Send My Letter To Heaven

Send My Letter To Heaven
A Million Dreams


__ADS_3

Ada dua tujuan kenapa aku datang kesini. Yang pertama bertemu dengan anak-anak pengidap cancer seperti biasanya. Dan yang kedua, aku datang untuk bertemu salah satu Dokter yang bersedia untuk membuat janji padaku serta memberiku sedikit penjelasan.


Bukan konsultasi perihal telingaku, atau konsultasi tentang kesehatanku. Intinya bukan tentang aku.


Ingat obat-obatan yang di simpan kakak ku dan di konsumsi kakak ku yang selalu menghantui rasa penasaranku? Ya... Hal itu yang membuat ku datang kesini dan menemui Dokter. Aku terlalu takut kakak ku kenapa-kenapa karena dia mengkonsumsi obat sebanyak itu. Terlalu lancang aku ikut campur sampai harus mencari bukti nya sendiri. Dan insting ku menyuruhku untuk datang ke rumah sakit dan memeriksa obat itu sendiri.


Beralasan datang demi menemui anak-anak cancer. Padahal niat utamaku bertemu Dokter Kang dan berkonsultasi obat apa yang selama ini di konsumsi Kak Dhafin.


Tadinya aku ingin datang ke ruangan Dokter Aber. Tapi sebelum niatku mengajakku kesana, aku sudah yakin Dokter Aber tidak akan jujur dan memberitahuku perihal kesehatan Kak Dhafin.


Kak Dhafin baik, Kak Dhafin ceria, Kak Dhafin sehat. Hal itu yang selama ini selalu tampak di depan mataku, sampai aku tidak memikirkan jikalau kakak ku sakit dan terluka.


Terlalu banyak beban yang ia alami semenjak ia kecil sampai sekarang. Meski Kak Dhafin tidak pernah mengeluh, tapi aku yakin dia pernah bahkan sering merasa lelah.


Hampir satu jam aku berdiam di ruangan Dokter Kang. Waktu yang lama hanya untuk menyadarkan ku dari derita yang selama ini membelenggu kakak ku.


Aku adik yang bodoh. Sangat tidak bisa memahami kakaknya. Tidak tahu kondisi kakaknya. Aku terlaru larut dalam kesedihan ku sendiri. Terlalu larut dalam kecacatan yang mengambil alih duniaku.


Sementara Kak Dhafin terlalu sibuk menyemangatiku. Membuat hari-hari ku berwarna, dan membuatku bangkit dari keterpurukan sampai dia mengabaikan dirinya sendiri.


Dengan perasaan hancur aku melangkah keluar ruangan. Kembali menoleh pada pintu bercat putih yang baru saja ku masuki.


Aku menengadah menatap langit-langit rumah sakit. Satu air mata kembali turun saat pikiranku kembali berputar pada perkataan Dokter Kang tadi.


Aku meremat kuat dadaku yang terasa nyeri. Aku butuh seseorang sekarang. Aku takut, aku tidak bisa menghadapi ini sendiri. Aku tahu semua sangat sulit untuk kakak ku. Dan aku bingung, bagaimana dia bisa terus tersenyum dengan beban berat yang selama ini ia pikul?


Kakiku terasa berat untuk melangkah tapi terlalu lemah untuk di ajak berdiri. Dokter Kang bahkan terlampau jelas menjelaskan padaku detail obat yang di konsumsi Kak Dhafin juga perkiraannya mengenai penyakit yang bersarang di tubuh Kak Dhafin.


Tubuhku semakin meremang membayangkan betapa menderitanya Kak Dhafin selama ini. Aku takut. Aku hanya punya Kak Dhafin, tolong izinkan kami terus bersama sampai akhir.


“Hyera?”


Buru-buru aku menghapus air mataku. Berganti dengan senyuman tipis meski nyatanya hatiku perih.


“Hai.” Ucapku sambil tersenyum memaksa ke arah Kenzie.


Bisa ku lihat dari tempat ku berdiri, anak itu mengernyitkan dahi. Mendekat perlahan lalu mengusap sisa air mata yang masih menempel di sudut mataku.


“Menangis? Kenapa?”


“A-ahh ini…” Aku mengusap wajahku kasar. “Bukan air mata kok. Tadi aku habis cuci muka. Airnya belum kering hehe.” Alasanku sambil nyengir kelinci kearah Kenzie.


“ Ada apa?” Percuma sebenarnya berbohong pada nya. Nyatanya, anak itu susah sekali di bohongi.


“Tidak ada apa-apa.” Yakinku masih dengan senyum palsuku.


Kenzie menghela nafas pelan. Mengusap kepala ku pelan dan berkata, “Ada aku disini. Kalau ada hal yang mengganggumu, ceritakan padaku.”


Iya ada.


Ada Ken.


Ada hal yang menggangguku saat ini.


Tentang kakak ku. Kakak ku tidak baik-baik saja, dan aku takut.


Tolong semangati aku. Tolong beritahu aku semua hal baik yang akan ku dapatkan di kemudian hari. Tolong suruh aku tenang dan bersabar. Tolong beri aku semangat agar aku berani menemui Kak Dhafin setelah ini dan memeluknya erat juga menjaga dan merawatnya.


