
“Hyera, kau dari mana? Kenapa basah kuyup?”
Mataku menatap Kak Andrian yang tengah duduk di samping ranjang Kak Dhafin. Ada Kenzie juga yang berdiri di dekat jendela. Sementara satu wanita cantik duduk di sofa panjang dekat ranjang Kak Dhafin.
Kimi berdiri dari duduknya. Tersenyum tipis ke arahku meski senyum itu tak ku balas sama sekali.
Atensiku bukan ku tujukan untuk mereka bertiga. Tapi untuk kakak ku yang masih setia dengan tidur nyenyak nya.
Perlahan, aku melangkah mendekat ke arah ranjang Kak Dhafin. Belum juga langkahku terhenti di samping persis ranjang Kak Dhafin, satu tangan menghentikan langkahku dengan menarik sedikit tubuhku ke belakang.
Mataku melotot saat ku lihat Jovin berdiri sembari menghentikan langkahku.
“Aku tak sengaja melihatmu di jalan. Kau kehujanan. Akan lebih baik kalau kau mengeringkan badanmu terlebih dulu.”
Aku bahkan tak tahu kapan Jovin masuk ke ruangan Kak Dhafin. Anak itu seperti angin yang masuk ke sela-sela pintu tanpa suara atau jejak yang tertinggal.
“Kok disini?” Tanyaku keheranan.
Jovin menggaruk tengkuknya. “Aku melihatmu di jalan. Tadi mau ku beri tumpangan, terus nggak jadi.”
Dahiku berkerut.
“Soalnya kamu langsung belok ke rumah sakit ini. Yaudah aku nggak jadi kasih tumpangan.”
“Terus ngikutin aku?”
Jovin mengangguk sambil tersenyum. “Maaf.” Ucapnya sembari melepaskan genggaman nya pada lengan ku. “Pakai ini biar kamu nggak masuk angin.” Jovin melepas jaket birunya dan memakaikan nya padaku.
Laki-laki itu tersenyum sekali lagi. “Jangan usir aku. aku bakal nunggu kamu disini.”
Lagi, dahiku berkerut tanda tak paham.
__ADS_1
“Emmm… mungkin kamu akan butuh aku?”
Aku hanya terdiam mendengarnya. Tak membalas ucapannya atau basa basi sekedarnya. Aku lebih memilih membalikkan tubuhku dan menatap Kak Dhafin dalam ketenangannya.
Tangan ku meraih tangan Kak Dhafin yang terbebas dari selang infuse.
“Hei.” Ucapku pelan. Suara mesin-mesin penopang hidup Kak Dhafin berbunyi bersahutan memekakkan gendang telinga. “Belum bangun kak?” Seperti biasa. Tak ada jawaban dari pertanyaan yang ku tanyakan.
“Tadi aku ke makam ayah sama ibu.” Kak Andrian melangkah mendekat. “Aku cerita sama mereka, kenapa takdir tega sama keluarga kita.” Tangan Kak Andrian mengelus punggung ku. “Kak, tadi kakak dateng juga ya?” Elusan Kak Andrian terhenti.
Aku menyandarkan kepalaku ke tangan kekar Kak Dhafin.
“Janji, aku janji buat nepatin semua ucapan kakak tadi. Aku janji nggak akan nangis lagi, aku janji nggak akan sedih lagi. Aku janji bakal lari ke Kak Andrian atau Kenzie kalau ada banyak pertanyaan yang nggak aku tahu. Aku janji…” Ucapan ku tertahan. Air mataku mulai mengalir. “…aku janji bakal bahagia setelah ini.” Ucapku sedikit tertahan karena menahan tangis.
Kepalaku kuangkat perlahan. Tanganku mengelus lengan kekar Kak Dhafin. “Tadinya aku mau donorin jantungku. Tadinya aku mau tuker hidupku sama kakak. Tapi kalau kakak udah nggak kuat…” Entah, rasanya berat mengatakan ini. Tapi aku harus mengatakan semuanya. “…kalau kakak udah nggak kuat aku ikhlas.” Pecah sudah tangisanku.
Pertahanan ku agar tak menangis hancur. Aku tak sanggup menahan tangis ku.
“Aku ikhlas kalau Kak Dhafin mau pergi. Aku ikhlas kalau Kak Dhafin udah nggak kuat. Aku ikhlas hidup sendirian di dunia ini. Aku… ikhlas kak.” Tangisan ku semakin kencang.
