Send My Letter To Heaven

Send My Letter To Heaven
Bintang


__ADS_3

Angin malam berhembus pelan mengayunkan rambutku yang sengaja ku urai. Hembusan nafas sedikit mengeluarkan asap kala aku meniupkannya.


Benda bulat yang bersinar terang di awan memamerkan cahaya terangnya. Gemerlap sang bintang pun turut mengindahkan langit di sisi sang bulan. Angin yang berbaur dengan warna gelap menjadi saksi keindahan dari bulan dan bintang.


Disini, di pinggir Sungai Han, aku menatap mereka dengan seseorang yang masih ku puja bagai idola.


Hanya berdua, tak ada sosok lain di antara kita. Hanya aku dan dia.


Mata sebening kaca itu berkedip mengagumi rembulan. Bibir tebal berwarna cherry sedikit melengkung ke atas menjawab gemerlap bintang. Wajahnya yang rupawan seolah menantang indahnya sang bulan.


Masih seperti biasa, aku menatap mereka dari sini dengan seseorang yang masih ku damba.


“Tau nama bintang yang paling terang itu?”


Kepala mungil ku menatap ke arah langit malam. Terlalu banyak bintang yang bersinar terang, cukup sulit aku menemukan satu diantara mereka yang dimaksud Kenzie.


“Di sebelah sana.”


Telunjuk Kenzie menunjuk satu bintang sebesar ujung kelingking ku diantara pendar cahaya bulan.


“Kenapa?” Tanyaku masih belum paham apa yang dimaksud Kenzie.


Tawa Kenzie yang masih menjadi kagum ku terlontar menyaingi desir udara.


“Kalau aku benar, nama bintang itu Sirius.”


“Ahhhh…” Kepala ku mengangguk tanda paham.


“Bintang paling terang yang terletak di rasi Canis Major.”


Aku mengangguk lagi mendengar penuturan Kenzie. “Apa setiap malam aku bisa melihat Sirius?”


Kenzie memutar kepala menatapku dari arah samping. Tatapan tenang nya membuatku menatap lebih dalam ke arah matanya.


Bibir Kenzie melengkung membentuk satu garis senyuman yang masih sangat manis. Deretan gigi putihnya menyembul di antara senyumannya.


“Bintang Sirius akan terlihat terang dan jelas kalau kamu melihatnya saat tengah malam di bulan Desember sampai Januari. Karena pada saat itu, posisi Sirius berada tepat di atas kepala manusia.”


“Oh ya?”

__ADS_1


Kepala Kenzie mengangguk. “Kita akan bisa melihatnya saat pergantian tahun.” Anak itu menegakkan tubuhnya. Matanya masih menatap ke arahku. “Aku pernah baca buku tentang bintang-bintang dan rasi bintang. Disitu disebutkan kalau Sirius bisa dilihat dengan mata telanjang bahkan saat matahari masih berada di atas horizon. Bintang ini dapat dilihat pada kondisi cuaca sangat bersih, asalkan posisi matahari cukup rendah.”


Aku kagum mendengar penuturan Kenzie.


“Aku ingin menjadi Sirius.”


Akunya, dan aku terdiam mendengarnya.


“Aku ingin masih tetap terlihat bahkan saat siang sekalipun.”


“Kau sudah menjadi bintang bahkan dari dulu.”


Ya… dari dulu dialah bintang yang mengisi relungku.


Bintang indah yang memberikan ku cahaya terang yang menerangi jalanku. Gelapnya kehidupanku berhasil bersinar karena ada dia yang berperan menjadi bintang di kehidupanku.


Bintang yang tak meredup meski banyak orang tak melirikku sama sekali. Bintang yang berhasil menerangi gelap nya kehidupanku.


“Tahu hal apa yang sangat indah?”


Kenzie menggeleng kepala pelan. “Apa itu?” Tanyanya.


Entah, akupun tak begitu paham kenapa aku mengatakan satu kalimat itu. Kalimat yang sebenarnya lebih menjurus ke pernyataan bahwa aku mengaguminya. Terlalu banyak keindahan yang aku lihat dari setiap sorot mata dan pancaran senyum nya.


Kenzie menghela nafas pelan. Matanya kembali fokus menatap hamparan langit malam. “Alam semesta itu luas.” Ucapnya. “Ketika kau merasa paling hebat di bumi, kau tidak akan ada apa-apanya di langit. Jagat raya itu tak terhitung jumlahnya. Bintang yang kecil di atas sana, saat kita datangi mereka akan jauh lebih besar, bahkan mungkin lebih besar dari bola dunia. Tapi kadang, orang tak begitu peduli tentang hal itu.”


Aku menggesekkan ujung sepatuku dengan tanah. Pernyataan kagumku pada Kenzie di bantah dengan bahasan lain. Dalam artian gampang nya, Kenzie merubah topik pembicaraan untuk menghindari kalimatku barusan.


