Send My Letter To Heaven

Send My Letter To Heaven
Heaven


__ADS_3

Kaki jenjang itu berjalan menyusuri taman bunga yang indah. Sesekali kupu-kupu cantik menghampiri seolah memberi salam pada satu makhluk yang baru saja menginjakkan kaki di tamannya.


Bibir tebal itu tersenyum kala matanya menatap kupu-kupu yang terbang kesana kemari.


Matanya menelisik sekitar.


Sesekali kepalanya menoleh ke sembarang arah.


"Aku dimana?"


Tanya nya pada diri sendiri.


Wajah tampan itu menemukan satu cahaya putih kebiruan dari jarak yang lumayan jauh.


Matanya memicing. Tatapan tajam ia berikan


"Itu apa?" Batinnya dalam hati.


Mencoba mengalahkan rasa penasaran dan mengumpulkan keberanian, Dhafin berjalan menggapai cahaya.


Meski sesekali langkahnya sempat terhenti, tapi hati tetap menyuruhnya melanjutkan langkah.


Mata itu terus menatap ke arah cahaya. Meski rasa takut mengerubungi pikirannya, meski tangan sempat bergetar, meski langkah rasanya ingin berjalan berputar arah, tapi rasa penasaran mengalahkan ketakutannya.


Hingga matanya menatap dua sosok malaikat yang tengah tersenyum dan menatapnya di balik cahaya.


Dhafin spontan menghentikan langkahnya.


Nafasnya memburu.


Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya.


Tangan dan badannya bergetar.


Dhafin memutar tubuhnya. Menatap ke arah dimana ia berjalan sebelumnya.


Kosong.


Itu hanya taman kosong yang dipenuhi bunga dan kupu-kupu.


Tidak ada orang sama sekali, kecuali dia dan dua sosok itu.


Dhafin kembali menatap dua sosok yang masih diam dan tersenyum ke arahnya.


"Ayah, Ibu?" Panggilnya lirih.


Dhafin mundur kebelakang. Langkah nya ia bawa pelan kebelakang.


Bukan bermaksud menghindar atau tak mau bertemu kedua orang tuanya. Hanya saja...


"Nggak mungkin." Dhafin menggeleng pelan.


Lututnya terasa kebas dan melemas. Kakinya tersandung rumput, dan ia terjatuh.


Air mata tiba-tiba mengalir membasahi pipinya.

__ADS_1


Dhafin meremat jantung nya kuat-kuat.


"Aneh." Batinnya lagi.


Berkali-kali Dhafin meremat dan memukul dadanya, dan disitu ia sadar, tak lagi ia rasakan gemuruh detak jantung yang biasa ia rasa kala ia menempelkan telapak tangan di dadanya.


"Nggak mungkin." Ucapnya lagi.


Tubuh Dhafin semakin bergetar.


Tangan yang tadi meremas dan memukul dadanya ia turunkan untuk meremas rumput yang ada di bawahnya.


Dhafin menangis.


Ia menjambak rambutnya, dan terisak semakin kencang.


"Nggak mungkin aku ninggalin adikku. Nggak mungkin!"


Tubuh itu semakin terhuyung hingga setengah sujud.


Tangisannya semakin terdengar memilukan dan menyayat hati.


"Dhafin, anak ibu." Panggilan itu membuat Dhafin menggeleng kuat.


"Apa lagi ini?" Batinnya masih sambil terisak.


Satu elusan lembut mendarat tepat di pucuk kepalanya.


Dhafin tak mendongak. Masih menatap ke arah rumput dibawahnya dan menangis sejadi jadinya.


Bukan semakin reda ia menangis, justru tangisannya terdengar jauh lebih memilukan.


"Aku ingkar janji." Suaranya keluar berbarengan dengan isak tangis yang semakin memilukan.


"Aku ingkar janji!" Kedua tangannya meremat kuat rambut nya. Dhafin jatuh dan terduduk di atas rumput.


Melihat anak laki-laki nya menangis histeris, ibu Dhafin mendekat dan memeluk anak nya erat.


Dhafin tidak memberontak. Justru, ia membalas pelukan sang ibu dan menangis semakin kencang.


Tak tega melihat anaknya menangis, sang ibu hanya menepuk pelan kepala anak sulung nya.


Membiarkan anaknya menangis di pelukannya. Anaknya yang sudah ia tinggalkan sejak usianya 10 tahun.


"Tidak apa-apa. Menangis saja nak." Mendengar penuturan lembut itu Dhafin semakin mengeratkan pelukannya dan menumpahkan semua air matanya di pelukan ibunya.


