Send My Letter To Heaven

Send My Letter To Heaven
Rela


__ADS_3

Kakiku berjalan tak tentu arah. Berkeliling tanpa tujuan, dirumah sakit ini. Dadaku nyeri tiap hari memandangi Kak Dhafin yang tak kunjung membuka matanya. Terhitung, hari ini hari ketiga Kak Dhafin tertidur. Enggan bangun, padahal sudah kuusili.


Biasanya, Kak Dhafin langsung bangun saat aku mulai berisik di dekatnya. Tapi kini, ia benar-benar tidak membuka matanya.


Aku menghela nafas pelan. Pasrah dengan keadaan. Terserah bagaimana takdir seharusnya berjalan. Jika memang Kak Dhafin harus pergi, aku rela. Bukan karna ingin atau apa, hanya saja, melihat kondisi Kak Dhafin yang terus menerus menahan sakit, buat aku juga ikut merasakan pahit.


Kata orang, kalau kita bisa merelakan sesuatu yang memang sudah selayaknya pergi, di masa depan kita akan mendapatkan yang lebih.


Aku sudah meminta agar Kak Dhafin terus tinggal disisiku. Tapi, jika takdir Tuhan berkehendak lain, aku sama sekali tidak bisa membantah. Buat apa? Percuma juga melawan takdir.


“Hati-hati.” Tanganku sigap menangkap anak kecil yang berlari dan hampir jatuh.


Matanya bulat, mirip Kak Andrian. Anak itu menatapku, namun setelahnya berlari menjauh dariku. Aku tersenyum melihatnya.


“Hyera?”


Menegakkan badan, aku menatap satu sosok yang berdiri menjulang di depanku. Bukankah anak itu ada dimana-mana?


“Kamu kok disini?” Tanyaku pada Jovin yang entah ada keperluan apa hingga membawanya kemari.


“Menebus obat buat kakekku.” Akunya, dan aku mengangguk mengerti. “Kamu, ada perlu disini?” Matanya menatapku, namun ku balas hanya seulas senyum tipis.


“Ada yang sakit?” Tanyanya lagi. Pertanyaan sederhana namun mampu membuat bola-bola kristal di mataku hampir keluar.


“Kakak ku.” Jawabku lirih.


Jovin maju satu langkah. Memelukku dalam diam. Dan dengan tidak tahu malunya, bola Kristal yang sudah menumpuk di pelupuk mataku turun membasahi hoodie putih Jovin.


“Nangis aja kalau mau nangis.” Caranya mempersilahkan aku untuk menuangkan air mata di dekapannya benar-benar aku turuti.

__ADS_1


Sebenarnya aku lelah menangis. Tapi jika masih ada kesempatan untuk menangis, aku akan menggunakannya.


Kadang, hanya menangis tanpa perlu menjelaskan sudah lebih dari cukup buat hati seseorang lega. Menangis bukan aib yang harus ditutupi. Menangis sah-sah saja.


Tangan besar Jovin menepuk pelan punggung sempitku. Aku memang tidak membalas pelukannya, tapi anak itu juga enggan melepas dekapannya.


Biasanya, jika aku menangis seperti ini, Kak Dhafin pasti akan sigap memeluk juga menenangkanku. Tapi kini, berbeda. Laki-laki yang menjadi super heroku itu, berbaring lemah tak berdaya di ranjang pesakitan.


“Nangis semaumu. Jangan berhenti kalau memang masih ingin dikeluarkan.” Tangisku semakin pecah mendengar perkataan Jovin. “Menangis memang tidak menyelesaikan masalah. Menangis memang tidak merubah keadaan. Tapi setidaknya, hatimu sedikit lega setelah kamu menangis.”


Dua tanganku yang semula tergolek lemah di sisi tubuh, kini ku angkat dengan sigap untuk membalas pelukan Jovin. Begitupula dengan anak itu. semakin mendekap erat tubuhku sesaat setelah aku membalas dekapannya.


Anak itu terlampau peka rupanya. Tidak bertanya macam-macam, hanya lebih mengeratkan pelukannya saat aku butuh dekapan yang lebih untuk meredam tangisanku.


Lima menit berlalu. Air mataku kini kembali kering, berbarengan dengan kakiku yang terasa pegal. Menangis sambil berdiri, kurasa itu pilihan terburuk.


Jovin mengendurkan pelukannya. Tangan yang sedari tadi menepuk punggungku, kini beralih memegang kedua pundakku.


“Sudah makan?” kepalaku menggeleng pelan.


“Mau makan bersama?” Lagi, kepalaku menggeleng.


“Mau bertemu kakak mu?” Kepalaku mendongak, menatap Jovin yang lebih tinggi dariku.


“Boleh?” Tanyaku, dan dia mengangguk.


“Gunakan kesempatanmu untuk merawat kakak mu. Gunakan waktumu untuk selalu ada di samping kakak mu. Bukan posesif, hanya memanfaatkan waktu yang ada.”


Aku termenung mendengar ucapan Jovin.

__ADS_1


Anak itu, belum lama aku mengenalnya. Tapi, dari cara perhatian juga ucapannya padaku, cukup buat aku nyaman ada di sekitarnya.


Dia yang selalu datang tiba-tiba, dia yang merengkuh tanpa ku minta, dia yang berdiri disamping tanpa bertanya.


Cukup baik cara memperlakukan seseorang, padahal kita tidak saling mengenal.


Kaki kami berjalan kembali ke ruang Kak Dhafin.


Jovin diam dengan pikirannya. Dan aku enggan untuk membuka sesi pertanyaan. Masih malu, karena tadi sempat menangis dan memeluknya.


Meski aku tahu Jovin tidak pernah mempermasalahkan hal itu, tapi aku cukup tahu diri untuk menempatkan diriku di posisi malu.


Kaki kami berhenti melangkah, kala sampai di depan pintu bercat putih. Aku sedikit melirik kea rah Jovin, anak itu diam. Tidak melirik atau mengeluarkan sepatah katapun. Pandangannya lurus dengan dua tangan yang masuk ke saku celananya.


“Ayo masuk.” Ajakku lalu membuka pintu.


Kami berdua masuk dengan langkah beriringan. Tepat saat mataku menatap lurus kea rah ranjang Kak Dhafin, kulihat Kenzie juga ada disana. Berdiri tepat di samping kiri Kak Dhafin, dan menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya.


Sedikit kikuk, aku melanjutkan langkahku. Pun Jovin yang mengikutiku dari belakang.


“Dari mana?” Tanya Kenzie, dan aku menatapnya.


“Cari angin.” Akuku.


Kenzie menghela nafas pelan. Kemudian matanya menatap kea rah Jovin. “Siapa dia?” Entah berpura-pura lupa atau apalah itu, aku rasa Kenzie sudah tahu Jovin, tapi kenapa harus bertanya lagi?


“Namanya Jovin. Temanku.” Tidak mau berdebat, aku hanya mengikuti insting untuk memperkenalkan mereka berdua. “Itu Kenzie, temanku.” Dan selanjutnya ku perkenalkan Kenzie pada Jovin.


“Aku tahu.” Jawab Jovin.

__ADS_1


Tidak mau menambah beban pikiran, aku memilih mengambil tempat duduk di samping kanan ranjang Kak Dhafin. Memeluk lengan yang terbebas dari selang infuse. Menenggelamkan kepalaku pada lengan kekar yang kini tak bergerak.


Kak, jika kakak bisa mendengarku. Tolong buka matamu. Kasih tanda jika kamu baik-baik saja. Tapi jika memang sebaliknya, aku rela jika kamu pergi sekarang juga.


__ADS_2