“Kak, beri tahu ayah sama ibu. Beritahu mereka kalau aku bersyukur. Makasih udah lahirin aku, sampai aku ketemu kakak. Makasih udah mau jadi kakak aku. makasih udah mau rawat aku. makasih kakak udah mau bertahan ngurus aku yang cacat ini. Makasih, karena kakak nggak ngeluh sedikitpun. Makasih kak.”
Terdengar seseorang menahan tangisnya. Tapi biarkan, aku tak akan menanggapi itu. mungkin Kimi tengah menahan isak tangisnya mendengar penuturanku untuk Kak Dhafin.
“Yang tenang ya kak kalau mau pergi. Tadi udah pamit di makam ayah ibu kan, jadi pesanku pergi dengan tenang dan jangan khawatirin aku sama sekali…”
“…kakak udah nggak ngerasain sakit lagi. Tugas kakak udah selesai. Tuhan juga udah baik banget ngasih aku izin buat pamitan sama kakak. Nggak kaya waktu ayah sama ibu meninggal. Tuhan bahkan nggak ngasih aku waktu buat salim ke mereka.”
Tangan yang pucat itu ku angkat perlahan lalu ku cium punggung tangannya. Sedikit gemetar tapi aku berhasil mencium tangan pucat Kak Dhafin.
Setelahnya aku kembali menegakkan badan dan membungkuk mencium kening Kak Dhafin.
__ADS_1
“Istirahat…” Lelehan air mata jatuh di mata kanan Kak Dhafin. “…istirahat…” Ku kumpulkan kekuatan saat mesin jantung itu mulai lambat bunyinya. “…istirahat dengan tenang kak…” Dan bebarengan setalah kalimatku terucap. Mesin itu berbunyi sangat panjang, menandakan bahwa jantung Kak Dhafin benar-benar berhenti.
Aku menangis dengan keras di atas wajah Kak Dhafin. Semua inci wajahnya tak luput dari ciumanku. Satu Dokter dan beberapa perawat masuk mencoba memisahkan pelukanku pada Kak Dhafin.
Kak Andrian menarik tubuhku dan mendekapku erat. Aku menangis, menumpahkan semua perasaan kehilangan di pelukan Kak Andrian. Hingga Dokter berkata…
“Dhafin Jenaro, waktu kematian xxxxxx”
Kakiku melemas dan setelahnya tubuhku ambruk bersamaan dengan Kak Andrian yang tak kuat menopang tubuhku.
Kami menangis. Kami menangis saling memeluk satu sama lain.
Aku yang menangis dengan sedikit perasaan lega karena berhasil berpamitan, dan Kak Andrian yang menangis karena di tinggalkan teman kecilnya.
Kehilangan seseorang yang berharga dalam hidup adalah salah satu kehilangan yang sangat menyakitkan. Seseorang yang selalu menemani, mengisi hari, dan selalu ada itu pergi untuk selamanya.
Kakak ku, Kak Dhafin Jenaro benar-benar beristirahat dengan tenang. Menyusul kedua orang tuaku di surga.
Tugasnya selesai. Semua bebannya hilang. Semua hal yang menjadi catatan perbuatan di dunia telah selesai.
Untuk itu permintaan ku saat ini, berikan tempat paling indah untuk Kak Dhafin dan kedua orang tuaku di surga. Dan kelak, saat tugasku di dunia juga sudah selesai, ku harap aku bisa bertemu dan berkumpul dengan mereka lagi.
Atau, jika Tuhan berbaik hati sekali lagi, izinkan kami bereinkarnasi dan tetap menjadi satu keluarga utuh yang bahagia. Bukan kehilangan dan kesakitan yang bertubi-tubi menimpa. Tapi benar-benar bahagia layaknya keluarga harmonis di luar sana.
Kakak ku, Kak Dhafin yang sangat aku sayang. Yang merawatku menggantikan ayah dan ibu, terimakasih untuk kasih sayang yang kau berikan. Semua perhatian dan kesetiaan yang ku terima.
Kak, mari kita bertemu lagi di belahan semesta yang lain.
Berkunjunglah ke mimpiku. Ceritakan kisah bahagiamu di surga. Dan ceritakan hubungan ayah dan ibu di surga. Tunggu aku, akan ada giliran ku berkumpul dan menemui kalian semua.
Kak, selamat jalan. Selamat beristirahat.
__ADS_1