
Flashback
***
“A-ayah?”
“Dhafin sadar! Panggilkan Dokter!”
“Ibu?”
“Dokter! Pasien sadar!”
“Ayah?”
“Dhafin? Dhafin dengar Om? Buka matanya nak?”
“Ayah?”
“Dhafin sayang,”
“Ayah!”
Akhirnya ia membuka matanya. Matanya mengerjap, membiasakan cahaya yang masuk ke retina, anak itu mengusap pelan matanya. Tatapannya bingung menatap banyak orang berseragam di sekitarnya. Matanya terus mengedar, menatap satu persatu orang yang tersenyum ke arahnya.
“Ayah? Ibu?”
“Kak Dhafin?” Satu anak seumuran dengannya muncul dari kerumunan orang-orang berseragam. “Kamu udah bangun?” Anak itu menghambur ke pelukan Dhafin. Dengan sigap, Dhafin menangkap tubuh laki-laki yang lebih kecil darinya. “Aku kira kamu nggak akan bangun.” Rengeknya sambil menangis di pelukan Dhafin.
“An,” panggilnya seraya melepaskan pelukan. “Ayah sama Ibuku dimana?” Andrian menatap Dhafin dengan matanya yang basah.
“Kak Dhafin…” Panggilnya tertahan.
“Jangan panggil aku kakak. Kamu manggil aku kakak karna ingin merebut mainanku kan?” Andrian mundur satu langkah. “An, kenapa banyak orang?” Andrian menggeleng pelan dan kembali melangkah mundur.
Tatapan heran Dhafin tujukan pada Andrian yang tak kunjung menjawab pertanyaan nya. Bahkan anak itu semakin berjalan mundur.
“Om Aber?” Dokter yang di panggil itu tersenyum. “Kenapa banyak orang? Ayah, Ibu sama Hyera mana?” Dokter Aber berjalan pelan ke arah Dhafin.
“Dhafin hebat, Dhafin kuat.” Pujinya.
__ADS_1
Mata Dhafin mengerjap polos, setelahnya menggeleng pelan. “Om, ayah mana?” Tanya nya. “Ibu mana?” Air mata mulai membendung di pelupuk mata. “Adikku mana?!” Dhafin berteriak kebingungan. Andrian yang sedari menatap Dhafin dengan mata basah terus mundur hingga tubuhnya menubruk tubuh anak laki-laki yang lebih kecil darinya.
“Kak Dhafin kenapa teriak?” Tanyanya polos.
Andrian menoleh ke belakang. Menatap satu sosok anak laki-laki yang kini menatap Andrian dengan tatapan bingung.
“Kak Dhafin?”
“Ssstt.” Potong Andrian. “Kamu jangan kesini. Kamu ke kamar Hyera aja ya, temenin dia. Dia sendirian.” Tanpa basa basi, Kenzie mengangguk dan berlari ke kamar Hyera.
Dokter Aber mendekat dan memeluk tubuh Dhafin. “Nak, kita ketemu ibu dulu ya, besok kita ketemu ayah bareng-bareng.”
“Ayah baik-baik aja kan om?” Tidak ada yang menjawab pertanyaan Dhafin. Hanya senyum miris yang di berikan.
Dokter Aber menyuruh beberapa perawat untuk membawakan kursi roda. Sebelumnya, Dokter Aber mengecek keseluruhan kesadaran serta kondisi Dhafin. Senyum lega terpatri kala mengetahui kondisi Dhafin. Anak itu terlalu kuat untuk di khawatirkan.
Satu orang perawat datang dengan mendorong kursi roda. Beberapa orang berseragam mundur. Mata Dhafin masih menatap curiga pada orang-orang itu. Wajahnya asing, tidak ada satu pun yang ia kenal.
“Om, Hyera mana? Nggak ikut liat ibu?” Dokter Aber tersenyum. “Nanti, Hyera liat ibu sama ayah nanti. Sekarang Dhafin dulu yang jenguk ibu.” Jawabnya yang hanya dibalas anggukan oleh Dhafin.
“An, kenapa sembunyi?” Andrian mengalihkan tatapannya. “Ayo ikut aku.” Mata Andrian masih menatap bebas, bermaksut mengalihkan tatapan Dhafin padanya. “Andrian!” Teriak Dhafin, dan Andrian langsung berlari ke arahnya.
“Aku saja yang dorong kursi nya Kak Dhafin.” Pinta Andrian.
Semua orang diam. Tidak ada yang berbicara, baik Dhafin pun juga Andrian.
Langkah mereka mengarah ke lorong yang sedikit jauh dari kamar inap Dhafin. Kedua tangan Dhafin saling berpegangan. Matanya menatap lurus ke arah lorong yang semakin sedikit di huni orang. Tidak banyak orang disini, sepi, hanya ada beberapa perawat yang sibuk mondar mandir.