Bohong kalau Dhafin tidak rindu.


Dhafin sangat merindukan ibu dan ayahnya. Sangat ingin bertemu kedua orang tuanya, tapi ia juga masih punya janji yang harus di tepati pada ibunya.


"Hyera sendirian." Ucapnya dengan suara gemetar.


Sang ibu memeluk tubuh Dhafin lebih erat. "Tidak apa-apa nak, Hyera tidak akan sendirian. Masih banyak orang baik yang akan menemaninya."


"Tapi Dhafin udah janji sama ibu kalau Dhafin mau jaga Hyera."

__ADS_1


Sang ibu mengendurkan pelukannya dan menatap mata anaknya dalam.


"Janji mu sudah kamu tepatin. Kamu sudah jaga Hyera dari Hyera masih kecil sampai sebesar sekarang. Kamu nggak ingkar janji nak." Dhafin terdiam mendengar penuturan ibunya.


"Justru ibu sama ayah yang minta maaf ke kamu. Karena kamu harus jaga Hyera disaat kamu pun masih kecil. Maaf, harusnya yang menjaga kalian itu kami, tapi kami malah ninggalin kalian." Sang ayah ikut menimpali ucapan ibunya.


Dhafin menunduk dalam. Hatinya kacau. Ia bersyukur bisa bertemu ayah dan ibunya, ia bersyukur penyakitnya di angkat, tapi kenapa nyawanya juga harus ikut di angkat.


Ibu Dhafin menuntun Dhafin pelan. Membawanya berdiri dan menggandeng lengan anak laki-laki nya.


"Ayo ikut ibu, ibu akan tunjukan indahnya tempat ini ke kamu."


Senyum tulus Dhafin dapatkan.


Bahkan Dhafin sempat tertegun menatap senyum teduh ibu dan ayahnya.


Senyum yang sangat menenangkan.


"Bu, Hyera sama siapa nanti?" Tanya Dhafin sembari mengikuti langkah ibunya.


"Akan ada satu laki-laki yang menggantikan posisimu untuk menjaga Hyera. Laki-laki itu akan terus menemani Hyera, sampai Hyera besar nanti." Jawaban yang menenangkan seharusnya. Tapi tetap saja, ada perasaan ganjil yang tersemat di hati Dhafin.


Selama ia bersama Hyera, ia bahkan sedikit tak yakin ada orang benar-benar baik yang mau menemani adiknya.


Hyera cacat. Pendengarannya terganggu. Hyera bahkan harus keluar sekolah dan belajar di rumah demi menghindari ejekan teman-temannya.


Hyera menjadi jauh lebih tertutup dan pendiam.


Lalu, apa benar masih ada orang baik yang akan menemani Hyera nanti?


Dhafin tau, Andrian tak akan bisa full menemani Hyera. Andrian harus mengejar mimpinya, Andrian harus menjadi Dokter seperti apa yang dicita-citakannya sedari kecil. Mustahil Hyera akan terus ikut Andrian.


Sementara Kenzie?


Anak itu sudah punya pacar, dan sangat menyayangi pacarnya. Akan timbul kesalah pahaman jika Kenzie menghabiskan waktu lebih banyak bersama Hyera dibanding pacarnya.


Dhafin bingung, benar-benar bingung.


"Percaya sama ucapan ibumu. Hyera baik-baik saja disana bersama orang baik yang akan menjaganya." Kepala Dhafin menoleh ke arah ayahnya.


"Siapa Yah?"


Sang ayah tersenyum.


"Siapa orang baik yang akan menjaga Hyera?"


Senyum kembali terukir di bibir sang ayah.


"Tuhan tidak akan membiarkan hambanya sendirian nak. Tuhan selalu ada bersama hambanya. Kamu tidak perlu takut Hyera sendirian. Tugas mu sudah selesai. Hyera akan bertemu kebahagiaan nya setelah ini."


Ucapan dari sang ayah membuat hati Dhafin sedikit tenang.


Ya, meski dunia nya dan adiknya berbeda, meski tak lagi bisa bertemu sapa secara langsung, meski jarak yang terbentang sangatlah jauh, Dhafin percaya kalau Tuhan menyiapkan orang baik untuk adiknya.


Dhafin berharap, semoga orang itu bisa menerima kekurangan adiknya, dan menyayangi adiknya lebih dari apapun.

__ADS_1


Dhafin berharap, semoga adiknya bahagia di dunia bersama orang-orang yang tulus menyayangi nya.


__ADS_2