Send My Letter To Heaven

Send My Letter To Heaven
Kastil Kuno


__ADS_3

3 tahun berlalu. Umurku bertambah, semua kehidupanku berubah.


Kak Dhafin pergi sejauh mata ku memandang. Aku tak lagi bisa menemui senyum nya, juga menyapanya kala matahari mulai naik menampakkan siluet terang nya.


Sendirian, mengurung diri di rumah yang menjadi saksi kenangan antara aku, orang tuaku, dan kakak ku.


5 bulan Kak Andrian tak lagi mengunjungiku. Mungkin, dia lelah membujukku untuk sekedar keluar tumah.


Hye Flo terlantar. Tak ada lagi kehidupan di toko bunga ku.


Kenzie sudah dua minggu juga tak menampakkan dirinya. Sekedar basa basi mengetuk pintu pun tak lagi ku dengar.


Aku, mengurung diriku di rumah penuh kenangan yang hampir tak tersentuh orang luar selama setahun terakhir.


Lebih mudahnya, aku mengunci diriku sendiri.


Bagaimana aku makan? Dan bagaimana aku minum?


Orang baik menaruh makanan siap saji di depan pintu rumah. Setiap jam 1 malam, aku akan keluar untuk mengambilnya. Percaya satu hal? Aku bahkan belum tau siapa pengirim makanan itu. Yang ku tahu, dia bukanlah Kak Andrian atau pun Kenzie.


Apa aku hidup dengan baik?


Dari semua yang ku ceritakan tadi, aku jauh dari kata baik. Hidupku hancur semenjak kecelakaan itu menimpaku. Dan hidupku semakin hancur kala Kak Dhafin meninggalkan ku.


Biar ku tanya pada kalian. Untuk kalian yang pernah di tinggalkan, apa kalian masih bisa berpegangan?


Aku kehilangan pegangan ku. Dimana aku harus mencarinya?


Jam menunjukkan pukul 1 malam. Diam-diam aku membuka gorden kamarku.


Pantulan bulan purnama malu-malu menyapaku. Tapi pancaran bintang, dengan lantang memamerkan kelip terang nya.


Dua sudut bibirku kutarik berlawanan. Seindah itu mereka, membuatku betah menatapnya meski tak bisa menggapainya.


Kamu yang pernah di tinggalkan, apa kabar?


Kabarku sangat tidak baik.


Apa kamu bisa makan teratur dan tidur dengan nyenyak?


Aku sama sekali tidak.


Aku paham, setiap orang datang dan pergi bergantian tanpa henti. Tidak ada satu makhluk pun yang bisa menghentikan nya. Karena memang begitulah takdir kehidupan manusia.


Lahir, besar, dewasa, tua, meninggal.

__ADS_1


Siapa sangka, sebelum tua Kak Dhafin meninggalkan ku.


Apa kabar dengan cintaku?


Ku ulangi lagi, dua minggu terakhir tak ada lagi sapa dari seseorang yang ku cinta.


Apa dia pergi?


Kemungkinan iya, kemungkinan juga tidak.


"Hyera?!"


Suara lantang berasal dari semak-semak yang hidup di halaman rumah terdengar di telingaku.


Dari tempatku berdiri di balkon kamar, aku melihat siluet seorang laki-laki yang berdiri di depan gerbang dengan jaket hitam tebal sebagai penghangat tubuhnya.


Aku menyibakkan rambutku yang memanjang disana dan disini. Tak terurus, begitulah aku yang sekarang.


Mataku memicing menatap kearahnya. Lalu ku lihat, dia tersenyum dan melambaikan tangannya.


Kenzie, cintaku yang dua minggu pergi ternyata masih tinggal disini.


Aku lihat sosoknya yang berdiri dengan lantang menantang angin. Melihatnya dari atas balkon kamar ku rasanya cukup mengobati rasa rinduku.


Dua sudut bibirnya di tarik semakin lebar. Gigi-gigi putihnya berbaris rapi menambah kesan tampan pada senyumnya. Mata lebarnya menyipit kala senyum nya semakin ia tarik berlawanan.


