Send My Letter To Heaven

Send My Letter To Heaven
Cinta (=) Bahagia


__ADS_3

Kata orang, ada beberapa hal yang tidak


bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ada hal yang hanya perlu dipahami tanpa perlu


di mengerti. Apa bedanya? Sebuah frasa yang sampai saat ini aku pun juga masih


tidak mengerti apa maksudnya.


Aku menyukai, tapi kata orang suka atau


cinta tidak perlu memiliki.


Pandangan orang itu berbeda, tapi karena


terlalu sering diucapkan sebagai kata penyemangat, beberapa masyarakat


menganggapnya sama dan melupakan pandangannya sendiri.


Mirip seperti ‘bahasa’. Setiap Negara,


daerah, bahkan pergaulan, mereka punya beragam bahasa. Diciptakannya bahasa itu


dari apa? Sampai sekarang aku bahkan belum tahu siapa pencipta bahasa pertama


kali. Kenapa ‘a’ bisa disebut ‘a’ dan kenapa urutan alphabet  harus a-z. Jika kalian tahu, tolong beritahu


aku.


Bahasa itu investasi buatan manusia tanpa


dasar hubungan sejarah tertentu dan langsung di – iya – in oleh semua orang dan


dipakai untuk komunikasi sampai sekarang. Tidak ada alasan mengapa ‘a’ berbunyi


‘a’ lalu mengapa simbol ‘a’ tulisannya harus ‘a’ dan mengapa ‘a’ berada


diurutan pertama.


Kita bisa saja mengubah ‘a’ menjadi urutan


terakhir. Mengacak alphabet sesuai yang kita mau dan seharusnya hal itu bukan kesalahan,


hanya saja tidak akan sesuai dengan apa yang sudah berlaku di masyarakat.


Sama seperti orang yang berfikir tentang


‘cinta tidak harus memiliki’, atau ‘bahagia tidak harus dengan dia’ maksutnya


ungkapan semangat di balik sesal saat melihat ‘dia’ yang kita suka bahagia


dengan orang lain dan kita berpura-pura mendukung nya dengan dalil ‘aku bahagia


asal dia bahagia’. Kurasa sedikit munafik. Menganggap diri baik-baik saja


nyatanya sebaliknya.


Urutan cinta dan bahagia tidak bisa disatu


artikan karena mereka hanya berjalan berdampingan. ‘Aku cinta tapi tidak bahagia’ ada yang merasakan ini, dan ada yang merasakan ‘aku bahagia karna caranya tapi aku belum mencintainnya’.


Kekanakan bukan, membahas cinta dan bahagia dalam artian satu garis yang ternyata bisa saja garis itu melengkung atau terputus


di tengah.


Urusan cinta biar masing-masing dari kita

__ADS_1


yang menjabarkan. Semua punya pendapat masing-masing baik dari aku, kamu atau


mereka.


Tapi bahagia, satu kata yang sebenarnya


sederhana.


Bahagia itu tidak bisa diukur dari apa yang


kita miliki. Aku mendapatkan cintaku, tapi belum tentu aku dapat kebahagiaanku.


Tapi, bahagia bisa diukur dari rasa syukur


tentang apa yang di gapai dan di miliki. Sebesar apa rasa syukur kita, maka


seiring berjalannya waktu bahagia tulus akan datang pada kita.


Sesederhana itu, dan sesimpel itu.


Beberapa orang beranggapan frasa itu


termasuk hal yang berat, susah, dan tidak sesederhana apa yang baru saja aku katakan.


Bukan. Aku tidak akan menyalahkan. Semua


punya pandangan masing-masing. Aku hanya ingin memberitahu tentang istilah yang


aku yakin sudah banyak orang tahu.


Di atas kain putih, ada satu titik di


tengah dengan warna hitam. Kebanyakan orang akan terpaku dengan titik


Kita terlalu terpaku pada sesuatu hal yang


buruk ketimbang pada hal yang menyenangkan. Kita terlalu hilang percaya diri padahal kalau sedikit lebih berani, mungkin kesempatan dan keberuntungan akan jauh lebih memihak.


Terlalu terpaku pada masalah hidup sampai lupa bahwa ada detik-detik menyenagkan berharga yang terlewat begitu saja.


Ada waktu dimana manusia terlalu terbuai


dengan hal yang kurang menyenangkan. Jika dibayangkan dengan detik yang terlewat harusnya kita bisa mengisinya dengan hal yang berharga dan membahagiakan.


Ada banyak detik yang terlewat begitu saja,


kita tidak menyadari, tapi suatu saat, ketika kita kehilangan detik itu, lalu kita baru menyadari seberapa berharga satu detik yang kita lewatkan nantinya. Kita akan bertemu sapa dengan kata penyesalan.


Semua tahu, penyesalan datang selalu di


akhir, dan itu memang kenyataan adanya.


Tapi di setiap penyesalan, ada pelajaran


yang bisa kita ambil dan mungkin bisa diperbaiki di detik-detik selanjutnya.


Karena disetiap detik yang disesali akan ada detik lain yang disyukuri.


Beberapa beranggapan, terkadang semesta


kurang begitu memihak pada kita. Jika kita mampu menyadari setiap detik yang


berjalan, kita akan tahu bahwa semesta mungkin memihak pada kita. Satu detik


itu berharga. Jika terlewat akan sangat disayangkan. Bukankah lebih baik kita

__ADS_1


bersyukur saja agar detik yang menurut kita tak berguna diganti dengan


detik-detik berguna lainnya.


Kenapa hanya satu detik? Karena detik


itulah yang nanti akan berubah menjadi menit, jam dan hari yang akan kita


lewati sampai Pencipta menyuruh kita kembali.


.


.


.


.


.


***


.


.


.


.


.


“Kamu tidak pernah absen datang ke sini.”


Aku tersenyum ke arah laki-laki yang


menjadi saksi setengah perjalanan hidupku. Tidak menjawab apa yang jadi


pernyataannya. Aku kembali menatap nisan-nisan yang ada di hadapanku. Mengelus dengan


sayang seolah wujud nyatanya ada di hadapanku.


“Rindu ya?” Tanya nya lagi dan aku


mengangguk.


“Mereka bahagia disana.” Ucapnya untuk


menenangkanku, dan aku tahu itu.


“Suatu saat, apa aku punya kesempatan


berkumpul dengan mereka lagi?” Tanyaku sembari menatap dua mata dengan binar


indah yang selalu menjadi favoritku.


Laki-laki itu tersenyum sampai dua matanya


berbentuk seperti bulan sabit. Tangan besarnya mengelus pucuk kepalaku.


“Akan ada waktu, dimana kita semua bisa


berkumpul kembali tanpa ada yang tersakiti.”


Aku menunggu waktu itu tiba.

__ADS_1


__ADS_2