Send My Letter To Heaven

Send My Letter To Heaven
Apa Aku Kurang Bersyukur?


__ADS_3

Dadaku rasanya sesak. Aku merasa sakit saat aku menatap mata Kimi. Mata itu memancarkan sorot yang sangat menyakitkan. Apa selama ini secara diam aku benar-benar menyakitinya? Apa keberadaan ku di antara mereka sebuah kesalahan?


Kulangkahkan kakiku keluar lebih jauh dari area rumah sakit. Jalan besar tepat di depan mataku. Persetan dengan semua obrolan ku tadi. Aku hanya ingin sampai rumah dan mengakhiri cerita ini hari ini.


Amarah tiba-tiba datang merasuki jiwaku. Ada apa ini? Kenapa aku marah?


Mengingat semua kesedihan yang telah menimpaku, kenapa perkataan Kimi seolah menyudutkan kalau aku kurang bersyukur? Apa yang perlu ku syukuri?


Cacat?


Yatim piatu?


Sebatang kara?


Pikiranku lagi-lagi berperang.


Dunia apa tidak lelah bermain-main dengan hidupku? Apa kalian pernah berfikir menjadi orang yang paling menyakitkan di muka bumi ini? Jika ia, maka kalian merasakan apa yang aku rasakan sekarang.


Menjadi seorang yang paling menyakitkan.


“Hyera!”


Suara lantang itu lagi-lagi memanggil namaku. Aku muak. Kenapa dia terus muncul dihadapanku. Kenapa Kenzie selalu ada di sekelilingku?


Kebetulan?


Oh jelas tidak. Dari awal memang anak itu selalu muncul dimana pun aku berada. Entah kebetulan atau memang dia mengikuti ku. Hal itu membuatku kembali teringat dengan perkataan Kimi.


“Hyera! Kamu mau kemana?!”


Kenapa? Itu urusanku. Tak ada satupun orang yang bisa menghentikanku berlari.


“Hyera! Berhenti!”


Sihir itu lagi-lagi datang. Aku heran, kenapa setiap Kenzie menyuruh ku berhenti aku langsung berhenti? Aku benci dengan diriku yang penurut.


“Apa lagi?!” Biar ku ulangi, aku sedang marah sekarang. Jadi jangan heran kalau aku tiba-tiba membentak.


“Kenapa jalan cepat begitu? Ngejar apa?”


Ekor mataku melirik jalanan yang nampak ramai dari biasanya. “Ngejar kamu. Puas?”


Mungkin Tuhan sedang berbaik hati. Menyuruhku untuk mengakui perasaan ku yang sesungguhnya padanya. Toh, Kimi sudah tau tentang perasaan ku Kenzie.


“Kenapa manggil namaku? Kenapa ngejar aku? Ini kana arah pulang, arah kerumah sakit ada di belakang mu. Kamu mau jenguk pacarmu kan? Yaudah sana. Kenapa disini? Kenapa lagi-lagi manggil namaku?”


Kenzie menggeleng kepala pelan. “Aku nggak ngerti sama kamu.”


Ku sunggingkan bibirku ke atas. Membentuk garis smirk yang biasa diberikan oleh tokoh-tokoh antagonis. “Aku nggak nyuruh kamu buat ngertiin aku.”


Berbalik badan, berlari sekencangnya, meninggalkan Kenzie sendirian di pinggir jalan. Harusnya aku melakukan itu, sebelum tanganku di tarik kembali oleh nya.


“Jangan halangi aku!”

__ADS_1


Kepala Kenzie menggeleng tanda tak paham sekali lagi. Dan aku, berusaha melepaskan tanganku dari genggamannya.


“Kamu tuh kenapa? Kenapa marah-marah kaya gini?”


Sebenarnya aku juga nggak tahu kenapa aku marah. Apa yang membuatku marah? Kenapa aku harus marah?


“Lepas!”


“Hyera! Kamu tuh kenapa?”


“Aku nggak kenapa-kenapa. Aku cuma mau pulang. Jadi lepasin tanganku, dan biarin aku pulang.”


Bukannya di lepas, anak itu justru menarik tubuhku semakin dekat dan memelukku erat.


Aku cukup terkejut dengan perbuatan Kenzie. Tapi aku juga tidak bisa berontak kala ia mengeratkan pelukannya.


“Sabar Ra. Kamu tuh kenapa marah-marah kaya gini?”


Ada perasaan tenang kala Kenzie berucap pelan seperti barusan. Tapi ada perasaan kecewa yang entah kenapa tiba-tiba muncul begitu saja.


Aku tahu aku bukan pemilik penuh hati nya Kenzie. Kasarnya, aku hanya seorang yang tak sengaja kenal lama dan memporak-porandakan perasaanku karena terlalu sering bersama.


Meskipun Kimi bilang kalau aku menang atas hati Kenzie, tapi sepertinya ucapan Kimi harus di ralat. Karena kalau aku menang atas hati Kenzie, seharusnya Kenzie tidak mengajak Kimi berkencan.


“Lepasin Ken.”


Tak ada jawaban atau pergerakan sedikitpun darinya. Aku terdiam, begitu pula Kenzie yang hanya diam.


