
“Sudah nangisnya?” Mataku beradu tatap dengan Kenzie yang masih sibuk mengelus punggung tangan ku. Perasaan nyaman dan tenang saat aku menangis tapi ada seseorang yang menemani. Hanya menemani, tanpa perlu banyak bertanya dan bernasihat.
Aku tahu nasihat itu penting, tapi nanti saja. Yang kubutuhkan saat ini hanya menangis dengan tenang tanpa ada banyak kata yang harus ku cerna dalam tangisanku.
“Bamie pergi,” Ucapku dan anak itu mangangguk.
“Aku tahu,” Jawabnya.
“Bagaimana kalau posisi ini dibalik?” Usapan tangan terhenti. Senyum simpul aku berikan, “Aku tahu manusia datang dan pergi bergantian. Kaya kita lagi di tempat penyeberangan jalan, kita bisa liat banyak orang lalu lalang lewat. Gimana kalau tiba-tiba posisi ini dibalik? Gimana kalau tiba tiba…”
“Ssttt… kenapa harus berspekulasi kalau masih ada kata ‘bagaimana’?”
Mataku menatap nya.
“Terlalu banyak kemungkinan di dunia ini. Kamu sendiri yang bilang, apapun yang terjadi semua sudah menjadi takdir dari masing-masing manusia. Semua sudah jalannya, kalau memang jalannya harus pergi, yasudah. Kita tidak bisa mencegahnya.”
“Kamu ikhlas kalau Kak Dhafin pergi?” Mata beredar menatap pancaran matanya untuk mencari jawaban.
“Lupakan tentang ikhlas atau tidak ikhlas. Karena mau tidak mau kita harus melepaskan jika waktu menyuruh kita untuk melepaskan.” Mataku masih menatap manik coklat di depanku. “Kita masih punya waktu bareng-bareng sama Kak Dhafin, daripada di khawatirkan terus menerus kenapa nggak dimanfaatkan untung bersenang-senang? Kita bahkan nggak tahu loh, siapa nanti yang akan pergi dulu.”
Alisku bertaut bingung, “Maksutmu?”
Helaan nafas terdengar pelan. Kedua tangan menangkup pipiku. Matanya menatap dalam. Mencoba menjelaskan bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui mata. “Begini, selama ini kita terlalu fokus sama penyakit Kak Dhafin. Aku tahu itu parah dan kita harus merawatnya. Tapi tidak menutup kemungkinan yang sehat bisa terlebih dulu pergi daripada yang sakit.” Aku merenungi ucapan Kenzie. “Ingat kata Ibu Bamie? Beliau bilang katanya kondisi Bamie berangsur membaik. Siapa sangka hal itu justru membuat Bamie pergi secepat penyakitnya berangsur menghilang. Semua hal yang akan terjadi di kemudian hari, tidak ada yang bisa memprediksi. Siapa tahu, waktu kita pulang dari sini, kita ngalamin kecelakaan terus aku pergi lebih dulu ninggalin kamu, ninggalin Kak Dhafin, ningg…”
“Yaaa! Berhenti omong kosong. Ucapanmu malah nakut-nakutin.”
Kenzie tertawa, “Aku hanya berujar Ra.”
“Ujaran mu nggak berbobot.” Dengusku sambil mengerucutkan bibir.
Tangan yang masih menangkup pipiku mulai mengelus perlahan. “Tidak ada yang akan pergi. Tidak ada yang ditinggalkan. Semua ada disini.” Anak itu menunjuk dadanya. “Semua memori, semua nama, semua kenangan sudah tersimpan rapi di hati masing-masing. Meski tidak bisa bertemu lewat tatap, tapi masih ada jalan untuk bertemu lewat doa.” Bibir tipis itu melengkung. “Yang pergi akan segera tergantikan. Meski diganti bukan berarti harus dilupakan.”
__ADS_1
.
.
.
.
.
***
.
.
.
.
.
Satu laki-laki lagi tengah sibuk berlarian mempersilahkan pelanggan masuk, serta mengumpulkan gelas-gelas kotor untuk dibawa ke belakang dan di cuci.
