
Ku biarkan kakiku memijaki pelataran rumah sakit.
Bau obat menyeruak masuk ke indra penciuman ku.
Untuk pertama kalinya setelah kepergian Kak Dhafin, aku manapakkan kaki ke rumah sakit lagi.
Mataku menatap lurus. Enggan untuk menoleh ke sembarang arah. Masih rumah sakit yang sama, tempat dimana aku dulu biasanya menghibur anak-anak pengidap kanker.
Kira-kira, bagaimana kabar mereka?
Aku harap kebaikan dan keberuntungan menyelimuti kehidupan mereka.
Kakiku terus melangkah ke salah satu kamar inap tujuanku. Enggan bertukar sapa dengan salah satu pegawai rumah sakit meski nyatanya aku masih ingat siapa mereka.
Bukan bermaksut sombong, tapi rumah sakit adalah salah satu tempat yang menyimpan ribuan kenangan menyakitkan untukku. Jadi, aku mencoba untuk menghindari satu obyek itu.
Langkahku ku bawa ke salah satu ruangan yang ada di sudut lorong. Ruangan tenang bercat putih yang dulu sering ku buka dan tutup kala aku menjenguk mereka yang sedang sakit.
Sebelum masuk, aku menatap perempuan yang tengah duduk di ranjang pesakitan sembari membuka lembaran buku tebal.
Sedikit kurang yakin dengan apa yang ia baca, tapi kurasa itu sesuatu yang cukup menarik.
“Hai.” Sapaku sambil tersenyum.
Kimi mendongakkan kepalanya dan membalas senyumanku.
“Kau datang? Gimana Jovin?”
Ku biarkan mataku mengamati ruangan itu sekilas. “Jovin baik kok. Memarnya nggak parah.” Jawabku.
Kimi menganggukkan kepalanya. “Duduk sini deh, aku pengen ngobrol sama kamu.”
Tak membantah, aku menuruti perintah Kimi.
Menarik salah satu bangku yang ada di dekatnya, lalu duduk tepat disamping ranjang nya. Dari sini aku bisa melihat kalau rambut pendek Kimi ternyata rambut palsu.
“Kenapa?” Sadar telah memperhatikan, aku membuang muka sambil menggeleng pelan. “Heran ya, karena ini bukan rambut asli?” Tanyanya sambil melepas wig dan memamerkan kepala tanpa rambutnya.
Aku tidak terkejut sama sekali, karena aku sudah sering melihat anak-anak tunbuh besar tanpa ada rambut di kepalanya karena efek obat keras guna memberantas kankernya.
Tunggu, kanker?
“Aku sakit leukemia Ra.” Itu cukup mengejutkanku.
“Maaf, aku nggak bermaksut.”
“Nggak apa-apa kok. Udah lama juga sakitnya, sempet sembuh tapi kanker itu muncul lagi. Ya, mungkin emang udah nasib ku harus hidup dalam bayang-bayang penyakit mematikan.”
Mataku ku pantulkan ke arahnya. “Jangan bicara gitu. Semua cobaan ada hikmahnya sendiri.” Jelasku dan dia tertawa.
“Bisa banget Ra kamu jawabnya. Sering ya?”
__ADS_1
Sering apa?
“Ahh iya, aku nemu ini di dompet Kenzie. Tadinya aku kira ini foto Kenzie sama saudaranya, tapi katanya bukan.”
Kimi menyerahkan selembar foto berukuran sedang padaku.
Foto dua anak kecil yang tengah tersenyum menatap ke arah kamera sembari memegang buku. Buku yang sekarang ada di tangan Kimi.
((( credit photo: pinterest)))
“Buku ini kan?”
Kimi mengangguk, lalu menutup bukunya dan menyerahkan padaku. “Buku dongeng mu kan?”
Ya, itu buku dongeng ku yang dibelikan ayah waktu kami jalan-jalan ke toko buku. Buku yang sudah bertahun-tahun hilang. Ternyata masih di simpan sama Kenzie.
“Kok ada di kamu?”