“Ketakutan, kecemasan, kekhawatiran, tiga hal yang bisa melingkupi perasaan manusia. Entah mereka dalam kejayaan atau dalam keterpurukan. Sakit, sehat, sedih, bahagia, takdir dari Tuhan bahkan tak ada yang tahu. Sesaat setelah kita meninggalkan sungai ini, kita tak akan tahu apa yang terjadi.”


Aku masih asyik memainkan tanah dengan ujung sepatuku. Tak ada yang menarik dari gerakan ujung sepatuku pada tanah coklat yang ku mainkan. Hal ini aku lakukan hanya sekedar mengelabuhi rasa maluku pada Kenzie.


“Ayo, kita hidup seolah kita akan mati besok.”


Kepalaku yang semula menunduk langsung menatap Kenzie. Gerakan kakiku yang memainkan tanah pun turut terhenti. Kepala ku geser sedikit melirik keberadaan Kenzie.


Anak itu masih fokus menatap hamparan langit malam. Tapi dari kata-katanya barusan terdengar sangat…


“Maksutnya?” Aku bahkan tak paham apa yang diucap Kenzie.

__ADS_1


“Ada banyak ketakutan di pancaran matamu akhir-akhir ini. Lepaskan semuanya Ra, ayo bahagia. Kita nggak akan tahu apa yang terjadi besok. Ayo hidup, seolah hari ini hari terakhir kita hidup.”


“Kau?”


“Aku tahu kau mau mendonorkan jantungmu untuk Kak Dhafin.”


Tubuhku menegang. Bagaimana dia bisa tahu?


“Kau tahu apa yang akan terjadi kalau Kak Dhafin bangun dari kritisnya dan sadar adiknya udah pergi mendahuluinya? Kau tahu apa yang akan Kak Dhafin lakukan kalau sampai dia tahu adik tersayang nya memberikan organ penopang hidupnya untuk dirinya? Kau tahu apa yang akan Kak Dhafin hadapi setelah kau lenyap dari pandangannya?”


“Ken…”


“Jangan gila.” Tangan Kenzie meraih telapak tanganku. Menggenggamnya erat dan membawanya masuk ke kantong jaketnya. “Kak Dhafin akan murka kalau tahu kau mengorbankan hidupnya untuk dia.”


Mataku memanas. Dadaku rasanya sesak mendengar penuturan Kenzie. Tahu apa dia tentang aku dan kakak ku? Berteman dari kecil tak menjamin dia bisa mengatur hidupku. Kenal dari kecil tak menjamin dia tahu semua hal tentang ku.


Ucapannya tadi seolah dia yang paling benar. Ucapannya tadi seolah bisa meruntuhkan semua keberanian yang ku bangun untuk aku menukar nyawa dengan kakak ku.


Dia, berlagak seolah ucapannya benar, meski 40% memang bisa ku anggap benar.


Aku pun juga tahu, apa yang akan Kak Dhafin lakukan saat tahu siapa yang menjadi pendonornya. Aku paham dia akan marah. Aku paham dia akan mengamuk.


Tapi apa yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan kakak ku? Diam di tempat sembari menunggu Kak Dhafin sadar? Berpasrah dan menyaksikan keluarga satu-satunya yang ku punya meregang nyawa?


Dari kecil, dari ayah dan ibu pergi, Kak Dhafin berperan ganda untukku. Dia merelakan semuanya untukku. Dia yang menahan sakitnya agar aku tak khawatir padanya.


Bahkan nyawa yang ku berikan, tak sepadan dengan pengorbanan yang dia berikan padaku selama ini.


“Kau berucap seolah kau merasakan apa yang aku rasakan. Kau berucap seolah yang kau katakan semuanya benar. Kau berucap tanpa ada kata penyesalan dalam ucapanmu?”


“Hyera…”


“Berhenti berucap tentang hal yang menurut mu benar. Karena tak semua yang kau katakan benar dimataku. Kau bahkan tak pernah berada di posisiku, tapi kau berucap seolah kau pernah menjadi aku.”


Mataku menatap sinis ke arah Kenzie. Aku tahu ucapanku tadi merupakan hal baru yang di dengar Kenzie. Aku tahu aku kurang ajar, aku tahu tak seharusnya aku berkata seperti itu padanya.


Kenzie hanya lupa, kalau semua yang ia katakan tadi sangat tidak pas dengan apa yang terjadi padaku. Perasaan ku sedang tak sejalan dengan apa yang ia ucapkan.


Jadi maaf kalau aku tersinggung dengan ucapannya. Karena tak selamanya nasehat yang baik, bisa pas di ucapakan dalam semua keadaan.

__ADS_1


__ADS_2