Second Love With BERONDONG

Second Love With BERONDONG
Masalah Perusahaan Cabang


__ADS_3

Pagi ini Hana mendapat laporan bahwa perusahaan nya di kota X mengalami masalah. CEO harus turun tangan untuk mengendalikan, sayang nya seluruh tugas itu harus diemban oleh nya. Amanat Tuan Herlambang yang tak bisa di tentang benar-benar membuat nya kewalahan. Hana harus mengurusi perusahaan itu seperti perusahaan milik nya saja.


Meski pekerjaan nya semakin banyak yang membuat nya sering mengeluh, tapi dia tetap bersyukur karena sang owner memasrahkan sepenuhnya perusahaan itu ke tangan nya. Yang artinya Hana telah mendapatkan kepercayaan penuh oleh pria itu.


Setelah mengemasi barang-barangnya, dia segera keluar seraya menggeret koper menuju pintu apartemen sebelah nya. Sayang sekali, meski sudah terburu-buru, pemilik apartemen itu benar-benar mengujinya. Sudah puluhan panggilan sejak jam 4 pagi, tapi tak ada satu pun panggilan yang terjawab. Bahkan sudah berdiri di depan pintu dan memencet bell yang mungkin sudah ratusan kali tapi tetap saja tak ada respon.


"Bagaimana ini? Waktu penerbangan tinggal setengah jam lagi. Jarak dari sini ke bandara seharusnya membutuhkan waktu 40 menit, akan kah aku gagal menyelamatkan cabang di sana?" Perasaan Hana sangat ketar ketir hingga tanpa terasa dia berbicara sendiri.


Ting Tong Ting Tong.


Astaga, Hana benar-benar seperti orang gila. Mondar mandir tidak jelas dengan mulut komat-kamit seperti sedang merapal kan mantra.


Klek.


Pintu itu terbuka, menampilkan sosok pria yang mampu membuat Hana sekesal ini. Pria itu hanya mengenakan bokser tanpa atasan. Tubuh nya yang acak-acakan membuat Hana tersadar apa yang baru saja pria itu lakukan, terlebih melihat beberapa cakaran bagian perut nya.


Revaldo memperhatikan sejenak penampilan Hana dengan dahi berkerut. "Ini hari libur, kenapa kau berpakaian rapi? Atau jangan-jangan kau sangat merindukan ku sampai-sampai berkunjung sepagi ini?"


Ck, dasar narsistik! Perasaan dongkol nya pada Revaldo semakin tak terkendali, dia benar-benar emosi!


"Apakah Anda belum membaca pesan saya?" Sekesal apapun Hana masih tetap harus mengontrol sikap nya. Terlebih orang yang ada dihadapan nya saat ini adalah atasan nya.

__ADS_1


"Belum sempat, memang nya ada apa?" Revaldo menjawab dengan tenang tanpa tahu kalau orang di depan nya hampir saja mengepulkan asap.


"Pagi tadi Anda di hubungi oleh pihak perusahaan cabang di kota X tapi Anda tidak mengangkat nya, jadi mereka menyampaikan kepada saya. Cabang di sana sedang dalam masalah. Kita harus ke sana secepatnya untuk melakukan rapat." Tatapan mata nya terlihat datar dan dingin membuat Revaldo sedikit menyadari nya.


Pria itu berdehem pelan, untuk mengatasi nya sendiri jelas Revaldo tak bisa. Dia tak tahu apa-apa, mana bisa dia harus menangani perusahaan yang sedang bermasalah jika tanda tangan saja bisa diwakilkan yang lain?


"Ck, kenapa tidak kau saja yang berangkat sendiri?" Revaldo bersikap acuh.


Bukan nya malas, Revaldo cukup tahu diri meskipun ikut pergi tetap saja tidak berguna, dia tak akan bisa membantu apapun di sana.


"Aku belum terbiasa mengurus perusahaan. Lebih baik kau sendiri saja."


Oh astaga ... Hana benar-benar ingin sekali menggeplak kepala orang ini supaya amnesia sekalian. Kepala Hana bahkan hampir mengepulkan asap nya menyikapi pria ini.