Keduanya asik dengan dunia masing-masing. Terkadang melempar senyum, mungkin untuk mengurangi lelah yang semakin memeluk tubuh.
Suasana cukup ramai. Iringan lagu berjudul “Moon” milik Seokjin BTS terdengar sangat pas menemani pengunjung yang saling mengobrol dengan teman nya. Beberapa sibuk dengan laptopnya, dan beberapa ada yang hanya melamun di pojokan sendirian.
Andrian mengoceh lirih kala sedotan tak sengaja menyenggol lengan kemeja putihnya. Dhafin hanya tersenyum menanggapi dan kembali berkutat dengan dua pelanggan perempuan yang sibuk memilih menu.
“Aku pesan Vanilla Latte satu, dan temanku pesan Asian Dolce Latte satu.” Sudut bibir saling tersungging dan dibalas senyuman manis dari barista tampan di hadapan mereka.
__ADS_1
“Di tunggu 10 menit. Meja nomor 13 atas nama siapa?”
Kedua perempuan itu saling lirik, “Atas nama ‘Penggemarmu’.” Ucap kompak membuat Dhafin mengembangkan senyumnya sekali lagi.
“Meja nomor 13 atas nama penggemarmu, mohon di tunggu 10 menit kak.” Ulangnya dengan senyum seramah mungkin.
Kedua perempuan itu berjingkrak kegirangan. Mengambil meja di sudut cafe lalu menopang kepalanya dengan kedua tangan.
“Penggemarmu?” Ledek Andrian yang datang dari arah belakang. “Itu gadis yang hampir setiap hari datang kesini kan?” Dhafin mengendik acuh. “Haish, makin hari makin banyak saja penggemarmu.” Ledeknya lagi lalu berlalu meninggalkan Dhafin yang masih sibuk dengan dua gelas pesanan.
Sepeninggal Andrian, gerakan kedua tangan Dhafin melambat. Satu tangannya ia pakai untuk mencengkeram dadanya. Ringisan kecil ia layangkan.
Badan tegapnya berbalik, bermaksut untuk kembali ke kasir guna memberi tahu Andrian kalau pesanan sudah siap diantar.
Belum juga langkah itu mencapai kasir, tubuhnya keburu ambruk di susul suara gelas yang jatuh dari genggaman.
Semua pelanggan sontak berteriak. Andrian berlari mengecek keributan apa yang timbul di dalam café.
Mata elangnya mengedar kesegala penjuru café. Tidak ia temukan satu masalah dari para pelanggan, sampai akhirnya dua mata elangnya menangkap Dhafin yang ambruk tanpa sadar di atas lantai dekat mesin pembuat kopi.
Andrian berteriak memanggil nama Dhafin. Kedua tangannya mengguncang tubuh teman yang sudah ia anggap saudara. Beberapa pelanggan mendekat guna membantu Andrian.
Tidak membuang waktu lama, Andrian mendekatkan telinganya tepat pada jantung Dhafin. Air mata menggenang, disusul teriakan minta tolong untuk membawa Dhafin kedalam mobilnya.
Beruntung dua pelanggan laki-laki langsung mendekat. Membopong badan Dhafin dan membawanya ke dalam mobil Andrian.
Laki-laki itu langsung memasangkan sabuk pengaman pada tubuh Dhafin, berkali-kali bergumam ‘tahan sebentar’ dengan tangan yang gemetar hebat.
Mengucapkan terimakasih, Andrian masuk ke dalam mobil dan langsung menancap gas ke arah rumah sakit. Tidak lagi ia pikirkan bagaimana kondisi café sepeninggal mereka. Tidak peduli jika nanti ada maling masuk yang akan merampas habis pendapatan café hari ini. Ia tidak peduli apapun, yang ia pedulikan hanyalah cepat sampai rumah sakit dan Dhafin segera mendapatkan pertolongan.
“Bertahanlah kak, aku mohon bertahanlah.”
__ADS_1