Send My Letter To Heaven

Send My Letter To Heaven
Antara Hyera dan Kimi


__ADS_3

"Hai?"


Kenzie tersenyum mendengar sapa dari Kimi. Gadis yang sudah di pacarinya selama bertahun-tahun.


Hubungan keduanya terlampau baik. Sangat baik. Selama mereka bersama, keduanya saling melengkapi dan memahami. Hal itu yang membuat hubungan mereka jauh dari kata bertengkar.


"Kok cemberut?"


Kenzie mendongakkan kepalanya. Menatap gadis dengan rambut wig pendek berwarna kecoklatan yang tengah menatapnya dengan binar mata cerah.


Hal itu sontak membuat Kenzie tersenyum lebar.


"Nggak kok. Aku nggak cemberut." Elaknya lalu mengelus pipi Kimi.


"Ada masalah?" Kenzie menggeleng menjawab pertanyaan Kimi.


"Nggak mau jujur?" Pertanyaan kedua membuat Kenzie menimang.


Kembali duduk ke kursinya, lalu tangannya menggenggam tangan Kimi yang terbebas dari selang infuse.


Kanker yang di derita Kimi sempat hilang. Penyakit itu berhasil di sembuhkan oleh Dokter-Dokter hebat. Tapi tak lama masa perginya, kanker itu kembali lagi merusak tubuh Kimi.


Kimi yang tadinya sempat dinyatakan sembuh dari kanker, harus kembali berperang dengan kanker. Tentu, hal itu membuat Kimi sempat drop.


Tapi berkat keberadaan dan semangat yang Kenzie berikan, Kimi masih sanggup melawan kankernya sampai sekarang.


"Aku semalam ke rumah Hyera." Mata Kimi menatap teduh ke arah Kenzie. "Hari ini umurnya 20 tahun. Aku berharap Hyera keluar rumah, setidaknya untuk menghirup udara luar. Tapi Hyera sama sekali nggak keluar rumah. Aku takut Hyera nyakitin dirinya sendiri di dalam rumahnya. Aku takut Hyera berbuat hal gila. Aku..." Kenzie menghentikan ucapannya kala bibir tebal nya di tutup dengan jari telunjuk Kimi.


"Berhenti menakuti sesuatu yang belum tentu terjadi Ken."


Kepala Kenzie menggeleng pelan.


Tangan yang tadi menggenggam tangan Kimi ia lepas.


"Untuk pertama kalinya setelah setahun aku ngeliat Hyera lagi. Setahun Kim. Kita masih di lingkungan yang sama. Rumah kita masih berhadapan. Tapi aku nggak bisa ngeliat wajahnya. Aku nggak bisa nyapa dia dan nggak bisa nanya gimana keadaan dia."


Kenzie tertunduk. Menumpu dahinya dengan kedua tangan yang ia kepal.

__ADS_1


Matanya terpejam. Perasaan menyesal karna tak mengabulkan permintaan terakhir Dhafin membuatnya semakin menyesal. Ditambah melihat ke adaan Hyera semalam yang meniritnya jauh dari kata baik-baik saja semakin menbuatnya menyesal.


Pesan terakhir yang selalu Dhafin utarakan padanya. "jaga adikku, aku percaya kamu." Tapi nyatanya? Kenzie bahkan tak bisa masuk ke rumah untuk memastikan keadaan Hyera.


Tiga tahun setelah kepergian Dhafin. Hyera hidup layaknya orang yang enggan hidup tapi tak mampu untuk mati.


Tak ada lagi binar cerah dari kedua mata bulatnya. Senyum manis merekah yang menjadi candu Kenzie pun tak lagi di tampilkan. Hyera bahkan semakin menutup dirinya dari lingkungan sekitar.


"Aku yakin Hyera bakal baik-baik aja kok." Ada sedikit perasaan sakit saat Kimi mengatakan kalimat itu.


Bukan, bukan karena Kimi berharap hal buruk terjadi pada Hyera. Tidak sama sekali.


Kimi tak mau jadi orang munafik. Dia berharap hal baik terlimpah pada Hyera. Kimi berharap Hyera bisa bangkit dari keterpurukannya.


Kimi hanya... cemburu.


Ini bukan kali pertama Kenzie datang menjenguknya dengan muka masam. Memikirkan Hyera yang tak kunjung keluar rumah. Memikirkan nasib Hyera di dalam rumah yang terkunci. Dan memikirkan kesehatan Hyera.


