
Kata orang, ada beberapa hal yang tidak
bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ada hal yang hanya perlu dipahami tanpa perlu
di mengerti. Apa bedanya? Sebuah frasa yang sampai saat ini aku pun juga masih
tidak mengerti apa maksudnya.
Aku menyukai, tapi kata orang suka atau
cinta tidak perlu memiliki.
Pandangan orang itu berbeda, tapi karena
terlalu sering diucapkan sebagai kata penyemangat, beberapa masyarakat
menganggapnya sama dan melupakan pandangannya sendiri.
Mirip seperti ‘bahasa’. Setiap Negara,
daerah, bahkan pergaulan, mereka punya beragam bahasa. Diciptakannya bahasa itu
dari apa? Sampai sekarang aku bahkan belum tahu siapa pencipta bahasa pertama
kali. Kenapa ‘a’ bisa disebut ‘a’ dan kenapa urutan alphabet harus a-z. Jika kalian tahu, tolong beritahu
aku.
Bahasa itu investasi buatan manusia tanpa
dasar hubungan sejarah tertentu dan langsung di – iya – in oleh semua orang dan
dipakai untuk komunikasi sampai sekarang. Tidak ada alasan mengapa ‘a’ berbunyi
‘a’ lalu mengapa simbol ‘a’ tulisannya harus ‘a’ dan mengapa ‘a’ berada
diurutan pertama.
Kita bisa saja mengubah ‘a’ menjadi urutan
terakhir. Mengacak alphabet sesuai yang kita mau dan seharusnya hal itu bukan kesalahan,
hanya saja tidak akan sesuai dengan apa yang sudah berlaku di masyarakat.
Sama seperti orang yang berfikir tentang
‘cinta tidak harus memiliki’, atau ‘bahagia tidak harus dengan dia’ maksutnya
ungkapan semangat di balik sesal saat melihat ‘dia’ yang kita suka bahagia
dengan orang lain dan kita berpura-pura mendukung nya dengan dalil ‘aku bahagia
asal dia bahagia’. Kurasa sedikit munafik. Menganggap diri baik-baik saja
nyatanya sebaliknya.
Urutan cinta dan bahagia tidak bisa disatu
artikan karena mereka hanya berjalan berdampingan. ‘Aku cinta tapi tidak bahagia’ ada yang merasakan ini, dan ada yang merasakan ‘aku bahagia karna caranya tapi aku belum mencintainnya’.
Kekanakan bukan, membahas cinta dan bahagia dalam artian satu garis yang ternyata bisa saja garis itu melengkung atau terputus
di tengah.
Urusan cinta biar masing-masing dari kita
__ADS_1
yang menjabarkan. Semua punya pendapat masing-masing baik dari aku, kamu atau
mereka.
Tapi bahagia, satu kata yang sebenarnya
sederhana.
Bahagia itu tidak bisa diukur dari apa yang
kita miliki. Aku mendapatkan cintaku, tapi belum tentu aku dapat kebahagiaanku.
Tapi, bahagia bisa diukur dari rasa syukur
tentang apa yang di gapai dan di miliki. Sebesar apa rasa syukur kita, maka
seiring berjalannya waktu bahagia tulus akan datang pada kita.
Sesederhana itu, dan sesimpel itu.
Beberapa orang beranggapan frasa itu
termasuk hal yang berat, susah, dan tidak sesederhana apa yang baru saja aku katakan.
Bukan. Aku tidak akan menyalahkan. Semua
punya pandangan masing-masing. Aku hanya ingin memberitahu tentang istilah yang
aku yakin sudah banyak orang tahu.
Di atas kain putih, ada satu titik di
tengah dengan warna hitam. Kebanyakan orang akan terpaku dengan titik
Kita terlalu terpaku pada sesuatu hal yang
buruk ketimbang pada hal yang menyenangkan. Kita terlalu hilang percaya diri padahal kalau sedikit lebih berani, mungkin kesempatan dan keberuntungan akan jauh lebih memihak.
Terlalu terpaku pada masalah hidup sampai lupa bahwa ada detik-detik menyenagkan berharga yang terlewat begitu saja.
Ada waktu dimana manusia terlalu terbuai
dengan hal yang kurang menyenangkan. Jika dibayangkan dengan detik yang terlewat harusnya kita bisa mengisinya dengan hal yang berharga dan membahagiakan.
Ada banyak detik yang terlewat begitu saja,
kita tidak menyadari, tapi suatu saat, ketika kita kehilangan detik itu, lalu kita baru menyadari seberapa berharga satu detik yang kita lewatkan nantinya. Kita akan bertemu sapa dengan kata penyesalan.
Semua tahu, penyesalan datang selalu di
akhir, dan itu memang kenyataan adanya.
Tapi di setiap penyesalan, ada pelajaran
yang bisa kita ambil dan mungkin bisa diperbaiki di detik-detik selanjutnya.
Karena disetiap detik yang disesali akan ada detik lain yang disyukuri.
Beberapa beranggapan, terkadang semesta
kurang begitu memihak pada kita. Jika kita mampu menyadari setiap detik yang
berjalan, kita akan tahu bahwa semesta mungkin memihak pada kita. Satu detik
itu berharga. Jika terlewat akan sangat disayangkan. Bukankah lebih baik kita
__ADS_1
bersyukur saja agar detik yang menurut kita tak berguna diganti dengan
detik-detik berguna lainnya.
Kenapa hanya satu detik? Karena detik
itulah yang nanti akan berubah menjadi menit, jam dan hari yang akan kita
lewati sampai Pencipta menyuruh kita kembali.
.
.
.
.
.
***
.
.
.
.
.
“Kamu tidak pernah absen datang ke sini.”
Aku tersenyum ke arah laki-laki yang
menjadi saksi setengah perjalanan hidupku. Tidak menjawab apa yang jadi
pernyataannya. Aku kembali menatap nisan-nisan yang ada di hadapanku. Mengelus dengan
sayang seolah wujud nyatanya ada di hadapanku.
“Rindu ya?” Tanya nya lagi dan aku
mengangguk.
“Mereka bahagia disana.” Ucapnya untuk
menenangkanku, dan aku tahu itu.
“Suatu saat, apa aku punya kesempatan
berkumpul dengan mereka lagi?” Tanyaku sembari menatap dua mata dengan binar
indah yang selalu menjadi favoritku.
Laki-laki itu tersenyum sampai dua matanya
berbentuk seperti bulan sabit. Tangan besarnya mengelus pucuk kepalaku.
“Akan ada waktu, dimana kita semua bisa
berkumpul kembali tanpa ada yang tersakiti.”
Aku menunggu waktu itu tiba.
__ADS_1