
Aku membawa kaki dan tubuhku turun dari kasur. Menatap bayangan yang mirip seperti mayat hidup itu di depan cermin. Disebelahnya, terpampang fotoku dan Kak Dhafin yang tengah tersenyum manis sambil membawa dua cup es krim.
Aku rindu es krim. Aku rindu senja. Aku rindu Kak Dhafin.
Perlahan, aku berjalan menghampiri bingkai foto itu. Menatapnya dengan senyum miris lalu kembali menatap ke arah cermin.
Tiga tahun berlalu, dan hidup ku tak ada perubahan sama sekali. Selalu merenungi nasib kesendirian ku, selalu merasa tak ada yang peduli, selalu merasa terlantar.
Apa di luar sana ada yang merasakan hal yang sama sepertiku?
Kesepian dalam keheningan.
Tangan kanan ku kubawa naik meraba wajahku. Ahh kalau di pikir-pikir sudah lama tangan ini tak menyentuh wajah ku.
Kalau aku keluar dengan keadaan seperti ini, sudah pasti orang-orang akan mengira aku gila.
Sedikit berdandan tak masalah. Aku harus keluar dan memulai hidupku.
Ya… Hyera Jenaro, selamat ulang tahun yang ke 20 tahun.
Satu jam waktu yang ku butuhkan untuk menata rambut juga penampilanku. Rasanya sedikit beban mulai hilang kala aku memotong rambutku.
Aku menatap ke arah cermin dan sedikit membubuhkan sedikit senyuman. Lumayan kata ku dalam hati. Meski tak seindah tatanan tangan professional, tapi yang ini cukup lumayan merubah penampilanku.
Aku menghembuskan nafas grogi. Menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 12 siang. Waktunya orang-orang beristirahat, fikirku.
Kakiku melangkah menuruni tangga. Ku pandangi semua sudut ruangan yang menjadi saksi hidupku.
Berdebu, banyak sarang laba-laba, benar-benar tak terurus. Setelah di pikir lagi, kalau Kak Dhafin masih hidup dia pasti akan marah melihat keadaan rumah yang sangat kotor ini.
Baiklah, biar aku berjalan-jalan ke luar sebentar. Setelah itu aku akan membersihkan rumah ini sebelum rumah ini benar-benar menjadi sarang setan.
Mengumpulkan sedikit keberanian, aku menarik ganggang pintu rumah. Angin berhembus cukup kencang dan berhasil menyapa wajahku serta menggoyangkan rambutku.
Biar ku nikmati sebentar. Karna rasanya cukup menyegarkan.
Mari kita jalan-jalan, mampir ke cafe Kak Dhafin yang sudah setahun ku tinggalkan. Apa kabar disana? Apa masih berdiri kokoh atau sudah berganti pemilik? Cafe itu di urus Kak Andrian dan aku sama sekali tak pernah menjenguknya.
“Hyera?”
Kakiku terhenti kala seseorang menyebut namaku. Merasa kenal dengan suara itu, aku berbalik badan. Menatap si pemilik suara dan menghembuskan nafas lega kala tahu siapa pemilik suara itu.
“Jovin?” Panggilku membalas panggilannya.
Anak itu menatapku dari atas ke bawah. Sungguh, aku risih di buatnya.
“Keluar juga?” Dahiku mengernyit. Darimana dia tahu kalau aku jarang keluar? “Aku kira kamu akan ngurung diri di rumah mu selamanya.” Sekarang alisku ikut menyatu.
__ADS_1
Jovin maju dua langkah mendekat. Di kedua tangannya, anak itu tengah memegang dua kantong belanjaan yang aku tidak tahu apa isinya.
“Ini pupuk. Buat bunga yang ada di toko bungamu.” Akunya membuatku semakin mengerutkan kening. “Maaf, lancang mengurus tokomu. Tapi tenang, aku mengurusnya atas izin dari Kak Andiran.”
Sepertinya ada banyak perubahan yang tak ku sadari selama aku mengurung diri di rumah.
