
Air mata keluar tertahan. Rasanya sakit. Seolah duniaku terbelah dan menimpaku secara utuh. Baru beberapa menit aku mengatakan “rela” pada nasib Kak Dhafin. Entah akan diberi kesembuhan dengan bangun dan kembali hidup denganku, atau kesembuhan namun kembali pada pencipta. Baru saja aku merelakan nasibnya, dan Dokter memanggilku. Memberitahuku bahwa kondisi Kak Dhafin semakin memburuk.
Lebih menyakitkan lagi saat aku butuh seseorang untuk tempatku bersandar, namun tak satupun yang muncul untuk merangkulku.
Kak Andrian, entah orang itu pergi kemana.
Kenzie, dari tadi aku hubungi namun tak kunjung memberi balasan.
Lucu sekali. Dunia begitu kompak meninggalkanku saat aku tak sanggup berdiri sendiri. Mereka merencanakan semuanya dengan sangat epic hingga berhasil membuatku geleng kepala.
Lucu, sangat sangat lucu.
Dengan sisa kekuatan yang ku punya, aku melangkahkan kakiku masuk ke ruang rawat Kak Dhafin. Menatap badan kokoh yang saat ini terbujur tak berdaya. Menyeret pelan kedua kakiku untuk semakin mendekat. hancur. Satu kata itu muncul kala wajah Kak Dhafin semakin nampak di pelupuk mataku.
Kedua tangan ku tergerak menggenggam tangan pucat Kak Dhafin. Masih sama, tak ada pergerakan. Dan tak lama, ponsel ku bergetar di saku hoodie pink ku.
Menghapus deretan air mata di pipi, aku memaksa tanganku merogoh benda pipih yang beberapa saat tadi berbunyi.
Satu notifikasi yang mampu membuat ku tersenyum kecut.
Dari Kenzie, yang berbunyi, "Ada apa Ra? Aku sedang menemani Kimi ke Danau."
__ADS_1
Senyum kecut kembali terukir. Bodoh, umpat ku dalam hati. Bagaimana aku bisa lupa kalau Kenzie punya Kimi? Harusnya aku tak berharap anak itu datang. Harusnya aku tak berharap lebih pada kedatangan anak itu. Bukannya sudah jelas, Kimi yang akan lebih menang dariku.
Aku hanya gadis yang menyedihkan yang hidup berparasit di kehidupan anak itu. Menyesal rasanya sudah mengharapkan kedatangannya. Nyatanya, aku bukanlah sesuatu yang harus di prioritaskan.
Masalah kenal lama, teman lama, tak akan merubah status di antara kita, pun juga perasaan diantara kita. Ia akan tetap dengan rasanya untuk Kimi, dan aku akan tetap berdiri disini dengan kesedihanku.
Apa yang bisa diharapkan dari seorang yang cacat sepertiku?
Tidak ada.
Tau dirilah, tidak ada yang bisa kubanggakan sama sekali.
Sampai kapan pun, aku akan tetap jadi yang tak terpenting dalam hidupnya.
Kepala ku menoleh ke arah suara pintu yang di dorong. Mataku menatap dua orang yang seperti berlari cukup jauh. Lagi, senyum kecut kuhadiahkan untuk kedatangan dua orang itu.
"Kenapa datang?" Tanyaku pada satu sosok yang berdiri di belakang Kak Andrian. "Bukannya lagi pergi sama Kimi?"
Alis Kenzie menyatu. "Tadi Kak Andrian telpon, dan aku langsung ke sini bareng-bareng."
"Ohh.." Ucapku singkat, lalu membuang muka. "Lain kali tak usah di paksa kalau tak bisa kesini. Aku tak memaksa kamu untuk datang."
__ADS_1
"Kamu butuh aku." Kepalaku menoleh cepat. menatap Kenzie dan terkekeh pelan mendengar penuturannya.
"Maaf, kata siapa aku butuh kamu?" Sedikit kasar mungkin, tapi aku tak peduli.
"Aku tak pernah membutuhkanmu." Tubuhku berdiri menghadap Kenzie. "Silahkan pergi, dan silahkan lanjutkan kehidupanmu."
Kedua orang itu - Kenzie dan Kak Andrian - sedikit tercengang mendengar penuturanku.
"Hyera, jangan bicara begitu." Kak Andrian maju mengelus pundakku pelan.
"Kan memang benar. Aku tuh cuman parasit yang ganggu kehidupan dia. Logikanya, kenapa juga dia yang normal mau bergelut dengan kehidupan orang cacat dan menyedihkan sepertiku? Buat apa? Tidak ada gunanya kan? Orang waras juga tak akan mau berlama-lama tinggal dan direpotkan dengan orang cacat sepertiku."
"Hyera, bicara apa kamu?" Kak Andrian berbisik pelan. Sementara anak itu masih diam dengan tatapan yang sulit diartikan mengarah ke arahku.
"Bicara kenyataan yang mungkin sebenarnya dia rasakan."
Kedua tangan Kenzie mengepal. Matanya nyalang menatap ke arahku. Aku tahu, anak itu marah saat ini.
"Ra, kamu boleh menilai ku semaumu. Tapi demi Tuhan aku tidak pernah berfikiran seperti itu ke kamu. Aku tak pernah merasa di repotkan atau merasa risih di sekitarmu. Aku tak pernah..."
"Sudahlah Ken. Kamu bisa jauh lebih bahagia tanpa ku. Pergi, dan mari kita akhiri pertemanan kita ini."
__ADS_1
"Hey kalian ini apa-apaan? Kenapa emosi seperti ini?"
Kak Andrian menengahi pembicaraan ku dengan nya, yang justru malah membuat ku semakin muak dengan keadaan ini. Sudah cukup pikiranku bercabang antara hati dan kehidupan Kak Dhafin. Tak mau lagi berperang dengan perasaan konyol. Jadi, biar aku yang pergi dan meninggalkan perasaan percuma ku ini. Aku akan pergi dengan semua perasaan yang lama ku simpan dari awal berjumpa dengan sosok yang sangat ku cinta ini.