
"Aaaaa..!" Hana berteriak kencang kala melihat keadaan tubuh atas nya tak lagi mengenakan apapun. Bukan hanya itu, bahkan tubuh Revaldo yang masih mengungkung tubuh nya tanpa sehelai benang pun tanpa tertutup oleh selimut.
Wanita itu berusaha mendorong tubuh Revaldo namun tenaganya tak sekuat itu hingga mampu menggerakkan tubuh kekar Revaldo.
"Apa sih, teriak-teriak. Masih pagi juga." Revaldo mendengus dalam gumamnya tanpa membuka mata. Pria itu tetap melanjutkan tidur dengan wajah nya yang kembali dibenamkan di ceruk leher Hana.
Demi huruf B yang selalu kedinginan di tengah-tengah AC, Hana benar-benar tidak nyaman dengan posisi ini. Dia kembali merasakan sesuatu yang masih terbenam sempurna di liang nya kembali menegang dan membesar.
"Aaaa..!" Teriak nya lagi saat menyadari tubuhnya masih menyatu dengan tubuh Revaldo.
Brukk.
"Aaasshh...," Revaldo mendesis keras merasakan tubuhnya seperti terpental ke dasar jurang terdalam.
"Dasar ca bul!" Teriakan Hana mampu membuat Revaldo tersadar. Pria itu mendongak, menatap Hana yang sedang sibuk membalut tubuhnya menggunakan selimut.
"Eh!" Revaldo baru ingat, ternyata apa yang dilakukan semalam dan tadi pagi bukan lah mimpi. Ah, rasa itu, Revaldo masih mengingat jelas kenikmatan setiap lekuk tubuh Hana.
Pria itu menerbitkan senyum kepuasan, dia tak lagi merasa ngilu di pantat nya yang baru saja membentur lantai. Bahkan rasa dingin yang begitu menusuk kulit tak lagi dia rasakan, yang diingatnya hanyalah kenikmatan bersama Hana.
"Dasar otak mesum! Apa yang kau ingat sampai tersenyum sendiri?!"
__ADS_1
Bukk.
Wanita itu melempari bantal pada tubuh Revaldo bagian bawah. Sangat tidak nyaman Hana menatap aset Revaldo belum terbungkus apapun, namun parahnya Revaldo tidak merasa malu sama sekali. Pria itu bahkan seperti sengaja memperlihatkan kegagahan senjatanya yang sudah tegak berdiri seperti sebuah keadilan.
"Kenapa? Apa kau begitu penasaran dengan apa yang sedang ku pikirkan? Biar ku beri tahu, aku sedang mengingat betapa buas nya seorang wanita yang semalam tidur dengan ku," Revaldo semakin menyeringai lebar begitu melihat semburat merah di pipi Hana.
"Kau tahu? Aahh... goyangannya sangat sulit ku lupakan, ditambah suaranya yang terus-terusan mengucapkan nama ku disertai desa_"
"Diam!" Bentak Hana. Wanita itu tak sanggup lagi mengingat kejadian semalam.
Niatnya memang ingin tidur dengan seorang pria, tapi bukan Revaldo yang dimaksud. Jika tahu dia akan menghabiskan malam bersama Revaldo mungkin Hana lebih memilih tidak pergi ke tempat terkutuk ini. Meski Hana menyebutnya terkutuk, sialnya kejadian semalam mampu menghapus rasa sakit yang sudah lama dia pendam. Dan mungkin Hana akan ketagihan datang ke tempat seperti ini untuk sekedar menikmati hidup dan menghilangkan stress.
"Hehehe..." Revaldo semakin terkekeh keras. Pria itu merasa sangat bahagia bisa menggoda Hana. Dan yang paling membahagiakan adalah, dia telah mewujudkan keinginan nya. Ya, sejak pertama bertemu Hana, pria itu sangat mengincar Hana untuk menjadi teman tidur nya. Dan sekarang telah tercapai, mungkin dia tidak akan lagi penasaran dengan tubuh wanita itu. Atau mungkin justru akan semakin kecanduan? Entahlah, hanya waktu yang mampu menjawabnya.
"Ah ya, kau tadi bilang aku messum. Ya, memang otakku sangat messum. Yang ku pikirkan hanya kenikmatan wanita, apalagi wanita itu begitu hot dan bersemangat menari diatas ku dengan tangan nya yang terus mencakar seluruh tubuh ku dan mencengkeram nya sampai merah seperti ini.
