Send My Letter To Heaven

Send My Letter To Heaven
Please, Wake Up


__ADS_3

Kedatanganku cukup mengejutkan Kak Andrian


yang sedang mengobrol dengan Dokter Aber. Aku bahkan tidak tahu kalau Dokter


Aber atau Ayah Kak Andrian juga bertugas di Rumah Sakit ini.


Begitu aku sampai, tidak butuh waktu lama,


Kak Andrian langsung menyerbu dan mendekapku. Air mataku semakin mengalir deras


kala Kak Andrian berucap dengan suara serak nya, ‘Sabar Ra.’ Dua kata yang membuat dunia ku semakin hancur.


Tubuhku semakin melemas di pelukan nya.


Erat nya dekapan yang diberikan Kak Andrian bahkan tidak mampu menopang berat


tubuhku. Hanya kata sabar, namun pikiran terburuk hinggap silih berganti di


kepalaku.


Aku benci, saat aku melihat orang yang ku


cinta terbaring tak berdaya, namun aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk nya.


Langkah ku, kupacu dengan tempo tenang,meski


sebenarnya gemetar. Kedua tanganku saling bergetar namun tetap ku paksa untuk


bergandengan. Air mata ku tahan sekali lagi agar tidak terjatuh. Aku berdiri,


di ambang pintu kamar yang di tiduri Kak Dhafin.


Dari sini aku bisa melihat tubuh itu. Tubuh


tinggi dan tegap yang selalu menjadi kebangganku. Tubuh tinggi dan tegap yang menjadi


rumah ku untuk pulang. Tubuh tinggi dan tegap yang selalu melindungiku. Tubuh


tinggi dan tegap yang kini berbaring tak berdaya di ranjang pesakitan.


Kedua mata indah itu terpejam erat. Bibir


penuh semerah cherry berubah warna menjadi pucat. Wajah tampan itu kini


berwarna putih pasi. Dada bidang itu kini tertancap banyak alat yang aku

__ADS_1


sendiri tidak tahu namanya.


Kini, hidupnya di topang oleh alat.


Kak Dhafin, kakak ku yang sangat aku


sayang, keluargaku satu-satunya, hidupnya bergantung dengan alat.


“Kuat nggak Ra?” Suara Kak Andrian


menginterupsi pendengaranku. Meski ragu, tapi kepalaku mengangguk pelan.


Kedua pundak ku masih di rangkul lembut


oleh Kenzie. Kedua laki-laki itu, kini menguatkan ku di samping kanan dan kiri.


“Ayo, kita kesana.” Sekali lagi suara Kak Andrian


membuat ku bangun dari lamunan. Dengan langkah pelan, aku melangkah mendekati


ranjang Kak Dhafin.


Suara bunyi mesin penyangga hidup membuat


dadaku nyeri. Nafas Kak Dhafin sangat pelan dan teratur, tenang. Meski pucat,


Kedua tangan ku sedikit bergetar. Menyentuh


tangan besar Kak Dhafin yang terbebas dari selang. Ada banyak selang, ada


banyak alat, aku tidak mampu mendeskripsikannya satu persatu.


Tangan nya dingin, pucat, seolah tidak ada


darah yang mengalir. Tidak ada lagi balasan dari genggaman yang ku berikan.


Tangan besar itu, aku rindu tangan itu mengusap kepalaku dengan sayang. Tangan


itu, aku rindu mengahapus air mataku yang sengaja ku tumpahkan di depannya.


Tangan itu, tangan yang tadi pagi masih


merangkul ku dengan penuh sayang. Tangan yang tadi pagi masih mengusap kepalaku


hingga membuatku memberontak pelan karna tatanan rambutku dirusak. Tangan yang

__ADS_1


tadi pagi masih membuatkan ku sarapan.


“Kak, kenapa harus tertidur secepat ini?


Kakak pasti bangun kan? Jangan keterusan tidurnya, aku marah kalau sampai kakak


tidak bangun dari tidur. Serius.” Racau ku.


“Apa tidak ingin mendengar omelan ku lagi?


Apa tidak ingin beradu pendapat dengan ku lagi? Tidak ingin mengoceh karna


kebandelan ku lagi? Ayo bangun, jangan tidur. Aku tidak bisa membangunkan mu


kalau caramu tidur seperti ini. Tidak ingin membuat ku nangis kan? Kalau tidak


ingin bangun detik ini juga, setidaknya bertahanlah sedikit lebih lama.”


Tangan Kenzie kembali mengelus pundakku.


Menyempatkan diri menoleh ke arahnya, anak itu tersenyum. “Kak Dhafin lebih


kuat dari yang kita tahu.” Aku paham.


Laki-laki ini jauh lebih kuat dari yang aku


kira. Jauh lebih hebat dari yang aku khawatirkan. Tapi, aku tetap tidak bisa


baik-baik saja kala matanya tertutup rapat hingga menyembunyikan binar indah


nya.


“Dhafin bilang, kamu nggak boleh sedih Ra.”


Aku menoleh kea rah Kak Andrian.


“Kapan bilang nya Kak?”


“Setiap hari.”


Lagi, mataku terpejam. Ribuan duri terasa


menghujam jantungku. Rupanya, Kak Dhafin sudah memperkirakan semuanya.


Nyawanya, jatah hidupnya, kesempatan bernafasnya, semuanya. Dia selalu

__ADS_1


menitipkan ku pada semua orang. Dari sini aku paham, Kak Dhafin sudah ikhlas


jika harus pergi secara tiba-tiba.


__ADS_2