Send My Letter To Heaven

Send My Letter To Heaven
Wanita Paruh Baya


__ADS_3

Ruang tunggu rumah sakit terasa sangat sepi. Hanya aku dan seorang wanita paruh baya yang duduk bersebrangan denganku. Mencoba menghiraukan sekitar, mataku menutup perlahan. Menghirup oksigen sebanyak mungkin, mencoba menetralkan pikiran ku dari segala macam kemungkinan buruk yang bersarang di kepala.


Hidup hampir 12 tahun lamanya berdua dengan kakak ku membuatku sangat ketergantungan padanya. Tuhan tau apa saja yang kita berdua lewati selama ini. Selama ayah dan ibu meninggalkan kami, Tuhan tidak tidur. Dia tahu semuanya.


Senyum Kak Dhafin mampir di pikiranku kala mataku masih terpejam. Senyum manis yang tidak pernah lepas dari bibirnya dan selalu menghiasi wajahnya. Tuhan baik, memberi Kak Dhafin segala keindahan yang aku sendiri tidak bisa mendeskripsikan.


“Orang baik akan selalu mendapat tempat yang baik.”


Suara pelan itu menginterupsi pendengaranku. Mataku terbuka perlahan. Cahaya sedikit demi sedikit masuk ke dalam retina. Sosok wanita paruh baya yang tadi duduk di sebrangku kini berpindah duduk di sampingku. Matanya menunduk. Di kedua tangannya, ada buku tebal berwarna coklat tua yang entah aku sendiri tidak tahu apa judulnya.


“Semua kejadian tidak ada yang kebetulan.” Aku menegakkan tubuhku. “Tuhan punya rencana indah untuk semua umatnya.”


Merenung, aku membenarkan ucapan ibu tadi.


“Apa yang kau pikirkan?”


Sedikit tersentak, mataku menatapnya.


“Siapa yang sakit?”


Senyum canggung aku berikan untuk pertanyaannya.


“Sakit itu anugerah.”

__ADS_1


“Maksut nya?”


Meletakkan bukunya pelan, ibu itu tersenyum padaku. “Anakku sakit keras. 2 tahun ia dirawat di rumah sakit ini.” Aku turut prihatin. “Aku sering meninggalkan nya.” Kedua sudut bibirnya terangkat. “Hidup berlebih dengan banyak harta yang bergelimang, aku pikir bisa membuat anakku bahagia.” Sorot matanya menerawang. “Semua yang dia minta, aku berikan. Sekali dia menyebutkan mainan, mainan itu akan langsung datang untuknya.”


“Apa dia bahagia?”


“Ku pikir dia bahagia.”


Buku yang tadi ia pegang, ditutup perlahan. Tangan keriputnya mengelus pelan sampul buku. Dari sini aku bisa tahu judul buku yang di baca wanita tadi. Kafka on the Shore buku karangan Haruki Murakami.


“Apapun yang dia minta selalu ku penuhi. Hidup dengan banyak harta tanpa kekurangan ku pikir bisa membawa kebahagiaan.” Kedua matanya menatapku. “Tapi ternyata perkiraan ku salah.”


Aku semakin menegakkan tubuhku. Memasang telinga, mendengarkan cerita si ibu lebih jauh.


“Harta tidak selamanya mendatang kan bahagia. Harta bisa membeli apapun yang anakku mau. Tapi aku melupakan satu hal.” Mata wanita itu berkaca-kaca. “Harta tidak akan bisa mengembalikan waktu.” Satu bulir air mata berhasil turun. “Aku menghabiskan hariku dengan setumpuk kertas yang ku anggap jauh lebih penting. Aku mengabaikan semua pesan anakku. Aku bahkan mengabaikan pertumbuhannya.” Bulir air kedua ikut jatuh. “Anakku sakit keras saat usianya 7 tahun. Aku ingat, waktu itu aku pergi ke Jerman. Aku meninggalkannya disini dengan para pelayan rumah. Tidak pernah menengok atau sekedar bertanya kabar. Aku tidak memastikan apapun tentangnya, yang ku pastikan hanya satu, saldo rekeningnya jangan sampai kosong.”


“Sampai umurnya menginjak ke sepuluh tahun, aku baru kembali menemuinya.”


“Dia bahagia?”


Kepala wanita itu menggeleng. “Dia tidak mengenaliku.”


Bibirku sedikit terbuka.

__ADS_1


“Alzheimer.” Sekali lagi, aku terkejut.


“Kau tidak tahu sama sekali?” kepalanya menggeleng sebagai jawaban.


“Apa anak mu?”


“Sudah meninggal.” Aku menghentikan perkataanku. “Dia meninggal lima tahun yang lalu.”


“Karena penyakitnya?”


“Bunuh diri.” Aku kembali terkejut.


“Aku minta maaf. Aku menyinggung mu.”


Wanita itu menggeleng lemah. “Tidak ada yang bisa kusesali sekarang. Anakku sudah pergi dengan tenang. Aku hanya bisa mendoakannya dari sini.” Kedua matanya membalas tatapanku. “Aku tidak akan bertanya siapa yang sakit atau siapa yang membuat mu sedih. Aku hanya ingin memberitahu mu. Hidup seseorang singkat. Jangan terpaku dengan semua analisis dokter. Dokter bukan Tuhan. Tugasnya hanya membantu penyembuhan, bukan untuk membuatnya kembali hidup.” Aku tahu.


“Berhenti bersedih. Gunakan waktu yang tersisa untuk membuat banyak kenangan dengan semua orang di sekitarmu. Bukan hanya dengan kerabatmu yang sakit, tapi dengan semua orang di sekeliling mu. Kita tidak akan tahu, siapa yang akan pergi terlebih dahulu. Yang sakit, tidak menjamin akan pulang ke rumah Tuhan lebih dulu.”


Sekali lagi, ingatan ku berputar. Tidak banyak orang yang dekat dan berada di sekitarku. Bisa dihitung dengan jari, bisa dilihat dengan mata.


Jika selamanya aku terus terpuruk akan kesedihan karna penyakit Kak Dhafin, bisa kupastikan aku akan gila saat Kak Dhafin benar-benar pergi.


Tuhan baik, memberitahuku tentang penyakit Kak Dhafin agar aku bias bersiap diri jika sewaktu-waktu dia meninggalkan ku. Bukan hanya Kak Dhafin, tapi juga Kenzie, Kak Andrian, bahkan diriku sendiri.

__ADS_1


Jika ada yang pergi, pasti akan ada yang datang. Aku percaya itu. kedatangan dan kepergian seseorang sudah di rancang sebaik mungkin dan seindah mungkin.


Jika tidak ada kata sembuh untuk nya, maka harus ada kata siap untukku.


__ADS_2