Mata Dhafin tak lepas dari tatapan lurusnya. Andrian sesekali melirik. Matanya sudah berkaca-kaca, siap untuk tumpah kapan saja. Andrian memang sosok anak yang cengeng. Gampang menangis juga gampang sedih.
“Kak,” Panggil Andrian pada Dhafin. “Sini, aku pegang tangan kakak.” Tidak ada jawaban. Dhafin hanya menurut.
Langkah mereka kini sampai pada satu kamar yang nyaris tidak ada orang, tidak ada perawat, bahkan tidak ada Dokter.
Dokter Aber mendorong pintu bercat putih itu. Sebelum tangannya kembali mendorong kursi roda Dhafin, Dokter Aber berujar pelan. “Dhafin anak yang kuat. Jangan nangis ya nak.” Kalimat sederhana namun mampu membuat Dhafin membendung air matanya.
Pintu terbuka. Satu sosok terbujur tak berdaya di ranjang pesakitan. Hati Dhafin hancur, nyaris berdiri jika Andrian tidak menyuruhnya tenang dan kembali duduk.
“Kak, Kakak harus kuat.” Ucap Andrian setengah bergetar.
__ADS_1
Ketiganya masih mematung di ambang pintu. Dhafin menatap sosok wanita paruh baya yang telah melahirkannya, berbaring tidak berdaya.
Matanya semakin berkaca-kaca kala kursi rodanya di dorong semakin mendekat ke ranjang sang ibu.
“Ibu..” Panggilnya lirih. Satu bulir air mata berhasil lolos. Andrian bahkan sibuk menyeka air matanya sendiri.
Semakin mendekat, di raihnya tangan sang ibu yang terbebas dari selang infuss. Cukup kaget kala mata sang ibu bergetar dan terbuka perlahan.
“Bu..” Panggilnya sekali lagi. Yang di panggil balas tersenyum. Satu bulir air mata dari mata keriput sang ibu mengalir.
“Anak ibu.” Ucapnya sangat pelan dan lemah.
Dhafin menunduk. Mencium telapak tangan ibunya dan menangis. “Kenapa begini bu? Ayah mana?” Tanya nya.
Tangan keriput itu bergerak pelan mengelus kepala anak sulung nya. “Dhafin anak ibu,” Panggilnya.
Masih dengan tangisannya, Dhafin menegakkan wajahnya dan menatap wajah cantik sang ibu.
“Bu..”
“Nak, ayah udah pergi.” Satu lagi kenyataan yang menghujam jantungnya. Membuat dunia nya runtuh dan hancur berkeping-keping. Ayahnya yang selalu melindunginya berpulang terlebih dahulu.
“Hyera masih belum sadar nak, Hyera koma.” Kenyataan berikutnya ikut menghancurkan hidupnya, lagi. Adiknya yang ia jaga dan ia sayang bahkan di ambang hidup dan mati.
“Ibu kuat bu..” Pintanya.
Senyum kembali terukir di bibir sang ibu. “Mau janji sama ibu?” Gelengan keras menjadi jawaban Dhafin.
“Nggak bu.” Jawab nya. “Nggak mau janji. Mau ibu sembuh aja.” Lanjutnya dengan suara terputus-putus.
“Anak ibu tampan. Anak ibu pintar.” Ucap sang Ibu. “Jaga adek ya sayang. Nggak papa ya besarin adek sendiri. Maaf, ayah sama ibu nggak bisa nemenin kalian sampai tua.”
Dhafin menggeleng hebat. “Ibu jangan bicara macam-macam. Kita besarin Hyera bareng-bareng bu.” Pintanya terus menerus. “Ibu harus kuat.”
Gelengan kecil sebagai jawaban. “Ibu tidak sekuat kamu nak.” Tangan keriput itu menghapus pelan lelehan air mata di pipi putranya. “Jaga Hyera ya sayang. Kalian harus bahagia. Yang rukun ya nak. Kamu harus kuat demi adekmu. Sayang sama Hyera ya. Ibu sama ayah sayang sama kalian.” Dhafin terus menggeleng hebat dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi.
Dhafin menatap mata ibunya dalam. Binar yang selalu menjadi favoritnya itu perlahan memudar. Tertutup sangat pelan hingga hilang untuk selamanya. Hilang dalam kenyataan dan hilang dari hadapan.
Andrian memeluk tubuh Dhafin yang menangis dan memberontak. Memanggil nama ‘ibu’ berkali-kali namun tak pernah ada jawaban lagi. Sampai sekarang, panggilan itu tak pernah tertanggapi.
__ADS_1
Dokter Aber menyuruh beberapa perawat untuk membawa Dhafin dan Andrian keluar. Meski Dhafin terus memberontak, tapi kali ini, dengan tubuhnya yang masih lemah, Dhafin tidak bisa berbuat apa-apa.
Ibunya pergi untuk selamanya, dihadapan dirinya langsung. Dengan senyum dan tatapan terakhir, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat demi memenuhi janjinya pada ibunya.