Kimi membenarkan posisi duduknya. “Waktu itu Dokter bilang kalau kankerku tumbuh lagi. Aku down, aku hampir gila, aku bahkan mau bunuh diri. Tapi Kenzie dateng, dia nguatin aku. Terus dia ceritain semua cerita yang ada di buku itu. Katanya, dulu ada anak kecil yang nggak bisa tidur kalau nggak di dongengin, dan sekarang kalau aku nggak bisa tidur, aku jadi ketergantungan sama buku itu.”
Kenzie masih mengingatnya dengan baik.
“Kamu beruntung ya Ra, bisa dekat dan kenal sama Kenzie. Nggak kaya aku.”
“Maksut kamu apa? Kan kamu pacarnya?"
"Hyera, Hyera, nggak semua orang pacaran itu saling menyukai satu sama lain." Tawa dan senyum nya memudar. "Ada orang hidup bersama, sering bersama, punya hubungan tapi sama sekali tak punya perasaan. Mereka hidup berdampingan hanya karena keterpaksaan."
"Kimi maaf aku nggak paham maksut kamu."
Kimi menegakkan tubuhnya. "Jangan pura-pura bodoh Ra. Kamu mungkin nggak dapet status pacar dari Kenzie, tapi semua perhatian Kenzie semua perasaan suka Kenzie itu buat kamu. Semuanya buat kamu!"
Amarah Kimi tiba-tiba meledak. Anak itu tiba-tiba membentak. Jujur, aku masih nggak paham sama situasi sekarang. Maksut Kimi apa?
Dia gadis baik, dia anggun, dia lemah lembut, kenapa tiba-tiba dia marah dan membentak?
"Kim kamu??"
"Kamu tau nggak?" Anak itu bangun dari senderennya, membuatku ikut bangun dari duduk ku. "Tau nggak? Sadar nggak kalau selama ini Kenzie suka sama kamu? Selama ini Kenzie selalu menomorsatukan kamu. Aku yang pacarnya harus pura-pura kesakitan biar Kenzie stay di tempat buat jagain aku. Kamu tau nggak gimana jatuh bangunnya aku buat dapet perhatian Kenzie? Kamu tau nggak?!"
"Kimi kamu kenapa? Apa maksut mu? Kenapa bilang gini?"
Plakkk...
Tamparan dari orang yang tak ku duga sama sekali.
Tangan lembut itu, mendarat indah di pipi kanan ku. Gadis itu 360° berbeda dari Kimi yang ku kenal.
Kimi yang lemah lembut, selalu tersenyum tulus, bertingkah imut, hari ini dia berbeda dari Kimi yang ku tahu, dari Kimi yang ku kenal.
__ADS_1
Kimi yang ada di hadapanku sekarang, berubah jadi Kimi yang jahat layaknya saudara tiri di kisah Cinderella.
"Aku kira, aku jauh di atasmu. Aku punya segalanya. Aku punya semuanya. Aku normal. Aku punya orang tua lengkap. Aku nggak cacat. Tapi kenapa Kenzie lebih milih kamu daripada aku, kenapa?!"
Tangannya kembali terayun. Beruntung aku mempunyai reflek yang bagus. Aku berhasil menangkis tangannya.
"Kimi, serius aku nggak paham sama apa yang terjadi ke kamu. Aku sama Kenzie temenan dari kecil. Kita kenal dari kecil, dan besar sama-sama. Nggak ada perasaan lebih dari sekedar teman. Kenapa kamu marah dan bilang gitu?" Karena perasaan suka itu hanya aku yang merasakannya.
"Mitos kalau nggak ada perasaan diantara kalian. Jangan jadi munafik Ra. Aku juga perempuan, sama kaya kamu. Aku tahu kamu suka Kenzie dari cara kamu natap dia!"
Tuhan, selama ini aku udah nyoba buat natap Kenzie biasa aja.
"Kimi, tenang dulu ya. Kamu tenang dulu..." Bujukku dan Kimi malah tertawa cukup kencang.