Revaldo terdiam sesaat, di kembali merenung. Sesaat kemudian terdengar helaan tertahan dari pria itu.


"Kau tahu sendiri aku sangat tidak berpengalaman masalah bisnis. Sekali pun ikut kesana, aku hanya akan berdiam tanpa bisa melakukan apapun." Revaldo mendengus. Sedikit menyesal karena selama ini tak pernah serius dalam belajar dan lebih memilih menghabiskan waktu untuk bersenang-senang.


"Saya akan berusaha membantu semua nya. Anda hanya perlu datang ke sana." Hana meyakinkan.


Sedikit kasihan sebenarnya melihat tampang bersalah Revaldo, mungkin setelah kejadian ini Revaldo akan sedikit serius mengelola bisnis nya.

__ADS_1


"Huh, baiklah kalau memang kau ingin membantu ku. Jangan pernah menyesal dengan kata-kata mu tadi." Revaldo menatap intens Hana dengan tatapan mengintimidasi sembari mengacungkan jari telunjuk nya sedikit memberi ancaman.


"Tidak perlu mengancam, saya melakukan nya karena permintaan Tuan Herlambang." Ketus Hana. Dia kesal, sangat kesal di curigai seperti ini.


Memang nya dia pernah mengingkari janji nya ya? Bukan kah bukti-bukti kinerja sebelum nya sudah bisa membuktikan kalau Hana benar-benar bisa diandalkan dan sangat kompeten? Arrgh ... ingin sekali rasanya Hana menjelaskan semua itu, tapi dia tak punya waktu dan terlalu malas untuk membuka mulut. Buang-buang tenaga saja! Lebih baik di hemat saja tenaga nya untuk nanti menangani bisnis.


"Kalau begitu, silakan saya beri waktu 5 menit untuk membersikan diri dan berkemas. Kita sudah tak memiliki waktu lagi, penerbangan tinggal 26 menit lagi."


Penjelasan itu sontak membuat Revaldo menelan ludah kasar seraya memelototi Hana. "Hei! Kau gila ya? Mana bisa bersiap-siap dan berkemas hanya 5 menit?"


Revaldo benar-benar tak habis pikir dengan orang-orang workaholic, mungkin memang pikiran dan hati nya hanya dipenuhi pekerjaan dan pekerjaan, sampai-sampai menyiksa diri nya hanya karena sebuah pekerjaan.


Hidup itu ya seperti Revaldo, harus dinikmati. Cukup bersenang-senang dan bersenang-senang untuk menunda mati dini.


"Kita benar-benar sudah tidak memiliki waktu, Tuan." Nada bicara Hana terdengar serius. Bolak-balik menatap jam tangan nya memastikan waktu yang terus berjalan, padahal dia membayangkan waktu bisa berhenti sejenak untuk menunggu Revaldo bersiap.


"Begini saja, kau bantu aku mengemasi pakaian dan aku akan membersihkan diri."


Tanpa banyak berpikir, Hana segera menyetujui saran Revaldo. Kedua nya masuk apartemen.


Revaldo berjalan ke kamar yang diikuti Hana. Pria itu lupa jika kamar nya sangat acak-acakan dan sangat kotor. Barang-barang berserakan di mana-mana, bahkan baju-baju yang dipakai wanita panggilan semalam masih berserakan di lantai. Hingga saat membuka pintu mulut Hana langsung menganga lebar, menatap tak berkedip baju-baju dalam wanita yang berserakan tak karuan.

__ADS_1


Revaldo yang menyadari arah pandang Hana hanya menggaruk-garuk kepala bagian belakang nya yang jelas tak gatal dengan senyum bodoh nya. "Eum, tidak perlu melihat tempat lain. Langsung saja kemasi baju-baju di sana." Tunjuk Revaldo pad sebuah pintu.


Tak ingin mempermasalahkan apa yang memang tidak dipedulikan, Hana langsung menuju ke tempat yang Revaldo tunjuk.


__ADS_2