
Derap langkah beradu dengan aspal yang
kupijaki. Sesekali pundakku menubruk pundak orang lain yang berjalan
menghalangiku. Air mataku mengalir deras tanpa ku minta. Dadaku sesak semenjak
aku mendengar kabar dari Kak Andrian sepuluh menit yang lalu.
Langkahku semakin ku pacu meski aku tahu
semua akan berujung sia-sia. Suaraku teredam oleh tangisanku sendiri. Gemuruh
angin dengan sengaja ikut menubruk tubuhku. Aku lelah, aku rasa aku sudah
berlari sejauh dan secepat yang ku mampu. Tapi siapa sangka, saat kepalaku
menoleh ke belakang, hanya dua blok yang ku lalui dari kecepatan langkah yang
ku pacu.
Dari tempat ku berdiri sekarang, aku bahkan
masih bisa melihat toko ku yang berjarak hanya dua blok. Ku ulangi, hanya dua
blok.
Dua telapak tangan besar menuntunku.
Kepalaku menoleh kearah samping kiri, dan mataku menangkap sosok tinngi dengan motor
berwarna hitam yang aku sendiri tidak tahu kapan motor itu datang.
Satu tangan yang tadi mengusap pundakku,
beralih menghapus lelehan air mata yang mengotori pipiku. Kenzie datang dan
menyuruhku untuk segera naik ke atas kuda besi nya.
Tidak perlu rundingan lama, kakiku langsung
ku bawa melangkah menaiki motor hitam milik Kenzie. Kedua tangan ku ditarik ke
depan, aku tahu maksud nya, anak itu ingin aku berpegangan dengannya. Dan
benar, setelah mesin motor itu kembali menyala, Kenzie melajukan motornya
membelah kota Seoul sore itu.
Sepanjang jalan mataku terpejam. Angin yang
menerbangkan rambutku, aku hiraukan begitu saja. Beberapa klakson kendaraan
menyapa kami. Entah itu sebuah peringatan untuk kami berhati-hati atau
peringatan agar kami menurunkan kecepatan motor.
Jantungku berdebar semakin cepat. Lebih
cepat jika dibandingkan saat aku menerima pesan Kak Andrian dan mengorbankan
satu mawarku yang baru saja berkuncup jatuh di atas lantai.
Mawar itu tidak sengaja ku jatuhkan dari
tangan setelah aku membaca isi pesan Kak Andrian. mataku memburam beserta
hidupku yang terasa hening tanpa suara. Kaki ku melemas, bahkan sekujur tubuhku
hampir mata rasa.
Beruntung Kenzie langsung datang dan
menangkap tubuhku yang hampir jatuh ke lantai. Aku tahu, anak itu pasti
__ADS_1
mendapatkan pesan yang sama dari Kak Andrian.
Lima menit aku mengembalikan kesadaranku,
dan selama lima menit itulah aku memberontak pada Pencipta. Aku berkata dengan
lantang melalui hatiku ‘Ini bohong kan? Drama apa lagi yang sedang kau buat
dengan hidupku?’
Sedikit paksaan, aku memaksa kakiku untuk
berpacu mengejar tempat dimana Kak Andrian beritahukan padaku. Meski kakiku
menyerah saat langkah kedua, tapi tubuhku tetap memaksa untuk kembali
melangkah.
Hyera,
Kak Dhafin tidak sadarkan diri dan dilarikan ke Rumah Sakit.
Pesan sesingkat itu, namun cukup membuatku
kalang kabut hampir mati karena nafas yang tiba-tiba terasa sesak. ‘Jangan sekarang,
aku mohon’. Kata itu yang selalu aku rapalkan sedari aku memaksa melangkah. ‘Sembuhkan
kakak ku, aku mohon’ serta doa-doa lainnya ikut aku rapalkan.
Motor Kenzie berhenti di persimpangan lampu
merah. Mataku menangkap banyak orang berjalan di tengah jalan raya yang
bergaris hitam dan putih tempat mereka menyebrang.
Ingatanku seketika melayang pada makanan
juga obat yang ku siapkan untuk kakak ku. Apa aku salah member nya makan? Apa
Persetan dengan becus tidak becus.
Sehebat apapun aku merawat Kak Dhafin,
harusnya aku tahu kalau hari ini akan tiba. Harusnya aku tahu kalau takdir
tidak bisa di rubah. Berkali-kali aku menasehati orang lain tentang ini,
tentang datang dan perginya manusia, tapi bodohnya aku tidak menerapkan pada
diri ku sendiri.
Bisa berbicara, tapi tidak bisa bertindak.
Pengecut. Bodoh. Hanya terus berusaha tanpa iringan doa.
Air mata yang sempat terhenti itu kembali
meluncur mengotori pipi ku. Entah, aku tidak tahu ini air mata yang jatuh
ke-berapa kali. Yang aku tahu, mungkin esok tidak akan ada stok air mata lagi,
karena air mataku terkuras habis hari ini.
“Ra,”
Kalau saja aku bisa bertemu dengan malaikat
maut dan membuat perjanjian hidup untuk kakak ku, aku ingin hidup ku dan hidup
Kak Dhafin di tukar.
“Ra,”
__ADS_1
Aku ingin Kak Dhafin hidup lebih lama.
Lebih lama lagi.
“Ra,”
Aku yang cacat harusnya aku yang pergi. Aku
yang banyak kekurangan harusnya aku yang punya sakit mematikan. Kenapa harus
kakak ku yang sempurna?
“Hyera,”
Aku tahu sakit tidak bisa di minta. Aku
tahu sakit bisa di datangkan untuk siapa saja. Tidak peduli kamu berkecukupan
atau kekurangan. Tidak peduli kamu cantik atau tidak. Tidak peduli kamu tua
atau muda.
Sakit dan mati bisa datang kapan saja tanpa
bisa diminta.
“Hyera!”
Kedua mataku mengerjap. Jantungku kembali
berdetak tak karuan.
“Kita sudah sampai. Ayo turun.”
Mataku menatap indah dua manik yang ada di
depanku melalui kaca spion motor. Lalu pandangan ku beralih pada bangunan besar
namun nampak hening dan tenang di hadapanku. Rumah Sakit ini, aku mengingat
nya.
Bukan rumah sakit yang biasa aku kunjungi
untuk anak pengidap cancer. Tapi rumah sakit ini, rumah dimana ayah dan ibu ku
menghembuskan nafas terakhir. Rumah sakit tempat kami di rawat 12 tahun silam.
“Ayo.”
Aku meraih ajakan Kenzie. Turun dari motor
dan langsung melangkah mengikuti langkah anak laki-laki itu.
Interior ini, masih sama. Bau rumah sakit
yang khas akan bau obat langsung menyengat saat kaki ku melangkah masuk lebih
dalam di area rumah sakit.
Aku fikir, semua masih sama. Tidak ada yang
berubah sama sekali meski waktu sudah berlalu 12 tahun lamanya.
Meski waktu itu usiaku masih 5 tahun, tapi
aku mengingat jelas bagaimana detail rumah sakit yang menjadi saksi atas
insiden mematikan yang merenggut nyawa kedua orang tuaku. Kejadian-kejadian
itu, suara tangisan itu, perasaan kehilangan itu, kembali terngiang di
pikiranku.
__ADS_1
Aku mohon, jangan sampai kejadian 12 tahun
silam kembali terulang di rumah sakit ini.