Send My Letter To Heaven

Send My Letter To Heaven
Semua Yang Datang, Pasti Akan Pergi


__ADS_3

“Jadi kamu tahu semua tentang kakak ku?”


Anak laki-laki yang sedang berdiri di depanku mengangguk pelan.


“Kenapa tidak memberitahuku?”


“Ra…”


“Kenapa?”


Helaan nafas kasar terdengar. Mata Kenzie mengedar ke segala penjuru arah. Entah mencari topik bahasan lain, atau ingin menyangkal atas ketahuannya dia mengenai penyakit kakak ku.


“Apa aku pantas memberitahumu?”


Aku menatap Kenzie bingung.


“Aku hanya tidak sengaja mendengar percakapan Kak Dhafin dengan Kak Andrian. Aku tidak yakin mereka sadar kalau sebenarnya aku tahu semuanya. Aku bisa saja bilang ke kamu detik itu juga selesai aku mendengar penuturan panjang Kak Andrian tentang jantung Kak Dhafin. Tapi, aku masih ragu kalau apa yang ku dengar benar adanya.”


Aku tersenyum getir. Pahit sekali jalan cerita hidupku.


Mataku menerawang jauh sampai aku melihat figure bocah kecil yang sedang merengek tidak mau disuapi seorang suster.


Suster itu terlihat sabar dan telaten membujuk anak kecil itu untuk makan. Dari sini pula aku bisa melihat bahwa anak itu sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja.


Sakit keras, sepertinya.


Atau, anak itu juga termasuk deretan pengidap penyakit ganas seperti anak-anak cancer yang sering aku nyanyikan tiap akhir pekan?


Entahlah, aku tidak ingin menerka apapun saat ini.


“Ra…”


Aku kembali menoleh ke arah Kenzie.


“Jangan terusan sedih. Masih ada aku disini. Aku bakal nemenin kamu sampai akhir.” Ucapnya yang membuatku menunduk dan meremat kedua telapak tangan ku.


“Aku tidak pernah memintamu untuk tinggal disisiku Ken.” Senyum getir kembali aku berikan padanya. “Kau punya kehidupan yang layak seperti manusia pada umumnya. Kau punya keluarga dan kekasih yang harus kau jaga. Jangan terus-terusan ada disekelilingku Ken, kau akan kehilangan semuanya nantinya. Aku tidak bisa memberi mu lebih kecuali masalah terus menerus.”


Tangan kiri Kenzie menyentuh pundakku. “Bagaimana jika aku yang mau?”


Sebelah alisku terangkat, total bingung dengan ucapan anak itu.

__ADS_1


“Dari awal tidak ada yang meminta atau diminta untuk tinggal. Dari awal memang aku yang ingin terus di sisimu. Mungkin jika bisa, sampai akhir aku akan terus menjagamu.”


.


.


.


.


.


***


.


.


.


.


.


Dhafin memutar matanya malas. Selalu laki-laki berisik itu yang ia jumpa pertama kali kala ia terbangun dari tidur sakitnya.


“Tidak ingin meminta maaf atau merasa menyesal?”


Senyum sinis terukir di bibir tebal Dhafin. “Ketahuan ya?” Tanyanya.


“Untung kamu lagi sakit Kak, kalau kamu sehat aku akan menghajarmu saat ini juga.” Dhafin tertawa hambar mendengar penuturan laki-laki yang menjadi saksi perjalanan hidupnya ini.


“Aku fikir, aku bisa menyimpannya dengan rapi sampai akhir.” Ratap Dhafin diiringi tawa hambar yang kembali terdengar.


“Bodoh.” Umpat Andrian lalu mendudukkan bokong nya di kursi berwarna putih yang disediakan rumah sakit. “Kau terlalu bodoh untuk menjaga sebuah rahasia.” Ejeknya. “Katanya mau tetap diam sampai akhir biar adikmu tidak khawatir. Nyatanya, kau justru ambruk di hadapannya.” Cibir Andrian, dan hal itu sukses membuat Dhafin tertawa lepas tanpa ada rasa hambar.


“Aku sudah mencoba mempertahankan kesadaranku bodoh.” Balasnya mencari alasan.


“Halah.” Sambar Andrian. “Berapa botol alkohol yang kau habiskan semalam? Kalau kau mau, aku akan mengirimi mu satu truk alkohol dan silahkan habiskan semuanya dihadapanku. Itu lebih baik daripada kau mencuri-curi waktu untuk minum alkohol-alkohol sialan itu.”


Dhafin kembali tertawa. “Hanya satu.” Akunya.

__ADS_1


Dahi Andrian mengernyit. “Hanya? Jadi, rencana nya kau mau menambah botol lagi?”


Dhafin tersenyum miring. “Sampai kapan aku bisa menjaga Hyera?” Tanyanya mengalihkan pembicaraannya dengan Andrian mengenail botol-botol alkohol yang sering ia minum secara diam-diam.