Jujur, sudah berkali-kali Kenzie mengkhawatirkan Hyera secara terang-terangan di hadapannya. Di awal mungkin Kimi bisa maklum, tapi lama kelamaan Kimi juga merasakan api cemburu di dadanya.


Jika kalian jadi Kimi, apa kalian akan merasakan hal yang sama?


Rasa tak terima kadang selalu muncul.


Kimi tahu, mereka berdua sama-sama kenal dan berteman dari kecil. Tapi apa harus Kenzie khawatir secara terang-terangan di hadapannya?


Apa Kenzie sadar kalau hal itu membuat Kimi sakit hati?


"Ken, boleh tanya sesuatu?" Tak mendongakan kepala sekedar basa-basi, Kenzie hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa merubah posisi kepalanya.


Kimi menghela nafas sembari tersenyum miris. "Kamu suka Hyera?"


Tiga kata yang buat Kenzie langsung mendongak menatap Kimi.


"Pertanyaan apa itu?"


Tawa Kimi lepas kala mendengar pertanyaan balik dan bukan jawaban.

__ADS_1


"Aku cuma tanya Ken. Soalnya kamu khawatir banget sama Hyera." Tawa bisa saja terlontar. Senyum bisa saja terukir. Tapi siapa tahu, hal itu Kimi berikan hanya untuk menutupi rasa sakit hatinya.


"Jangan ketawa. Nggak ada yang lucu."


Ya...bahkan tawa yang Kimi lontarkan bukan tawa kelucuan.


Kimi berdehem. Menyenderkan punggungnya ke bantal yang sudah di susun.


Di depannya ada kaca segi-empat yang mengarah tepat ke wajahnya.


Lamat-lamat Kimi menatap wajahnya yang semakin lama semakin pucat dan rambut palsu yang menjadi hiasan kepalanya.


"Umurku udah nggak lama lagi loh. Tuhan bisa kapan aja ngambil aku. Apa kamu masih nggak mau ngaku?"


"Kamu ini ngomong apa? Kamu pasti sembuh. Percaya sama aku. Tuhan sayang kamu, kamu pernah sembuh, kamu cuma disuruh lebih kuat lagi."


Kimi melirik ke arah Kenzie dan tersenyum miris.


"Kamu nggak tahu rasanya mengidap penyakit mematikan Ken. Apa kamu tahu? Setiap aku menutup mata untuk tidur, aku khawatir esok hari aku tak bisa lagi membuka mata. Aku khawatir Tuhan mencabut nyawaku tepat saat aku tidur."


Kenzie bangkit dari duduknya. Menangkup kedua pipi Kimi dan mengecup dahi Kimi sekilas.


"Kamu pasti sembuh. Percaya sama keajaiban Tuhan, kamu pasti sembuh."


Kimi tersenyum mendengar penuturan Kenzie. "Utarakan perasaanmu yang sejujurnya sebelum aku pergi Ken."


Kenzie menggeleng. "Nggak ada yang perlu di utarain Kim. Aku sayang kamu, kamu tau itu kan?"


Senyum masih tercetak jelas dan tak luntur dari bibir tipis Kimi. "Aku bersyukur kala Tuhan memberikan cinta terindah padaku. Aku bersyukur saat aku tahu ceritaku lebih indah dari cerita Hyera. Aku bersyukur meskipun aku sakit parah, tapi kedua orang tuaku masih utuh, temanku masih banyak, dan aku punya cinta kaya kamu, aku bersyukur Ken."


Senyum tipis Kenzie ukir mendengar penuturan Kimi.


"Tapi aku nggak bisa kaya gini terus." Dahi Kenzie berkerut. "Aku tahu kamu nggak cinta sama aku. Aku tahu kamu lebih sayang Hyera daripada aku."


Kenzie terdiam mendengar penuturan Kimi.


Tak sekali Kenzie bertanya pada hatinya, apa selama ini dirinya memang menyukai Hyera?Atau hanya sekedar peduli?

__ADS_1


Kimi tersenyum semakin lebar saat Kenzie hanya diam dan tak bisa membalas kata-katanya.


"Beritahu aku kalau Hyera keluar dari rumahnya. Ada banyak hal yang mau aku sampaiin ke dia. Ada banyak hal yang mau aku tunjukin ke dia." Kenzie menatap dalam ke arah bola mata Kimi. "Jangan khawatir, aku nggak akan nyakitin Hyera. Aku cuma berharap, Hyera segera keluar rumah sebelum Tuhan mencabut nyawaku."


__ADS_2