Second Love With BERONDONG

Second Love With BERONDONG
Mutasi


__ADS_3

Berkali-kali Farhan meneguk minuman memabukkan dengan harapan mampu melupakan keinginan Hana yang ingin bercerai dari nya.


Semakin banyak minuman yang di teguk justru semakin haus tenggorokan nya, hingga mendorong nya untuk terus-terusan minum tanpa memikirkan keadaan nya yang sudah mabuk.


"Hana, kembali lah, sayang. Aku benar-benar hanya mencintai mu." Farhan meracau dengan keadaan tubuh yang sudah tak karuan.


Seorang wanita malam mendekat ke meja Farhan, wanita itu tersenyum penuh arti setelah melihat pakaian dan jam tangan Farhan bernilai fantastis.


"Halo, Tuan. Apa kau sedang patah hati? Saya bisa memuaskan Anda." Dengan lancang wanita itu duduk di pangkuan Farhan setelah menyingkap rok nya hingga terlihat celana bagian dalam tipis berenda berwarna merah merona.


"H-hana? Apa kau Hana?" Farhan menatap wanita di pangkuan nya dengan pandangan mengabur.


Sekilas wajah itu terlihat seperti Hana. Dia sangat senang karena melihat Hana berinisiatif duduk di pangkuan. Itu artinya Hana benar-benar tak membenci nya.


Perasaan nya mendadak begitu bahagia, dia mengambil kedua tangan wanita itu penuh semangat lalu memegang nya erat.


"Sayang, akhirnya kau datang. Terimakasih, aku mencintaimu." Farhan mengecup kedua tangan wanita itu.


"Apa kamu tahu? Selama kamu tidak di rumah aku tidak benar-benar tidur nyenyak. Walaupun ada Cika disamping ku tapi kau lah yang ku butuhkan. Kau yang ku rindukan, Hana. Aku rindu kamu, aku rindu tubuh mu." Selanjutnya Farhan mencium bibir wanita itu penuh semangat, terkesan sangat panas dan menggebu-gebu.


Sedangkan sang pelacur tampak menyunggingkan senyum kemenangan. Akhirnya dia menemukan mangsa yang tidak main-main. Melihat dari pakaian nya saja sudah bisa ditebak kalau orang yang akan meniduri nya adalah orang kaya. Ditambah wajah nya yang tampan dan gagah membuat nya semakin bersemangat untuk merengkuh kenikmatan bersama pria ini.


Selanjutnya Farhan benar-benar menyetubuhi wanita yang dianggap Hana. Bahkan di setiap pelepasan terus saja memanggil nama Hana. Farhan tak memberi waktu untuk istirahat, dia terus melakukan nya hingga pagi hari. Meski wanita yang dianggap Hana itu sudah tepar dan tak lagi membuka mata, Farhan masih saja menyetubuhi hingga berkali-kali pelepasan.


Terlalu menggebu-gebu dalam merengkuh kenikmatan hingga tak menyadari bila ponsel nya terus berbunyi hingga ratusan kali panggilan. Siapa lagi jika bukan Cika yang menelpon?


Wanita itu sangat frustasi, Farhan belum kembali sejak sore. Padahal dia terus saja menunggu. Sudah berpakaian teramat menggoda, berharap saat Farhan pulang nanti nya akan tergiur dan kembali bercocok tanam seperti biasa.


Tetapi harapan nya pupus setelah pagi hari dirinya bangun tak mendapati Farhan do rumah. Itu artinya semalam dia tidur sendiri di rumah sebesar ini.

__ADS_1


"Di mana kau, Farhan! Tega sekali kau membiarkan semalaman tidur sendiri."


Prak.


Terlalu kesal karena ratusan panggilan nya sama sekali tak diangkat, Cika melempar ponsel nya yang baru dibelikan Farhan 2 minggu lalu ke sudut ruangan.


Entah retak atau pecah nasib ponsel nya, Cika tak peduli. Setelah Farhan pulang akan meminta lagi.


.


.


Akhirnya hari libur datang, pagi ini Revaldo sengaja bermalas-malasan. Dia tak ingin cepat-cepat bangun, tubuh nya juga lelah setelah semalaman dia melakukan pelepasan berkali-kali akibat senjata nya di oral wanita sewaan nya.


