Send My Letter To Heaven

Send My Letter To Heaven
Izinkan Aku Pamit


__ADS_3

Terlalu paham akan harapan yang di agungkan manusia.


Kosong.


Harapan paling menyakitkan saat menaruh harap pada manusia. Tapi untuk saat ini apa yang bisa ku perbuat? Aku bahkan bingung harus berjalan ke arah selatan atau ke utara. Karena kalau aku jalan ke barat atau timur sepertinya sudah pasti jalan itu salah.


“Bu, waktu cepat sekali berlalu.”


Nisan dingin ku usap pelan. Mataku mengedar pada dua nisan yang kini berjejer berdampingan di hadapanku.


Rumput liar mulai menutupi. Sepertinya petugas pemakaman lupa membersihkan makam hari ini.


“Rasanya baru kemarin ibu memelukku dan membelikanku boneka.”


Berputar kembali kenangan pada dua sosok yang membuatku terlahir ke dunia. Tawa hangat pun juga pelukan hangat yang menjadi candu, tapi sayang nya hanya bisa kunikmati sampai umurku 8 tahun.


Singkat.


Sangat singkat.


Ku kira, aku bisa merasakan pelukan itu sampai ayah dan ibuku menyerahkanku pada laki-laki baik yang akan menggantikan mereka mengurusiku.


Ku kira, tatapan teduh keduanya masih akan aku dapatkan saat umurku beranjak menjadi dua puluh, tiga puluh, empat puluh, atau mungkin lima puluh tahun lagi.


“Maaf baru datang berkunjung. Aku masih gadis pengecut yang tak berani datang mengunjungi kalian.”


Nyatanya aku masih menolak takdir yang menimpa kalian.


“Kak Dhafin sakit bu, yah. Kakak sakit keras, dan sekarang masih belum sadar. Apa Kak Dhafin bisa bangun dan pergi mengunjungi kalian ke sini bareng aku lagi?” Bibirku tersenyum pilu. “Kenapa takdir mempermainkan keluarga kita sekejam ini?”


Lagi, tanganku kembali mengelus nisan yang ada di depanku. Tak jarang aku mengelus gundukan tanah yang masih terasa tak nyata. Secepat itu, ibu dan ayahku di ambil.


Berharap bahwa semua takdir buruk yang menimpa keluargaku adalah mimpi buruk. Mimpi yang tiba-tiba datang dan membuatku menangis saat aku membuka mataku di pagi hari. Mimpi yang membuatku ketakutan untuk mengingatnya.


Tapi apa boleh buat?


Ini adalah kenyataan.


Kenyataan yang harus aku terima.


“Hyera!”

__ADS_1


Kepalaku menoleh ke belakang.


Disana, ada satu anak laki-laki yang sedang berlari mengejarku.


Aku menatapnya. Matanya yang jernih seolah tersenyum saat anak itu mengejar sesuatu.


“Hyera ayo cepat ambil bonekamu!”


Anak itu tersenyum sambil berlarian. Di belakangnya, ada satu anak perempuan yang tengah berlari mengejarnya.


“Kak Dhafin kembalikan boneka ku!”


“Ayo sini tangkap kakak!”


“Mana boneka aku!”


“Ayo tangkap kakak!”


Bayangan kami -aku dan Kak Dhafin- waktu kecil terlintas. Aku tersenyum menatap dua bayangan yang terlihat sangat bahagia.


Aku menatap dua anak yang tengah berebut mainan dengan tawa yang sangat lepas.


Kenapa? Kenapa takdir tega sekali memisahkan dua anak itu?


Kembali aku tertegun dengan satu panggilan lembut yang masuk di telinga kanan ku.


Suara itu terasa nyata. Sangat nyata sampai membuat bulu kuduk ku berdiri.


“Kak Dhafin?” Panggil ku pelan.


“Hyera adik kakak yang manis. Besok harus lebih mandiri lagi ya. Kakak akan sampaikan salam sayang mu pada ayah dan ibu. Jangan susahkan orang-orang sekitarmu ya dek. Kalau malam-malam kamu takut sendirian di rumah, panggil Kenzie atau Andrian. Kalau ada soal yang nggak kamu paham, tanya sama mereka juga. Kalau kamu mau teh chamomile pagi-pagi, minta Kenzie petikin bunganya.”


Aku menoleh ke sembarang arah. “Kak Dhafin?” Panggilku lagi.