"Aku rindu!"


Dua kata yang ia teriakkan masuk mulus ke dalam gendang telinga ku.


Bukan. Bukan itu yang aku inginkan. Aku malah berharap anak itu pergi dan melupakanku.


Senyum yang tadi kuberikan langsung luntur ketika Kenzie mengatakan rindu padaku dengan suara lantang nya.


Kenapa aku tak menyukai kata itu?


Mari berkisah kembali. Ada banyak kesusahan yang sudah ku bebankan pada dia yang mengaku peduli.


Ada banyak kisah tak indah dan pengorbanan yang Kenzie berikan untuk ku.


Maaf, mungkin ini terdengar kasar. Tapi aku, merasa seperti manusia pembawa sial.


Aku tak ingin ada yang pergi lagi. Aku tak ingin ada yang terluka lagi. Aku tak ingin seseorang menaruhkan hidupnya untuk membuatku bahagia.


Hingga pikiran untuk mengunci diri dari lingkungan sosial merasuk dan memprovokasi otak juga hatiku agar mau bekerja sama.

__ADS_1


Berakhir aku benar-benar melakukannya dan menutup semua akses yang ada di kehidupanku.


Kapan aku akan keluar?


Besok.


Saat matahari menampakkan dirinya tepat di atas kepala, aku akan keluar dari rumah ku.


Menatap awan biru yang saling bekerjaran di angkasa. Menatap bunga yang saling berlomba bermekaran. Dan melihat kucing yang saling berebut makanan.


Akan aku perlihatkan diriku saat usiaku genap 20 tahun.


Besok, hari ulang tahun ku tiba. Dan aku akan keluar seperti orang yang baru terlahir di dunia.


Selama menunggu matahari esok bersinar, aku tak akan menatap lama pada orang yang ku cinta yang sudah banyak ku susahkan.


Aku harap, aku bisa bangkit meski sedikit demi sedikit dan kembali menjadi sosok yang baru yang lepas dari kesakitan.


Akan aku tunjukan pada Pencipta dan takdir yang mempermainkan ku sedemikian jauh, bahwa mereka salah memilih ku untuk mereka permainkan.


Akan aku buktikan, kalau aku lebih kuat melawan takdir yang dulu membelengguku.


Hyera Jenaro gadis yatim piatu dan tak punya saudara juga cacat karena kecelakaan, apakah bisa bangkit dari keterpurukan?


Jika kalian jadi aku, apakah aku bisa bangkit? Atau lebih baik tetap mengurung diri di dalam rumah yang nantinya akan berubah menjadi kastil kuno menakutkan?


Percayalah, sendirian dan berpura-pura baik-baik saja itu sangat menyakitkan.


Aku harap hanya aku satu-satunya makhluk yang hidup penuh cobaan.


Jikapun kamu mengalami hal yang serupa denganku atau lebih parah dariku, aku harap kamu bisa jadi sosok kuat melebihi kekuatan Captain Amerika di film Avengers.


Meski sulit rasanya untuk bangkit, mencoba sedikit melangkah ke arah berbeda tak akan membuatmu lelah.


Mari berpegangan, esok akan jadi pelajaran dan perjalanan baru untukku juga untukmu yang memiliki nasib serupa.


Tentang dia yang ku cinta, maaf banyak merepotkan. Aku masih menantimu, tapi aku tak berharap banyak dari cintaku.


Aku cukup paham, kesempurnaan yang tak ku miliki akan lebih buruk jika harus ku bagi denganmu.


Biar begini saja. Kamu yang masih menganggap ku teman, dan aku yang memilih mu sebagai tambatan hati kecilku.


Satu rantai yang ku bentangkan dan tak kau gapai, mungkin akan terputus suatu saat nanti. Tapi, selama rantai itu belum terputus biarkan aku menikmati cintaku dari seorang yang sempurna seperti mu.


Kenzie, aku juga merindukanmu. Tapi aku takut menyakitimu.

__ADS_1


__ADS_2