Tolong katakan semua hal positif agar aku bisa semangat menerima beban demi beban yang di beri pencipta setiap hari.


Tolong, peluk aku sebentar.

__ADS_1


Sayangnya aku terlalu pengecut untuk mengatakan itu semua. Memilih bungkam, tidak mau terbuka barang sedikitpun.


Banyak orang bicara, katanya pencipta memberi kita cobaan seimbang dengan kekuatan kita. Tapi nyatanya apa? Pencipta terus memberi cobaan di luar batas kemampuanku. Padahal aku ingin berteriak ‘berhenti, tolong aku tidak sanggup lagi’.


Semua sudah ku adukan pada pencipta, tapi mungkin pencipta belum mendengar aduanku. Atau amal ku yang masih kurang untuk menunjang doa ku selama ini?


Aku tersenyum ke arah Kenzie. Meyakinkan anak itu agar berhenti khawatir padaku. Aku tidak ingin melibatkan Kenzie pada masalahku terlalu jauh meski nyatanya aku memang membutuhkan nya.


Untuk saat ini biar aku coba menanggung semuanya dulu. Aku bisa, meski tidak tahu sampai kapan aku bisa menahannya.


“Mau bergabung dengan anak-anak?”


Mataku melirik ke arah kumpulan anak-anak yang sibuk bermain dengan Kak Andrian.


Kak Andrian sangat aktif mengajak mereka bermain. Kak Andrian baik, mau berbagi dan bermain tanpa membedakan status derajat atau status kesehatan. Cita-cita nya ingin menjadi seorang Dokter, katanya. Dia ingin menyembuhkan semua orang yang sakit. Meski sembuh bukan kehendaknya, setidaknya ia ada untuk mereka yang kesakitan dan membutuhkan bantuan. Menemani hingga mereka yang sakit tidak merasa kesepian.


Seperti sekarang contohnya. Kak Andrian aktif bermain dengan anak-anak pengidap cancer. Menyanyi bersama mereka juga mengajari mereka melukis dan mewarnai.


Berkat Kak Andrian juga lah aku merasa tidak kesepian lagi.


Kenzie mengambil satu tempat di samping Kak Andrian. Tangannya memegang gitar dan menepuk bangku di sampingnya, menyuruhku untuk duduk.


Aku tersenyum dan duduk di samping nya. Berada di tengah antara Kenzie dan Kak Andrian.


Kak Andrian memberitahu anak-anak untuk diam sebentar. Katanya, kita akan memberi penampilan sedikit untuk mereka. Kak Andriam yang akan bertepuk tangan dan mengawasi anak-anak, Kemzie yang akan bermain gitar, sementara aku yang akan bernyanyi.


Aku tidak jago menyanyi. Kak Andrian lebih jago dari pada aku. Suaranya sangat lembut dan bagus. Meski suaraku tidak sebagus Kak Andrian, tapi dia selalu menyuruhku menyanyi. Katanya, itu bisa sedikit meredakan gejolak emosi tak karuanku juga bisa menaikkan mood ku.


Aku tersenyum saat melihat Kak Andrian dengan telaten menyuruh anak-anak diam. Tidak tahu sampai kapan aku akan berada di samping mereka. Tidak tahu sampai kapan aku bisa berdiri menyaksikan Kak Andrian di nobatkan menjadi Dokter hebat. Tidak tahu sampai kapan aku bisa melihat Kenzie tersenyum ke arahku. Semuanya akan kembali. Dan jalan takdir tidak ada yang tahu.


Tapi aku tahu satu hal. Aku tahu satu hal yang akan aku lakukan untuk menyudahi semua penderitaan ini.


Kenzie mulai mengetuk gitarnya. Mengalihkan semua atensi anak-anak yang masih sibuk sendiri dengan dunianya. Aku dan Kenzie tersenyum lembut saat mata mereka menatap kami penuh nikmat, juga Kak Andrian yang tersenyum karena berhasil menenangkan anak-anak.


Aku mulai bernyanyi. Salah satu lagu yang berjudul ‘A Million Dreams’ lagu yang sering aku nyanyikan dengan anak-anak pengidap cancer.


Atensi mereka semua ke arahku.aku bisa merasakan sorot mata mereka. Aku bisa merasakan tatapan teduh mereka. Aku tersenyum dengan mata terpejam dan nada ku berhasil masuk dengan musik Kenzie. Aku mulai bernyanyi pelan.


( Play A Million Dreams cover by Alexandra Porat )


I close my eyes and I can see


A world that’s waiting up for me


That I call my own


Sedikit demi sedikit aku membuka mataku dan menatap mereka yang masih setia menatap ke arah ku.


Trough the dark, trough the door


Trough where no one’s been before


But it feels like home...


Aku menatap bagaimana cerahnya mata mereka menatapku. Aku bahkan bisa merasakan bagaimana mereka ikut terhanyut dalam lagu yang aku nyanyikan.