"Tenang? Heh, kamu tau Ra? Tiap aku bareng sama Kenzie, dia selalu cerita tentang kamu. Dia selalu banggain kamu di depanku. Kalau aku marah, dia bilang aku anak kecil. Nggak pernah sekali pun cerita tentang kamu yang nggak dia ceritain ke aku. Aku emang punya Kenzie, tapi hatinya, hatinya Kenzie punya kamu Ra. Aku menang atas raga Kenzie, tapi jiwa Kenzie kamu yang menangin. Kamu Ra, kamu!"
Mendengar penuturan Kimi, membuat air mataku turun.
Selama ini, aku kira aku sendirian yang mencintai. Tapi nyatanya, cintaku terbalas secara diam.
"Ra, kamu tau? Aku pernah mikir kalau aku yang jauh lebih sempurna dari kamu, bisa dapet semua atensi dan perhatian Kenzie. Aku kira, kamu yang cacat kaya gini nggak akan bisa dapet apa-apa. Tapi rupanya aku salah." Nada bicara Kimi memelan. Anak itu menghapus air mata yang meleleh di kedua pipinya.
"Aku kira, Kenzie cuma sayang sebatas teman atau saudara. Aku kira, Kenzie suka aku yang sempurna. Tapi ternyata aku salah. Kenzie yang sempurna lebih suka sama kamu yang cacat."
Ucapan Kimi yang terakhir cukup menyakitkan.
Aku berjalan mendekat ke arah Kimi. Merangkul anak itu dan memeluknya pelan.
"Aku minta maaf kalau dengan adanya aku malah merusak hubungan mu sama Kenzie. Maaf karena aku lancang mencintai Kenzie. Maaf, karena adanya aku malah buat Kenzie kurang perhatiin kamu. Aku janji, aku janji bakal pergi dari kehidupan kalian, aku janji Kim."
Kimi melepaskan pelukanku dan menggeleng sangat cepat.
"Enggak Ra. Jangan pergi. Pliss aku mohon jangan pergi. Aku emang marah karena Kenzie lebih perhatian ke kamu. Aku emang marah karna Kenzie juga suka sama kamu. Tapi disini bukan sepenuhnya salah mu. Disini malah aku yang salah, aku yang misahin kalian berdua, aku yang nggak tau diri ngambil Kenzie dari kamu."
Kepala ku menggeleng sebagai jawaban.
"Hyera, umurku nggak lama lagi. Aku nggak tau kapan Tuhan ambil nyawaku. Bisa nanti malam, bisa nanti sore, atau bisa besok pagi. Aku bisa pergi sewaktu-waktu. Dan sebelum aku pergi, aku mohon sama kamu. Tolong jaga Kenzie. Tolong hidup bahagia bareng Kenzie. Aku tahu ini permintaan konyol, tapi kalian saling sayang. Kalian saling cinta, perasaan kalian sempurna satu sama lain. Pliss, bareng-bareng ya Ra?"
Aku tidak mengiyakan atau menolak permintaan Kimi. Disisi lain aku lega karena nyatanya cintaku tidak bertepuk sebelah tangan, tapi disisi lain ada perasaan aneh yang entah aku sendiri bingung harus menafsirkannya seperti apa.
Cintaku yang dulu ku takutkan, ternyata memiliki perasaan yang sama dengan perasaan ku.
Haruskah aku bahagia dan menuruti permintaan Kimi?
Kalau diingat lagi, ada banyak kisah yang ku lewati bareng Kenzie. Terlepas kesedihan atau kebahagiaan.
Aku sadar, selama ini setiap aku kesusahan pasti ada Kenzie disekitarku. Anak itu selalu datang tepat waktu.
Dan rasa kesepian yang aku rasakan selama ini, nyatanya kesepian semu yang terprovokasi dari pikiranku.
Ada Kenzie dimanapun aku butuh. Ada Kenzie yang selalu menolongku. Tapi aku, menutup mataku dan tak menganggap keberadaan Kenzie dengan benar.
__ADS_1
Anak itu selalu meluangkan semua waktunya untukku, tanpa ku sadari.