
Kedatanganku cukup mengejutkan Kak Andrian
yang sedang mengobrol dengan Dokter Aber. Aku bahkan tidak tahu kalau Dokter
Aber atau Ayah Kak Andrian juga bertugas di Rumah Sakit ini.
Begitu aku sampai, tidak butuh waktu lama,
Kak Andrian langsung menyerbu dan mendekapku. Air mataku semakin mengalir deras
kala Kak Andrian berucap dengan suara serak nya, ‘Sabar Ra.’ Dua kata yang membuat dunia ku semakin hancur.
Tubuhku semakin melemas di pelukan nya.
Erat nya dekapan yang diberikan Kak Andrian bahkan tidak mampu menopang berat
tubuhku. Hanya kata sabar, namun pikiran terburuk hinggap silih berganti di
kepalaku.
Aku benci, saat aku melihat orang yang ku
cinta terbaring tak berdaya, namun aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk nya.
Langkah ku, kupacu dengan tempo tenang,meski
sebenarnya gemetar. Kedua tanganku saling bergetar namun tetap ku paksa untuk
bergandengan. Air mata ku tahan sekali lagi agar tidak terjatuh. Aku berdiri,
di ambang pintu kamar yang di tiduri Kak Dhafin.
Dari sini aku bisa melihat tubuh itu. Tubuh
tinggi dan tegap yang selalu menjadi kebangganku. Tubuh tinggi dan tegap yang menjadi
rumah ku untuk pulang. Tubuh tinggi dan tegap yang selalu melindungiku. Tubuh
tinggi dan tegap yang kini berbaring tak berdaya di ranjang pesakitan.
Kedua mata indah itu terpejam erat. Bibir
penuh semerah cherry berubah warna menjadi pucat. Wajah tampan itu kini
berwarna putih pasi. Dada bidang itu kini tertancap banyak alat yang aku
__ADS_1
sendiri tidak tahu namanya.
Kini, hidupnya di topang oleh alat.
Kak Dhafin, kakak ku yang sangat aku
sayang, keluargaku satu-satunya, hidupnya bergantung dengan alat.
“Kuat nggak Ra?” Suara Kak Andrian
menginterupsi pendengaranku. Meski ragu, tapi kepalaku mengangguk pelan.
Kedua pundak ku masih di rangkul lembut
oleh Kenzie. Kedua laki-laki itu, kini menguatkan ku di samping kanan dan kiri.
“Ayo, kita kesana.” Sekali lagi suara Kak Andrian
membuat ku bangun dari lamunan. Dengan langkah pelan, aku melangkah mendekati
ranjang Kak Dhafin.
Suara bunyi mesin penyangga hidup membuat
dadaku nyeri. Nafas Kak Dhafin sangat pelan dan teratur, tenang. Meski pucat,
Kedua tangan ku sedikit bergetar. Menyentuh
tangan besar Kak Dhafin yang terbebas dari selang. Ada banyak selang, ada
banyak alat, aku tidak mampu mendeskripsikannya satu persatu.
Tangan nya dingin, pucat, seolah tidak ada
darah yang mengalir. Tidak ada lagi balasan dari genggaman yang ku berikan.
Tangan besar itu, aku rindu tangan itu mengusap kepalaku dengan sayang. Tangan
itu, aku rindu mengahapus air mataku yang sengaja ku tumpahkan di depannya.
Tangan itu, tangan yang tadi pagi masih
merangkul ku dengan penuh sayang. Tangan yang tadi pagi masih mengusap kepalaku
hingga membuatku memberontak pelan karna tatanan rambutku dirusak. Tangan yang
__ADS_1
tadi pagi masih membuatkan ku sarapan.
“Kak, kenapa harus tertidur secepat ini?
Kakak pasti bangun kan? Jangan keterusan tidurnya, aku marah kalau sampai kakak
tidak bangun dari tidur. Serius.” Racau ku.
“Apa tidak ingin mendengar omelan ku lagi?
Apa tidak ingin beradu pendapat dengan ku lagi? Tidak ingin mengoceh karna
kebandelan ku lagi? Ayo bangun, jangan tidur. Aku tidak bisa membangunkan mu
kalau caramu tidur seperti ini. Tidak ingin membuat ku nangis kan? Kalau tidak
ingin bangun detik ini juga, setidaknya bertahanlah sedikit lebih lama.”
Tangan Kenzie kembali mengelus pundakku.
Menyempatkan diri menoleh ke arahnya, anak itu tersenyum. “Kak Dhafin lebih
kuat dari yang kita tahu.” Aku paham.
Laki-laki ini jauh lebih kuat dari yang aku
kira. Jauh lebih hebat dari yang aku khawatirkan. Tapi, aku tetap tidak bisa
baik-baik saja kala matanya tertutup rapat hingga menyembunyikan binar indah
nya.
“Dhafin bilang, kamu nggak boleh sedih Ra.”
Aku menoleh kea rah Kak Andrian.
“Kapan bilang nya Kak?”
“Setiap hari.”
Lagi, mataku terpejam. Ribuan duri terasa
menghujam jantungku. Rupanya, Kak Dhafin sudah memperkirakan semuanya.
Nyawanya, jatah hidupnya, kesempatan bernafasnya, semuanya. Dia selalu
__ADS_1
menitipkan ku pada semua orang. Dari sini aku paham, Kak Dhafin sudah ikhlas
jika harus pergi secara tiba-tiba.