
"Hyera mendonorkan jantungnya untuk Dhafin?"
Dokter Aber mengangguk menjawab pertanyaan putranya.
"Ayah mengizinkan? Kenapa Ayah tidak buat alasan agar Hyera tak bisa mendonorkan jantung nya Yah? Dhafin akan marah kalau tahu dia selamat karna donor dari adiknya."
Dokter Aber berjalan mendekat ke arah jendela. Menatap hamparan taman rumah sakit yang menyuguhkan matanya. "An, mereka itu saudara. Kalau bisa memilih mana yang akan mengalah, selamanya tak akan ada yang mengalah. Kamu ingat, dulu waktu mereka kecil sering berebut makanan dan mainanan? Sering bertengkar saat bersama, dan sering mengadu rindu saat keduanya terpisah? Saudara selalu seperti itu. Kalau dekat bertengkar, kalau jauh rindu. Dan kalau ada yang sakit, saudara lainnya pasti akan mencari cara untuk menyembuhkan saudaranya. Itu berlaku untuk Dhafin dan Hyera."
"Tapi ini bahaya Yah."
"Nggak ada yang bahaya dari donor jantung. Kalau gagal, dua-duanya bisa pergi secara bersamaan."
"Ayah serius setuju dengan donor Hyera?"
Dokter Aber mengangguk.
"Tak ada yang mau melihat orang tersayangnya sakit dan terluka."
"Kalau begitu aku saja yang menggantikan Hyera."
Dokter Aber dan Andrian menoleh dengan cepat ke arah pintu masuk. Disana, tampil seorang laki-laki yang tak asing bagi keduanya, Kenzie.
__ADS_1
"Apa-apaan kamu?" Tanya Andrian dengan kedua alis yang bertaut.
Kenzie berjalan mendekat. "Sebelumnya maaf kalau saya lancang masuk ke ruangan Dokter tanpa permisi. Sedikit banyak saya mendengar obrolan kalian. Dan kalau boleh, biar saya saja yang menggantikan Hyera mendonorkan jantungnya pada Kak Dhafin."
Dokter Aber memijat pangkal hidungnya. Mereka kira donor jantung itu main-main atau bagaimana?
"Ken jangan gila. Udah kamu diam saja jaga pacarmu."
Kenzie terkekeh pelan. "Pacar? Aku sama Kimi nggak pacaran."
Andrian ikut memijat pangkal hidungnya. Kenapa anak muda ini ribet sekali hidupnya?
Dokter Aber berjalan ke arah Kenzie. Menatap laki-laki tinggi di depannya beberapa detik, lalu menepuk dua kali lengan Kenzie.
"Nak, kamu sadar apa yang sedang kamu katakan?"
"Sangat sadar Dokter."
"Kamu tahu konsekuensi apa yang akan kamu dapat?"
Sedikit menimbang, Kenzie menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Resiko nya terlalu besar. Sangat besar. Ini berhubungan dengan kelangsungan hidup..."
"Saya tidak masalah." Dokter Aber terdiam. "Saya tahu kalau nyawa saya yang jadi taruhannya, tapi saya tidak peduli. Saya tidak peduli kalau saya harus kehilangan nyawa saya, asalkan orang yang saya suka bisa terus bahagia."
Dokter Aber pun Andrian terdiam mendengar penuturan Kenzie.
"Saya berteman dengan Hyera semenjak kami berdua masih kecil Dok. Semenjak kami belum bisa membedakan warna hijau dan warna biru. Kami saling kenal bukan hanya sehari atau dua hari. Saya tahu bagaimana kehidupan Hyera slama ini. Bagaimana ia menangis malam hari, atau ia berharap pada sesuatu yang lari dari hidupnya." Kenzie meraih tangan kanan Dokter Aber. "Dok, kita semua tahu bagaimana menderitanya Hyera selama ini. Anak itu sudah melalui kehidupan yang sulit dari ia masih kecil. Jadi biarkan saya, kali ini, untuk memberinya bahagia meski itu kebahagiaan kecil."
Mata Kenzie berkaca-kaca mengutarakan isi pikirannya.
Tidak mau membohongi isi hatinya lagi. Anak itu sebenarnya menaruh rasa yang sama pada Hyera. Suka, dari semenjak mereka masih kecil.
Lalu kenapa kenzie memilih Kimi?
Bukan, bukan artian memilih untuk menjadi tambatan hati. Awalnya, Kimi hanya pelarian bagi Kenzie, hingga Kimi mngetahui bahwa Kenzie menyukai Hyera dari semenjak mereka masih kecil.
Kimi cukup tahu diri, untuk tidak melanjutkan ikatan cintanya pada orang yang sama sekali tak menaruh hati padanya. Toh, Kimi juga didiagnosis sakit parah yang umurnya tak akan bertahan lama. Masih beruntung Kenzie mau menemaninya menghabiskan sisa hidupnya di dunia. Ia pun berharap, agar Kenzie mampu bahagia dengan Hyera sampai akhir nanti.
"Jika kalian berdua tak selamat, itu akan membuat Hyera semakin hancur." Tutur Andrian pelan.
Kenzie tersenyum, "Kalau aku sama Kak Dhafin nggak selamat. Kamu yang harus jaga Hyera untuk kami berdua, Kak Andrian."
__ADS_1