They can say, they can say it all sounds crazy


They can say, they can say I’ve lost my mind


I don’t care, I don’t care, so call me crazy

__ADS_1


We can live in a world that we design...


Aku tidak sempurna di mata mereka. Dan mereka pun sama, tidak sempurna karena cancer yang bersarang di tubuh mereka.


Seperti kata Kak Dhafin dan Pak Sam. Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Semua orang cacat. Meski cacat nya mereka tidak nampak di depan mata.


Mereka dengan gampang mencibir jijik ke arahku yang cacat. Mereka dengan gampang meneriakiku karna aku tidak bisa mendengar. Jika aku bisa, aku ingin berteriak pada mereka. Apa yang akan mereka lakukan jika mereka di posisiku?


Seenaknya mengataiku caacat. Seenaknya mengejekku karena aku bereda. Apa ini semua keinginanku? Mereka yang sempurna dengan dua pendengaran pun kadang suka menulikan pendengaran mereka saat ada perintah untuk tidak duuduk di tempat bangku yang di sediakan untuk para penyandang cacat. Sesimpel itu dan mereka menulikan pendengaran juga membutakan penglihatan nya.


‘Cause every night I lie in bed


The brightest colors fill my had


A million dreams are keeping me awake


I think of what the world could be


A vision of the one I see


A million dreams is all it’s gonna take


A million dreams for the world we’re gonna make...


Mereka, anak-anak pengidap cancer yang baru berusia 6 tahun sampai 10 tahunan. Mereka masih kecil. Sagat kecil untuk merasakan hal yang sangat menyakitkan.


Sebuah penyakit ganas yang bersarang di tubuh mereka. Merasakan sakit setiap hari tanpa ada yang bisa meredakannya. Anak-anak seusianya bahkan berlari dan bermain dengan bebas di luar sana. Mereka bermain dengan sangat bebas dan tersenyum lebar di luar sana tanpa beban. Sementara mereka yang berada di depanku?


Mereka semua punya mimpi. Sama seperti mereka di luar sana. Mereka punya mimpi yang ingin mereka wujudkan. Tapi impian mereka tertahan dengan kenyataan pahit tentang maut yang mengintai mereka dan penyakit yang bisa membawa mereka menghadap sang pencipta kapan saja.


Mereka anak-anak yang di hadapanku sangat semangat untuk sembuh. Meski sesekali mereka mengeluh tapi kobaran semangat mereka tidak pernah luntur.


Aku harus bisa seperti mereka. Lebih jika perlu. Aku harus semangat, untuk kakak ku. Aku harus bangkit untuk kakak ku.


Pernah dengar istilah, ‘sejauh apapun kamu berlari, kamu akan tetap kembali ke rumah mu?’


Dan ya… sejauh apapun aku menampik kabar mengenai kehidupan aku dan kakak ku, ujung nya pun semua akan berakhir pada kakak ku. Dan aku akan berusaha mengalihkan semua penderitaan kakak ku pada kehidupan ku. Biar aku saja, jangan kakak ku.


Kak Dhafin rumahku. Sampai kapan pun begitu. Ada banyak wishlist yang sudah ku susun untuk bersenang-senang dengannya. Ada banyak hal yang ingin aku coba bersamanya. Berdua, bersama kakak ku. Dan jika ingin bersama Kenzie juga, mungkin.


Jika tidak ada Kimi aku mungkin bisa mengajak Kenzie. Tapi berhubung ada Kimi, aku ragu mengajaknya menikmati hari-hari ku ini.


Lagu berakhir dan mereka bertepuk tangan. Kak Andrian tersenyum dan menghampiri kami. Memelukku, dan beralih memeluk Kenzie.


“Kerja bagus.” Ucapnya.


Aku tersenyum menanggapi. Kak Andrian membawa anak - anak kembali ke kamar nya. Sudah waktunya mereka untuk kembali beristirahat.


“Suaramu bagus, seperti biasa.” Puji Kenzie dan aku tersenyum mendengarnya.


“Terimakasih. Musikmu juga indah.” Percakapan macam apa ini? Kenapa canggung sekali?


“Boleh menggenggam tangan mu?” Sedikit kaget namun aku tetap menganggukkan kepala.


Tangan Kenzie menggenggam tanganku erat. Matanya menatap mataku teduh. Bibirnya tersenyum. Dan aku masih belum biasa dengan perlakuan manis Kenzie seperti ini.


“Boleh kan aku menggenggam tangan ini sampai seterusnya? Bolehkan aku tetap menatap mata mu seperti ini sampai seterusnya?”


Aku diam. Masih mencerna ucapan Kenzie. Maksutku, jika Kenzie berkata dan berperilaku seperti ini padaku, apa tidak kasihan dengan hatiku?


“Kamu tersenyum seperti ini pada ku sampai nanti pun sudah sangat membuatku bersyukur.”

__ADS_1


Dan ya… aku tidak berbohong. Cukup senyum nya saja yang aku miliki jika aku tidak bisa memiliki orangnya. Cukup senyumnya, dan aku bahagia.


Terimakasih, Kenzie Masashi.


__ADS_2