“Tunggu disini. Aku mau nutup toko. Kamu butuh udara segar kan? Biar ku antar jalan-jalan sebentar.” Selepas Jovin berbicara, anak itu bergegas berlari ke arah toko bungaku.
Arah pandang ku mengarah mengikuti langkah Jovin. Dari tempat ku berdiri aku bisa melihat bagaimana indah nya toko bunga ku.
Dulu, aku hanya menjual bunga hidup yang sudah di rangkai. Tapi sekarang, ada banyak bunga hidup yang di tanam di dalam pot.
Selain itu, ada dua orang yang tengah membantu Jovin membawa belanjaan. Apa mereka karyawan?
Anak itu berbalik arah setelah menyerahkan dua kantong penuh belanjaan.
Rambut hitamnya ikut menari kala langkah nya ia bawa berlari. Senyum merekah tercetak membuat lesung pipinya masuk semakin dalam.
“Namanya Haikal sama Ferdio. Mereka orang-orang yang membantuku di toko. Aku nggak tahu banyak tentang bunga. Tapi berkat mereka, aku berhasil mengembangkan toko bungamu.” Kabar pertama yang cukup bagus ku rasa.
“Kak Andrian memberimu izin?”
Jovin mengangguk. “Awalnya aku nggak yakin bakal di kasih izin. Kak Andrian juga awalnya nggak yakin kalau aku mau ngurus. Tapi ya mau gimana lagi, nggak ada pilihan.” Aku mengangguk mendengar penjelasan Jovin. “Kak Andrian ke Jerman. Dia ada penelitian tentang kedokterannya di sana. Tadinya mau pamit, tapi kamu nggak keluar juga. Yaudah, dia langsung pergi. Dan suruh ngabarin kalau kamu udah mau keluar rumah.”
Aku harap Kak Andrian bisa menggapai cita-cita nya.
Sedikit bimbang dan awkward tapi sepertinya obrolan ku dan Jovin akan berjalan baik-baik saja.
Kami berdua berjalan saling berdampingan. Panas terik di jam dua belas siang ini hampir tak terasa sama sekali. Langit cerah, tapi matahari tak begitu terik. Jadi, cukup nyaman meskipun kami harus berjalan kaki.
“Hei,”
Aku menoleh ke arah Jovin.
“Boleh bertanya? Tapi maaf kalau menyinggung.”
Sepertinya aku tahu apa yang mau ditanyakan Jovin. Pasti tentang perihal aku yang mengurung diri dirumah.
“Kenapa mengurung diri dirumah?”
Kan benar. “Kenapa ingin tahu?”
Jovin melirik ke arahku. “Aneh aja.”
Alisku menyatu mendengarnya.
“Maaf menyinggung, dan maaf mengulang kisah lama. Tapi kamu udah janji di hembusan terakhir nafas Kak Dhafin kalau kamu bakal bahagia setelah kepergiannya.” Langkah kaki ku terhenti. Jovin pun juga ikut menghentikan langkahnya dan berdiri menjulang di depanku.
__ADS_1
“Aku ulangi lagi. Takut kalau kamu sakit hati atau tersinggung, maaf ya bilang ini, tapi kenapa kamu ingkar janji sama janji yang kamu ucap di hembusan terakhir nafas Kak Dhafin? Kenapa memilih mengasingkan diri dan nggak bahagia seperti yang kamu bilang?”
Jujur aku tersinggung. Tapi aku mencoba sebisa mungkin untuk biasa.
“Bukan urusanmu. Kau bahkan nggak ada di posisi ku. Kamu nggak tahu rasanya di tinggal dan hidup sendirian. Kamu nggak tahu apa-apa untuk bertanya dan berkomentar tentang hidupku.” Maaf kalau kata-kata ku menyakitkan.