Mata Andrian terpaku pada Dhafin yang menatap atap rumah sakit.


“Aku hanya ingin adikku bahagia. Hanya itu. Tapi kenapa rasanya sulit sekali.” Ratap Dhafin dan Andrian maju untuk menumpu kedua siku tangannya di atas kasur. “Hyera pasti khawatir setelah tahu apa yang terjadi pada kakak nya. Setelah ini dia akan lebih cerewet dari biasanya.”


“Demi kebaikan mu juga Kak.” Potong Andrian.


Dhafin menatap Andrian yang kini menyembunyikan mulutnya di sela-sela kedua ibu jari yang menumpu dagunya. Menyenderkan bahu lebarnya ke kepala ranjang rumah sakit.


“Nanti, jika waktu itu tiba, aku harap kau bisa ku andalkan untuk menjaga adikku.” Andrian masih tak bergeming. “Dia gadis yang mandiri sebenarnya. Dia tidak akan merepotkanmu, aku jamin itu.”


“Tidak ada yang akan ditinggalkan disini Kak.” Ucap Andrian dengan posisi yang masih sama. “Baik aku maupun kamu, kita berdua akan menjadi saksi Hyera berdiri di altar dan mengucap janji suci dengan pujaan hatinya nanti. Dan aku, akan jadi orang yang memukul mu pertama kali saat aku bisa lolos dan resmi menjadi seorang Dokter. Aku akan menyelamatkanmu nanti.”


Dhafin tersenyum. Dalam hati, laki-laki itu berharap yang sama dengan apa yang baru saja diucapkan Andrian, teman yang sudah ia anggap saudara.


Jarak umur keduanya hanya terpaut satu tahun. Namun, karna semua cerita yang mereka lalui bersama serta jarak rumah yang tidak terlalu jauh, membuat keduanya bak saudara kandung yang siap menolong sesama saat salah satunya berlari dari kejaran beban hidup.


Wishlist yang sudah Dhafin tulis dalam buku kecil yang ia selipkan di bawah rak bukunya bahkan belum terwujud setengahnya.


Masih banyak hal yang ingin ia lakukan. Semua yang menjadi tujuannya tidak jauh dari adik perempuan nya yang manis.


Mata Dhafin terpejam sesaat, memori akan kecelakaan itu kembali terlintas di ingatannya. Hari dimana mereka mengalami kecelakaan hebat yang mengakibatkan kedua orang tuanya meninggal dunia. Hari dimana Dhafin yang tidak sadarkan diri selama satu hari dan hampir menyusul kedua orang tuanya.


Menjadi saksi saat Hyera terbangun dari tidur panjang nya dan berteriak histeris saat pendengarannya tidak mampu menangkap suara apapun.


Tangisan itu menjadi lima kali lebih histeris saat Hyera memanggil nama ‘ayah’ dan ‘ibu’ namun kedua orang itu tidak menampakan wujudnya sama sekali.


Tangisan yang kembali semakin histeris saat pertama kali Hyera keluar dari rumah sakit dan ia dibawa ke makam kedua orang tuanya. Hyera mengamuk hebat bahkan Dokter Aber yang ikut mengantar harus memberikan suntikan penenang untuk Hyera kecil.


Semua ingatan-ingatan itu terasa masih segar di memori Dhafin, seolah kejadian itu baru dialaminya tadi pagi.


Sakit yang bahkan sudah bersarang dari ia kecil dan belum tahu apa-apa, sampai akhirnya dia tahu saat kecelakaan menimpa mereka.


Dari kecil, kedua orang tua Dhafin sepakat merahasiakan tentang penyakit gagal jantungnya, hanya Dokter Aber yang tahu. Namun, setelah kecelakaan itu, semua nya terungkap. Tentang penyakit Dhafin yang selama ini disimpan rapat-rapat.


Dhafin paham, didunia ini akan ada yang datang dan akan ada yang pergi. Ia tahu persis saat dirinya pergi, akan ada orang lain yang datang menjaga adiknya. Beribu kata ‘titip’ selalu ia sematkan setiap pagi pada Andrian, takut-takut kalau ia tidak bisa sadarkan diri saat jam makan siang dan berakhir pergi saat matahari mulai tenggelam.


Tidak ada yang tahu tentang kehidupan manusia. Jalan takdirnya, begitu juga nasibnya. Rezeki, jodoh, mati, silih berganti datang dan pergi tanpa permisi. Tanpa bisa di prediksi tanpa ada yang mengeksekusi.

__ADS_1


Dhafin hanya berharap, suatu saat, siapa pun nanti yang menjadi penggantinya untuk menjaga Hyera Jenaro – adik perempuannya, akan dengan tulus menjaga adik tersayangnya. Sampai akhir, sampai mereka tua, sampai ia dipertemukan lagi dengan adiknya, di surga.


__ADS_2