria tak sengaja mendorong Hana dari pangkuan saat tiba-tiba wanita itu menjerit sembari mencengkram nya kuat.
"Auh!"
Hana merasa tulang ekornya patah, sangat sakit. Wanita itu meringis ngilu dengan tangan nya memegangi pinggang. Sesaat kemudian pandangan Hana beralih menatap horor Revaldo yang masih terbengong seperti tampang orang bodoh.
"Kenapa kau mendorong ku?!" Haissh kesal sekali rasanya, baru saja bibirnya di sosor buas bahkan tubuhnya yang lain ikut dijamah tiba-tiba di jatuhkan begitu saja.
"Ck, kenapa tiba-tiba kau berteriak? Aku kira ada ulat makanya refleks ku dorong tubuh mu." Revaldo jelas tak mau disalahkan. Memang dalam hal ini bukan dirinya lah yang salah, Hana sendiri yang tiba-tiba menjerit tanpa alasan.
"A-aku, a-ku.." Malu sendiri rasanya bila mengatakan dia menjerit karena tersadar sedang berciuman. "haissh sudahlah, tidak perlu dibahas lagi." Hana mengibaskan tangan. Mencoba bersikap biasa-biasa saja agar tak Revaldo han
Revaldo hanya mengedikkan baju merasa bodo amat tak ingin menanggapi, pria itu bahkan masih bersikap biasa-biasa saja seperti baru saja tidak melakukan apapun. Berbeda sekali dengan Hana yang merasa wajah nya memerah karena terasa panas, bahkan ingin berkata-kata pun menjadi canggung.
"Ehm! Sebaiknya kau lanjutkan tugas mu di rumah."
Yesss! Batin Revaldo menjerit-jerit ingin meneriakkan kalimat itu. Pikiran nya sudah melanglang buana ingin segera melakukan yang enak-enak seperti yang biasa dilakukan di pub atau mungkin di tempat hiburan lain. Yang tentunya bersama para wanita cantik dan minuman surga dunia.
"Untuk saat ini kita sudahi saja, tapi besok kau harus sudah hafal dengan materi yang ku berikan jika tidak ingin saya melapor-"
__ADS_1
"Iya iya, aku tahu. Kau tidak perlu terus-terusan mengancam karena aku sudah tahu." Revaldo kembali tidak bersemangat. Dia kira dengan berakhirnya tempaan ini bisa kembali bebas, nyatanya yang terjadi tak seindah ekspektasi. Hana masih saja memberikan tugas yang membuat nya mati muda.
"Kenapa kau selalu saja mengancam ku? Apa karena kau cemburu?" Tanya Revaldo penuh percaya diri.
Tentu Hana mendengus mendengar nya. Entah sudah berapa kali kata-kata itu dilontarkan Revaldo. Pria itu masih saja menganggap Hana cemburu dia sering bergonta-ganti wanita, hingga Hana tak memberi peluang sedikit pun untuk kembali bersenang-senang dengan para wanita nya itu.
"Sudah berapa kali saya katakan kalau saya tidak memiliki perasaan sedikit pun dengan Anda?" Hana mengeram tertahan. "Ah, sudahlah! Tidak penting Anda ingin berspekulasi seperti apa terhadap saya. Yang penting apa yang saya perintahkan selalu Anda laksanakan maka itu akan semakin baik. Karena artinya tugas saya cepat selesai."
Hana berjalan keluar ruangan setelah mengatakan itu tanpa berpamitan pada Revaldo.
Dia merasa sangat kesal, sudah malu karena baru saja berciuman, lalu Revaldo masih mengungkit hal yang tidak-tidak. Dan Hana yakin 1000% jika Hana masih berada di ruangan, Revaldo akan semakin memojokkan nya dengan mengungkit kejadian ciuman yang baru saja mereka lakukan.
Meskipun Hana akui dia juga terbuai bahkan terlena dengan sentuhan-sentuhan Revaldo, tapi itu semua murni karena Revaldo yang lebih dulu memancing. Andai pria lain yang menggoda nya pun mungkin Hana ikut terbuai, jadi bisa digaris bawahi Hana melakukan nya bukan karena Revaldo, melainkan naluri kewanitaan nya saja yang bangkit!
.
.
Terlebih sekarang pekerjaan nya bertambah. Tidak hanya mengurus perusahaan, melainkan juga harus menjadi tutor Tuan Mudanya. Ini benar-benar membuat nya tak bisa istirahat seharian.
Tanpa mengganti pakaian atau mencopot sepatu hak tinggi nya, Hana sudah terlelap begitu saja. Saat setengah alam sadar nya mulai hilang, tiba-tiba kembali di kagetkan dengan telepon yang terus saja berdering.
"Haissh. kenapa mengganggu sekali!" Gerutu nya namun tetap meraih telepon.
__ADS_1
"Halo," Sapa Hana dengan suara serak nya.
"Apa?!" Hana terkejut bukan main mendengar kabar yang baru saja dilaporkan oleh seorang polisi diseberang sana.
"Ya, saya akan segera kesana." Hana menutup telepon lalu bangkit dari ranjang.
Wanita itu baru mendapat kabar jika Farhan baru saja mengalami kecelakaan tunggal. Seharusnya Hana tidak perlu terlalu terkejut seperti ini karena dia lah yang menyuruh Tuan Herlambang untuk membuat nya musnah dari muka bumi. Namun entah mengapa hatinya ikut mencelos mendengar berita ini.
Dia masih punya hati, ya, Hana masih memiliki hati hingga ikut sedih mendengar pria yang sudah bersama selama beberapa tahun mengalami musibah.
"Kenapa hatiku harus sebaik ini? Kenapa aku merasa ikut sakit mendengar nya terluka?" Hana mengusap kasar air mata yang seharusnya tidak perlu sama sekali dikeluarkan.
"Ingat, Hana! Dia sudah mengkhianati mu! Kau tidak seharusnya memaafkan kesalahannya itu! Seharusnya kau merasa bahagia karena orang yang telah membuat mu hancur akhirnya menuai karma hahaha!" Meskipun dia tertawa lebar, nyata nya tak mampu menghentikan air mata yang sudah terlanjur berlinang.
Dia justru menjadi semakin terlihat menyedihkan. Memaksa tertawa padahal hatinya merasa hancur. " Argh! Kenapa aku bodoh sekali menangisi pria brengsek itu!"
Untuk pertama kalinya Hana merasa frustasi dengan dirinya sendiri. Dia melempar pakaian yang baru saja diambil untuk ganti baju.
Ingin sekali menghancurkan barang-barang di kamar, namun dia masih belum kehilangan kewarasan sepenuhnya. Akhirnya Hana memutuskan ke kamar mandi dan membanting pintu dengan sangat keras untuk melampiaskan segala emosi yang berkecamuk di dada.
.
.
__ADS_1
"Farhan, kenapa kamu bisa sampai kecelakaan? Huhuhu..." Cika meraung, menangis dan menjerit melihat tubuh Farhan terdapat banyak luka dan darah tercecer dimana-mana. Cika tidak bohong jika dia memang mencintai Farhan.
Sudah Cika katakan bahwa Farhan merupakan cinta lama nya sejak masa-masa kuliah yang sayang nya pria itu tak menyadari cinta nya yang teramat besar. Farhan justru sibuk mengejar Hana yang sama sekali tak mencintai pada awal nya.