“Kenapa?” Ucapku pelan dalam pelukan Kenzie. “Kenapa aku harus suka sama kamu?” Niatku menyimpan perasaan ini baik-baik, tapi nyatanya aku juga bingung kenapa perasaan ini tak kunjung mereda atau bahkan menghilang. “Kenapa aku harus suka sama teman ku sendiri?”


Pelukan itu semakin erat. Tapi tak ada jawaban.


Miris.


“Lepas.” Pelukannya terlepas. Aku memberanikan diri menatap matanya, disana tak ku temukan jawaban sama sekali.


Aku menelan ludah ku kasar. Tersenyum sarkas, lalu mencibir dalam hati.


“Maaf lancang menyukaimu. Ku pastikan esok hari perasaan ini akan lenyap.” Final ku ucap dengan berat hati.


Menurutmu, apa bisa aku menghilangkan perasaan yang ku kubur belasan tahun ini selama semalam? Konyol.


“Dan maaf, sudah menjadi noda dikehidupanmu yang sempurna.” Aku cukup sadar posisiku.


“Kenapa bilang gitu? Aku nggak suka kamu ngerendahin diri kamu kaya gitu.”


Alis ku terangkat satu. “Bukan merendah, tapi itu kenyataan.”


“Bisa nggak bersyukur sama apa yang kamu punya? Masih banyak hal bagus dari kamu yang nggak kamu tahu. Semua ketutup sama rasa insecure mu.”


“Kau berucap seolah kau ada di posisiku.”


“Aku memang nggak ada di posisi mu. Tapi selama aku ada di samping mu aku juga ngerasain apa yang kamu rasain.”

__ADS_1


“Bullshit.”


“Itu kenyataan.”


Sorot mata yang memancarkan kejujuran.


“Berhenti kasihan pada hidupku yang menyedihkan ini.” Ucapku sambil mundur ke belakang.


“Gimana kalau aku juga suka sama kamu? Gimana kalau perasaan suka itu juga aku rasain? Gimana kalau selama ini cintamu itu terbalas?”


Langkahku spontan berhenti mendengar penuturan Kenzie. Anak itu bicara jujur atau hanya???


“Berhenti mengasihaniku!”


Aku berlari setelah berucap dua kata barusan. Bukan karena tak ingin mendengar kelanjutannya, aku hanya merasa hidupku semakin lama semakin menyedihkan.


Obrolan ku dengan Kimi tadi cukup membuat ku kepikiran. Kalau sampai Kenzie berucap jujur tentang perasaan nya padaku hari ini, bisa di pastikan malam ini aku tak akan tidur dengan tenang.


Aku benci menjadi sosok yang terus dikasihani. Aku benci menjadi sosok yang hanya di bina dalam bayang-bayang orang lain.


Aku benci dengan diriku yang seperti ini.


“Hyera berhenti disitu!”


Ku lepas alat bantu dengar yang menempel di telingaku. Menulikan pendengaran dari banyak nya panggilan mungkin lebih baik sekarang, daripada terus-terusan mendengar panggilan yang membuat hatiku semakin tersayat.


Hening melanda kehidupanku. Detak jantungku pun tak lagi ku dengar.


Panggilan Kenzie lenyap. Hiruk pikuk kendaraan lalu lalang pun turut lenyap. Ku rasa, Tuhan mengambil pendengaranku agar aku tak mendengar jerit hati perasaan yang menggebu. Tapi, apa itu benar?


Lariku semakin cepat ku pacu tanpa arah. Tak adanya suara di sekeliling membuatku leluasa berlari tanpa mendengar satu diantara kerumunan orang yang menatapku. Aneh, mereka menatapku sembari bibirnya berucap sesuatu.


Ada apa?


Aku mengangkat alat bantu dengarku, niatku ingin memasangnya kembali, dan setelah suara-suara kembali masuk ke indra pendengaranku, satu tarikan membuatku terpental disusul suara benturan yang cukup memekakkan telinga.


Disini, aku tersungkur dengan kondisi badan yang terpental beberapa senti meter ke pinggir jalan.


Dengan perasaan yang tak bisa ku jabarkan, aku bangkit dan berjalan ke tengah jalan. Duduk bersimpuh di depannya yang menatapku dengan mata meredup dan senyuman segaris.


Cairan kental berwarna merah mengalir ke jalan raya, disusul sorot matanya yang mulai meredup. Hatiku nyeri, tiba-tiba jantungku terasa kebas dan hampir mati rasa. Tubuhku melemas, tangisan tak lagi bisa ku dendangkan. Air mata tak bisa keluar sama sekali. Sesak dadaku membuatku tergagap untuk sekedar berbicara.


Dengan segala kecerobohan dan kegilaan ku, aku melihat Kenzie, orang yang ku cinta tertabrak truk putih yang melintas dari arah berlawanan.


Naas, truk yang seharunya menabrakku justru menabrak orang ku cinta.


Di sorot terakhir mata Kenzie, anak itu tersenyum. Tangannya mencoba meraba wajahku. Ku biarkan bajuku basah karena darah.


Semua jeritan panggilan ku agungkan agar Kenzie mempertahankan kesadarannya.


Di akhir, sebelum Kenzie menutup matanya sempurna, anak itu berucap lirih yang membuat jantung ku berdetak ribuan kali lebih cepat.


"Hyera, aku menyukaimu."

__ADS_1


__ADS_2