Send My Letter To Heaven

Send My Letter To Heaven
Dua Hal Berbeda


__ADS_3

“Hyera.”


Suara serak nan rendah itu mengalihkan atensi ku.


Aku yang masih berpelukan dengan Jovin spontan mundur kala sadar siapa orang yang tengah memanggilku.


Dia disana. Berdiri dengan ekspresi yang tak bisa ku baca. Tambatan hatiku, menatapku.


“Berpelukan di pinggir jalan? Wow.” Anak itu maju semakin mendekat ke arah ku dan Jovin. Matanya menatap Jovin dari atas ke bawah, lalu berganti menatap ku dari atas ke bawah.


Akhirnya, alam mempertemukan ku dengan Kenzie. Tapi mungkin, di waktu yang salah.


“Nggak malu? Ini kan pinggir jalan. Kok pelukan disini? Perlu kupesankan motel biar kalian puas berpelukan dan nggak ganggu polusi jalan?”


Kata-katanya cukup sarkas.


Jovin tersenyum miring. Menaruh kedua tangannya ke saku celana, lalu berdiri di hadapan Kenzie.


“Hey bung. Ucapanmu seperti orang yang tak berpendidikan.”


Sebentar… situasi macam apa ini?


“Oh ya?” Kenzie pun tak mau kalah. Memamerkan smirk yang menurutku terlihat seperti orang licik. “Lalu, berpelukan di pinggir jalan apa itu sebuah hal yang wajar di lakukan oleh orang berpendidikan?”


Jovin tertawa mendengar penuturan Kenzie.


“Oke.” Jovin mengangkat kedua tangannya ke udara, lalu setelahnya menggenggam tangan ku. “Pilihkan motel paling mahal. Aku sama Hyera akan kesana sekarang juga.”


Bugh!!!


“Jovin!”


Untuk pertama kalinya selama aku kenal Kenzie. Untuk pertama kalinya selama aku bersama bareng Kenzie. Anak itu memukul seseorang tepat dihadapanku, untuk pertama kalinya.

__ADS_1


“Kenzie kamu apa-apaan?!”


Marah? Jelas.


Aku nggak tahu apa yang ada dipikiran Kenzie sama Jovin. Kenapa keduanya justru bertengkar?


“Kenapa Ra? Nggak terima kalau aku pukul pacarmu ini?”


Hah? Sebentar… kok pacar?


“Nggak terima kalau pacar tersayang mu ini aku lukain? Nggak terima kalau aku nyentuh pacarmu ini? Iya? Nggak terima? Jawab?!”


Dan untuk pertama kalinya selama aku kenal dan mencintai Kenzie, anak itu membentak ku tepat di depan wajahku.


“Keparat!”


Bugh!!!


Bogeman kedua yang berhasil merobek bibir kiri Jovin.


“Kenzi!”


Saat aku sibuk menenangkan Kenzie yang tiba-tiba berulah, satu gadis muncul di antara kami.


Kami menoleh serempak ke arahnya. Aku bisa melihat dengan sangat jelas itu Kimi yang datang dengan pakaian rumah sakit.


Tunggu. Rumah sakit?


Kenzie berlari menghampiri Kimi sesaat setelah sadar bahwa Kimi datang. Anak itu menggenggam erat kedua pundak Kimi. Sedikit merundukkan badannya agar sejajar dengan Kimi.


“Kok disini? Ngapain? Nanti dicariin Dokter.” Tanya Kenzie pada Kimi.


Jarak tempat ku berdiri tak terlalu jauh dengan posisi Kenzie dan Kimi. Wajar aku bisa mendengar jelas pembicaraan mereka. Meskipun aku tuna rungu, tapi alat ini sangat membantu pendengaran ku.

__ADS_1


“Aku kan udah bilang, kalau Hyera keluar aku mau ketemu sama dia.” Mendengar namaku di sebut aku langsung berdiri menegakkan badan.


Jovin yang berdiri di sampingku sibuk menyeka darah yang keluar di sudut bibirnya.


“Ada apa nyari aku?” Ku hampiri tempat Kimi berdiri.


Anak itu memakai pakaian rumah sakit. Rambutnya sebatas bahu, padahal kalau aku tidak salah, dulu rambutnya panjang dan indah. Wajahnya sangat pucat, tapi masih tetap terlihat cantik. Badannya mengurus dari yang ku lihat sebelumnya.


Kimi tersenyum ke arahku. Menghampiri ku dan mengambil pergelangan tangan kiri ku.


“Boleh bicara berdua? Ada banyak hal yang mau aku omongin.” Senyum nya cantik. Wajar Kenzie sangat menyukai gadis ini. Kesempurnaan yang benar-benar sempurna. Ahhh aku jadi iri.


“Bicara disini saja.” Tadinya aku tak ingin beradu obrolan dengan pacar dari orang yang ku cinta ini. Tapi karna dia meminta, aku pun tak bisa menolak.


“Jangan disini. Obrolannya akan sangat panjang.” Senyum masih ia pertahankan. Aku tertegun melihatnya. Lalu tanpa sadar kepalaku mengangguk dan Kimi menghela nafas lega.


“Kamu bisa pulang dulu ke rumah sakit. Aku akan nyusul setelah ngobatin wajah Jovin. Dan kamu.” Daguku mengarah kea rah Kenzie. “Berhenti menuduh orang yang bukan-bukan kalau kamu tidak tahu hal yang sebenarnya. Memang kenapa kalau aku bertindak mesum di pinggir jalan? Memang kenapa kalau aku benar pacaran sama Jovin? Kamu nggak ada hak sama sekali melarangku. Dan lagi, alasanku mengurung diri di rumah bukan karena Jovin. Itu kemauanku sendiri, bukan dasar suruhan orang lain.”


Agak berat mengatakannya. Tapi aku juga tak suka di curigai.


Terkadang, apa yang di lihat orang belum tentu yang benar-benar di alami orang itu. Sibuk menilai dan berkomentar memang hak semua orang. Tapi kalau bisa, selama belum ketemu fakta sesungguhnya kurangi komentar berlebih.


Percaya? Hal itu hanya menyakiti orang yang di komentari.


Seperti sekarang. Aku yang di tuduh negative oleh Kenzie. Padahal semua yang ia tuduhkan salah.


“Ayo ke toko. Rumahku masih berantakan.” Tanganku menggandeng lengan kekar Jovin. menyeretnmya pergi dari pinggir jalan dan kembali ke toko bunga.


Ada dua kasus setelah aku keluar rumah. Hal positif dari Jovin, dan tuduhan dari Kenzie.


Untuk yang ketiga dari Kimi, aku belum bisa menyimpulkan. Ku harap, itu sebuah pembicaraan yang baik.


Kimi, aku menanti apa yang ingin kamu sampaikan untukku.

__ADS_1


__ADS_2