“Jangan nangis lagi. Cukup nangis nya. Kakak nggak mau lihat Hyera nangis. Kakak nggak mau adik kakak yang cantik ini sedih terus-terusan. Percaya nggak, kakak udah nggak sakit lagi sekarang.”


Berbarengan dengan suara angin tadi, rintik hujan mulai turun. Aku berdiri di atas tanah makam yang kupijaki. Enggan untuk berteduh meski awan sudah menunjukkan tanda-tanda gelap, juga pasukan air dari langit siap terjun mengguyur bumi.


“Jaga toko bunga nya baik-baik. Nggak usah dengerin ocehan orang-orang tentang kamu. Kamu nggak sendiri. Jangan anggap kamu kesepian. Ada Andrian dan Kenzie yang akan nemenin kamu. Berhenti nangis, nggak boleh sedih, dan ayo bahagia. Bahagia mu akan dimulai. Percaya sama Tuhan ya, karena Tuhan nggak akan membuat umatnya dalam kesulitan terus menerus. Syukuri tiap detik yang kamu punya. Ayo ketemu di belahan tempat lain di ujung semesta ini.”


Aku tertegun dengan bisikan yang ku dengar. Hearing Aid yang terpasang di telinga ku lepas pelan-pelan.

__ADS_1


Hujan turun dengan lebat bersamaan suara yang menghilang.


Air mataku turun tanpa permisi menyambut hujan yang mulai turun semakin banyak. Apa ini sudah saat nya?


Dua bola mataku melirik ke arah makam ayah dan ibu. Satu pertanyaan muncul, apa akan ada satu makam lagi setelah ini?


Dadaku rasanya sesak. Kakiku sudah tak sanggup menopang berat tubuhku. Tuhan, kau mengambil kakak ku?


Kenapa secepat ini?


Kenapa semua keluargaku diambil?


Sedikit kekuatan yang ku punya, aku berdiri melawan deras hujan dan dengan sedikit kekuatan di tubuhku aku berlari menerjang derasnya hujan.


Membelah tiap butir air hujan yang sengaja menerpa ke wajah juga tubuhku.


Rambut ku mulai basah begitu pula pakaianku. Perasaan tak terima muncul bergantian dengan perasaan lega.


Entah lega karena apa. Tapi yang jelas, jika memang hari ini adalah harinya, maka akan aku ikhlaskan Kak Dhafin pergi menyusul ayah dan ibu.


Waktu berlalu cukup singkat saat Tuhan mengambil kedua orang tuaku. Dan ku pikir, waktu tak kalah singkat saat Tuhan kembali mengambil kakak ku. Satu-satunya keluarga yang kupunya. Satu-satunya pahlawan yang melindungiku. Satu-satunya super warrior yang menjagaku, ikut di ambil.


Semesta tahu apa yang terbaik, tapi aku yakin Tuhan lebih tahu apa yang terbaik.


Derasnya hujan membuat kakiku sedikit kesusahan untuk melangkah. Tanah becek dimana-mana, serta jalanan berlubang yang tertutupi air yang bisa kapan saja membuatku jatuh.


Ayah, ibu, jika memang begini akhir dari perjalanan cerita keluarga kita, aku ikhlas.


Jika memang Tuhan mengambil kakak dan membawanya ke tempatmu, izinkan aku mencium tangan Kak Dhafin sebelum para perawat berseragam putih memindahkan tubuh Kak Dhafin ke dalam peristirahatan terakhirnya.


Jika bisikan tadi sebuah pamit dari Kak Dhafin yang Tuhan izinkan sebelum mengambil penuh tubuhnya, izinkan aku menepati semua bisikan Kak Dhafin.


Tuhan, jika memang ini yang terbaik dari yang terbaik yang aku inginkan dan engkau pilihkan, izinkan aku untuk terakhir kali mengecup kening Kak Dhafin.


Mengecup kening orang yang sabar menghadapi dan merawat ku selama ini.


Tuhan, kau tahu dulu aku tak sempat berpamitan dengan ayah dan ibuku. Maka, izinkan aku untuk sekedar berpamitan dengan Kak Dhafin.


Aku janji, janji akan menepati semua permintaan Kak Dhafin. Aku akan menjadi kuat sekarang, karena aku tahu, tak ada lagi keluarga tersisa yang bisa ku elukan dan ku berikan keluhan.


Tuhan, sekali ini. Tolong berikan kebaikanmu untuk aku mendengar detak jantung Kak Dhafin untuk terakhir kalinya.

__ADS_1


Ku mohon…


__ADS_2