*Ting ... Tong ...


Tidur Revaldo benar-benar seperti orang mati, bell apartemen terus berbunyi namun seperti nya tidur Revaldo terlalu nyenyak hingga tak terusik sedikit pun.


Drrtt ... drrtt ... drrt...,


Bahkan suara panggilan dari ponsel nya pun ikut memenuhi gendang telinga, dan akhirnya berhasil mengusik tidur Revaldo yang seperti orang mati.


"Aish ... mengganggu saja!" Meski berkata seperti itu tapi Revaldo tetap mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa si penelpon.


"Halo," Sapa nya dengan suara serak khas bangun tidur kemudian diselingi dengan menguap.


Orang di seberang telepon mendengus mendengar nya, dia sudah tahu kalau Revaldo baru saja bangun. Atau lebih tepatnya terpaksa bangun karena panggilan nya.


"Sialan memang! Kau disana enak-enakan tidur sedangkan aku harus menerima nasib diasingkan ke hutan gara-gara menuruti keinginan kau monyet!" Pria diseberang sana terus saja mengumpat memaki dan memberikan sumpah serapah sepuasnya pada sahabat nya yang sangat laknat itu.

__ADS_1


Akibat menerima tawaran Revaldo untuk menjadikan asisten pribadi secara ilegal, dia dipindah tugaskan ke Papua oleh Tuan Herlambang. Tuan Herlambang tahu selama satu minggu ini bukan Revaldo yang bekerja, melainkan diri nya.


Entah mendapatkan laporan dari mana hingga ketahuan, padahal mereka sudah sangat hati-hati sampai seolah-olah benar Revaldo yang mengerjakan semua pekerjaan itu. Termasuk tanda tangan, Leon yang kompeten hingga tanda tangan pun sama persis seperti kembar siam dan mungkin layak dijuluki dewa plagiat.


"Apa maksud mu? Apa kau tersesat? Hahaha..!" Revaldo justru tertawa keras mengejek Leon. Revaldo salah menafsirkan perkataan Leon.


"Bukan itu maksud mu, nyet. Kita sudah ketahuan, daddy mu sudah mengetahui kalau selama beberapa hari ini aku lah yang bekerja dan kau hanya bersenang-senang."


"What?!" Revaldo langsung terbangun dari tidurnya seraya berteriak keras, bahkan Leon sampai menggosok telinga nya setelah mendengar suara cempreng itu. Kebetulan sekali ponsel nya diletakkan tepat menempel di telinga, hingga suara menggelegar itu berhasil masuk seluruh nya ke dalam telinga.


"Sialan kau, nyet! Telinga ku sakit mendengar suara cempreng mu." Leon menggerutu.


"Kau yakin Daddy sudah mengetahui?" Revaldo memastikan sekali lagi. Jika memang Daddy nya sudah tahu, maka hukuman itu bukan hanya untuk sahabat kera nya saja karena dia lah tersangka utama nya.


"Ck! Kau ini tidak mudah percaya atau bodoh? Jelas-jelas aku sudah berada di Papua masih saja kau bertanya!" Kesal sekali rasanya, niat nya ingin mengadu dan mengiba, tapi malah tidak percaya.


"Y-ya, aku percaya." Merinding sekali rasanya. Jika Leon saja yang bertugas membantu sampai di asingkan ke Papua bagaimana dengan dirinya yang termasuk tersangka utama?


"Daddy mu itu tega sekali, dia mengancam ingin melaporkan pada tuan Rax kalau aku yang menghamili anak nya kalau tidak mau menuruti."


"Shitt. Daddy memang sangat cerdas!" Revaldo menggumam, membuat Leon ingin sekali menggeplak kepala si monyet itu jika saja tak terhambat jarak.


Ting ... Tong ... Ting ... Tong...,


Entah sudah berapa ratus kali bell apartemen itu berbunyi, tapi tak didengar nya.


Sedangkan orang yang berada di depan pintu apartemen itu merasa sangat frustasi, sudah lebih dari satu jam dia berdiri disini hanya untuk menunggu sang putra mahkota yang tak kunjung membukakan pintu.


"Sial!"

__ADS_1


__ADS_2