Sial!! Bagian tubuh yang Revaldo tunjukkan justru benda yang memang warnanya sudah merah karena tegang, bukan akibat dicengkeramnya apalagi dicakar.
Berlama-lama bicara dengan pria mes-sum dan konslet membuat nya tak sehat. Hana memilih menyudahi pembicaraan unfaedah itu dengan pergi ke kamar mandi. Tidak tahu apa yang harus dipakainya nanti. Hana ingat seratus persen apa yang dilakukan nya semalam, menggoda Revaldo, memohon pada Revaldo untuk menyentuh nya, lalu mengarahkan tangan nya ke aset-aset berharga tubuh nya. Aaarrghh... mengingat hal memalukan itu benar-benar membuat Hana ingin menenggelamkan dirinya dasar laut paling dalam.
"Eh, mau kemana? Kenapa harus repot-repot menutup tubuh kalau aku saja masih ingat detail seperti apa bentuk tubuh mu." Revaldo bertanya sembari bersiul, pria itu sebenernya sedang mengejek Hana yang tubuhnya dibalut rapat oleh selimut besar seperti perawan, sedangkan pagi tadi saja dia masih menikmati tubuh itu yang sialnya dia justru ketiduran.
__ADS_1
Awalnya Revaldo merasa bersalah, tapi melihat Hana ikut menikmati pertempuran yang begitu buas antara keduanya membuat Revaldo yakin bahwa dia tidak salah melakukan nya dengan Hana. Lagian semalam bisa disebut dia yang diperkosaa Hana, bukan Hana yang menjadi korban. Jadi Revaldo hanya menikmati dan mengikuti naluri saja.
"Hana!" Panggil Revaldo keras, membuat Hana yang sudah berada di depan pintu kembali membalikkan badan.
"Terimakasih ya, nanti malam kita lakukan lagi. Oh iya, tahi lalat di bagian inti mu tidak bisa membohongi kalau kau sebenarnya wanita bernaf-ssu. Sering-sering melakukan nya dengan ku saja, dijamin kau tidak akan kecewa." Terakhir, Revaldo memberi kedipan genit nya, membuat Hana bergidik ngeri.
Tidak lagi, dia tidak ingin mengulangi lagi bersama Revaldo, satu kali pun tidak. Tapi, mengingat betapa hot nya Revaldo semalam mampu membuat otak nya yang suci ternoda. Dia tak memungkiri bila Revaldo sangat lah ahli. Ya jelaslah, penjahat kelamin tentu sangat ahli dalam menyalurkan kenikmatan.
Hana merutuki pikiran nya sendiri yang terbesit ingin memuji ketangguhan Revaldo. Bahkan bersama Farhan saja tidak pernah bertahan sampai selama ini, dan tentunya pusaka Revaldo lebih mampu memuaskan Hana.
"Upgrade pikiran mu, supaya bisa menghafal materi dariku!" Hana melengos pergi setelah mengatakan nya. Lagi-lagi hanya bagian kenikmatan yang membuat Revaldo bersemangat. Oh astaga, apakah orang tuanya dulu mengidam melakukan hubungan tapi tidak terpenuhi ya?
.
.
"Bagaimana keadaan putra saya dokter?" Lidya tergopoh-gopoh mendatangi rumah sakit untuk menjenguk Farhan. Wanita paruh baya itu baru saja dihubungi beberapa jam lalu, bersama dengan suaminya, Hendra, mereka melakukan penerbangan tercepat dari pulau sebelah.
Ya, orang tua Farhan menetap di pulau sejuk yang banyak terdapat pegunungan dan pemandangan indah. Mereka sengaja menghabiskan masa tua untuk bersantai dengan uang mereka yang sudah terkumpul selama ini.
Harapan orang tua Farhan memang ingin segera menimang cucu, sayang nya Farhan tak lekas memberi keturunan.
__ADS_1
Beberapa kali mereka melabrak Hana agar berhenti dari pekerjaan dan lebih fokus dengan rumah tangganya, tapi si wanita keras kepala itu tak menurut. Karena baginya, belum mendapat keturunan bukan lah tentang dirinya dan fisik nya, melainkan sudah ditakdirkan Tuhan.
"Siapa kamu?!" Lidya merasa tak suka ada wanita asing yang tertidur di depan ruang ICU tempat Farhan dirawat.