“Aku tahu kamu bakal bilang gini. Pertama, itu cuma pikiranmu. Kedua, kamu nggak tahu apa yang Kak Andrian rasain setelah kamu mengasingkan dirimu. Yaa.. aku tahu Kak Andrian bukan kakak kandungmu, tapi sayang nya Kak Andrian ke kamu itu sayang tulus kaya kakak ke adik kandung nya. Kamu selalu berfikir sendirian padahal nyatanya kamu nggak sendirian. Ra, jangan mudah terprovokasi pikiran negative mu. Hal kaya gitu Cuma buat hatimu menghitam. Merasa sendirian di muka bumi, padahal masih banyak orang yang merangkulmu di sekitarmu.”
“Aku rasa kamu sok tahu tentang hidupku.”
Jovin tersenyum. “Harus menjadi sok tahu untuk menyadarkan hati yang nggak tahu. Ku Tanya, apa yang kamu dapet setalah kamu ngurung diri kamu? Apa coba?”
Jujur, aku nggak tahu.
“Apa yang kamu cari sampai kamu menutup semua akses dari Kak Andrian buat nanya gimana kabar kamu?”
Aku bingung.
“Apa kamu tahu gimana cemasnya Kak Andrian pas sore itu dia udah nggak bisa masuk rumahmu dan nggak tahu gimana kabarmu? Kamu tahu? Kak Andrian berhari-hari sampai nggak tidur gara-gara mikirin kamu.”
“Kamu nyalahin aku?” Kata-katanya cukup membuatku merasa terpojok dan tak berguna hidup di dunia ini. Hanya ada untuk menyusahkan orang-orang sekitar.
Jovin menggeleng. Maju satu langkah dan mendekap tubuhku hangat.
“Diam dan jangan bergerak.”
Aku yang tadinya mau memukul dada bidang Jovin jadi ku urungkan kala mendengar suruhannya. Anak itu memelukku di bawah pohon, di pinggir jalan, dekat danau.
Rasanya, aneh. Tapi cukup menenangkan.
“Berhenti berfikir kamu yang terburuk. Mengurung diri dari kehidupan justru tidak menolongmu sama sekali. Kau sendiri yang bilang, kita nggak tahu kapan kita bakal hidup. Entah esok aku pergi, atau kamu pergi menghadap Tuhan, nggak ada satupun diantara kita yang tahu. Manusia tempatnya masalah. Kalau nggak ada masalah namanya bukan manusia. Hewan aja punya masalah. Daripada terus merenungi masalah hidup, kenapa nggak dicoba untuk mencari sesuatu yang indah?”
Aku terdiam mendengar penuturan Jovin. Diam-diam ku pejamkan mataku, dan membalas pelukan Jovin. Tidak mau munafik, pelukannya cukup menenangkan.
“Ada banyak hal indah yang kamu lewatkan. Semua orang pernah kehilangan. Semua orang punya luka. Cara mereka menyembuhkan lukanya emang beda-beda. Tapi mengurung diri itu bukanlah hal yang bagus untuk di pilih. Rapunzel aja yang di kurung sama ibu angkatnya ngerasa bosen. Tapi kok kamu malah menjelma kepengen jadi Rapunzel? Aku tahu itu pilihanmu, tapi kamu harus tahu kalau itu pilihan yang salah.”
Mata yang tadi sempat terpejam ku buka perlahan. “Lalu, pilihan yang benar itu seperti apa?”
Jovin mengendurkan pelukannya. “Yang pasti bukan dengan mengurung di rumah sendirian. Kak Dhafin pasti bakal sedih kalau tahu adiknya malah putus asa kaya gini. Kamu inget, salah satu hal yang Kak Dhafin takutin kalau dia meninggal?”
Dengan ragu, aku menganggukkan kepalaku.
Aku tahu kekhawatiran terbesar Kak Dhafin kalau ia meninggalkan ku. Hyera sama siapa? Nanti ada orang baik yang nemenin Hyera nggak?
“Ayo berhenti jadi seperti ini. Penuhi janji mu sama Kak Dhafin. Nggak apa-apa sendirian tanpa keluarga kandung, kan masih ada aku sama Kak Andrian yang bakal nemenin kamu.”
Ucapan yang cukup menenangkan di hari pertama aku keluar rumah. Terimakasih, Jovin. I will try.
__ADS_1